Surat untuk seorang kawan

Dear, Puspa…

Sudah lama ya, kita tak bertemu? Dari berita terakhir yang kudengar, sekarang kamu sudah punya 5 junior, ya. Wah, kalah telak nih, aku. Gimana kabar mereka? Aku selalu berdoa semoga ALLAH selalu melindungi kalian. Uhm, sebenernya males nanyain ini, tapi… aku bener-bener penasaran. Gimana dengan suamimu, si Dursasana itu? Sori ya, aku panggil suamimu dengan sebutan itu. Mau gimana lagi? Kelakuannya emang sebelas dua belas dengan Dursasana, kok. Suka merendahkan derajat perempuan. Tapi jujur sih, aku memang sudah nggak inget siapa nama aslinya. Yang kuingat hanya tampang (sok) tanpa dosanya, ketika kami bertemu untuk pertama kalinya dulu. Kalau saja aku tak lebih dulu mengenalmu, aku mungkin akan seperti kebanyakan orang yang lain, Pus. Terkecoh pada penampilan perlentenya sebagai dosen di salah satu PTN ternama di Bandung ini.

Iya, dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati, siapa yang tahu? Orang mungkin nggak akan percaya, kalo Dursasana, suamimu itu, yang tampangnya intelek, sopan dan nampak alim itu, (haha, alim? Padahal menurutmu, sholat 5 waktu saja dia suka lewat kan, Pus?) menyimpan penyakit yang -entah kenapa aku merasa- nggak akan mungkin bisa diobati.

Apa ya, nama penyakit yang cocok disandangkan padanya? Seorang laki-laki yang:

  1. SETIAP JAM menelponmu hanya untuk menanyakan dengan kadar curiga tertinggi: ada/nggak, LAKI-LAKI di sekitarmu; (oke, menelpon setiap jam mungkin masih bisa diterima, Pus. Tapiiiii… mencurigai ada laki-laki di sebelahmu yang jelas-jelas sedang sholat Dhuha di mesjid kantor, sampe-sampe temen kantor yang sedang sholat kamu suruh ngomong, hanya demi untuk menjawab kecurigaan suamimu: keterlaluan banget nggak sih, Pus? Bahkan urusan pribadimu dengan Sang Pencipta saja, dia curigai…!๐Ÿ˜ฆ )
  2. Menyangsikan ke-2 anak kalian (waktu itu kalian baru punya 2 buntut kan, ya?) sebagai darah dagingnya, dan meminta melakukan test darah, HANYA KARENA menurut dia, wajah mereka berbeda dengan wajahnya; (padahal semua orang yang melihat mereka ber-2 dengan mata telanjang pun, sepakat, wajah anak kalian itu 100% mirip bapaknya!)
  3. Mencurigai setiap teman kantor yang mobilnya kamu tumpangi, padahal selama kamu menumpang, nggak pernah sekalipun kalian jalan ber-dua. Selalu ada teman PEREMPUAN lain yang juga ikut menumpang;
  4. Main fisik. Mukul. Gampar. Nampar. Nendang. DAN BERULANG-ULANG KALI, DAN dilakukan DI-RU-MAH ! Puspa, bahkan sampe detik ini, aku masih saja nggak bisa, ngebayangin seorang istri dihajar habis-habisan sama suami di depan anak-anaknya yang masih balita.๐Ÿ˜ฆ

Aku masih ingat, dengan semua lebam-lebam di wajahmu, yang selalu coba kamu tutupi dengan jilbab lebarmu itu. Sebagai seorang teman yang sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya, hatiku pediiiihhh sekali.

Bagaimana bisa, muslimah solehah sepertimu, bersuamikan monster tak berperikemanusiaan seperti Dursasana..?

Bagaimana bisa, kamu Puspa, perempuan bergamis panjang, berjilbab lebar, yang boro-boro salaman dengan laki-laki: menatap mata mereka saat bicara-pun, kamu nggak pernah mau; DICURIGAI sedemikian rendahnya oleh suami sendiri..? Oleh laki-laki yang harusnya menjaga harga dirimu, menjaga martabatmu, menjunjung tinggi kehormatanmu…?

Sungguh, waktu itu aku marah, sekali. Sebagai perempuan yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, kamu benar-benar seperti tidak ada harganya di mata Dursasana. Kamu muslimah yang taat, ibu yang baik, istri yang penurut, menghasilkan uang dalam jumlah yang lumayan karena kamu juga bekerja. Apalagi yang kurang? Nggak ada. Suamimu memang sakit. Pahit memang, tapi harus diakui begitulah kenyataannya. Aku masih ingat ceritamu, tentang rapat keluarga yang bolak-balik diadakan oleh keluarga kalian, dan disitu suamimu pasti menangis-nangis, memohon supaya diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi begitu rapat selesai dan semua keluarga sudah pulang ke kota mereka masing-masing, dia kembali menjadi monster yang seakan-akan tak pernah puas menyiksamu.

Aku bukan termasuk orang yang antipati dengan proses Ta’aruf, Pus. Begitupun dengan ta’aruf yang menurutmu kalian lakukan sebelum kalian menikah dulu. Bagiku, ta’aruf itu indah, selama orang-orang yang menjalaninya juga indah. Tapi, kalo kondisinya berakhir begini, siapa yang salah? Dia, Puspa! Bukan kamu! Dia yang sakit! Bukan kamu! Tapi kenapa, lambat laun, aku melihatmu sedikit demi sedikit tertular sakit juga? Aku masih ingat kata-kata seorang psikolog: jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga, di kekerasan yang pertama dan kedua, pelaku KDRT itu-lah yang salah. Tapi ketika KDRT itu terjadi BERULANG-ULANG, maka ada andil korban disitu: kenapa membiarkan kekerasan itu terjadi lagi, lagi dan lagi?

Allah membenci perceraian, Puspa. Tapi DIA tidak melarang, jika memang itu yang terbaik untuk ummat-NYA. Aku kasihan bukan hanya padamu. Sebagai ibu, batinku berontak nggak terima mengingat anak-anakmu yang masih kecil itu. Akan seperti apa mereka saat besar nanti, jika setiap hari yang dilihat adalah pertengkaran demi pertengkaran, makian-makian, tamparan, pukulan dan tangisan sedih ibunya…? ๐Ÿ˜ฆ Kamu ngerti kan, ibu yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia, dan berlaku pula sebaliknya…?

Dulu, aku percaya, kamu sudah membulatkan tekad untuk berpisah dari Dursasana, walaupun sempat ada keraguan karena dia mengancam akan mengambil anak-anak kalian jika kamu tetap nekad mengajukan cerai;

Dulu, aku percaya, kamu cukup berani untuk mengambil tindakan tegas, mengakhiri semua penderitaanmu, semua penderitaan anak-anakmu;

Dulu, aku percaya, kamu cukup cerdas untuk mengambil langkah hukum atas semua yang sudah dilakukan suamimu…

Tapi itu dulu, Puspa.

Seiring waktu, aku makin tak tahu, apa yang sebenarnya kamu cari. Cinta? Aku yakin, itu bukan alasanmu. Bagaimana bisa, kamu cinta pada seseorang yang hidupnya hanya diisi untuk menyakiti dan membenamkanmu pada titik terendah, sampe-sampe sulit untuk membedakan posisi-mu dengan binatang…? Lalu apa? Ladang pahala? Menerima semua siksaan verbal dan non verbal itu setiap hari? Ah, Puspa… Masih banyaaakkk sekali pahala yang bisa kamu kejar, dari ladang yang lain. Bukan ladang yang ini.

Puspa, bahkan sampe hari inipun, aku nggak pernah tahu, apa yang akhirnya membuatmu mundur, dan memilih untuk tetap bersama monster itu. Aku juga nggak pernah habis pikir, bagaimana bisa sekarang justru kalian mempunyai 5 anak..? Bagaimana bisa…?

Entahlah. Aku masih tetap tak mengerti. Namun pada akhirnya, aku harus setuju dengan salah satu kalimat yang kutemukan beberapa hari lalu di jurnal Maya:

pinjem dari blognya Maya

Maaf ya, Puspa…

Aku harus menyerah padamu. Meskipun hati kecilku tak mau, tapi bagaimana bisa, aku memaksakan sesuatu (yang kuanggap baik) padamu, sementara di sisi lain, kamu sendiri sudah tidak perduli lagi…?

Semoga ALLAH selalu melindungi kamu dan anak-anak. Do’a untuk suamimu? Well, meskipun ragu, tapi sebenernya aku masih berharap dia sudah berubah. Demi kamu, demi anak-anak kalian. Tapi kalo ternyata tidak: suruh pergi saja dia ke neraka!

Ps: Nama-nama di dalam postingan ini fiktif belaka. Tapi sayang seribu sayang, semua kejadiannya adalah kejadian nyata.๐Ÿ˜ฆ

97 thoughts on “Surat untuk seorang kawan

  1. Aku sedih..aku sedih…sedih sangat.
    Akupun bertaรกruf tapi tidak berharap kisah ini teradaptasi..๐Ÿ˜ฆ
    Semoga kelak Allah memberikan jalan dan kemudahan pada si Puspa ya

  2. puspa ini sepertinya harus belajar untuk mencintai dirinya sendiri dulu baru mencintai orang lain. And yes I will give up on someone like her. tapi dilubuk hati paling dlam pasti kita masih menyisipkan namanya dalam doa2 kita…
    ps: hei dursasana…. kamu sakit ya?parah sekali sakitmu!!! *huhhh Gemess*

    • Joice, kamu betuuuulll banget!
      Hati kecil masih nggak terima liat dia diperlakukan begitu, tapi apalah daya, siapa kita kan, maksa2 dia utk berani ngelawan…? Terpaksa, aku harus menyerah di titik ini…๐Ÿ˜ฆ

      • Duhai Baginda Ratu, saya jgn dipanggil mbak, masih kecil ini saya *ga tau diri*

        Salah sendiri sih ya, ga memperkenalkan diri dulu heuheu..
        Panggil Hicha aja mbak..๐Ÿ™‚

        Etapi saya gapapa kn ya manggil mbak? Hiihihi..

  3. Huwaaaaaa…jangan jangan emang istrinya kyk udah di doktrin dan diancam mba.
    Makanya dia gak bisa berbuat apa-apa.
    Tapi ya gak tau juga yah. Padahal jaman sekarang kan proses untuk minta perlindungan terhadap kekesaran wanita sudah cukup mudah.

    Semoga bisa ditunjukkan jalan yang baik.

  4. Harusnya cerita ini dikirim ke Asma Nadia mba, di buku Curahan Hati Aeorang Istri kalo g salah judulnya, banyak sekali cerita kyk gini. Sakiiiittt bgt bacanya. Naudzubillahimindzalik dipertemukan laki2 seperti itu.
    Eniwei, aku kagum sama cara menulisnya mba, mengaliiiirrr kayak aiiiirrr. Bikin buku dong๐Ÿ™‚

    • Halah, curhatan abal-abal gini, Fen. Nggak ada nyali buat ngirimnyaaaa…๐Ÿ˜€
      Ngaliiiirrrr, kayak aiiiirrrrr… menuju ke hiliiiirrrrrr… ditemani angin semiliiiiiirrrr….๐Ÿ˜†
      Bikin buku…? Fenti ngeledeeekkkk….!

  5. Ikutan gemesss sama si dursasana, pengin kujambak2 deh..
    Puspa2 ini banyak ternyata ya di sekitaran kita.. Temenku juga ada yg se’sabar’ puspa itu, padahal suaminya KDRT, selingkuh, pengangguran pula! Bukannya tahu diri mendapatkan anugrah istri cantik, pinter, berduit, eh malah selingkuh pula.. Dan alesannya: krn istrinya udah gak menarik! Dan si istri ini merubah total penampilannya, dulu bergamis berjilbab lebar, skrg modis, rajin ke salon, rajin senam, semua DEMI SUAMI. Dan suaminya? SELINGKUH LAGI!!!
    Gemesss sama suaminya, dan lebih gemess sm istrinya ini, kok pasrah terus? Dia ini anaknya 5 juga loh.. Dan si suami sama sekali gak pernah mau bantu urusan domestik dan ngasuh anak…

    • Mbak Fitri, aku ijin replu di komen Mbak Tituk duluan ya. Mbak Tituk salam kenal ya.

      Ihhh … pagi-pagi ini udah baca cerita Mbak Puspa yang menyedihkan sekaligus men’jengkelkan’. Makin berasap kepala ketika baca komen Mbak Tituk. Ya ALLAH Mbak, ada ya istri seperti itu. Itu laki-laki (g pantes disebut suami sih) kan ga ada bagus2nya. Demi apa coba malah berubah jadi ‘ga solehah’ begitu๐Ÿ˜ฆ

    • Mbak, percayalah.. bakal lebih gemessss kalo denger dan liat langsung kondisinya dulu…๐Ÿ˜ฆ
      Btw.. another Puspa itu: aku kenal nggaaaakkk…? Ngeriiii aku.. !๐Ÿ˜ฅ
      Tapi jadi makin bersyukur kan ya mbak, kita punya suami -yang nggak romantis2 amat-gaji juga pas2an aja-gantengpun relatif- tapi kan pengertian lembut baik sayang dan mau bantu2 urusan domestik kitaaaaa…. *ujung2nya urusan domestik lagi* hahaha…

      • Maya… salam kenal juga.. oo sesama korps baju biru senin rabu toh? hihi…
        Benerr bangettt Fit… makin mensyukuri suami kita yang sangat sering tidak kita syukuri itu… biarin lah gak romantis juga (gak penting2 amat kan yaa,, walo sering ngarep :))
        Another Puspa itu aku gak tau deh dirimu kenal ato gak.. kalo Myko kayanya kenal, tapi pasti gak tau ceritanya. Dia ini type istri sholehah yg gak pernah ngeluh deh… Aku kenal sejak dia awal2 nikah, yg sejak itu dia gak pernah mudik lebaran ke kampungnya, karena suaminya gak mau mudik ke sana dengan alasan simple MALES! gggrrrhhh… gak dianggep banget kan istrinya ituuh… Dan kita ngobrolin bayi2 kita (waktu itu Neysa msh bayi) dan dia takjub ketika aku cerita bahwa tugas bangun malem, bikin susu, ganti popok adalah tugas kami BERDUA, karena suaminya sama sekali gak peduli. Aku udah bilang komunikasikan keinginanmu, mumpung msh awal2 nikah, kan msh penyesuaian sana sini,, tp dia cenderung me-raja-kan suaminya. yo wis….

        • panggilannya Ayu, mbak…๐Ÿ™‚
          Bukan di de-je-pe. Adek kita yang 1 ini di be-ka-ef..๐Ÿ™‚
          Dan iyes, samaaaa.. pake baju biru dan ngejar2 absennya sama kita.. hihihi…
          Aduuuhh, aku beneran jadi kepo siapa dia ituuu.. Ah, pak Myko sih nggak akan tahu, beliau nggak pernah nge-gossip siiihhh… Ya ampuuuunn, banyak ya mbak drama2 di lingkungan kita..? Sereeemmm…!๐Ÿ˜ฆ

      • suka dengan kata kata “kita punya suami -yang nggak romantis2 amat-gaji juga pas2an aja-gantengpun relatif- tapi kan pengertian lembut baik sayang” podo aku mbak.wkwkw

  6. so sad for puspa karena dapet suami kayak gitu, tapi juga karena dia gak berani speak up for herself…
    suka gak abis pikir ama orang2 kayak puspa gitu…๐Ÿ˜ฆ
    harusnya ya suaminya dilaporin ke polisi!

    • Udah beberapa kali dianjurin lapor ke polisi, tapi dia kayak yang maju mundur gitu, Mas. Yang ada kita jadi gemesssss banget liatnya..๐Ÿ˜ฆ
      Too bad, ada banyaaakk sekali Puspa di Indonesia ini. Tapi emang yg lebih terasa miris karena kita liat langsung dan kenal akrab dengan korbannya. Huhuhu…

  7. Mungkin mbak Puspa-nya ingin anak-anaknya tetep memiliki sosok ‘Bapak’ dalam tumbuh di lingkungan keluarga yang ‘normal’, jadi mbak puspa-nya mengambil sikap diam (pasrah). Yah, walau belum menikah tapi ngeliat banyak kasus kyk gini bikin aq mikir kehidupan setelah nikah itu rumit, banyak hati yg harus dijaga. Pilihan jadi janda juga bukan keputusan yang ‘enak’ untuk dijalani. Semoga mbak Puspa diberi pahala dan juga pertolongan dari Allah atas ujian hidup yg seperti ini.

    • Doa yang terakhir itu ku amin-i, Eka. Aamiin….!
      Analisa psikologismu masuk akal banget, deh. Kenyataannya, memang masih banyaaakk sekali perempuan yang lebih memilih nahan penderitaan mereka berpuluh2 tahun lamanya daripada jadi janda. Hiks, menyedihkan!
      eh tapiiii, jangan takut juga kalo mau nikah. Masih ada kok, laki2 baik yang bertanggung jawab di luar sana, dan.. oh, bukan suami orang! Haha….

  8. aku merinding membayangkan anak-anaknya. Sedih buat mereka, sekaligus merinding tumbuh bagaimana mereka nanti. Aku kalo kelepasan marah ke krucils aja takut mereka luka batin, apalagi yang terus menerus begini. Batin-nya mereka terluka gimana, dan mereka tumbuh jadi orang yg bagaimana nantinya, dan bagaimana mereka nanti ke teman/pasangannya lagi.Vicious cycle kan, Aku percaya what doesn’t kill you make you stronger, tapi ini….hhhh….meski tetep ya, I’m not on her shoes. Semoga yang terbaik buat Puspa. Mutasi ke mana kek misalnya.

    • Mak, mutasi nggak akan menyelesaikan masalah. Dulu, sebelum di bandung, si puspa kan tinggal sama ibu mertuanya (catet, ibu mertuanya!) DAAANNNN lebih parah dong, dicurigainnya. Sakit kan suaminya ituuu…?๐Ÿ˜ฆ
      Kata orang, luka bisa sembuh, tapi kan bekasnya akan selalu ada, ya? Aku sama denganmu, keprihatinanku lebih tertuju sama anak2nya, macem mana mereka kalo gede nanti, huhuhu…

  9. Sedih dan marah bacanya Mbak. Lebih banyak marahnya sih. Ya, im not on her shoes sih memang, tapi secara kasat mata, untuk apa pernikahan seperti itu dipertahankan. Bila mungkin demi agar anak-anak masih punya sosok ayah, ya kalau ayah semacam itu mau dicontoh apanya sama anak-anak? Kekejamannya?

    • iya, Dek. Sedih, marah dan gemessss, campur2 jadi 1..๐Ÿ˜ฆ
      Aku nyesek banget karena tahu persiiiisss kayak gimana pribadinya si Puspa ini. Kalo dia emang model cewek yang nggak bener, MUNGKIN masih bisa dimaklumi (err, walopun apapun alasannya, kekerasan dlm RT nggak bisa diterima, ya!) kelakuan suaminya itu… Lah si Puspa ini asli nggak pernah neko2. Sosok muslimah sejati gitu, gimana sih? Liat mata laki2 yg ngajak ngomong dia aja nggak pernah, boro2 mau macem2, kan…?๐Ÿ˜ฆ

  10. jadi inget sama sosok penulis almh Pipit Senja…
    tapi yah, aku pernah baca (udah agak lama juga, lupa situsnya. dari tadi googling ga nemu) kalo ada jenis kelainan psikologis dimana penderitanya MEMANG menikmati keadaan yang menyedihkan. jadi dia suka dengan perasaan menderita yang dialaminya dan respon iba dari orang-orang. apa mungkin mba puspa memang menikmati penderitaannya yah??? 0_o apapun itu, aku mengharapkan yang terbaik buat mba puspa dan anak-anaknya.

    • ratna, permisi ya,, ikutan komen..
      almh Pipit Senja… almarhumah? udah meninggal? Kapan? aku ketinggalan berita…
      AKu juga baca kisah beliau yg mengalami KDRT itu, bahkan ketika hamil๐Ÿ˜ฅ
      Dan terakhir setahuku beliau mengajukan cerai ya, ketika sudah menjadi nenek, dan sebabnya dalah karena suaminya kawin lagi, istri barunya tinggal di situ dan menganggap bunda Pipit ini semacam pembantu saja di rumahnya!

  11. Ahhh..pagi2 udah meriding baca ini๐Ÿ˜ฆ
    semoga temannya dan semua perempuan yang mengalami KDRT berani melangkah keluar dari situasi tersebut. Dan semoga ia dan anak2nya dilindungi. Hiks. Ngerii..naudzubillah.

  12. ini cerita sedih ya, mb.. tapi aku bacanya lebih dominan merasa sebel sama mb puspanya itu. bagaimana orang lain bisa membantu dia keluar dari masalah itu, kalo justru dia sendiri membiarkan terus2an ada di dalamnya? padahal kn mb puspa itu juga sepaket dengan anak2nya (5 pula). ok lah, kalo dia bisa mengesampingkan siksaan terhadao dirinya sendiri. tapi anak2nya? mereka kan bisa jauh lebih tersiksa kan saat melihat ibunya disiksa? tapi yaaa..mungkin orang yg mengalami sendiri punya alasan tersendiri yg sama sekali tidak masuk di pikiran kita yg hanya melihat dari luar saja. aku ada temen deket yg suaminya bolak balik selingkuh tidak berpenghasilan dan ada KDRT juga. akhirnya emang dia mengajukan cerai, tapi itu setelah 10 tahun bermasalah, mb. katanya yg bikin dia tidak segera memutuskan adalah salah satunya karena ketakutannya menyandang status janda.๐Ÿ˜ฆ

    • astaghfirulloh…
      10 tahun…? Kemana ajaaaa….?๐Ÿ˜ฆ
      Dan alasannya ituuu… ya ampunnnn…!๐Ÿ˜ฆ
      Sama, Ni. Aku juga bingung dgn perasaanku sendiri, kok. Sedihnya ada, marahnya ada, keselnya ada, sebelnya juga ada ke si Puspa ini. Kenapa nggak berani fight, gitu…? Tapi ya sudah lah. Aku nggak mau nge-judge lebih jauh. Dia pasti punya alasan sendiri, kok. Udah tua ini, kan…?๐Ÿ™‚

      • Iya, mb.. klo kita ini mikirnya kn si istri ini jg secara finansial jg bs berdiri sendiri. Secara moral jg suaminya udah jelas gak bs dijadikan gantungan. Jd apa coba alasan untuk bertahan? Tp ya balik lg, kita cuma orang luar. Bisanya cuma urun rembug. Kalo pelakunya punya pemikiran lain, ya wis monggo. Akhir2nya, ya itu hidup, hidup dia sendiri kan..๐Ÿ™‚

  13. Astaghfirullah… ngenes kalo baca kisah-kisah seperti ini. Kasian tapi juga gemes, kenapa tidak mau move on, pengen coba memahami kenapa si puspa tidak mau bercerai, tapi juga jadi rada sebel. Ada orang dekatku yang juga begitu, si istri sudah mengikuti apa kata suami, yang ini malah anak-anaknya dah sangat oke kalo ibunya pisah ma ayahnya, tapi si ibu tetap belum mau karena masih berharap suaminya bisa berubah… tapi apakah itu tidak merusak jiwa raga si wanitanya kan?? Naudzubillahi min dzalik ya mbak…

    • haha, betul mbak Ika. Campur aduk ya, perasaan kita kalo nemu situasi kayak begini. Sedih, marah, kesel, gemes…..
      Aku sih masih berbaik sangka aja sama perempuan yang masih (berusaha) sabar sama kelakuan suaminya yang ‘ajaib’ itu, mbak. Mungkiiiinnn… cinta banget. Mungkiiiinnn… menuai pahala dari ladang itu… Mungkiiiinnnn… masih bisa nahan sakitnya…
      Yah, tapi ya seperti yang kubilang diatas itu tadi. Kadang2, kita memang harus menyerah pada orang2 yg seperti itu, bukan karena kita nggak perduli, tapi karena (sepertinya) mereka sendiri yang udah nggak perduli lagi. (???)๐Ÿ˜ฆ

  14. aku speechless mbak. Itu anak anaknya sakit loooh liat orang tua nya begitu. Bukan mau asal menghakimi tapi yang kepikiran pertama sama aku apa segitu takutnya jadi single parents bikin Puspa takut untuk bercerai? atau terlalu cinta (secara nambah anaknya kok fantastis)? Mungkin cintanya dia sama suami ngalahin cinta dia ke anak anaknya? Mungkin. Gak ada yang tau ya. Pray & hope the best for her and for her kids๐Ÿ˜ฆ *teringat pengalaman seseorang juga*

    • Ah, ini dia yg punya quote muncul. Ijin majang quote dari si aunty ya, May.. *telat!*๐Ÿ˜†
      May, aku udah nggak bisa komen lebih jauh, kenyataannya emang bikin shock, tapi seperti yg dibilang Ratna, bisa jadi si puspa jg menikmati kondisi ini, kali…๐Ÿ˜ฆ Aku jd penasaran sm pengalaman seseorang itu, ayo di share, kan buat pelajaran kitaaaa…

  15. Sedihnya, benciiii banget deh aku ma cowo2 yg kelakuan monster gini.
    Aku punya tante ya mirip2 kaya gini kejadinya mba. Tapi dia belum punya anak. Bengis banget deh suaminya.
    Akhirnya stelah 14 or 15th kawin. Give up juga n ngajuin cerai. Sekarang malah damai tentram sejahtera. Malah tanteku suka nyesel kenapa dia gak braniii speak out dari awal. Huehehehe
    Smoga yg bernama puspa dikuatkan diberi hidayah agar bisa melalui semuanya mba. Amin๐Ÿ˜ฆ

    • Apalagi aku Nis, yang dulu tiap hari liat langsung kondisinya. Iiiiiihh, pengen kujambak itu si dursasana..๐Ÿ˜ฆ
      Ya ampuunnnn, ikut sedih ttg si tante itu, Nis. Tp bagus deh ya, sekarang udah move on, beruntung jg kan, blm ada buntutnya…?

  16. Masih inget kah mbak tentang Ibu yang bunuh beberapa anaknya yang rame di beberapa tahun lalu? Aku pas baca kronologisnya, ngilu, karena sebelum bunuh, dia seperti biasa ngurus sampe meninabobokan anak2nya sebelum tidur. Miriiiiis banget denger alasannya. Karena dia merasa dirinya lama2 udh kayak ibunya dulu yang suka marah2 sm anaknya. Dia g mau hal itu berulang ke anaknya. Dia g mau anaknya juga melakukan itu ke anak2nya nanti lagi. Miriiis ya? Membunuh saking sayangnya?๐Ÿ˜ฆ

    Apa yang dilihat anaknya, terekam di ingatan mereka. Ah, aku sedih mbak baca jurnal ini. Kita doakan supaya Mbak Puspa segera sadar rame2. Bukan cuma buat kebaikan dirinya, tapi juga buat kesehatan jiwa anak-anak mereka๐Ÿ˜ฆ Doanya rame2, semoga dikabulkan. Amiiin๐Ÿ™‚

    • Aamiinnn…
      Itu ibu2 yg di bandung bukan ya, maksudnya Dek? Yg anaknya 3 biji itu? Hiks, iyaaaa… yg itu aku juga ngiluuuuuu… nah kejadiannya deket2 sm kejadian itu, tuh. Aku bahkan smp khawatirrrrr si puspa would ended up just like her!๐Ÿ˜ฆ

  17. Ga bisa ngomong apa-apa soal Puspa. bener kalo pertama kali kejadian pelaku lah yang bersalah, tapi kalo dibiarin korban juga punya andil. Yakin banyak banget pertimbangan Puspa untuk melakukan apapun, tapi membiarkan ke 5 anaknya hidup dalam kondisi seperti itu kok ya gak terlalu bisa dibenarkan juga. *eh maaf saya tiba-tiba komen dan menghakimi tanpa kenal Puspanya.

    Menurut saya ini udah perlu intervensi pihak ke 3, lets say orang tua/keluarganya si Puspa. Mana mungkin mereka mau lihat anaknya dipukuli seperti itu. Eh mungkin gak sih kalo orang tuanya yang ngelaporin? Siapa tahu aja itu bisa jadi lecutan buat Puspa biar sadar.
    *maap sekali lagi kalo komen sayah menghakimi dan sok pinter.

  18. Pertama ini template blog kayaknya berubah ya… aku jadi agak bingung liat penampakannya di hapeku ini

    Aku termasuk yang ta’aruf dan beranak LIMA, setuju banget klo komunikasi ini penting. Dan bukan salah prosesnya kalau sampai kejadian kayak gini. Jangankan yang baru kenal dan menikah, lha yang udah ngejalanin pacaran (asumsi udah kenal duluan) kemudian di KDRT-in juga banyaak…
    Dan memang benar kata bu Elly Risman, kalau sekedar BENCI itu masih mendingan, ada unsur peduli kepada yang dibenci sehingga ada alasan untuk membenci. Nah kalau sudah TIDAK PEDULI itu yang parah. Nggak peduli sama pasangan, nggak peduli sama anak anak nanti mau jadi apa, enggak peduli sama diri sendiri…hadeeuh… itu si Puspa dan suaminya masih pada aktif nggak di komunitas pengajiannya ? Kayaknya perlu pendidikan pra nikahnya di remedial :p

    Oh iya, yg ini serius : klo Puspa perlu /mau diajak ke psikolog, ajakin aja ke kantor yg ngurusin ini, jl riau no 2, di belakang kantor baginda raja, pas pojokan, ada temenku yg psikolog dan berkantor di situ.

    • Hoho, iya mbak… kemaren kuganti, biar nggak bosen, kakaaaakkk!๐Ÿ˜†
      Aaaahhh, ini dia nih contoh hasil ta’aruf yg sukses….๐Ÿ™‚ (anak 5-nya kudu dicapslock, yes? Hihihi..)
      Aku nggak tahu deh mbak, sekarang kondisinya kayak gimana. Terakhir ketemu thn 2007, kalo nggak salah. Sekarang udh nggak pernah kontak2 lg. Nomer hp dia suka gonta ganti mulu, mbak? Kenapa? Ya krn suaminya ngelarang dia punya kehidupan sosial! Jadi, tiap pulang kantor, hpnya langsung di cek, siapa aja yg udh telp/sms. TIAP HARI! Kalo ada nama laki2 di riwayat telp, langsung jd sumber berantem, trus ujung2nya suruh ganti nomor. Grggghhhhh….๐Ÿ˜ฆ

  19. Sekarang Puspanya, di mana Fit? Gak mungkin ketemu lagi yah untuk ngajakin dia bertemu dengan psikiater?

    Aku juga menikahnya karena proses taaruf, Fit. Alhamdulillaah baik-baik saja.

    • ada di bandung sih, sebenernya Fe. Cuma aku udh nggak berani ikut campur sm kehidupan mereka, deh. Takut malah jadinya si dursa itu marah, trus ada alasan lg utk nyiksa puspa…๐Ÿ˜ฆ
      Aahhh, aku suka tiap ada cerita taaruf yg sukses. Ayo, di share cerita kalian, biar yg mau taaruf nggak ngeri lagiiii..๐Ÿ™‚

  20. Mbak fitriiiiii.. sekalinya bw ke blogmu kok ceritanya sedih๐Ÿ˜ฅ
    Aku setuju sama beberapa yang komentar kalo mungkiiin mbak Puspa ini mikirin gimana nanti kalo dia cerai dan jadi janda. Tapi menurutku HARUSNYA mbak Puspa juga mikirin gimana anak-anaknya tumbuh nanti kalo yang dilihat adegan-adegan kekerasan melulu๐Ÿ˜ฆ But, yaaa I’m not on her shoes yaa. Gak tau gimana kondisi detailnya. Dan aku setuju sama yang Mbak Fitri bilang kalo kejadian KDRT dan perselingkuhan, sekali dua kali mah salah si pelaku, tapi kalo udah berkali-kali jelas itu salah korban yang gak bisa tegas ambil tindakan.

    Semoga yang terbaik diberikan pada Mbak Puspa dan anak-anaknya ya mbakk..๐Ÿ˜ฆ

    • cerita ttg ini karena baca jurnal Maya, Li. Kalo nggak, kayaknya jg nggak akan ku cerita2in, deh. Too bad to be true, hiks…๐Ÿ˜ฆ
      Doa yg terakhir udah pasti kuamini, walopun somehow, aku sendiri sekarang nggak yakin dgn apa yg terbaik utk mereka.. huhuhu…

  21. tidak sepantasnya perbuatan seperti itu dilakukan oleh seseorang yang berintelektual, seorang dosen lagi. tetap tak habis pikir apa alasan si Puspa tetap bertahan dengan si monster kejam. sungguh T E R L A L U

  22. Ya ampun sedih banget baca ini. Kasian sama anak2nya dan puspanya. Tapi kalo emang terus berlanjut sama sama suami berarti dia masih bisa tolerir apa gimana ya? Aku bacanya aja udah miris banget. Semoga anak2nya tumbuh dan berkembang dengan baik ya :((

    • Akupun masih bingung sampe sekarang, kok bisa Puspa bertahan. Lah aku, baginda raja ngomong agak kenceng aja (padahal maksudnya bukan marah) sakit hatinya bisa seminggu, loohh..!
      Aamiin… semoga saja. Aamiin…

  23. Konotasi jelek dibelakang status Janda yang dipegang orang Indo mungkin ada pengaruhnya juga kayaknya ya mba.. Abis kayaknya kalau cerai itu kan yang dapet predikat jelek biasanya sang istrinya, bukan suami (entah kenapa *sigh*) jadi bikin orang2 yang ada diposisi kayak Puspa jadi maju mundur kalo udah mau cerai. Belum lagi nanti kalau mau cari pendamping baru… kayaknya ada aja gitu omongannya..

    • akhirnya kembali lagi ke budaya timur kita juga ya, Be? Bahwa jadi janda itu konotasinya negatif.๐Ÿ˜ฆ
      Aku nggak tahu deh apa yang bikin puspa maju mundur nggak jelas begitu. Yang pasti, sekarang ini kepedulianku cukup kusampaikan lewat doa saja lah…

  24. Banyak koq mbak kasus nyata seperti ini. Banyak yg bertahan hingga maut memisahkan, tapi banyak juga yg memilih bercerai. Yang memilih bertahan meski terus disakiti, ada juga yg akhirnya berubah menjadi org yg lebih baik. Doakan saja yg terbaik mbak. Doa lebih kuat dari intervensi apapun.

    • Hiks, iya Mes. Sayangnya, ternyata ada banyaaak sekali yg mengalami nasib seperti begini, ya.๐Ÿ˜ฆ
      Iya, di posisiku sekarang, aku memang cuma bisa mendoakan yg terbaik utk mereka..๐Ÿ˜ฆ

  25. hai salam kenal mbak..
    baru ptama ke blog mbak,eh baca nya yg ini,,kok pas bgt sama crita tanteq
    tanteku punya anak 4,suaminya jg gt,KDRT,selingkuh,ga kerja,trus malesnya minta ampun,naruh gelas bekas dia minum aja ga mau.
    anak ptama sm kduanya sering liat mamanya dipukuli tp waktu itu mreka udh lmyn gede jd ya bisa berpikir sendiri,anak ke 4nya msh kecil bgt jd ga ngerti,klo anak ke 3nya usia SD lg tumbuh kembang,kliatan bgt klo anak ke3 nya ini yg bermasalah,jd anak pendieeemm,,suka ngompol,,pokoknya aneh deh,smp kurus kering,,
    trus tanteq jg suka nutupi ke nenek kalo dia sering dpukul,kalo biru slalu blgnya kejedot lah,,jatuh lah,sampe suatu saat,yaitu stelah 16taun pernikahan dia udh ga kuat lagi..akhirnya ngajuin cerai,nenekq sampe kaget,krn ternyata ini sudah bertaun2 kejadian,dan tetangga byk yg suka denger suara mreka berkelahi..anak2nya pun akhirnya crita ke nenek.dari situ jg ketauan tyt anehnya anak ke3 krn dia tertekan,takut..stelah ortunya cerai si anak udh ga diem lg,ga ngompol,dan jd gemuukkk๐Ÿ˜€
    tapi stelah cerai bukan tanpa masalah lho..si bpk msh sering nyulik2 anaknya gitu,pdhl dulu dirumah jg ga pernah peduli,,jd tiap pulang skolah anak2 kudu lari2 karena takut diajak bpknya.kasian
    Alhamdulillah sekarang udh aman keadaannya.tanteku pun stelah cerai rejekinya malah jd banyaakkk..usahanya sukses,,ke4 anaknya bahkan ada yg nanggung pendidikannya๐Ÿ™‚

    • Halo, mbak Nita? Atau jgn2 dipanggil Fitri juga, nih? Duh, sama dong, nama kitaaa..๐Ÿ™‚
      Woohoooo…! Aku smp tahan nafas loh, baca komen ini. Lebih dramatis, ya.๐Ÿ˜ฆ
      Tapiiii… sekarang udh bisa lega, ya. Semua berakhir baik utk tante dan 4 anaknya itu. Semogaaaa nggak akan ada lg hal buruk yg menimpa mereka, aamiin…

  26. gw pun ada saudara yang negini nasibnya mbak, udah sempet mereka pisah ehh rujuk lagi sejak itu gw sama mamah gw berhenti mikirin nasib dia kayaknya emang dia hobi dijadiin sansak.

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s