Oleh-oleh mudik: beberapa catatan

Saya pernah baca beberapa nasehat dari Imam Al Ghozali (dalam urutan bolak-balik) yang kurang lebihΒ  berbunyi begini:

  • yang besar adalah hawa nafsu;
  • yang jauh adalah masa lalu;
  • yang berat adalah memegang amanah;
  • yang ringan adalah meninggalkan sholat;
  • yang sulit adalah ikhlas;
  • yang mudah adalah berbuat dosa;
  • yang susah adalah bersabar (kok, kalo yang 1 ini kepala saya ngangguk-ngangguknya kenceng banget, ya?πŸ˜† )
  • yang sering lupa adalah bersyukur;
  • yang singkat adalah waktu;
  • yang menipu adalah dunia;
  • yang dekat adalah kematian.

Jadi, selain keluh kesah saya di postingan mudik sebelumnya, saya mau share beberapa catatan saya selama perjalanan mudik Bandung-Banjarnegara kemaren:

1. Yang dekat adalah kematian.

Hari sabtu (10 Agustus 2013) lalu, saya pergi bersilaturahim ke rumah kakak ibu saya (pakdhe) yang rumahnya di Cilacap. Pulang sekitar jam setengah 2 siang, perjalanan kami tersendat di daerah Krukut Banyumas. Beberapa menit kemudian kami baru tahu, telah terjadi kecelakaan bis KaryaSari yang menewaskan 15 orang (termasuk 4 anak😦 ) Dan lalu saya jadi ingat dengan quote diatas itu tadi. Yang dekat dengan kita memang kematian. Iya, maut memang Allah yang mengatur. Sudah ditentukan, kapan kita akan dipanggil kembali ke pangkuanNYA. Dan itu kan memang salah 1 rahasia BELIAU YANG MAHA BESAR, jadi tidak mungkin ada manusia yang bisa menebak, kapan malaikat maut akan datang menjemput. Tapi membayangkan seandainya saja kami satu jam lebih cepat sampai di TKP, bukan tidak mungkin kami lah yang jadi korban. Saya inget anak2 yang meninggal di kecelakaan itu. Hiiiiyyy, bulu kuduk saya meremang.😦 Lalu sekali lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk sering-sering mengucap hamdallah, atas nikmat ALLAH yang mungkin tanpa disadari sedang diturunkan pada saya.

2. Wanita wajib perlu bisa masak (???)

Sebelumnya, mohon maaf kalo nanti ada yang rada kesinggung dengan paragraf yang ini. Punteeenn, tak ada maksud menyindir siapapun, wong soal per-dapur-an saya juga masih AMATIR, pake BANGET deh, pokoknya!πŸ™‚

Jadi, ada salah seorang sodara saya (sodara ya, bukan kakak, bukan adik. Biar aman saya nggak akan sebut korelasinya dengan saya, deh. Takut yang bersangkutan baca. Haha!) Sodara saya ini, ibu-ibu, sebut saja Bu H, umur sudah 50 tahun lebih. Beliau wanita karier. Penampilan keibuan banget. Cantik, ramah, bicaranya santun, lembut, dan sholehah. Tipikal ibu-ibu idaman banget, lah. Dan setelah bertahun-tahun ini, saya baru tahu, Beliau TER-NYA-TA nggak bisa masak, SAMA SEKALI. Lebaran tahun ini, beliau pesen ketupat dan opor ayam ke salah satu rumah makan, dan kemaren saya baru tahu, hal ini sudah jadi rutinitas beliau DARI DULU. Oke, sampe sini saya nggak mau komen lebih banyak, apalagi yang negatif.

Catatan buat saya pribadi, saat musim lebaran, dimana semua anak-cucu-menantu kumpul dan ngariung, apa sih yang bikin suasana makin komplit, kalo bukan masakan si nyonya rumah? Ibu saya, di umurnya yang 70 tahun ini, selalu dirindukan semua anak-cucu-menantu karena beliau punya banyak sekali masakan andalan. Yang terfavorit tentu saja mendoan panas yang dimakan sama cabe rawit. Lalu pecel yang rasanya TOP markotop. Terus kayak kemaren beliau masak 12 ekor gurame asam manis yang enak sampe ke kepala-kepalanya (ini pasti Baginda Raja setuju banget). Dan lalu beliau juga punya resep mendut, kue tradisional Jawa yang bahan utamanya (kalo nggak salah) tepung beras diisi sama enten-enten, gula jawa dan kelapa yang cihuyyyy banget, Resep ini sudah diturunkan kepada mbak Titi, kakak pertama saya. Dan lebaran tahun ini beliau dong yang kebagian bikin mendut… 6 kg aja loh, kakaaakkkk!πŸ˜†

Di Cirebon, saya selalu merindukan opor ayam bikinan my dearest mother in law (karena saya nggak makan daging sapi, jadi cuma opor ayam ini yang masuk ke perut saya kalo berlebaran disanaπŸ™‚ ) lalu udang masak kemiri (yang resepnya udah berhasil saya warisi dong, haha, bangga! ) lalu tempe masak cabe ijo yang nampooollll banget, dan semua masakan beliau itu SELALU dikangenin anak-cucu-mantu2nya.

Menurut saya, makanan itu ibarat warisan. Ada nilai historis dan nostalgia disitu. Juga cerita, juga kenangan masa kecil, juga sentimentil pribadi yang nggak bisa dibangun dalam sekejap mata. Semua memiliki makna karena telah menjadi bagian penting dari masa lalu, dan selamanya terpatri rapi di dalam memori, dan bahkan mungkin, di alam bawah sadar kita. Masih inget kan, detail wangi, aroma dan rasa makanan ibu/nenek di masa kecil dulu, yang kemudian sangat kita rindukan saat pulang ke kampung halaman…?πŸ™‚

Catatan penting (again, untuk saya pribadi): perempuan perlu banget bisa masak. Se-enggak enak-enaknya masakan, kalo disajikan dengan penuh kehangatan dan cinta (cie, cie, cinta nih yeee..?πŸ˜† ) in shaa allah nyampenya ke perut yang makan : pasti enak.πŸ˜€

Jadi, seus… mari latihan masak! Jangan takut nggak enak. Lebih baik nggak enak sekarang, tapi syedappp di masa yang akan datang. Learning by doing. Nggak mau kan, nanti anak-cucu-mantu makan ketupat dan opor lebaran dapet beli di warung makan? *ngetik di depan kaca*:mrgreen:

Note: plissss, jangan ada yang tersinggung ya. Paragraf yang ini bener-bener subjektif sekali, loh! πŸ™‚

3. Dunia Pendidikan: (masih) sebuah ironi?

Sebut saja keponakan saya ini, A. Saya pake inisial karena saya belum minta persetujuannya, mau ceritain tentang tragedi yang dia alami di kampusnya. A adalah mahasiswa Teknik Sipil di Unsoed Purwokerto (saya nggak mau pake inisial nama kampusnya, wong kenyataannya emang terjadi disana) Bulan Maret 2013 kemaren, A ikut sidang skripsi, dan udah daftar untuk diwisuda bulan April 2013. Saya nggak tahu persis tanggal sidang dan tanggal wisudanya. Pokoknya jarak sidang dan wisuda itu sekitar sebulan doang. Nah. Euforia keluarga udah pasti terasa dari sejak si A ini nyusun skripsi, lalu sidang dan dinyatakan lulus, tinggal eksekusi wisuda. Namun entah ada badai apa, tetiba si A dinyatakan masih mempunyai 1 mata kuliah lagi yang belum diambil, jadi nggak bisa ikut wisuda.

Oke. Masih belum ngerasa aneh? Coba yang ini: A ‘dipaksa’ untuk menandatangani surat pengunduran diri dari Unsoed. Masih kurang aneh? Coba lagi ini: A harus meneruskan 1 mata kuliah yang belum diambil itu DI PERGURUAN TINGGI LAIN di Purwokerto, BUKAN di Unsoed lagi. Alasannya? Nggak jelas. Sebut saja saya tante yang membabi buta membela keponakan. Tapiiiiiii…. setahu saya, yang namanya mahasiswa ngajuin skripsi DAN sudah maju SIDANG, DAN sudah dinyatakan lulus, HARUSNYA sudah tidak mempunyai beban yang sifatnya administratif, termasuk didalamnya hutang mata kuliah. Artinya, semua mata kuliah HARUSNYA sudah terpenuhi, kan? Oke lah, mungkin (liat ya, saya masih tulis MUNGKIN) ada andil salah ponakan saya disini, karena dia nggak nyadar ada 1 mata kuliah yang belum dia ambil. CMIIW, tapiiiii… bukannya ada juga andil pihak kampus (bagian TU, mungkin?) yang nggak teliti sampe ‘meloloskan’ mahasiswa ngajuin skripsi dan maju sidang, padahal masih ada mata kuliah yang belum dipenuhi? Trus kenapa juga harus disuruh mengundurkan diri? Si A waktu itu mau aja disuruh tanda tangan, karena ketakutan semua nilai yang sudah dia punya selama kuliah di Unsoed nggak bisa dikonversikan ke PT yang baru itu.😦

Saya pengen teriak saking marahnya pas diceritain hal ini. Mana kejadiannya udah lama pula, bulan April kemaren. Nasi sudah menjadi bubur. Mau ngadu kemana kita juga nggak tahu. Dekan dan Rektor katanya juga lagi kesandung masalah korupsi, jadi nggak bisa diharapkan bantuannya. Ke pengacara? Polisi? Diknas? Sorry to say, walopun saya PNS, tapi saya masih belum percaya sepenuhnya dengan hukum dan birokrasi di negara yang (katanya) tercinta ini.

Saya cuma pengen ngeluarin unge-uneg, mewakili kakak saya, ibu si A, yang ‘cuma’ seorang guru SD di kampung sana, yang sertifikasinya saja baru turun pertengahan tahun 2013 ini. Bapaknya, kakak ipar saya, juga guru SMP yang penghasilannya kurang lebih sama segitu-gitu-nya. Saya yang jadi saksi hidup, bagaimana orangtua si A ini hidup kembang kempis demi supaya anak sulungnya bisa kuliah di Teknik Sipil. Bayar kuliah, kost, dan biaya hidup yang nggak murah, selama kurun waktu 6 tahun lebih. Masih bersyukur lah, mereka itu hidup di kampung, belum ada kontaminasi hidup hedon, jadi gaji sejuta-dua juta juga masih bisa maksain untuk nguliahin anaknya, dengan konsekuensi hutang disana sini. Saya miris sekali.πŸ˜₯

4. Anak-anak makin besar, kita makin tua, begitu pun ibu kita.

Silaturahim ke rumah Pakdhe saya di Cilacap pas H+2 Lebaran itu sebenernya sekalian nengok Pakdhe saya yang udah 8 bulan lebih koma. Beliau ini dulunya seorang tentara, nggak pernah sakit, sehat, fit, pokoknya nggak ada keluhan kesehatan sama sekali. Mendadak di tahun 2011 beliau kena stroke, lalu tahun 2012 kena stroke yang kedua, dan sekarang berakhir koma di atas tempat tidur di rumahnya. Saya sedih liatnya. Sedih liat padhe, sedih liat budhe, juga sedih liat anak-anaknya, yang meskipun telaten merawat pakdhe, tapi kan kebayang kayak gimana beban psikis yang mereka pikul, liat bapaknya tergeletak tak berdaya begitu.😦

Umur pakdhe dan ibu saya ini terpaut 4-5 tahun, gitu. Ibu saya juga nggak terlalu hapal. Tapi yang jelas, ibu kelahiran 05 Desember 1943, jadi umur beliau sekarang udah hampir 70 tahun. Yang bikin saya sedih, waktu kita lagi ngobrol soal kondisinya Pakdhe, tetiba ibu nyeletuk begini, “nggak tahu juga nih. Tinggal berapa tahun lagi ‘jatah’ (hidup) ibu…?”

Dan saya, juga mas Imam (kakak laki-laki yang paling dekat hubungannya dengan Ibu) langsung buru-buru memotong: “eh, jangan bilang begitu dong, Mbah. (sapaan anak-anak kami ke ibu saya). Yang penting Mbah harus jaga kesehatan dari sekarang. Harus PD Mbah bakal sehat terus, sampe nanti Andro nikah, trus Andro punya anak, trus sampe mbak Adiba (anaknya mas Imam) juga nanti punya suami… terus…. bla, bla….” saya nyerocos sampai mulut berliur-liur dengan niat menguatkan hati beliau, apadaya hati saya justru mencelos, dan mata saya tetiba jadi berair. Huhuhu…πŸ˜₯

Iya, saya sadar, anak-anak sudah makin besar, dan saya makin tua. Hanya saja, saya seringkali lupa, ibu saya juga bertambah tua.

…………………………………………………………..πŸ˜₯ ………………………………………………

Oke. Sudah cukup membahas yang sedih-sedih. Untuk penutup, boleh ya saya pajang foto-foto narsis saya selama mudik kemaren? Sebagian besar udah di pamer share di Instagram saya sih, tapi nggak papa ya, dipamerin lagi dimarih? Oh ya, buat yang punya akun di IG, kita ketemuan yuk. Temukan saya ya, @bagindaratu. Haha, UUP-ujung2nya promo- Eh, boleh dong? Kan promo di blog sendiri. *yakali*πŸ˜† Dan percayalah, kalo temen blogger yang mem-follow, udah pasti akan saya follow balik. Kalo yang jualan-jualan.. baru deh.. saya pilih-pilih. Huahaha… *no spamming*πŸ˜†

mudik8

Minggu, 04 Agustus 2013, @ RM Mergosari Cikoneng, Ciamis: jam 05 sore lebih dikit. Setelah macet parah, akhirnya si sopir tembak nggak kuat juga, teparrrr beliau sambil nungguin bedug maghrib. Biar anteng, A3 disetelin Despicable Me, dan ibunya nunggu adzan sambil… online!πŸ˜€

mudik7

Senin, 05 Agustus 2013, @ warung bakso Olala: panas terik, dan bapak ibunya cuma bisa ngiler liat mereka makan bakso dan fruit tea dingin. Kalian tega sekaliiiii…!

mudik6

Selasa, 06 Agustus 2013 @ mesjid Agung Banjarnegara: menyambangi 3 kakak saya dari ibu yang pertama. Si sulung dong, udah nggak mau ikut. Terpikat doski, sama game PS kakak sepupunya.πŸ™‚

mudik3

Rabu, 07 Agustus 2013, @ Alun-alun Banjarnegara: H-1, nyari-nyari kue kering buat suguhan tamu ibu saya. Alun-alun ini jadi satu-satunya tempat main favorit A3 selama mudik kemaren. Di Banjar nggak ada mall, kakaakkk..! Tapi saya suka dengan pohon2 rindangnya, dan macem-macem persewaan mobil2an, skuter dan kereta api disini murmer, ibunya syeneengggg…!πŸ™‚

mudik2

Minggu, 11 Agustus 2013: @ warung bakso Olala: Setelah seminggu di kampung halaman, di hari terakhir mudik AKHIRNYA bisa ngebakso juga. Sekalian main ke alun2, trus hunting oleh-oleh buat dibawa ke Bandung, pulangnya melipir dulu kemari.

mudik4

Minggu, 11 Agustus 2013, @ Alun2 Banjarnegara: sebulan puasa cuma turun 2 kg, seminggu mudik berasa langsung naik 5 kg! *gigit mendoan*

mudik5

Minggu, 11 Agustus 2013, @ jalan kampung: meninggalkan kampung halaman, sedih ninggalin ibu, sedih ninggalin kakak2 dan adik, ponakan2, sedih ninggalin pecel, sedih ninggalin mendoan…πŸ™‚

Dan setelah liat lagi foto-foto diatas, saya baru nyadar: ini foto baginda raja mana, yaaaa…??? Huahaha…. ampun, mas sayang! Kamu kok pasti ketinggalan aja, sih?Β  #sungkem lagi #mumpung masih syawal:mrgreen:

65 thoughts on “Oleh-oleh mudik: beberapa catatan

  1. Kakaaa aku polow ya instagramnya,aku jualan tp ga pernah spamming kok 😘😘😘 btw soal masak,bener juga sih,meski skrg cika msh gitu2 doang masakannya tp smoga kinginan belajar terus ada tp ga janji yeee rasanya xixixixixi

    • of courseeeee untuk neng yang geulis ini boleh dong, spamming2 jualan di IGku. Tapi kalo nanti aku beli, diskon yang gede, ya… #eeaaaaaπŸ˜†
      Tenang, De Cik. Masih ada buanyaaakkk waktu untuk belajar. Yang penting niat dulu. Katanya, niat baik udah dicatat sebagai pahala, kan? Eh tapiiii jangan mentok di niat doang loh, ya. Eksekusi itu yg paling penting.πŸ™‚
      Enak nggaknya masakan kita kan tergantung pada…. apa yang kita todongin ke orang yang makan masakan kita, tho? Pisau, apa garpu? Huahaha…:mrgreen:

  2. baca ini. aaaaaaaaaak. aku jadi ikutan ketar-ketir..apa ada yang ketinggalan gak ya matkul yang belum aku ambil😦 padahal itu kan PTN ya, masa sistem nya gitu sih?😦 ikutan sedih. kalo di kampus ku, sebelum sidang itu, ada sidang “sarjana muda”, sebagai tanda si mahasiswa tsb udaha lulus minimal syarat sksnya dan udah siap sidang skripsi. masa, disana gak ada sistem yang mem-filter mana mhs yang lolos mau sidang apa gaknya. Semoga si A diberikan jalan yang terbaik yaaa.. amin ({})

    ttg wanita bisa masak… jadi inget si mamah ngotot banget ngajarin aku masak kalo aku liburan kuliah. katanya, perempuan setidaknya bisa masak walaupun gak jago, supaya suami betah di rumaaaah ~~~~ (bener gak ya?)

    • hiks, iya Yu. Miris banget aku dengernya. Untungnya sekarang si A udah lebih tabah, pelan2 move on kayaknya, walopun masih keliatan sedih. Aku sih berharap ini jadi pengalaman buruk yg pertama dan TERAKHIR di keluarga kami.😦
      Nah. Denger, dan LAKSANAKAN tuh nasihat si Mamah. Benerrrr banget, salah 1 (dari sekian banyak hal) yg disukai suami dari istri itu ya, masakannya. Percayalah, urusan enak-nggak enak itu belakangan, yang penting udah ada usaha, pasti dihargai, kok. *pengalaman pribadi, dong!* haha!

      • kalo pengalaman si A itu rasa nya kaya orang mau dinikahin (wisuda) tapi, tiba-tiba batal gitu aja😦 susah banget pasti si A move on nya, tabah banget lah si A ini.

        iyaa teteh fitri.. Laksanakan!

  3. Waah mendutt… #ngiler
    Terbuat dari tepung ketan say klo di magelang, bukan tepung beras.
    Bagi resep mendoan yang uenaakk dooong pliss…
    Eh ini kok komennya soal makanan mulu yak.
    Biarin ya, abis baca yg lain (selain ttg makanan) bikin aku mewek sih.. Ah dasar emang cengeng ya..

    • haha, ini dia nih si chef profesional hadirrrr…!
      betul, mbak. Tepung ketan ya. Baru inget, aku. *emang baru tahu, kali*πŸ˜†
      Mbak, mendoan itu yg penting tempe-nya enak, kan? Soal bumbunya std, bawang ketumbar doang. Kalo di bandung aku suka kasih kunyit dikit, trus gorengnya kering, jadi kayak tempe kemul yang di wonosobo itu.
      Glek, jadi pengeeennn….!
      Yang paling bikin sedih pas denger ibuku ngomong jatah tahun itu loh, mbak. Beliau baru kemaren loh, ngomongin soal umur. Huhuhu….

      • Benerrr…. yang penting tempenya enak ya.. Dan tempe di daerah penghasil mendoan (purwokerto dsk) kok rasanya bisa lebih enak dibanding tempe di Bandung kenapa ya? Btw mendoan itu aslinya pake tepung beras ato terigu sih? Aku pake terigu aja biasanya… jadinya gak mirip mendoan sih, mirip tempe goreng di tukang gorengan… mirip mendoannya cuma di daun bawangnya aja hihi…
        Kalimat (dan kenyataan) bahwa ibu kita pun semakin menua itu loh yang bikin sediih… Pas pulang kemarin aku tuh sampe kepikiran apa aku homebasenya pindah ke magelang aja ya biar bisa nemenin mereka, masak buat mereka (ibuku penggemar masakanku hihi…), ngenterin mereka ke pengajian, cek ke dokter dll… Tapi di sisi lain anak2 dan suamiku merasa lebih nyaman dengan homebase di Bandung. Dan kalo mereka yang diboyong ke Bandung sama sekali gak mungkin, mereka gak mau.. Ya mungkin satu2nya jalan adalah kita harus sering2 mengunjungi mereka.

        • emberrrr, mbak. Mendoan di daerah purwokerto, banjar, wonosobo emang udah yg paling TOP, dah! *promo kampung halaman*πŸ™‚
          Tapi mendoan yang di pecel hariabanga itu juga lumayan loh, mbak. Lumayan banget buat tombo kangen.πŸ™‚
          Kalo nurutin emosi, emang pengen banget mbak, pindah ke banjar aku juga. Tapi kan nggak segampang itu. Musti mikirin sekolah anak2, mikirin pak myko, mikirin perasaan MIL (takut beliau ngiri, haha) dan yang lain-lain. Makanya, ide sering2 pulang nengokin orangtua itu emang udah yg paling bener, deh mbak. Abaikan badan pegel dan biaya yang keluarnya lumayaaaan utk akomodasi-nya, ya. Yang penting nengok orangtua itu udah harus jadi agenda rutin di keluarga kami..πŸ™‚

          • Mendoan Kebumen enak juga kan? Aku taunya mendoan Kebumen… belum pernah nginep di kota2 itu kecuali Kebumen sih.. Kebumen masih tetanggaan sama purwokerto juga kan?πŸ˜€
            Klo di Bandung aku suka mendoan yg di lapang Saparua ituu….

  4. eeh tapi.. tapi.. aku kan jualaan, di follow ga? *padahal ga punya akunnya

    btw lah kok aneh ya, malah disuruh keluar kampus? ga liat kolerasinya deh?
    iya ya.. ortu kita jg ikutan tua, huhuhu

    • Hayaaahh, Fey… kalo temen blogger yg jualan udah pasti ku follow juga, lah. Yang bikin males kan yang hits and run itu loh. Ayo bikin, biar makin puwas liat2 koleksi baju baby-nya. (seolah2 mau hamil lagi aja aku ini..πŸ˜† )
      Nah itu dia, nggak tahu kan, hubungannya apa, ketinggalan 1 MK sama mengundurkan diri…? Samaaaaaa, akupun bingung. Dan nggak berani nanya2 lebih detil ke keponakanku, takut dia makin susah move on, euy!😦
      Iya, omongan ibuku soal umur itu masih jadi pikiran aku sampe sekarang loh, Fey. Hiks, sedih aku…

  5. Sabar, iklas…emang susaahhhhh bangetvya mba. Eh maaf lahir batin dulu kita via blog hihihihi. *salim tangan*

    Aku juga klo pulang ke rumah pas lebaran ya paling diincar masakan beliau. Gak afdol klo gak makan masakan nyokap. Makanya aku sedini mungkin walopun megang pisau masih gak bener,tapi niat seniat2nya harus bisa masak demi suami n anak cucu cicit ntar *aiihhmateeee Nis* hihihihi

    • haha, rasa2nya emang lebih resmi maaf lahir bathin disini ya, Nis. Daripada di IG…πŸ™‚
      Haha, megang pisau nggak bener, gimana ituuu…?πŸ˜†
      salam cobek deh, kalo gitu… oh dan salam setrika juga dong, pastinyaaaa… *teuteuuupppp*:mrgreen:

  6. Eh, itu ponaan yang di Unsoed sekarang udah lulus dari PTN pindahannya? Tapi, dicoba aja, Fit, ditanyain ke pihak kampusnya tentang masalah itu.

    Ha..ha..masalahnya bagi baginda raja kalian adalah objek foto yang paling cihuuyyy. Beliau rela deh hanya jadi tukang potretπŸ™‚

    • belum dong, Fe. Kan masuk ke PT pindahannya baru pertengahan tahun ini. Denger2 sih musti kuliah sekitar 1,5 tahun lagi biar bisa wisuda. Tanya ttg hal itu ke unsoed lagi kayaknya udah nggak mungkin deh, soalnya si A kan udah terlanjur tanda tangan surat pengunduran diri itu, Fe..😦

      Haha, itu kalimat yg terakhir moga2 disetujui baginda raja, ya. Biar istrinya ini nggak terlalu ngerasa bersalah..πŸ˜†

  7. Mbak fiiiiiit….
    setiap cerita mbak fit kembali menyadarkan gw yg emang banyak dosa, kurang rasa sabar dll
    dan 1 hal lagi yg membuat gw sungguh tersentil Iya, ” saya sadar, anak-anak sudah makin besar ( diganti : saya blm married), dan saya makin tua. Hanya saja, saya seringkali lupa, ibu (dan papa ) saya juga bertambah tua.”😦

    • Halaaaah, Nina… postinganku di blog ini LEBIH BANYAK buat nyentil diri sendiri, kok. Beneran! Makanya, pas ngetik suka senyum2, wong isinya kebanyakan nunjuk ke muka sendiri, haha…
      Yang belum married-nya itu SEMOGAAAAA dibaca banyak blogger jomblo ya.πŸ˜†
      Musti sering2 nengokin orangtua kali ya, Nin. Mumpung mereka masih ada, sering2 bikin mereka senyum, jangan bandel terus ah. Malu sama umur…. *nunjuk muka sendiri lagi*:mrgreen:

  8. *langsung merenung tentang point terakhir*
    Kadang itulah Mbak…kita pikir kita udah dewasa dan menikah. Asyik dengan dunia sendiri. Lupa kalo ortu juga butuh diperhatiin. *ngomong sama kaca*

  9. “kita makin tua, begitu pun ibu kita.”
    aaahhh ya, tiap sungkeman sama ibu saya, saya selalu ngerasain hal ini lewat tangannya. begitu juga sama bapak saya. tangan yang sama yang kita cium tiap mau berangkat sekolah dulu, tapi sekarang rasanya udah beda…terasa lebih ‘fragile’ yah :’) klo udah gini, rasanya mau kasih apa ajah yang kita punya buat kebahagiaan mereka….
    “yang dekat adalah kematian”
    idul fitri kemarin juga nerima beberapa kabar duka. salah satunya temen bapak saya yang meninggal mendadak karena virus GBS. meninggal pas tanggal 1 syawal, jenazahnya langsung dibawa ke kampung halamannya. kebayang perasaan keluarganya, mudik lebaran tahun ini udah berupa mayat….
    afterall, lebaran tetep harus hepi yah meskipun ada cerita dukanyaπŸ™‚

    • betul, Na. Aku beneran nggak nyadar, ibuku udah mau 70 tahu aja, gitu. Selama ini pusaran hidupku kayaknya cuma rumah-anak-suami-kantor-kerjaan-rumah-anak-suami, dst….
      begitu kemaren ketemu ibu dan beliau nyeletuk begitu, eh langsung mencelos hatiku ini…😦
      Bapakku udah almarhum dari sejak aku 4 tahun, jadi ibu ini satu2nya orangtua yg jadi pusat perhatianku sekarang.
      Subhanallah, meninggal pas 1 syawal? *speechless*😦
      tapi iya… meskipun ada beberapa catatan yg bikin sedih, mudik Lebaran kemaren tetap lah, menyenangkan…πŸ™‚

  10. pembukaan postingannya mantap mbak
    sungguh saya suka
    dan langsung memetik pelajaran darinya

    duh, begitu ya mbak keponakannya
    hiks…

    hmmm…, foto-fotonya keren mbak
    oleh2nya sekarang masih ga mbak
    (wee… ujungnya)

  11. aging itu nyata dan jompo itu berasa.

    gak cuma ngeliat anak-anak yang bikin kita sadar bahwa kita makin tua, dengan ngerasa badan tambah capek aja ketauan banget deh kalo gw udah makin tua. hahahaha

    sama mbak, bapaknya anak-anak jarang kepoto. Makanya aku suka candid pake kamera henpon, soalnya kalo kamera besar yang dipegang bapaknya anak-anak … pasti hasil foto nya gak ada dia nya.

    • haha, aging itu nyata dan makin bikin sakit mata ya, mbak?πŸ˜†
      Benerrrrr bgt, kalo malem pulang kantor badan ini beneran nggak bisa boong ya, ketahuan aja di kepala berapa, umur kita sebenernya . Teparrrrr…..πŸ˜€
      Dan para suami itu nggak pernah protes ya mbak, foto mereka nggak ada. Coba kita (eh, akuπŸ˜† ) pasti manyun, kalo pas jalan2 bagindaraja cuma motoin anak2 doang… huahaha…

  12. itu dia yang bikin sejak 3 tahun lalu hubby udah bikn ketetapan mudik at least three times a year, mak. Dan awalnya aku keberatan sih, mak, biasalah mikirnya ongkos dan lebih murah kalo ortu yg diminta ke sini kan. Apalagi ortu dan mertu juga sering kan ke sini. Tapiii tetep beda rasanya buat para ortu dikunjungi di gawang sendiri kan. Iya, kadang kita sibuk sama rutinita dan kehidupan sendiri. Yes many times we are busy growing up that we forget our parents are growing old….

    • mudik minimal 3 kali dalam setahun juga udah jadi kesepakatan kami, Mak. Pengen sih lebih sering, tapi Andro kan udah SD, mana bisa seenaknya bolak balik ijin nggak masuk, kan?
      Huhuhu, iya. kalimat yg terakhir itu bener banget, deh…

  13. maaf lahir bathin ya baginda ratuπŸ™‚

    kamu bikin mewek aja deh sore2…
    aku jadi teringat lagi kan kegalauan lebaran kemarin…. berapa lama lagi ini kita bisa ngumpul kaya gini…. huaaaaaa…. ibuuu…….😦

    • maaf lahir bathin juga ya, lulu…πŸ™‚
      mana nih, cerita lebarannya, kok belon nongol juga? Jangan bilang masih jet lag gegara sekolah Inot, ya…πŸ˜†
      Banyak2 berdoa yuk, Lu. Supaya orangtua kita tetep dikasih kesehatan, dan kita, masih diberi kesempatan buat nyenengin mereka…πŸ™‚

  14. fitt….aku tersingggung, kan aku gak bisa masak hahahaha. kalo aku udah tua, lebaran, anak2 aku suruh kerumahmu aja hihihihi.
    emmm kepikiran bener juga ya Fit, kalo gak bisa masak trus gimana dong? masa katering trus hahahaha

    • Aduh, nyah! Kan aku juga lagi nyinggung diriku sendiri, iniiii…!πŸ˜†
      Kamu pasti sedikit banyak udah pinter masak lah, Non. Kapanan kemaren lebaran bantuin nyokap masak2, tho…?πŸ™‚

  15. Aku sih sebagai perempuan gak pernah defensif kalo di bilang “jadi perempuan harus bisa masak”, kalo di bilang “mesti cepet & banyak punya anak” tuh baru baru nyolot (memangnya eike pabrik anak mesti punya banyak anak :lol:).
    Anyway, bisa masak itu sebenernya skil yang penting loh. Mamaku biarpun pendidikan tinggu selalu percaya sama istilah :”cinta itu dari mulut turun ke perut” yang artinya, sediain deh makanan enak buat suami, pasti susah pindah ke lain hatiπŸ˜€ dan itu terbukti banget sama beliauπŸ™‚. Aku sendiri, biar gak rutin tapi disempetin masak buat suami, bukan semata demi alasan cinta tapi biar sehat & iritπŸ˜†. Lagipula menurut aku, kalo bisa masak tuh enak, lebih bebas gak tergantung warung makan buka apa engga, kepengen makan apa tinggal masak sendiriπŸ˜‰

    • Haha.. akupun sejak nikah yg namanya makan masakan rumah jd hal yg dirindukan banget, deh May. Kadang suka terharu liat bagindaraja keliatan seneng benerrrr makan masakan estrinya, pdhl yakin deh, rasanya nggak karuan! Huahaha…
      Dan sejak punya krucils, udah pasti lah, makan diluaran DIBATASI banget. Hah, bisa bangkrutssss eike, bayar 5 kepala.πŸ™‚

      • Iya bener banget mbak, dulu mau makan gak usah ribet masak dulu ya hehehe. Sekarang mesti rajin rajin bongkar resep demi supaya gak bosen makan IL2 (itu lagi itu lagi)πŸ˜†.
        Yah mbak, kalo suami itu sebenernya WAJIB HUKUMNYA buat makan masakan istri yg udah capek capek dimasakin bagaimanapun rasanya :lol::lol::lol: *berani gak makan, piso dapur melayang*πŸ˜†
        hahahah biarpun bisa makan di luar tapi buat krucils kan lebih sehat makan dirumah iya gakπŸ˜‰

        • Rasanya bakal lebih terharu kalo nanti udh ada krucils yg MAU dan SUKA sama masakan kita, May. Uuhh, serasa pengen pasang tiara di kepala sendiri, deh…πŸ˜†
          Huaha, mulai pinter ya Maya sekarang…? *bekalin Mbul tameng baja* :mrgreen:

          • aaah iya ya mbak, pantesan si mama sama mami mertu happy bannget kalo aku gragas makannya. Sekali bilang enak tiap pulang pasti dimasakinnya itu lagi itu lagiπŸ˜†.
            Ahahahha tapi si Mbul selalu bilang enak tuh mbak, errr beneran enak sih mudah mudahan. Yah sejauh ini sih belom sampe diare:mrgreen:

  16. aku mau komen satu2 tapi nanti kepanjangan… x)))
    yang tentang bisa masak itu menurut aku sih emang seharusnya gitu kali ya, aku juga sebenernya masih belajar banget, tapi setelah nikah jadi ngerasa penting banget masakin suami, kasian atuh kalau makan nya beli terus, (mahal lagi.. hahahha)
    terus pengen juga nanti dikangenin sama anak-anak gara2 masakannya, soalnya aku juga gitu kalau pergi lama pasti kangen karedok sama tempe merah buatan mamah hahaaay.. x))))))
    ih aku sukaa ayam goreng mergosari yang ada serundeng2 lengkuas nya… *langsung lapar*

    • Haha, ini harusnya kubikin 4 postingan ya, Ny. Biar komennya satu2 dan aku tercitra sebagai blogger yg aktif. Haha… *modus*πŸ˜†
      Eh, tempe merah tuh yg kayak gimana sih, Ny? Orak arik, bukan? Aku ini pecinta tempe nomor wahid, mau dimasak apa ajaaaaa, enak buatku.πŸ˜‰
      Setuju bgt, masak dirumah itu bagus utk kesehatan badan dan… kantong!πŸ™‚

  17. Mendut itu tepung ketan, makanya bisa ‘mendut-mendut’ / kenyal gitu mbaak… mau dong… mba titi yang ini diwarisi resep udang bumbu kemirinyaaah….

    Trus… pengalamanku yang sudah enggak ada orang tua satupun, abaikanlah itu biaya akomodasi yang keluar buat nengok orangtua, sejauh kita bisa menanggungnya, selagi beliau ada, manfaatkan segala potensi untuk membahagiakan. Sekarang rasanya nyesel… kenapa dulu jaman bapak-ibu (include mertua) masih ada, gak teratur interlokal tiap minggu atau tiap dua minggu meski harus ke wartel, kenapa gak rajin rajin kirim surat, sekarang setelah beliau beliau wafat, ya nyesel ajaa…. rasanya kurang maksimal gituuu…*langsungmewekdeh*
    Dan soal memasak itu aku setujuh pake banget. Yang penting ada kemauan, insya allah ada jalan.

    • nah, dateng lagi nih 1 chef yg profesional.πŸ™‚
      iyaaaa, makasih ralatnya ya, mbak cantiiikk… tepung ketan ya, cateuutttt..!πŸ™‚
      udang bumbu kemirinya gampil bgt, mbak. cuma ya rasanya kok lebih enak makan yg bikinan bumer ya, drpd bikinanku..? *mulai krisis PD*πŸ˜†
      iya ya, akan selalu ada jalan utk setiap niat baik. In shaa Allah… in shaa Allah… *maher zain nyanyi*πŸ™‚

  18. iya yah, aku juga selalu merasa “aku semakin tua yaaa..” dan suka lupa kalo orang tua pun juga semakin tua..πŸ˜₯ semoga orang tua kita selalu diberi kesehatan dan umur panjang ya mbak. amiiinnn..

    soal cerita ponakan mbak fitri itu, kok kampusnya aneh ya langsung suruh mengundurkan diri begitu? seingetku, seniorku dulu juga ada yang kecele begini, udah sidang skripsi eh taunya ada mata kuliah yang belum lulus, tapi gak sampe disuruh mengundurkan diri gitu sih, cuma jadi dipending wisudanya, trus diberesin mata kuliahnya, setelah beres baru bisa wisuda. begitu kan lebih fair ya kayanya..

    • aamiin, Li.. aamiin..
      iya, Li. Menurutku itu yg paling fair, win win solution, kan? walopun sebagai tante yg kenal ponakan banget, aku tahu deh, kesalahan bukan ada di pihak ponakanku. tapi ya mau gmn lagi, nasi udah terlanjur jd bubur, tinggal kasih kecap sama krupuk…:mrgreen:

  19. Miris sekali dengan cerita no. 3😦 . Harusnya bisa dicari jalan tengah dari kedua belah pihak. Sayang juga karena hanya 1 mata kuliah lagi, jadi tidak bisa dapat Ijasah, padahal ijasah perlu buat cari kerja.

    Instagram itu tempat bagus buat promosi dagangan ya?. Saya sih belum ikutan, makin kesini makin banyak sosial media, kadang latah ikut-ikut, setelah daftar malah ga pernah dibukaπŸ˜† .

    • hiks, iya mbak. sedih aku liat ponakanku, juga kakakku..😦
      instagram buat ajang narsis, mbaakk.. cocok lah buat aku yg nggak bisa liat kamera nganggur. haha… cocok juga sih buat online shop, soalnya kan gampil bgt tuh bikin akun baru trus upload2 dagangan..πŸ™‚
      aku twitter tuh mbak, yg duluuuuu bgt bikin akunnya, eh karena ndak pernah dibuka, skrg lupaaaa passwordnya… *kelakuan*πŸ˜†

  20. salam kenal ya mbak..
    hadeh itu postingan tentang masaknya nampar saya banget nih…
    hahahaha…
    lumayan lah kalo masak masak ringan, kalo masak macem rendang dkk belum pernah samsek, tingal minta dimasakin mama or MIl aza…
    biar masakanku gak enak tapi misua berhasil naik 26 kilo sajah dlm 2 tahun donk..
    hahahaha…parah kan?

    baiklah (menanamkan tekad kuat dalam hati) aku harus bisa masak deh..

    • halo, salam kenal mbak Nyra…
      haha, akuh juga ngerasa tertampar kok, tenang sajaaa… dirimu tak sendiri…πŸ˜†
      Naik 26 kilo dalam 2 tahun? oh woooowww! harus di forward ke bagindaraja, nih. beliau 9 tahun nikah cuma ukuran celana naik 2 nomor aja udah protesssss….! hihi…
      nanem tekadnya bareng2 aku, yaaaa…πŸ™‚

  21. bener banget mbak, kadang manusianya aja (termasuk aku tentunya) yang sering lupa kalau kematian itu dekat sekali..
    dan iya, belajar masak itu penting, enak- ga enak ya urusan nanti, hehehe
    dan poin terakhir, iya, kadang lupa kalau ortu kita juga tambah tua, kemarin pas pulkam kebetulan mamaku ultah, dan ga nyadar aja kalau ternyata usianya udah hampir 50

    • iya, Mel. Kadang langsung shock ya, kalo ada berita duka cita, apalagi orang yg kita kenal deket, trus nggak sakit ato apa, mendadak meninggal.😦
      Ah, percayalah sama Amel. Selain rajin kuliah, rajin juga latihan masak, kan?πŸ™‚
      Iiihh, mamamu masih muda, ya. Seumuran ibu mertuaku, dong. Ibuku nih, yang udah sepuh. Udah mau 70 tahun. Hiks, sedih aku pas beliau ngomong soal brp tahun jatah beliau hidup itu…😦

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s