Rautan Kayu..

Jujur, nggak banyak cerita bijak/renungan yang nancep terus di hati saya. Biasanya, pas baca sih emang ngena, tapi pas kesini-sini suka lupa sama moral of story-nya. Kalo inget terus semua renungan bijak itu, sudah pasti dong, saya udah jadi emak-emak yang bijaksana, yang sabar bukan kepalang, yang senyum senyum aja pas the krucils bikin ulah, dan bukannya kayak sekarang dong ya, jadi emak-emak tukang ngomel sana sini, yang langsung cemberut pas salah satu/semua krucil nggak nurut paksaan omongan saya, de-es-te, de-es-te.

Jadi ya gitu deh, jaraaaang banget saya inget semua detail tentang sebuah cerita/renungan bijak. Tapi entah kenapa, sejak pertama kali baca cerita ini di Majalah PARAS edisi Maret 2005 lalu (iya, baru nyadar ini majalah Paras saya umurnya lebih tua dari si sulung, dan kondisinya masih bagus gitu. Cihuy, deh🙂 ), saya udah langsung terkesan banget. Pertama kali baca saya langsung trenyuh, padahal waktu itu saya kan belum punya anak. Si sulung masih dalam proses assembling gitu, lah. 🙂

Nah, malem minggu kemaren ceritanya Baginda Raja kebagian giliran jadi imam sekaligus ngisi kultum di mesjid deket rumah, dan beliau setuju untuk menyampaikan isi renungan ini ke para jama’ah mesjid. Lumayan deh, tema-nya kan rada beda sama kultum yang udah-udah, tuh. Biasanya isi kultum (palingan) mengupas tentang ayat puasa, sodaqoh, zakat, dan lain-lain, ya. Tema yang ringan tapi justru ngena di hati para jama’ah, jarang banget ada, deh.  Dan kemaren, saya yakin, para jama’ah itu sependapat sama saya, cerita ini ngenaaaa, banget:

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja gelas itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. ”Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. ”Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini.”
Lalu, suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. ”Kamu sedang membuat apa?” Anaknya menjawab, ”Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saat aku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Akhirnya, mereka-pun kembali mulai makan bersama di meja makan lagi. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Renungan

Anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal untuk masa depan anak-anak.

Dan mari direnungkan kembali:

  • Jika anak hidup dalam kecaman, ia belajar mengutuk;
  • Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi;
  • Jika anak hidup dalam pem-bodoh-an, ia belajar jadi rendah diri;
  • Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah;
  • Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menghormati;
  • Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar percaya diri;
  • Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi;
  • Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan;
  • Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin;
  • Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri;
  • dan jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, sejatinya ia sedang belajar mencari cinta di seluruh dunia….

Uuuhhh, jadi pengen meluk si boss kecil, secara semalem baruuuuu aja doski di tatar abis-abisan, gara-gara main dari abis ashar sampe jam 09 malem baru pulang. Hiks, maafin ibumu ya, boss.😦

Janji deh, mulai hari ini, Ibu mau belajar jauuuuhhh lebih sabar ke kamu.

Ehm… btw, dimana bisa beli stok sabar, ya?😀

PS: renungan di-copy paste dari sini.  Gak mungkin ya, ketik sendiri. Buuuanyaaaaakkk, Seus…!😀

2 thoughts on “Rautan Kayu..

  1. iya pernah denger tentang ini dulu banget, dari kisah nyata di Singapur gitu ya katanya. Children see children do itu bener banget deh.
    Hahaha kalo udah ketemu yg jual bilang ya, gue beli gak pake minta diskon deeeh

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s