Si anak gadis…

Salah satu hal penting yang saya pelajari dengan mempunyai anak perempuan adalah bahwa benar, perempuan itu apa-apa selalu pake hati, pake perasaan. Logika dan nalar belakangan. Iya, teori itu emang udah rahasia umum, tapi merasakan sendiri setelah punya anak perempuan, tentu lain rasanya.

Aurora, si tengah kami, satu-satunya perempuan di rumah kami (emaknya sampe sekarang masih sering meragukan ‘ke-perempuan-nya’ sendiri-red😀 ) seringkali membuat saya meringis menyadari betapa tidak perempuan-nya saya ini. I mean, pelukan, ciuman, usapan, belaian, dan lain-lainnya itu -terus terang- merupakan hal yang nyaris tak pernah saya rasakan di masa kecil saya dulu. Di keluarga kami, saat itu, kasih sayang rasanya tak pernah diekspresikan se-terbuka jaman sekarang, dimana setiap ibu dengan bebas memeluk/mencium anaknya, memangku/menggendong, membacakan buku/mengajak ngobrol, dan sebagainya, dan sebagainya. So, it’s a really, really new things for me. Saya, anak ke-10 dari Ibu kandung saya, DAN anak ke-15 dari ayah kandung saya -ceritanya panjang, jadi kapan-kapan lah, saya ceritakan- dibesarkan nyaris tanpa mengenal sosok ayah, karena beliau meninggal saat saya berumur 4 tahun, dan adik saya 9 bulan.

Keluarga besar (sangat besar) kami hanya ditopang hidup oleh ibu saya, yang waktu menikah dengan almarhum Bapak ‘baru’ berumur 14 tahun. Saya tidak pernah menyalahkan cara Ibu membesarkan kami. Tidak, sama sekali. Walopun saya ingat betul, saya selalu belajar sendiri, mengerjakan PR dan tugas sekolah sendiri, makan-minum, mandi, ganti baju, hampir semuanya saya lakukan sendiri, tanpa bantuan beliau. Saya bahkan tak lagi ingat, kapan Beliau marah dengan kenakalan-kenakalan saya. Seingat saya, beliau tak pernah marah. Tidak saat saya ngelayap main ke kebun orang nun jauh dari rumah kami dan pulang dengan baju kotor penuh tanah, juga tidak saat saya dengan nekat renang di sungai besar yang jaraknya hampir 1 km dari rumah kami, pun tidak ketika dengan sengaja saya nyemplung di selokan sekedar mencari ikan-ikan kecil yang tak seberapa itu. Beliau, tak pernah marah. Jangankan pukulan, hardikan/bentakan saja tak pernah saya dengar keluar dari mulut Beliau. Saya ingat betul tentang itu. Saya juga ingat, hanya sesekali melihat beliau menangis, di malam hari, saat semua orang di rumah sudah terlelap tidur.

Kembali soal ekspresi rasa sayang itu. Saya ingat betul, betapa Ibu saya nyaris tak pernah memeluk/mencium kami/sekedar mengajak ngobrol sana-sini -apalagi membacakan buku cerita- selayaknya orangtua ‘normal’ lain. Ibu bahkan tak pernah bertanya, kapan haid pertama saya. Keterlaluan? Ah, tidak juga. Saya (waktu itu) merasa biasa saja. Cuek aja, gitu.

Well, baru sekarang saya menyadari, kecuekan saya itu (sepertinya) merupakan salah satu bentuk pengertian saya terhadap beliau, yang pontang panting menghidupi ke-16 anaknya (11 anak kandung dan 5 anak tiri). Jadi boro-boro ngurusin perkembangan mental dan psikis anaknya, wong mikirin gimana caranya agar supaya kami semua bisa bertahan hidup saja, Beliau pasti sudah masang kepala jadi kaki, kaki jadi kepala….

Anyway…. Kalo kemudian saya tumbuh jadi pribadi yang kata orang super keras, (kata lain dari keras kepala, tentu saja🙂 ), walopun (menurut saya) cukup tangguh untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri, dan lalu SECARA TIDAK SADAR saya menerapkan hal yang sama pada A3, terutama si tengah, saya lalu sadar, ada banyaaaakkk sekali pekerjaan rumah saya dalam per-parenthood-an ini.

Kalo mau diitung-itung, sampe saat ini, si tengah kami memang yang paling sering minta jatah cium, peluk, usap, dan semua jenis sentuhan fisik itu. Dari saya lho, ya. Doski masih suka nolak dengan galak, kalo bapaknya dengan muka manis *semanis-manisnya* menawarkan pelukan/ciuman/gendongan.😀

Dan entah kenapa, saya tidak se-SERING itu mengabulkan permintaannya. Entah kenapa, jauuuuh di dalam lubuk hati saya, menurut saya segala macam sentuhan fisik itu hanya akan memperlemah dia, yang mana -walopun perempuan- dia tidak boleh selemah itu. Pemikiran yang salah, tentu saja. Dan bukannya saya tidak tahu itu. Tapi seperti saya bilang tadi, pribadi saya terbentuk seperti sekarang karena masa kecil saya yang membentuknya seperti itu.  Dan percayalah, dari beberapa hal yang saya sesali dari masa lalu saya, kekeringan emosi masa kanak-kanak adalah salah satu hal yang saya TIDAK MAU itu dialami oleh A3.

Kapan itu, di suatu malam yang tenang saat kami duduk-duduk nyantai di depan TV, si anak gadis kami  tiba-tiba nyeletuk:

” Bu, kalo ibu nggak boleh ninggalin anaknya ya, Bu..?”

Hah?

” Maksud Mbak Aura…?”

” Iya, kalo ibu nggak boleh ninggalin anaknya ya, Bu…?”

Seolah saya belum denger kalimat pertamanya saja.

” Nanti, kalo Ibu pergi, Auwa (iya, r-nya masih diganti sama w) sama siapa, dong…? “  lanjutnya sambil nyengir.

Saya, speechless.

” Iya, mbak… Ibu nggak akan ninggalin mbak Aura. Nggak akan ninggalin Bang Andro, juga dik Amartha….”

Saya langsung peluk dia, saya tenggelamkan kepala kecilnya di dada saya. Betapa ajaib, kalimat sesederhana itu bisa membuat hati saya meleleh, dada saya sesak dan mata saya basah. Dan dia, anak gadis kami yang usianya belum genap 4 tahun itu, tertawa kecil kegirangan karena dipeluk ibunya. Tak menyadari, betapa kalimat pendeknya itu sangat menyentuh perasaan terdalam saya.

Iya, mbak. Ibu nggak akan ninggalin kalian. Ibu akan selalu sehat. Ibu akan menjaga diri Ibu sebaik mungkin, supaya Ibu bisa terus menjaga kalian -sebaik yang Ibu bisa-

Ibu akan bertahan- sekuat yang Ibu bisa-, bahkan jika nyawa Ibu yang jadi taruhannya.

Dan untuk-MU yaa, ALLAH yang Maha Baik… itu adalah do’a-ku untuk hari ini.

6 thoughts on “Si anak gadis…

  1. Aiih Aura hatinya peka ternyataaa,,,,, Aku aminkan doanyaaaa… pas lahiran Gama kemarin, selain hubby yg terus menerus di samping menguatkan, bayangan krucils di rumah bikin bertahan saat perasaan udah setengah mati itu loooh….
    Btw aku sama mamakku sering berantem dulu, karena dia sangat wanita dan aku yg punya adik laki laki semua, sangat tidak feminin. Mulai dari cara berpakaian , tidak merawat diri dsb jadi bahan berantem sehari-hari. Eh skrg, ternyata aku juga pengeeen banget Gaoqi jadi girly. Untungnya dia girly banget, jadi gak pake acara berantem kayak aku dulu.

    • iya.. lumayan lah ya, ada juga feminisme di the sefriyana’s..🙂
      Ahhh, itu ibumu itu emang luar biasa cakep, Mak.. udah punya cucu aja masih keliatan lhooohh, cakepnya. Apalagi masakan beliau yahud bener, dah…! *kode minta diundang makan di padasuka*
      Dan skrg, beliau boleh dong, bernafas lega.. secara Gaoqi kan gak perlu dipermak lagi, udah girly sejak lahir kayaknya…😀

  2. wow…….Subhanallah…!
    anakmu pinter banget…bener kalo perempuan itu sensi…tapi syukur lo punya anak perempuan….dia bakal lebih care ke ortunya…dan Alhamdulillah ya
    Allah dah kasih kita kesempatan jadi ibu..mdh2n bisa jadi ibu yg hebat ky ibumu. Oh ya titip salam hormat ya buat ibu.
    *jadikangenibukuhuaaaaaaaaaa*

    • aiiihhh.. ada Mama Muthia disini.. kok bisa kamu nyasar kemari, sih..?😀
      Iyaaaa.. si tengah ini emang suka bikin aku nyengir, deh. Celetukan2nya suka bikin ‘jleb’!!🙂
      Iya, alhamdulillah udah jadi ibu. Skrg jadi lebih paham, kenapa ibu2 kita suka ngelarang ini, ngelarang itu. Dan satu lagi, dimanapun kita, insyaallah do’a utk ibu kita akan selalu nyampe, kok. Done, salam udh disampekan..🙂

  3. Salam kenal Mbak Bagianda Ratu … eh Mbak Fitri. Aku baru nyasar disini, dan senang sekali membaca kisah2 Mbak *terutama bagian anak di daycare n ART-less (curhat) Hihihi … Akhirnya menemukan figur panutan🙂

    Sama kaya Mbak Fitri, aku juga dibesarkan tanpa pelukan, ciuman (yang sering, sesekali pernah kayanya). Hasilnya, memang jadi perempuan yg “inshaAllah kuat ya”, tapi rentan juga di saat yg sama, krn mungkis bisa dibilang miskin sentuhan kasih sayang *duh suseh bener bahasa nya. Anakku lah yg mengajarkan semua itu. Sama dengan Mbak Princess Auwa, eh Aura , anakku Khalila (2y) juga seneng banget minta cium, peluk, belaian, gendong. Saat tangan2 kecilnya menyentuh, bibirnya mencium, huaaahhh … hilang deh beban dunia (kecuali cicilan KPR ya). Ahhh … jadi panjang

    Intinya nice to find and read Sefriyanas stories🙂

    • halooo, bunda Khalila..
      pertama, aku? Figur panutan..? Tet, tot! Salah BESAR! Aku ini ibu abal-abal yang cowgirl banget ngejalanin hidup sehari2. Kalo di blog ini ditemukan hal2 yang positif, percayalah, itu hanya pencitraan semata..😆
      By the way, thankiiieeesss banget udah mau mampir kesini. Pipiku merah, nih..🙂
      By the way lagi, kenapa URL-nya nggak bisa dibuka, ya? Hayooo, sini bagi alamat blogmu, dong… biar bisa kuacak-acak… hahaha… *bertanduk*

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s