Edisi galau…

Setelah beberapa hari ini termehek-mehek baca/nonton berita meninggalnya Ustadz Jefri, (dan iya, sampe sekarang saya masih aja mewek kalo liat istri sama anak2nya itu, huhuhu…) saya kok jadi sering kepikiran tentang kematian, ya. Bahwa kematian itu, seperti semua hal yang hidup di muka bumi ini, sifatnya ghaib, karena kita benar-benar nggak tahu kapan, dimana dan bagaimana datangnya. Dan entah kenapa, saya jadi berandai-andai apa yang akan terjadi jika oh, SAAT saya dipanggil Sang Pencipta yang Maha Besar itu:

  1. Pada saya: Sudah cukupkah bekal saya? Sebagai manusia saya masih sering dihinggapi penyakit hati, masih gampang tersulut emosi, terbakar amarah, nggak sabaran, dan semua teman-temannya yang ndak baik-baik itu deh, pokoknya. Di sisi yang lain, kewajiban sholat, puasa dan zakat saya juga masih jauh dari sempurna. Haji? Masih sebatas keinginan. Berhijab? Masih begini-begini saja. Saya bahkan belum membiasakan diri memakai kaos kaki. Trus, kewajiban lain seperti baca Qur’an, shodaqoh, berbuat baik kepada orang tua, sanak sodara, teman, tetangga…? Nah, lhoooo….! Banyak banget ya, Seus.. PR-mu?πŸ™‚
  2. Pada Baginda Raja: Sebagai istri tentu saja saya sadar-sesadar-sadarnya, saya bukan (oh, BELUM) jadi istri yang sholehah. Tapi… siapkah beliau hidup tanpa saya, membesarkan, mendidik dan mengarahkan anak-anak agar supaya menjadi manusia dengan pribadi sebaik-baik pribadi, dan yang terpenting, menjadi ahli surga…?
  3. Pada A3: Belum kebayang gimana mereka hidup tanpa ibunya. Walopun mungkin ibunya ini adalah ibu dengan sumbu sabar terpendek sedunia, tapi yakin deh, nggak ada wanita lain di dunia ini yang mencintai mereka sebesar saya…

……………………………………………………………………………………………….

Dan kegalauan ini makin menjadi-jadi ketika perandai-andaian itu diganti tema-nya menjadi: bagaimana kalo Baginda Raja yang mendahului saya, atau bagaimana jika salah satu dari A3 mendahului kami…?

………………………………………………………………………………………………

Aduh, saya beneran jadi pengen nangis (lagi!)

image pinjem dari sini

image pinjem dari sini

Iya, sih. Kata orang siap nggak siap, kita harus siap. Karena kematian itu kan mutlak berlaku untuk semua yang hidup. Dan saya setuju sekali sama mbak Pipik, bahwasanya semua yang kita miliki sekarang ini kan cuma pinjeman. Pada saat yang punya minta dibalikin, kita musti ikhlas ngembaliin. Udah bagus dipinjemin, kan? Tapi oh tapi, gimana dong caranya bersiap diri yang baik itu? Ditinggal/meninggalkan anak/suami selama-lamanya itu kan nggak ada latihannya, nggak ada manual book-nya…?

Ah, ya sudah lah. Namapun sedang galau, jadi ya saya ngetik sekenanya aja. Maaf kalo malah bikin yang baca ikutan G4L4U…πŸ˜€

PS: pengen latihan pake kaos kaki; pengen daftar haji (walopun entah kapan berangkatnya ku sungguh tak tahu saking panjangnya antrian haji itu); pengen menggiatkan lagi baca Al Qur’an; pengen membiasakan puasa senin kamis; pengen latihan sabar (teuteuuupppp!) trus, pengen beli sepatu yang cihuy buat lari. Lho, kok sepatu? (iya dong, kan badan harus sehat, kalo mau ibadahnya lancar. Betul, tidak? *Aa Gym mode on*πŸ˜€ )

Ps 2: kalo ada yang mau beliin saya sepatu yang ini, boleh lho. Bakal diterima dengan senang hati. Eh, ato kalo nggak, yang ini juga boleh, kok. Apa..? Mau ngasih dua-duanya…? Ah, nggak usah lah. Untuk seorang pelari pemula (yang masih mentok di NIAT doang), sepasang sepatu udah cukup, kok… *sok kalem, trus ditimpuk sepatu beneran*πŸ˜€

Ps 3: (sumpah, ini PS-an terakhir) : semua curhatan diatas boleh diabaikan, kecuali PS-an nomor 2, ya. Muaahahaha…. *usaha terusssss*

11 thoughts on “Edisi galau…

  1. Iya Mbak…tentang berita dukanya Uje sempat bikin aku shock dan mikir, “What if..” gitu gitu dech…semoga kita termasuk orang yang ambil hikmah dari kejadian ini ya MbakπŸ™‚

    • Iya… kadang saat kematian datang ke orang yg nggak pernah kita sangka2, emang shock berat, ya. Dan sampe skrg msh nggak bisa ngebayangin seandainya berada di posisi mbak Pipik..😦 Cuma bisa berdoa Uje diberi tmpt terbaik, dan ALLAH mudahkan semua urusan keluarganya yg beliau tinggalkan…
      Oh, hai, Deva… salam kenal. makasih udah mampir yaaaa…πŸ™‚

  2. soal sepatu : cc langsung ke Pak Myko. Mumpung akan ada si 3 hurup kan. Soal larinya : cc ke bagian umum kanw*l, biar hari Jumat dirimu ditarik jadi tim inti olahraga jalan pagi hahaha

    • cc-nya pasti nyampe, mak. Beliau kan silent reader ter-setiaku, nggak kayak Mr Tamba, katanya dirimu kan udah cerita semuanya, jd nggak perlu lg lah, baca jurnalmu…! hahaha..
      nah itu dia, kalo olahraga sama ibu2 disini, jatuhnya bukan olahrag bersama, tp… sarapan bersama. SUwerrrr…. gimana mau rata nih perut, cobak? *manyun*

    • nangis di kantornya ada yg nemenin kan,mbak? hihi… memang ya,sbg perempuan udh pasti kita memposisikan diri sbg mbak pipik,dan tetep ya,nggak kebayang gmn rasanya…

  3. langsung sedih baca postingan di atas… apalagi pas poin 3… “nggak ada wanita lain di dunia ini yang mencintai mereka sebesar saya”… pengen pulang peluk anak

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s