Si Genduk…

Saya tahu, anak itu adalah salah satu keajaiban Tuhan yang hadir di kehidupan orangtuanya. Jadi meskipun ada fase-fase dimana sebagai manusia biasa yang tingkat sabarnya cuma sejengkal, kita, eh saya, kadang merasa punya anak yang sedang di fase egosentris tingkat kronis itu sangat melelahkan -fisik dan psikis- tapi tetep ya, namanya anak itu anugrah yang tidak ternilai.

Membaca postingan Mami Laudya yang ini, dan Mamak 3G yang ini, saya langsung ingat dengan salah satu masa dimana dulu, si genduk as known as Mbak Aura (doski suka protes kalo dipanggil Aura saja, ato Aurora saja🙂 )  si tengah kami, juga pernah mengalami fase yang sama. Saya kurang ingat persis, kapan tepatnya fase berat itu. Yang jelas saat si bungsu lahir, dan sebagai ibu baru tentu saja saya harus berjibaku dengan waktu persusuan, pemerahan ASI, pencucian popok, per-hunting-an ART (waktu itu) dan sebagainya, dan sebagainya. Bahkan saat ayahnya dengan tingkat kesabaran yang nyaris tak terbatas itu selalu dengan senang hati meladeni apapun (-a-pa-pun-) permintaannya (yang kadang buat saya bener-bener tak masuk akal dan nyaris mengada-ada itu), entah kenapa, selalu adaaa saja alasan untuk si genduk merengek, merajuk, dan somehow, menangis histeris. Dan kalo sudah begitu, saya, manusia dengan sumbu sabar terpendek di dunia ini, seringkali tak mampu menahan emosi saya. Huhuhu…😦

Tapiiiii… itu duluuuuu…!

Sekarang…..

Saya seringkali takjub melihat betapa putihnya hati anak perempuan saya itu, terutama saat ia memperlakukan abang dan adiknya. Dengan ceria mengambil ini itu, apapun yang disuruh diambil oleh abangnya (kadang saya harus menegur keras abangnya untuk masalah ini), lalu tanpa keberatan membagi mainan/makanan/minuman yang ia pegang dengan adiknya (yeah, namapun anak-anak, sesekali agak berat kalo disuruh berbagi, ya wajar aja kali, ya..🙂 )

Belum lagi saat di Timezone, saat dengan sabar ia meladeni adiknya, bolak balik -berkali-kali- mengambil bola basket untuk dilemparkan ke keranjang (walopun saya perhatikan sebenarnya ia juga ingin melemparkan bola itu ke keranjang dengan tangannya sendiri ), lalu menyelimuti adiknya saat adiknya itu tertidur -tanpa saya minta- lalu mengajak adiknya bermain berdua agar perhatian adiknya teralihkan dari merajuk minta mimi’ supaya ibunya bisa dengan tenang menyetrika, misalnya. Ato dengan penuh pengertian  menutup pintu kamar, saat saya minta waktu sebentaaaar saja, untuk sekedar 5-10 menit berbaring melepaskan penat saya, saat penat itu sudah tak tertahankan, ato saat ia mengusap-usap lembut pundak adiknya saat mereka duduk bersebelahan menonton TV (emaknya benar-benar terharu melihat adegan ini).

Ah, Nduk..

Darimu Ibu belajar banyak hal. Bahwa cinta memang tidak cukup hanya dengan diucapkan. Bahwa cinta itu, harus ditunjukkan dan dibagikan. Bahwa cinta itu tidak pernah habis, sebanyak apapun yang sudah kita berikan pada orang lain. Bahwa cinta itu menjadi jauh lebih bermakna, saat untuk menunjukkannya, (kadang) kita harus sedikit mengorbankan apa yang kita suka, demi membuat orang yang kita cintai tersenyum…

Nduk, tolong bantu Ibu ya. Ingatkan Ibu, untuk selalu sabar menghadapimu, juga abangmu, juga adikmu..

Ingatkan Ibu untuk mencintai kalian apa adanya, karena sesungguhnya, cinta sejati itu adalah cinta yang tak bersyarat…

6 thoughts on “Si Genduk…

  1. Anak tengah emang cepat dewasanya kayak nya deh mbak, tuntutan keadaan kali yah…dan cepet nyesuaikan diri juga.
    Toss sama Tante Ita dong mbak Aura, sesama anak tengah gituh😀

    • Aih, toss kalo gitu, Tante..!🙂
      Eh, emang iya ya, anak tengah itu lebih mature, soalnya dituntut dewasa kayak kakaknya, dan/tapi nggak boleh kekanak2an kayak adiknya…
      Ehm, ini kayaknya jd PR buat bapak ibunya utk lebih adil memperlakukan si tengah ya…

  2. Iya, apa anak tengah begitu ya. Dituntut lebih cepat dewasa karena harus bertenggang rasa ke atas dan ke bawah,. Btw dari lahir ngeliat Aura ini Pak Myko banget, eh makin gede makin mirip yah nduk. Pinter deh kamu sayang.

    • iyaaaa… hampir semua orang bilang aura itu pak myko perempuan kecil. Sampe2 doski pernah lhooo dengan bangga bilang: “Aura mirip Ayah, kulitnya coklat….”
      Huahahaha… coklat katanya, Mak!! Coklatttt..? Kalo bapaknya yg ngaku2 coklat, udah pasti langsung kutodong: coklat, apa hitam kecoklatan…? hahaha…

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s