Hidup itu (tak selalu) pilihan

Akhir tahun 2012 lalu, salah seorang teman kantor saya, sebut saja namanya mas IR, kehilangan (calon) anak ke2-nya. Jadi waktu check up kehamilan, bayi yang nyaris 9 bulan dikandung istrinya diketahui sudah meninggal dunia di dalam perut, dan mau nggak mau harus segera dioperasi, demi keselamatan nyawa sang ibu. Shock? Siapa yang tidak? Saya menyaksikan sendiri betapa hancurnya mereka. Bukan cuma mereka sebenernya, kami teman kantor mas IR juga shock bukan main, karena berbulan-bulan sebelumnya kami juga sudah ikut merasakan sukacita mas IR mempersiapkan kelahiran calon anak ke2-nya ini. Acara syukuran kelahiran si (calon) bayi sudah diatur sedemikian rupa, tinggal eksekusi hari-nya. Apa daya, manusia hanya bisa merencanakan, ALLAH pula-lah yang menentukan.

Sebagai seorang ibu, saya sedih sekali melihat istri mas IR. Bayangkan, jabang bayi yang hampir 9 bulan di dalam perut -Hari Perkiraan Lahir tinggal hitungan hari- dinyatakan sudah meninggal, dan harus secepatnya dikeluarkan melalui jalan operasi. Gimana rasanya coba, pasca operasi yang (katanya) sakit minta ampun itu, si jabang bayi bukannya dipeluk, disusui dan dibawa pulang, melainkan langsung dibawa ke pemakaman..? Hiks, sungguh saya nggak bisa membayangkan rasanya.๐Ÿ˜ฅ Later on, setelah dilakukan observasi, ternyata si calon bayi mereka itu mengidap kelainan jantung -entah apa istilah medisnya- yang mana kalo kata dokternya, seandainya si bayi ini lahirpun, hidupnya (diprediksi) tidak akan lama, mengingat kelainan jantung bawaan itu tadi. Kami juga nggak ngerti, bagaimana bisa kelainan itu tak terdeteksi di awal-awal kehamilan, padahal mereka cukup rajin periksa ke dokter kandungan. Nasi sudah menjadi bubur, dan sebagai teman saya cukup lega, akhirnya pelan tapi pasti mas IR dan istrinya bisa move on dari kejadian menyedihkan ini.

Nah, hari Sabtu kemaren, saya menemani Baginda Raja melayat ke rumah salah seorang teman kantornya, sebut saja namanya mbak IN. Putra ke-3 mbak IN yang berumur 1 tahun 2 bulan, meninggal dunia, dan secara kebetulan, JUGA karena mempunyai penyakit kelainan jantung. Kalo dari cerita Baginda Raja, kelainan ini sebenernya sudah dari tahun lalu terdeteksi, dan dokter yang memeriksa sudah menyarankan operasi sesegera mungkin. Tapi…. saya nggak tahu kenapa operasinya gagal dilakukan, saya juga (masih) nggak ngerti, kenapa kelainan jantung itu tidak terdeteksi sejak awal kehamilan. Yang jelas, saat melihat tubuh bocah sekecil itu terbujur kaku, diam tak bernafas, tak bergerak, tak bersuara, UNTUK SELAMA-LAMANYA, hati saya pediiiihhh sekali. Langsung terbayang para krucil saya. Terbayang betapa sering emaknya ini histeris ngomel dan merepet, bahkan disaat mereka ‘hanya’ melakonkan peran mereka sebagai seorang kanak-kanak.๐Ÿ˜ฆ Hiks, apa jadinya kalo salah 1 dari mereka yang berada di posisi anak mbak IN itu..? Akankah saya bisa (terlihat) tegar, setegar mbak IN dan suaminya..? Ah, entahlah.. saya nggak bisa DAN nggak mau berandai-andai.. Nggak kuat.๐Ÿ˜ฅ

Dan lalu di perjalanan pulang dari melayat itu, saya terllibat percakapan dengan Baginda Raja, membandingkan kejadian yang menimpa mas IR dan mbak IN ini. Seandainya disuruh memilih, pilih mana: seperti mas IR mengalami tragisnya kehilangan jabang bayiย  yang dilahirkan dalam kondisi tak bernafas, ATAU seperti mbak IN, yang diberi kesempatan melahirkan, menyusui dan membesarkan anaknya, TAPI ‘cuma’ diberi waktu setahun 2 bulan, which is not enaugh at all, yaa ALLAH..!๐Ÿ˜ฅ

Keduanya bukan pilihan yang indah, saya tahu. Dan jujur, sampe detik ini, saya tidak mampu memilih. Sungguh. Mungkin, istri Mas IR merasa jauh lebih beruntung daripada mbak IN, karena kenangan atas si (calon) bayi ‘hanya’ sebatas pada proses kehamilan yang 9 bulan itu… tapi… bisa jadi, Mbak IN merasa jauuhhh lebih beruntung, karena bisa melahirkan, menyusui, menggendong, mengasuh putranya, dan mempunyai kenangan manis selama setahun 2 bulan yang pasti tak bisa digantikan oleh apapun. Saya menghormati dan salut sekali pada kebesaran hati mereka, karena saya benar-benar masih belum bisa memposisikan diri saya, seandainya harus menjadi salah satu diantara mereka.๐Ÿ˜ฆ

Dan lalu akhirnya, saya dan Baginda Raja sampai pada 1 titik kesimpulan:

Bahwa benar, ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah apa-apa yang ada di diri mereka sendiri. Mau hidup senang atau sebaliknya hidup susah itu adalah pilihan. Kalo mau hidup senang, ya tinggal dikuatkan di niat-usaha-ikhtiar dan do’a-nya saja, tho? Se-simpel itu? Iya, memang se-simpel itu. Namun jangan lupa, Hidup itu TIDAK SELALU terdiri dari pilihan-pilihan. Kadang, sebagai manusia kita memang tidak bisa memilih, hanya bisa menjalani apa yang sudah ALLAH gariskan. Di sisi yang lain, yakinlah, seburuk-buruknya rencana ALLAH untuk kita, rencana itu -In shaa ALLAH- akan selalu menjadi yang terbaik, karena SEBAIK-BAIK pembuat skenario adalah DIA ALLAH SWT Yang Maha Mengetahui.

.. dan seandainya boleh memilih, aku memilih untuk bisa selalu bersama mereka ini, yaa ALLAH. Dalam sehat, sejahtera dan bahagia, DUNIA dan AKHIRAT. Aamiin...

.. dan seandainya boleh memilih, Yaa ALLAH.. aku memilih untuk bisa selalu bersama mereka ini, dalam sehat, sejahtera dan bahagia, DUNIA-AKHIRAT. Aamiin…

Jadi.. sekali lagi: nikmat ALLAH yang mana lagi, yang sudah saya dustakan..? *kumpulindosasegunung*๐Ÿ˜†

PS: Postingan ini hanya curhat, tidak ada maksud untuk menakut-nakuti apalagi membuat galau. Buat yang udah punya anak, yuk mari Seus, kita sabar-sabar sama mereka *ngetik untuk diri sendiri*๐Ÿ˜† Buat yang lagi hamil, jaga pikiran untuk selalu positif, in shaa ALLAH semuanya akan baik-baik saja. Dan buat yang belum hamil… uhm… musti ngasih nasihat apalagi, ya? Hayooo, bikin yang lebih cemungudhhh ya, kakaaakkk…! *elokatabikinprakarya?*:mrgreen:

42 thoughts on “Hidup itu (tak selalu) pilihan

  1. Dalam hal tersebut, hidup bukan pilihan ya.. aku setuju.
    Tapi aku selalu menilai mereka yang mendapat ujian kehilangan anak-anak mereka adalah orang orang yang ‘terpilih’. Kesabaran mba In dan suami memang patut diacungin jempol.

    • aku jadi inget ucapan tika bisono waktu duluuu bgt kehilangan anak perempuannya yg meninggal karena DB itu. Dia bilang, “katanya orang yg dapet ujian itu orang yg mau naik kelas. Kalo boleh milih, saya mau naik kelas melalui ujian yg lain, jangan ujian yg ini…”
      Nyeseeekkk bgt dengernya.๐Ÿ˜ฆ
      Aku salut sama mbak IN itu, mbak. Nyaris nggak ku liat sisa2 airmatanya, loh.

  2. baca ini langsung berkaca-kaca. sadar selama ini stock sabar ngadepin anak itu rasanya masih selalu di bawah angka 5 dan pendek banget sumbu sadarnya. huhuhuhu… smoga kita smua selalu diberi kesabaran dan kesempatan yang seluas2nya dan sepanjang2nya untuk selalu menjaga dan bersama keluarga tercinta.. amin…

    • halo, Nia.. Soal nggak sabaran ngurus anak, yuk mari gabung denganku.
      Tapi harus sering2 ngingetin diri sendiri, loh. Gegara keseringan ngeluh, jangan2 ada banyaaakkk sekali hal baik yg kita lewatkan, ya? Duh, jangan deh. Semoga tidak..๐Ÿ™‚

  3. Selalu nyesek baca cerita tentang kehilangan orang yang dicinta, terutama anak… Adikku pernah mengalaminya.๐Ÿ˜ฅ
    Mudah-mudahan Alloh mengaruniai mereka kekuatan dan kesabaran.

      • Udah lama, Mei 2010. Umurnya baru 8 bulan, lagi lucu2nya ya… (selalu tidak ada waktu yg kita pikir ‘pas’ untuk ‘diambil’ ) dan anak pertama pula (tapi anak ke berapa pun kayanya sama perihnya).
        Jadi aku dan adik iparku ini hamilnya bareng, HPL nya beda2 dikit duluan dia. Berhubung aku mah prematur jadi deh lahirannya duluan Javas, beda sebulanan gitu…. Kebayang kan kami hampir tiap hari ngobrolin bayi2 kami ini…. Aku pun ngerasa kaya punya dua bayi, kalo beli baju gitu suka inget beli 2, kalo dia sakit juga ikut kepikiran kaya anakku yg sakit, gitu deh…
        Selasa siang aku masih chatting sama adik iparku ini, dia ngabarin kalau Rafif diare, aku saranin ini itu, dan dia bilang nanti malem mau ke dokter. Jam 9 malem ke dokter, trus minum obat, rewel gak bisa tidur, gelisah, jam 2 adikku gantian tidur sama istrinya. Abis sholat subuh giliran adikku yg tidur, jam 6 bangun, langsung mandi siap2 ngantor. Mo berangkat ngantor liat si bayi susah nafas kaya sesek gitu. Lari ke RS, RS itu gak lengkap alatnya, pindah RS lain (RS ibu anak) dan baru beberapa menit alat2 medis itu dipasang, adikku liat dari jauh alat2 itu dicabut lagi….. yang artinya……. si bayi telah ‘pergi’ ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ
        Sungguh, aku aja lama move on-nya… Bahkan berbulan2 setelah itu aku masih ‘trauma’, deg2an dan merinding kalo ibuku nelpon pagi2, karena langsung ingat telepon Rabu pagi hari itu..

        • ya Allah, mbaaakkk…! Merinding, aku bacanya..๐Ÿ˜ฆ
          Dan itu sebelumnya nggak punya riwayat sakit apapun, gituuuu…?
          Oh my…๐Ÿ˜ฆ
          Iya, mbak… selalu tidak ada waktu yg kita pikir โ€˜pasโ€™ untuk โ€˜diambilโ€™
          Kebayang itu kayak gimana pedihnya hati orangtuanya….

          • Gak ada riwayat sakit apa pun. Sehat, cakep, lucu, murah senyum, (aah.. Aku ngetik ini aja jadi mewek lagi..)
            Aku sempat menduga salah obat, tapi mau diterusin diselidiki keluarga gak setuju, takut malah gak sembuh2 luka adikku itu..

  4. semoga dengan keikhlasan mereka, mereka segera menemukan kabar gembiranya ya Mak, aamiin

    ada teman di perush yang dulu, konyolnya aku gak tau kabar (calon) putri ke-2 nya. Dan ketika tersambung lagi tali silaturahmi, aku baru tahu, kalau dia kehilangan, persis seperti istrinya mas IR ini…tapi bayinya 8 bulan. Dan karena aku telat bgt taunya, dia udah tegar…. dia bilang, gpp Lu, dia udah di surga. Trus gak berapa lama kemudian dia hamil lagi Mak, Alhamdulilah banget….

    haduh Mak…ini masih nyesek sisa kemaren, meski 2 harian ini kami (aku dan Inot) menikmati hari2 indah nyaris tanpa cela…. tapi…. gini ini…jadi pengen lari pulang aja…. *trus inget kalau 30km jauhnya*

    • aamiin, Lu.. aamiin…
      aku salut sama orang yg cepat move on dari dukacita kehilangan orang terdekat, Lu. Apalagi kalo kehilangannya anak kecil, haduh.. langsung inget krucils kita kan, ya?
      Ehm… tadinya mau terus sedih, cuma langsung ngakak di caption kalimat terakhirmu: 30 km menuju rumah HANYA untuk meluk Inot… aihhh.. tunggu nanti pulang kantor aja kali, ya..๐Ÿ˜†

  5. cerita begini selalu menyesakkan dada, Mak. Dan pas ketemu yang mengalaminya, aku selalu mikir, aku yg hamil 2 bulan keguguran aja ngerasa sedihnya sampe ke ulu hati dan bahkan mengingatnya sekarang aja masih inget gimana sedihnya dulu, kok. Dan I always lost in words sewaktu berhadapan dengan teman yg mengalaminya, cuma bisa diem doang sambil ikutan mewek.

    • Sebelum hamil Andro, aku juga kan 2x keguguran, Mak. Gustiiiii, itu patah hatinya minta ampuuunn… Padahal masih umur2 6-8 minggu gitu, deh. Nggak kebayang istrinya mas IR yang tinggal nunggu brojol itu. Hiks, udah kerasa itu gerakan2 dan tendangannya…๐Ÿ˜ฆ
      Dan iyaaa… aku jg pasti selalu speechless kalo pas melayat gitu. Bingung mau ngomong apa….

  6. baca ini langsung bingung mesti gimana ini aku Fit huhuhu. sedihhh bagnet ya mikirin keluarga2 yang ditinggal ini ๐Ÿ˜ฆ sampe skr aja aku gak bisa bayangin kalo bokap/nyokap/adek/matt meninggal. ughhhh aku ikut mati aja deh

    • haduhhh.. jangan ikut mati dong, Non… Lah nanti siapa yg mau nganterin aku kalo pengen ke Toba…? #eh?๐Ÿ˜†
      Non, jodoh dan maut kan ghaib.. makanya.. yuk mari yuk.. jangan sia2kan orang2 yg kita sayangi. Dari sekarang, bikin mereka happy terus. Jangan suka ngambek ke Matt, dong. Kasihan ih, anak orang impor jauh2 disini di bully mulu sama estrinya…:mrgreen:

      • anak import huahhahahahahahaha *astaga fit aku ketawa ngakak bacanya*

        aku gak ngebully dia koq cuman ngajarin dia hidup yg sesungguh2nya hihihi. iya sih kadang2 suka gak sadar ya nyia2in mereka huhhuhuhu.

        tq FIt๐Ÿ™‚ nice post darling

  7. Mbaaaa kok ini sama banget sih sama yang mau aku tulis. Anaknya temenku dari pas lahir langsung dirawat NICU, kena penyakit gitu, udah sebulan akhirnya kemarin meninggal๐Ÿ˜ฆ Ya Allah aku g sanggup liat fotonya dipasangin alat ini itu๐Ÿ˜ฆ
    Trus2 tau gak, akupun rencananya diakhir tulisan mau nulis “nikmat Allah mana lagi blba bla..” . Eeehh pas masuk sini kok similiar sekali ceritanya.
    Pediiiihhh bacanya

    • Innalillahi.. ikut berdukacita, Fen.. Hiks, tambah sedih aku jadinya…๐Ÿ˜ฆ
      Postingannya belum di publish ya..? Aku pengen baca cerita komplitnya…
      Kadang, musibah yg menimpa orang lain memang menampar kita, KERAS sekali, ya.
      Hayo, hayo.. mari cepat2 kita instrospeksi.. apa yg kurang2 cepetan dibenahi, yes?๐Ÿ™‚

  8. Pas dapet kabar anak temen yang duduk di belakang kubikelku yang baru mau setahun waktu itu, meninggal, setelah 2 hari sebelumnya, temenku curhat, anaknya sakit mau tumbuh gigi, aku cuma bisa diem, terus air mata tau-tau udah beleleran aja. Nyes.

    Semoga kita dikasih kesempatan ngeliat anak-anak kita bertumbuh ya mbak. Semoga kita dikasih sabar yang banyaaaaaaaak biar g ada penyesalan. Amiiin
    *peluuuk #apasihsokakrab๐Ÿ˜›

    • Cuma sakit 2 hari? Waduh.. sakit apa itu, Ky..? Sedihnya…๐Ÿ˜ฆ
      Aamiin… itu kalimat terakhir bener2 kuamin-i sepenuh hati. Stok sabar, mana stok sabar. Refill dong… yang banyaaaakkk ya.๐Ÿ˜†
      *peluk balik*
      *emangkenapawongemangakrab*๐Ÿ˜†
      Btw, aku nggak pernah bisa buka link blogmu nih, kalo dari kompi kantor. Hiks, kenapa, yaaa….

  9. aduh kenapa lagi pada nulis yang bikin mellow gini..udah berapa blog aku mampir pada nulis yang sedih2..aku kan jadi nya mewekkk :__(

    semoga IR dan IN tabah dan kuat menjalani cobaan nya..

  10. setiap malam sebelum tidur, saya melihat anak2 saya sdh trtidur lelap. Saya belai kepala mereka dgn lembut, ‘maafkan mama kalau hr ini mama marah2 sama kalian’. Yaa walaupun bsk marah2 lg.. Tp saya gak mau kehilangan mereka dgn cepat, hiks. .

    • Duh, Indah… bagian belai2 pas mereka tidur, minta maaf ribuan kali, itu sih AKU banget… DAN, bagian besokannya marah2 lagi juga… AKU banget.. Hiks…๐Ÿ˜ฆ
      Seandainya bisa, aku mau deh operasi putus urat marah dan perpanjang urat sabar…๐Ÿ˜†

  11. Sedih bacanya, jadi inget senior tempat saya magang dulu yang lagi hamil.
    Dengan sumringah bilang mau cek USG dulu, bilangnya sore mau balik lagi absen. Ternyata gak balik-balik ke kantor lagi sampai dua minggu. Ternyata pas USG itu baru ketahuan bayinya sudah wafat. Sedih banget pas tahu๐Ÿ˜ฅ

  12. Selalu menyesakkan yah, Fit, mendengar, melihat dan membaca cerita orang-orang yang tegar saat kehilangan putra/i mereka.

    Tapi, benar kadang memang itulah jalan yang mesti dilewati๐Ÿ™‚

  13. baca cerita kehilangan memang selalu bikin sedih ya mbak. hari jum’at lalu aku juga abis melayat ke rumah salah seorang staf kantor yang ibunya meninggal dunia, pas sampai di lokasi langsung terbayang ibuku sendiri, hiks. semoga orang tua kita pun juga selalu diberi umur panjang dan kebahagiaan dalam hidupnya ya mbak. amiinn..

    kalo soal kehamilan, waktu kerja di jakarta, seniorku juga ada yang kayak istrinya mas IR, tapi hamilnya baru beberapa bulan. 3 bulanan gitu kalo ga salah. dia emang ngerasa aneh, kok berasa ga ada pergerakan gitu di perutnya, pas diperiksa ternyata bayinya memang udah meninggal dunia. hiks sedih ngebayangin ada di posisi itu, apalagi di posisi istrinya mas IR dan mba IN itu yah..

    nice post, mbaa..๐Ÿ™‚

    • iyaaa… setiap melayat pasti langsung kebayang SEMUA orang tersayang kita, ya..๐Ÿ˜ฆ

      haha, ini postingan lebih banyak buat ngingetin diri sendiri kok, Li..๐Ÿ™‚
      Thank you, ya…

  14. ikutan nyesek mbak.. jadi inget temenku satu lingkaran ngaji, kita hamil bareng, lairan juga cuma beda 2 hari duluan dia.. tetiba usia 4 bulan, dini hari dia sms ngabarin kalo anaknya masuk ICU… gak lama kemudian meninggal… huuuaaaaa, aku nangis sambil meluk bayiku… gak kebayang perasaan dia, anak kedua yang sangat dinantikan setelah si kakak dah umur 8 tahun…
    Tapi bener, peristiwa-peristiwa begitu bikin kita jadi kudu lebih bisa bersyukur atas nikmat Allah.. dan besyukur punya anak-anak yang sehat dan sebenarnya tidak merepotkan… akunya aja yang belum bisa sabar… hiks TFS

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s