Pengingat hati….

Minggu lalu, siang-siang setelah nengok si tengah dan si bontot ke daycare, saya mampir makan di RM ayam goreng Indrawati seberang kantor. Selesai makan dan berjalan keluar, di parkiran Indrawati yang cuma muat 2 mobil itu, saya dibuat tercenung saat melihat seorang sopir (percayalah, saya cukup pintar untuk menilai seseorang itu sopir atau bukan) di siang bolong yang teriknya minta ampun itu, duduk di dalam mobil, di kursi sopir, menunggu majikannya (yang saya yakin sedang makan di Indrawati) dengan kaca mobil terbuka lebar dan mesin mobil mati -bukannya sok-sok manja seperti kebanyakan sopir lain yang pas nunggu di dalem parkiran adem aja nyalain mesin dan AC-  sedang… membaca Mushaf/Al Qur’an kecil. Dan hanya dengan melihat raut wajahnya saja, feeling saya mengatakan dia juga sedang berpuasa. Subhanallah…

Itu, pemandangan paling menarik yang pernah saya lihat (mungkin) di sepanjang hidup saya.

Ah, saya benar-benar malu. Seumur-umur punya si item, belum pernah sekalipun saya baca Qur’an di dalam mobil. Apalagi di tengah hari yang panasnya bikin sakit kepala kayak kemaren itu.

Jujur saja, saya tidak sempurna. Saya bukan muslimah yang ibadahnya selangit, yang sudah menjalankan rukun islam dan rukun iman secara kaffah, yang sudah nggak mau salaman dengan non muhrim, yang sudah nggak mau makan di KFC/McD/resto-resto lain yang oleh sebagian kalangan diklaim sebagai perpanjangan tangan Yahudi; tapi paling tidak, saya sedang dan akan terus (mencoba) belajar ke arah yang lebih baik. Saya mengharapkan (dan selalu berdo’a) anak-anak saya jauh lebih baik tingkat keimanannya dari saya dan Baginda Raja sekalipun. Setiap tindakan/ucapan/perilaku, sebisa mungkin mendapatkan nilai lebih, yaitu pahala. Apapun bentuknya itu.

Selama ini saya selalu terharu liat pedangang keliling/asongan/gerobak yang segera ninggalin dagangan mereka untuk sholat berjama’ah. Well, saya memang seneng liat orang bermobil keren masuk mesjid pas waktu sholat tiba, tapi saya lebih seneng liat sopir angkot/taksi/tukang becak melakukan hal yang sama. Kenapa? Karena dengan segala keterbatasan mereka, mereka tidak serta merta menyerah pada kehidupan dunia. Mereka sadar, bahwa ada kehidupan lain yang sedang menunggu dengan segala keindahannya, jika kita melakukan segala sesuatunya dengan baik dan benar.

Anyway, Ramadhan tahun ini menyisakan pula hal yang cukup menyesakkan hati (sejujurnya, terlihat di beberapa ramadhan tahun-tahun terakhir, sih) dimana rasanya gimanaaa gitu, pas bulan Ramadhan liat bapak-bapak dengan santai ngajak anaknya makan siang di foodcourt Griya, dan nggak lama datang istrinya… berjilbab! DOHHHH…!😦

Dan itu nggak seorang dua orang, lhoooo…! Buanyaaaakkk..! Coba, ya. Di belahan dunia mana, ada bapak-bapak yang menstruasi/hamil/menyusui, yang menyebabkan dia boleh untuk tidak puasa Ramadhan dan bisa menggantinya dengan fidyah/mengganti di hari lain? Sakit? Sakit, kok bisa jalan-jalan dan belanja….! Trus mbok ya kalo nggak puasa jangan ngajak anaknya, lah. Makan aja diem-diem, sendirian. Bukannya anak-anak perlu diberikan teladan yang baik..?  Itu juga, para istri itu, bisa-bisanya pada diem aja suaminya nggak puasa di bulan Ramadhan gitu, ya. Secara langsung ngajarin anak (anaknya) pula….! Grrrhhh….!😦

Tapiiiiiii… balik lagi, lah. Itu kan rumah tangga orang ya, Seus… Siapa saya, boleh menghakimi mereka, tho? Saya juga belum tentu masuk surga, kaliiiii….! Eh, eh.. Tapi harus masuk surga dong, ah. Betul begitu kan, Yaa ALLAH..? *maksa* 🙂

Yaa ALLAH yang Maha Baik, bimbinglah kami sekeluarga agar menjadi penghuni surgaMU yang abadi nanti… AMiiiinnnn….

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s