Friends are born, not made

Entah kenapa, saya percaya banget sama quote yang satu ini. Pertemanan itu tidak bisa dibuat. Dia lahir karena ada ketetapan hati dari dua pikiran yang berbeda, yang bersinergi menjalin ikatan suci berjudul teman. Mau segimana-pun kuatnya kita maksain diri untuk jadi/dijadikan teman seseorang, kalo emang dari sono-nya nggak ada ‘klik’ ya tetep aja susah ketemunya. Nggak ada chemistry, ya nggak asyik. Jadinya ya lempeng aja, gitu. Hambar. Nggak pake hati.  Garing. Kesannya cuma formalitas doang.

Anyway, buat saya, teman itu bukan sekedar kenal. Bukan sekedar tahu nama suami/istri/anaknya; juga bukan sekedar tahu rumahnya dimana; juga bukan sekedar tahu apa makanan/minuman favoritnya; ato sekedar hapal lagu/makanan/buku/film favoritnya. Buat saya, teman adalah saat kita bisa cerita apaaaaaa saja ke dia (dan pun begitu sebaliknya; teman itu adalah saat kita bisa merasakan apa yang ia rasakan (dan pun begitu pula sebaliknya); teman itu adalah saat kita bisa mempercayakan hati kita padanya (dan pun begitu sebaliknya); teman itu adalah saat kita dengan sangat ringan  bisa minta bantuan padanya (dan pun begitu sebaliknya)

Liat kalimat dalam kurung diatas? Ya. Teman itu saling. Saling mendengarkan (bukan hanya melulu bercerita). Saling menceritakan (bukan terus-terusan mendengarkan). Saling memberi. (bukan hanya sekedar menerima). Saling membantu. (bukan maunya dibantuin melulu) Jadi, kalo saya curhat ke seseorang, tapi dia nggak pernah sekalipun curhat sama saya, maka saya akan berani bilang: dia bukan teman saya. Juga begitu sebaliknya. Saat seseorang curhat ke saya (sangat sering) tapi saya nggak pernah sekalipun curhat ke dia, maka berarti saya tidak anggap dia sebagai teman saya. Dan seterusnya…

Jujur, saya tidak punya banyak teman. Kenalan, mungkin iya. Lumayan banyak. Sekali lagi: kenalan, ya. Bukan teman.

Kapan itu, salah seorang teman memposting sebuah kalimat yang sangat menggelitik di FB. Saya lupa kalimat komplitnya, tapi kurang lebihnya begini: ” Teman itu seperti koleksi buku. Keberadaannya bisa hanya sebatas sampul. Bisa juga hanya sebatas judul. Bisa pula hanya sebatas bab/bagian. Jadi, saat kita menemukan buku yang kita tahu/paham betul keseluruhan isinya, maka sejatinya, kita telah menemukan sebaik-baik buku .”

Saya bukan tipe orang yang suka menghitung berapa banyak budi yang sudah saya tanam. Juga bukan tipe orang yang suka mengingat-ngingat berapa banyak kebaikan yang sudah saya berikan. Cuma… rasanya sebel ya, kalo ketemu orang yang maunya dimaklumin mulu (tapi nggak mau balik memaklumi); yang maunya dibantuin mulu (tapi males bantuin balik); yang maunya curhat mulu (tapi ogah ngedengerin curhatan orang); yang pengennya jadi centre of attention mulu.. (yang terakhir ini kayaknya perlu dianalisa lebih lanjut kejiwaannya..)

Dan makin sebel, sama orang yang baiknya ama kita pas dia lagi butuh bantuan kita doang. Begitu urusannya ama kita selesai, langsung balik lagi super cuek (bebek aja nggak segitu cueknya, kaliiiii…!) Uuuhh, kemaren-kemaren kemana aja, Buuu…?😦

Note to self: Perhatikan. Orang yang paling banyak (dan heboh) mengeluh, adalah orang yang paling banyak dikeluhkan orang.

Ps: Postingan ini ditujukan untukmu, dan kamu, yang (maaf, ya) cuma sebatas sampul buku buatku.

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s