(Nasib) si tengah

Ini jurnal ketiga saya minggu ini. Iyessss..! *bangga dong, pada pencapaian ini* Hahaha… Dan ini postingan rada menye-menye *boleh ya, nyalahin hormon* cocok dibaca sama em(b)ak-em(b)ak yang jumlah anaknya ganjil kayak saya, atau.. yang lagi proses perakitan anak ke-3, atau.. yang udah nikah dan pengen.. punya anak (minimal) 3!๐Ÿ˜†

Salah satu dari sekian banyak tugas berat jadi seorang Ibu adalah memberikan perlakuan yang adil kepada anak (anak)-nya. Maksudnya, bukan cuma menuntut kewajiban si anak, tapi juga harus secara legowo memberikan haknya. Eh gimana, prolog yang nampak serius, kan? Ihikkkk…

Aura, si tengah kami, adalah anak yang proses hadir-nya beneran kami program. Emang ada ya, yang bukan karena program? Haha! Maksudnya, waktu itu kami emang niat ngasih adik buat Andro, gitu.๐Ÿ™‚ Jadi waktu positif hamil Aura, saya super excited, hepi banget. Beda pas hamil Andro dulu saya sempet stress, karena dinyatakan positif hamil justru tepat sebulan setelah saya keguguran, dan dokter kandungan sempat menakut-nakuti bilang bahwa sangat besar kemungkinannya saya akan keguguran lagi.ย  Kalo Amartha, terus terang kemunculannya bikin shock *terlalu semangat bikin sampe lupa konsentrasi* ๐Ÿ˜† karena saya hamil dia ketika saya masih menyusui Aura yang baru berumur 15 bulan. Sempat ada rasa nggak percaya, sebel, kesel, dan segala macem perasaan nggak enak lainnya, secara ya, walopun proses persalinan kakak-kakaknya itu bisa dibilang cukup ‘indah’, (karena semua alami dan itungannya cepet, cuma dalam kurun waktu sekitar 4-5 jam doang) tapi kan setiap hamil mereka itu saya beneran jadi manusia setengah zombie, maboknya sumpah parah pisan. Bahkan sampe kehamilan 7 bulan, saya masih aja munmun. Huhuhu.ย ย  Anyhow, sayang sejuta sayang, kegembiraan hamil Aura waktu itu nggak berlangsung lama, karena ujian kehidupan datang dan memporakporandakan kehidupan kami yang tadinya terasa smooth sekali.๐Ÿ˜ฆ Sedikit banyak, tekanan psikis selama proses hamil dan melahirkan (lalu berlanjut sekian tahun setelahnya) mempengaruhi pola pikir dan cara saya memperlakukan Aura. Loh emaknya yang stress, kok anaknya yang jadi korban…? *tanya kenapa*๐Ÿ˜ฆ

Saya punya beberapa teman yang posisinya juga anak tengah dalam keluarga. Beberapa diantara mereka mengeluhkan betapa jadi anak tengah itu nggak enak banget, karena dituntut untuk sedewasa kakak-nya, tapi nggak boleh se-kekanak2kan adiknya. Protes ke orangtua? Ish, mana boleh? Orangtua itu selalu benar. Itu aturan pertama-nya. Kalo orangtua bikin salah, liat dong, aturan yang pertama. Nah loh, pusing nggak sih?:mrgreen:

Ketika si bontot hadir di tengah-tengah kami, maka sejak saat itu resmi pula-lah Aura jadi anak tengah di rumah kami. Dan TERNYATAAAAA… secara sadar (nggak sadar) saya berubah menjadi sosok orangtua seperti yang dikeluhkan beberapa teman yang posisinya anak tengah di dalam keluarga itu.

Jujur nih, sebenernya Aura ini pengertian banget sama saya, adik, dan abangnya, loh. (kalo sama bapaknya sih masih suka galak๐Ÿ˜† ) Contoh kecilnya pernah saya ceritakan disini. Walopun sebagai anak-anak tetep lah ya, ada masa-nya dimana dia nangis_kejer_ngotot_pengen_sesuatu_dan_susah_dikasih_tahu, tapi over all, dia itu amat sangat manis, perhatian, lembut, penyayang, nggak tegaan, ringan tangan dan nggak segan-segan berkorban agar supaya ketentraman dalam rumah tetap terjaga di level aman. Terlihat mengada-ada..? Nggak. Untuk orang yang egonya sangat besar, percayalah, ambang batas pujian saya ini cukup tinggi.๐Ÿ˜€

Kamis malem Jum’at kemaren, kami mampir ke Griya Buah Batu dalam rangka nyari kado untuk teman Aura-Amartha di daycare, dan.. temen sekolah Andro. Bagussss ya, beli kado ulangtahun di masa paceklik begini? *gigit ATM*๐Ÿ˜† Dan sebelnya kalo nyari kado buat anak kicik itu kan mau nggak mau nyarinya di bagian anak kicik yang mana TENTU SAJA penuh sama yang namanya mobil-mobilan, boneka-boneka, dan aneka mainan nan menggiurkan itu di mata mereka. Nggak masalah sih, KALO nyarinya sendiri. Kalo nyarinya ber-5 dengan mereka…? Jreng, jreng!

” Bu, aku mau yang ini ya Bu…”

” Bu, aku juga mau yang ini…”

” Bu, aku belum punya yang ini…”

” Bu, aku maunya tiga-tiga-nya…! “

Zzzzzzz…

Emaknya pingsan di tumpukan boneka.

Singkat cerita, akhirnya berhasil milih baju dan kaos untuk dibawa Aura sama Amartha di syukuran ulang tahun temen daycare-nya, dan boneka untuk diberikan Andro ke temen sekolahnya. Selesai? Cencu cidaaakkk! Ada yang langsung nodong hotwheels, dong. Dan salahkan emaknya yang lemah iman ini, begitu liat stiker: buy 2 get 1 free, langsung goyah pertahanan. Bungkussss…!!! *apa itu financial planning?*๐Ÿ˜†

Itu untuk si sulung dan si bontot. Si tengah? Sudah beberapa kali saya berhasil membujuk dia untuk menunda keinginannya membeli mainan, secara mainan anak perempuan macem barbie gitu kan ampun ya, mahalnya. Pernah beberapa kali beli yang murce-murce harga 30 rebuan gitu, eh end up aja gitu di dus mainan, gabung sama mainan rusak tak berbentuk lainnya.๐Ÿ˜ฆ

Nah kemaren, pas adik sama abangnya berhasil meluluhkan hati emaknya yang labil ini, si tengah cuma ngeliatin aja, nggak bilang minta jatah atau apa, gitu. Doski cuma berkali-kali muterin booth tempat barbie dipajang (mata saya ngebelalak liat harga-nya!) sambil menyentuh pelan-pelan jajaran boneka-boneka itu. Dia kayaknya masih inget, tiap kali minta dibelikan barbie (yang katanya original itu) saya selalu membujuknya untuk memilih mainan yang lain dan merepet betapa mahalnya harga boneka sekarang.ย  Sebelumnya, saya harus mengakui betapa gampil saya meluluskan permintaan Andro atau Amartha saat mereka merengek meminta dibelikan mobil-mobilan, dan sebaliknya, mengerutkan kening ketika Aura memohon *kadang dengan takut-takut* untuk dibelikan mainan berbau-bau anak perempuan.

” Mbak Aura pengen beli mainan apa..?ย  “ saya giring dia menjauhi booth boneka. Dan dia menurut. Kalopun nggak saya tanya, saya kok yakin dia nggak akan minta apa-apa, ya? *baiknya kamu, nduk* Kami berjalan menuju tempat masak-masakan, mainan yang memang jadi default-nya selama ini. Saya tawarkan beberapa alat-alat masak memasak, dan dia menggeleng. Dan lalu, disanalah dia berhenti. Di depan sebuah stroller mainan warna pink -yang cukup dengan melihat sekilas saja- saya langsung tahu betapa ringkihnya mainan itu. Tangan kecilnya mengusap si stroller mainan, matanya berbinar-binar lalu berbisik lirih:

” Dulu aku pernah punya ya, Bu? Mainan yang kayak gini…? “

Beberapa tahun lalu saya memang pernah membelikan stroller sejenis, dan kalo nggak salah, cuma bertahan seminggu, setelah itu patah disana sini. Sejak saat itu, setiap kali dia minta dibelikan mainan serupa, saya selalu menolak dengan tegas, mengingatkannya betapa mainan itu gampang sekali rusak, dan mainan yang cepat rusak itu sama saja artinya dengan membuang-buang uang.

Mendengar kalimat dengan nada pasrah -tak mungkin Ibu mau membelikan ini- yang keluar dari mulut kecilnya itu, rasa-rasanya saya tidak perlu punya kemampuan membaca pikiran untuk mengetahui, betapa mainan (murah) itu sangat istimewa di mata anak tengah saya;

Juga tidak perlu keahlian khusus untuk menerjemahkan raut muka-nya yang seolah bertekad : akan ku jaga stroller ini dengan lebih baik seandainya saja stroller ini nanti jadi milikku;

… dan tidak perlu menjadi ibu yang hebat untuk mengetahui, betapa dia amat-sangat menginginkan stroller mainan itu.

Detik berikutnya, saya merasakan hati saya ini mencelos jatuh, se-jatuh jatuhnya. Hanya dengan melihatnya berdiri disana sambil mengusap-usap stroller mainan itu, terbayang kembali semuaaaa perlakuan tak adil saya padanya: segala macam tuntutan saya, semua penolakan-penolakan saya. Ibu macem apa, saya ini.๐Ÿ˜ฅ

Saya, seringkali memposisikan Aura sejajar dengan Andro, dan melarangnya berperilaku seperti adiknya. Saya melarangnya menangis, saya tidak menolerir rengekannya, saya menuntutnya untuk terus mandiri: makan-minum-mandi-memakai baju-mengambil susu dan cereal sendiri. Belakangan, saya bahkan nyaris sudah nggak pernah lagi menemaninya ke toilet. Dan saya menganggap semua itu wajar-wajar saja. Tokh cepat atau lambat dia memang harus mandiri, kan?

Tapi saya lupa, dia, si anak tengah saya itu, masih kanak-kanak. Dan entah kenapa, saya merasa saya sudah banyaaakk sekali merampas haknya. Yang mana hak utama-nya adalah merasakan, bukan memikirkan. Merasa senang itu hak anak, memikirkan bagaimana caranya adalah tugas orangtua. Dan sudah sepantasnya saya mengenalkan padanya perasaan dimengerti, dipahami, dicintai dan dihargai, karena hanya dengan begitu, ia belajar untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri.

Ah, Nduk…

Ternyata memang masih ada banyaaakkk sekali hal yang harus Ibu pelajari, terutama darimu. Memang ada banyak hal yang sering Ibu lupakan, tapi tidak menghiraukanmu, adalah kesalahan terbesar Ibu.

Tolong, jangan pernah berhenti menjadi mahaguru kehidupan Ibu, ya.

Dan percayalah, tidak ada hal penting lain di dunia ini, selain kebahagiaanmu.

'Cuma' dengan modal 35 ribuan, saya dapat melihat senyum cerah dan muka ceria ini. Well, hidup kadang memang tak serumit yang dibayangkan, ya?

‘Cuma’ dengan modal 35 ribu, saya dapat melihat senyum cerah dan muka ceria ini. Well, hidup kadang memang tak serumit yang dibayangkan, ya?

Dan coba tebak, siapa yang semalam tidur sambil memeluk stroller pink itu dengan senyum puas di wajahnya…?๐Ÿ™‚

115 thoughts on “(Nasib) si tengah

    • Itu dia, Dek. Aku sampe sekarang ini masih aja kebanyakan ngomel2 berusaha ngasih tahu ke mereka betapa capek dan sibuknya aku, dan menjadikan itu alasan untuk nggak memperhatikan mereka.. huhuhu…
      Beneran deh, rejeki anak itu akan datang dengan sendirinya, kesabaran mungkin bisa dilatih, tapi waktu kita untuk mereka..? Hmmm… *think twice*

  1. aaaaah postingannya…
    begitu baca postingan ini langsung pengen meluk Aura deh๐Ÿ™‚. Ternyata emang sama ya mbak, temen ku yang anak tengah juga ngeluh kalo dia kayak mesti berdiri sendiri diantara kaka & adiknya. Aku ndak kebayang secara aku kan anak sulung yah, punya adek satu aja dulu bete banget karena dari anak tunggal mendadak mesti berbagi perhatian. Malu deh sama Aura yang masih kecil tapi udah bisa sabar & pengertian *peluk*

    • .. punya adek 1 biji aja, berantem mulu ya, May.. huahaha.. *dilempar DVD korea*๐Ÿ˜†
      aku berdoa kesabaran dan pengertiannya Aura ini aweeetttt sampe gede… dan… nular dong, ke ibunya, gituuuu… hahaha… *kebalik*๐Ÿ˜†

      • Lah kok ya kebaliiik๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
        Iya ih aku kalo baca postingan soal Aura suka terkagum kagum sendiri, kok beda sama bundanya ya #eh *kaboooor*๐Ÿ˜†

  2. jadi terharu…
    punya anak dua juga suka kepikiran seperti ini lho…, takut nggak adil sama anak2.., kadang2 merasa jadi orang tua bodoh….
    emang jadi orang tua itu harus belajar seumur hidup ya

    • Kata bu elly Risman, menjadi orangtua itu sejatinya proses pembelajaran seumur hidup. Beneerrrr, banget. Nggak mau repot? Ya jangan punya anak. Hahaha… *itu kata beliau loh, ya*๐Ÿ˜€

  3. bagindaratu said :
    Cumaโ€™ dengan modal 35 ribu, saya dapat melihat senyum cerah dan muka ceria ini. Well, hidup kadang memang tak serumit yang dibayangkan, ya?

    saya pernah diminta syaikhan agar membelikannya tas. saat itu belum masuk sekolah. saya berpikir nanti saja belikan yang bagus pada saat masuk sekolah. tapi akhirnya saya belikan juga setelah berpikir, yang penting dia senang. dan saya mendapatkan senyum cerianya

    cerita pernah saya tulis di sini :

    http://jampang.wordpress.com/2011/05/17/telur-hari-ini-lebih-baik-daripada-anak-ayam-esok-hari/

    • betuuulll.. kang. Kalo dipikir2, ada benarnya juga, ngapain capek2 kerja, kalo masih hitungan juga sama anak. Err.. tapi.. tapi.. kalo kayak saya, yang anak 3 dan gaji ‘cuma’ segini-gininya, ya musti tung itung-itung juga sih, yaaaa.. hahaha…

      • Boleh mba, itung2an ฦยชวŽฬœฬฬฃ๎š• ada salahnya ko, tapi harus adil. Apa ฦ”ยชฮฎฤŸ dirasakan aura persis seperti yang aku alami waktu kecil Dulu, (-ฬฉฬฉฬฉ-อก ฬ—ฬŠ–ฬฉอกฬฉฬฉ )ฦ—ฦšสŠฬˆฬ‡ั’ฯ…อก_ฦ—ฦšสŠฬˆฬ‡ั’ฯ…อก(-ฬฉฬฉฬฉ-อก ฬ—–ฬฉอกฬฉฬฉ, sampai2 รขะบรผ
         ฦยชวŽฬœฬฬฃ๎š• pernah berani minta dibelikan apapun Samaa umi, karna รขะบรผ
         tauu setiap รขะบรผ
         minta pasti ฦรคยช๎š• akan kesampaian huhuhu.(trenyuh )

  4. aku terharu sangat deh.. ini mau punya anak kedua aja dah mikir, smoga bs adil..๐Ÿ˜ฆ

    btw suamiku anak tengah, pernah merasa tersisih dulunya lho hehehe tp skrg udah ga lg, mgkn seiring berjalan nya waktu, bertambahnya usia, membuat dia jd lbh dewasa yah๐Ÿ™‚ *ini knp panjang amat yah bahasan eike* hahaha

    • Menurutku sih, Ye… begitu punya anak lebih dari 1, ketakutan nggak bisa berlaku adil akan selalu ada. Yah, namapun perhatian dibagi-bagi kan, ya? Cuma, akan datang masanya kita belajar, kok. Berlaku adil sama anak itu memang susaaahhh. Tapi bukannya nggak mungkin untuk dilakukan. Jadi, tenaaangg…!๐Ÿ™‚
      Haha, ayahnya Millie boleh dong, toss sama Aura, sesama anak tengah..๐Ÿ™‚

  5. kayaknya aku ngerasain yg aura rasain (tp beda dikiit..), aku bukan anak tengah..aku si sulung yg bedanya 7 & 9 taun ke adek2 laki aku. biar sempet jd anak tunggal….aku gak punya barbie. gak pernah di beliin karna harganya selangit. dan saat itu, orang tua aku terang2an bilang kalo mrk emang gak ada duit buat beli barbie. di tambah lagi orang tua aku dulu 22nya kerja..jd aku ketemu mrk cuma weekend aja. pas adek2 balita, nyokap di suruh berenti kerja..naaaah, disitu aku br ngerasain yg namanya IRI ke adek2 aku..jamannya kecil, aku udah di latih buat ngeliat n maklumi kondisi orangtua yg msh ‘berjuang’..tp pas mrk kecil, apa yg mereka mau…simsalabim langsung ada!

    tp alhamdulillahnya, dr jaman SD ortu aku memberlakukan sistem rewards ke anak2nya. terserah mau apa aja, tp nilai raport harus ‘sekian’. kalo gak momen bagi raport jgn harap rengek2 minta iniitu di kabulin. disitu aku br ngerasain kalo orang tua aku sebenernya adil ke anak2nya..

    hmmm…yakin aja mbak, kalo nanti aura udah gede, dy jd perempuan tangguh. bisa nahan emosi, mandiri, bisa nahan nafsu ‘kepinginan’, n punya tingkat sabar n toleran yg tinggi ke abang n adeknya. tetep semangat mbakfit. klo kata nyokap “cinta sm anak itu…kasih cinta yg keras” maksudnya, gak pake manja2an. sedari dini di tanamin ke alam bawah sadar klo hidup itu perjuangan..

    • Eh cie, cie… ada yang numpang curcol juga.๐Ÿ˜€
      cinta ke anak, kasih cinta yang keras ya, Ca. Hahaha, itu sih nggak usah dibilangin. AKu udah galak dari sononya..:mrgreen:
      Sistem rewards itu aku juga setuju banget, biar anak belajar, hidup ini emang perjuangan ya. Nggak ada yg gratis di dunia ini. Alhamdulillah aja, nafas belum bayar.. hahaha..

  6. Ah mbak aura mu itu memang manis sekali. …
    Aku sering liat momen2 itu… di pelataran kantor sore2. Gimana dia mau menjaga di depan pintu ketika amartha masuk wc… gimana dia mengajari adiknya buka sendal ketika mau masuk masjid… ah… anak sekecil ituu.. so sweet..

  7. Sukaaaaaa sama postingannya…
    Aku pernah turut “mengasuh” anak tengah juga, anaknya Om yg kebetulan dikaruniai 3 anak cowo dan hobi banget nitipin anaknya ke rumah ibu dulu klo aq libir skolah๐Ÿ˜› …sooo…aku bisa memahami banget apa yg dirimu rasakan.
    Dulu,aku slalu memilih untuk lebih menemani si tengah karena si sulung sdh bs take care diri sendiri dan si bungsu was the star. Si tengah ini biasanya klo lg kumpul dia akan melipir sendiri, jd aq akan lbh memilih jagain dia. Sekarang,si tengah ini yg paling telaten nemenin Raisya main๐Ÿ™‚

    • haha, betul. si bontot was the star, dan si sulung… boss-nya dong, ah.๐Ÿ˜†
      Tuh kan, baca pengalamanmu ngasuh si tengah aja, aku langsung ngebayangin Aura, Rey. Huhuhu… kayaknya emang lebih banyakan dia deh yang tersisih, padahal kan aku nggak sengaja. Mbak Auraaaaa… ! Maafkan ibumu iniiiii…!

  8. *lap air mata*
    aura ke sini nak main ama kak zahira..
    Kalo zahira lain fit,apa yg dia minta harus dpt. Kalo gak, dia ngambek. Gak mau sekolah, gak mau ngaji. Kdng2 gak saya turutin jg. Tkt kebiasaan. Nangis dia, gitu capek nangis ya diam sendiri. Muka cemberut. Tp untungnya apa yg dia minta gak mahal kali lah.. Msh bisa trbeli, hihi. .

    • *kasih indomie rebus, eh tissue*๐Ÿ˜†
      Wah, beda ya, Zahira ama Aura.. Kalo Aura, jaraaaanggg banget ngotot minta sesuatu. Kalopun ngotot, alhamdulillah asal dikasih pengertian, pasti masih bisa dibujuk.
      Haha, habis princess satu-satunya di rumah sih ya, Zahira. Kalo masih bisa ngambek, ya ngambek lah. Paling Bunda yang nanti pening…๐Ÿ˜†

  9. Mbak, baca ini serasa baca jurnal Mom tentangku. Secara Aura libra kan, anak tengah pula jd berasaaaa banget senasibnya ,,, dan aku beleleran air mataaaa … Uuuh ini hormon ato merasa senasib ama dedek Aura yah? Aura sayaaaang, sini ama tante Cha aja yah

    • Mauuuu, tanteee…! Tapi tolong akomodasinya sekalian buat Ayah, Ibu, bang andro sama dik Amartha, ya…
      *tante Cha langsung pingsan*:mrgreen:
      Cha, kalo dipikir2, aku keras sama dia karena aku nggak mau anak perempuanku satu-satunya tumbuh jadi perempuan manja. Haha, atau… itu hanya pembelaan diri aja, yaaaaaaa..๐Ÿ˜†

  10. *peluk aura dulu*
    dihhh makkkk aku bacanya kok jadi termenye2 gini sih๐Ÿ˜ฆ
    ga sanggup bayangin si Endul alias Gavin punya adik dan dia jadi sit tengah…
    udah malah si endul mah manja pisannnn…plus karakternya aga galak dan hadeuhhh nggak dehhhh….
    ga sanggup…dan kamu hebatttt!!!

    • hebat darimana-nya sih, Jo..?
      Aku ini nenek sihir pisaaaannn, kalo udah di rumah, huhuhu…
      Makanyaaaa… sampe hari ini belum kepikiran mau nambah anak lagi *walopun bagindaraja pengen*, lah habisnya , baru dikasih 3 aja tiap hari aku masih nyari2 stok sabar…. Kehabisan muluuuu…! huaaaaa…๐Ÿ˜ฆ

  11. Sedih deh mba bacanya….aku ngertiiiiiin banget perasaan aura yg kepengenan mainan itu. Secara duluuu aku mestii sabar2 klo minta dibeliin mainan. Trutama ya barbie. Emang dr jaman bahala harganya udin mahaallll mbaaa….

    Btw mba mba program buat anak cewe gimana caranya *bisik2*

    • Tuh, kaaaann…! Emang dari jaman dulu ya, barbie itu mahal? Kalo belinya 1 sih mungkin masih bisa, lah. Masalahnya kan, barbie ini seru kalo udah banyak temennya, toh? Hihihi…
      Aih, kamu tuh ya… ujung2nya nanya cara buat anak cewek. Waduhhh, Nis. Dulu kami nggak pake program2-an. Misionaris aja, gitu… huahaha…

  12. Mbak aura…sini peluk dulu sama tante…
    Aku tau banget perasaan ada di toko mainan, dan cuma bisa ngliatin barbie (klo aku dulu, rumah2annya barbie sih), dan gak berani minta. Bukan karena takut dimarahin, tapi karena tau itu terlalu mahal, dan klo pun tetep bilang “minta beliin”, selain gak akan dibeliin jg sih, tapi jg bakal bikin sedih orang tau karena merasa gak bisa nuruti keinginan anaknya. huhuhu…

    eh, tapi kejadian kyk gini sbenernya karena anak tengah, atau karena anak cewek sendiri ya? ;p

  13. biasanya klo anak minta sesuatu orang tua harus pake syarat, misal ntar klo rangking 1 dibelliin gitar (hehe itu sebenarnya pendidikan yang salah kata para psikolog)๐Ÿ˜€

  14. Halo Mbak, salam kenal๐Ÿ™‚ Saya biasanya cuma jadi silent reader aja nih, tapi gara-gara baca tulisan ini saya akhirnya jadi pengen nulis komen juga kalau saya terharuuu banget bacanya Mbak ampe mata saya berkaca-kaca nahan nangis.๐Ÿ˜ฅ

  15. salam kenal mbak..
    wahh asyik banget ya punya 3 anak .. tapi kalo sudah mau membelikan sesuatu harus pake banyak cara ya mbak… membaca postingan ini jadi pelajaran buatku

  16. mbak.. baca ini aku kok terharu.. secara aku kadang2 jg rasanya ga berlaku adil ke aya sejak adiknya lahir menuntut dia untuk adil, mengharuskan dia untuk bs cpt mandiri, tdk boleh berisik, yg kadang2 aku jd menangis, betapa anak masih butuh semua kasih sayang kita, ada waktunya nanti mereka akan melepas rengekan dan cari perhatiannya ke kita… hiks hiks.. *peluk aura..

    • Betullll…
      Sekarang aja ngerasa ribet tiap anak minta diambilin susu, minta dimandiin (padahal udah pinter mandi sendiri), minta dibacain buku pas mau tidur…
      nanti… akan ada masanya, kita nggak boleh masuk ke dalam kamarnya, atas nama PRIVASI anak. Huaaaaa….

  17. Aku boleh gak baca ini, kn msh 1 anaknya..hehe
    Etapi mba, si aura ini persis ara. Klo minta apa2 gak ngomong tp megang2 barangnya sambil liat2 aku.. mintanya pake bhs kalbu gitu sambil mukanya melas. Lha aku akhirnya gak tega. Pdhal dr tmh uda di brainwash g boleh minta apa2 klo lg jalan2..

    • Miaaaa…! *histeris*
      Aku ini silent reader-mu, SEJAK LAMA, loh. Beneraaannn! Sukaaa caramu pake jilbab. Pertama kali nyasar kesitu gara2 searching hijab tutorial. Haha..
      Btw, Aura baik dooongg..! Siapa dulu ibunyaaaa….๐Ÿ˜†

  18. fit, pas nulis ini km gak pake nangis2? aku yg baca aja hampir nangis sambil bayangin duhhh tante punya barbie loh dan sekarang…udah di tag ama keponakan aja dong hahaha. aku masih sebel kalo ibuku bagi2 boneka aku ke keponakan2 itu tapi gimana lagi yaa, demi penghematan dari emak2nya. huh. *curcol*

    • Nangis dong, Non. Macem mana, emak2 sensi macem aku nggak nangis, pas posting yang beginian. Tapi, tapi… karena tanggal tua juga, sih.. #eeeaaaaa๐Ÿ˜†
      Aduuuh, kalo deket.. udah disabotase juga ituuu barbie-nya sama Aura, tante.. hihihi…

      • hahahhaa pastilah ya๐Ÿ™‚

        ishh Fit, ibu aku itu ngasih boneka2 aku itu yah diem2 gitu loh. padahal itu boneka juga kado2 juga sih heheeh. tiba2 pas aku kerumah adek aku, ehh bonekanya ada disana. pertama 1 lama2 koq jadi banyak banget. sampe skr aku masih bete.

          • yeay….boneka, aku masukin kardus semua fit, rapih dong๐Ÿ™‚ aku juga gak tau kenapa aku simpan2 ya hehe. ibu aku itu orang yg suka ngasih2 barang. entah apa aja dikasihin orang, heran deh. pas aku perlu, kelimpunganlah mesti beli2 lagi hehe.

  19. Mbak Auraaa… Sini tos dulu sesama anak tengah.

    Aku terlahir sebagai no 4 dari 7 dan kebetulan anak pertama perempuan. Klo seingatku sih ortu sayang banget sama aku. Terutama Bapak. Daddy’s girl -laah. Tapiiiii dari semua kenangan itu, emang sih membekas banget pas aku dapat boneka lungsuran sebesar bayi untuk nari Bondan, 2 adik cewekku dpt barbie (kayaknya barbie beneran, soalnya bertahan sampai mrk remaja), dAn si bontot dpt mobil2an yang ฯiลกฮฌ dinaikin.
    dan aku hanya puas di bagian ngerajutin baju pesta, njahitin baju, mbikinin bantal dll. SesekAli dipinjemin buat ngepang rambut barbie. Atau mendorong mobil krn udah gak pantes anak kelas 4 SD naik mobil2an itu.

    meski setelah itu aku dibeliin boneka baru model kepang dua, tetep aja pas didandanin rambutnya rontok dan akhirnya botak.
    *jadi maksudnya ฮฑฯฮฑ nih, mendukung aura dibeliin barbie ?*

    • ooohhh.. kirain maksudnya mau ngebeliin Aura barbie, budhe… ihikkk… *ibunya ditimpuk*๐Ÿ˜†
      Waaahhh.. tapi kan sekarang dirimu pinter di bidang per-crafty-an itu, mbak. Ada hasil yang nyata cetar membahana terpampang di depan mata, kaaannn…?๐Ÿ˜€

  20. Auraaa, sini peluk tante Ika ^_^
    Baca tulisan ini seperti kayak baca tentang anak-anakku juga mbak… si Rafi, no 2 ku itu anaknya juga ‘nerimo’ banget, banyak ngalah sama mas-adiknya.. sampe-sampe dia nangis aja cuma keluar air mata tanpa suara.. sekalinya marah ya pasti karena saking sakit hatinya dia.
    Ya memang kita yang jadi orang tua yang tidak boleh berhenti belajar dan memahami bahwa berapapun anak kita, ya sebanyak itu juga kita harus belajar tentang mereka, gak bisa disamain. TFS mbak ^_^

  21. Huhuhu..berkaca2 Senin pagi nih๐Ÿ˜ฆ
    Peluuk mbak Aura
    Btw, aku juga berencana punya 3 anak mbak, tapi baca ini jadi takut, bakal kurang adil ke anak-anak (nanti)
    Nggak cuma ke anak tengah si, tapi ke semuanya. Selalu berpikiran, kalo anak banyak, bisa nggak ya bagi2 perhatian?๐Ÿ˜ฆ

    • aduuhhh… jangan jadi takut dong, Ndi. Ilmu per-parenting-an bisa dipelajari, kok. DAN bisa dipraktekkan. Nggak gampang, memang. Tapi bukan sesuatu yang mustahil. Yang penting musti inget, mustiiii banyakin stok sabar. Hahaha, eike nih ya, UUS=ujung2nya sabarrrrr….!๐Ÿ˜€

  22. Aku anak pertama, mbak. Tapi ibu malah lebih ‘keras’๐Ÿ˜› Dulu juga pengeeeeeeeeeen banget punya barbie kayak teman-teman, tapi ibu nunjukin harganya. Dan emang mahal siih. Sedih? Dulu iya. Tapi makin gede makin tau kalo emang ayah ibu baru ‘memulai hidup’. Wajar kalo g beliin barbie๐Ÿ˜›

    Anak penyayang seperti Mbak Aura pasti nanti juga akan lebih mengerti kok Mbak๐Ÿ™‚

    *peluuuuuuk

    • Hiks, iyaaa… kenapaaaa sih, barbie itu mahal…? *nyalahin pengusaha barbie*๐Ÿ˜†
      Masalahnya, barbie itu kan seru kalo kumpul sama temen2nya ya, dek. Kalo sendirian, buat apaan, cobaaa… hahaha..
      Aamiin…. aamiin… makasih yaaaa… *peluuuuuukkkkk

  23. anak tengah dilemanya emang gitu ya. beruntungnya dirimu menyadari hal ini sehingga tetap bisa membuat aura senang. aku pernah ikut seminar ayah edy. trus beliau cerita klo anaknya dipanggil suka ga tengok. ternyata anaknya belajar dari ayahnya sendiri. jadi kalau anaknya manggil ini itu, ayahnya ga tengok karena merasa anaknya manggil untuk hal ga penting, misal : roda mobilnya ilang. semoga kita bisa memberikan kenangan dan contoh terbaik buat anak-anak ya fit.

    peluk aura..

  24. hwaaaa… jadi keingetan Kanaya di rumah, suka juga sama stroller pink itu, dulu sering minta tapi ga aku belikan, eh malah dapat hadiah dari mbahnya. Senyum anak-anak itu memang bisa meluluhkan hati yang lagi semrawut ya mbak… aduuh kangen si bocah jadinya

  25. Kenapa jadi menye2 giniiiii, duh aku beneran nangis bacanya, inget Fatha, ponakanku itu yg ditinggal papanya nikah lagi. Buakna ank tengah sih, malah bungsu. Tapi Mana pernah punya mainan mahal? Ngerasain kasihsayang papa (dan mamanya) aja enggak. Tinggal bareng kakek neneknya, mamanya sibuk cari uang buat k3 anak perempuannya. Sediiihhh๐Ÿ˜ฆ maaf ini jadi curhat.

    • aduuhhh… cerita sedih ttg anak yg menjadi ‘korban’ perceraian orangtuanya selalu bikin dada sesek ya, Fen.. Hiks..๐Ÿ˜ฆ
      Tapi semogaaa… Fatha dan sodara2nya tumbuh jadi anak yang kuat ya, jadi pelindung mama-nya. Aamiin…

  26. Wakakaaaa…. masih mending mba… ada ceweknya,
    ini aku 3 cowok semua… jaraknya 3 tahunan semua
    nomor 1 itu terplanning dengan baik sekali mulai dari dalam kandungan sampai lahir sampai asupan gizinya.
    Yang parah ini nomer 2, pas hamilnya ngidamnya itu anti susu anti makan ikan, jadi asupan gizinya kurang sekali, habis lahir juga perhatiannya kurang karena anak nomor 1 itu aktif banget dan harus dijagain ekstra….
    Ditambah lagi hamil anak ke 3, ya udah deh, anak tengah keurus seadanya…
    Yang nomor 3 ini karena tidak ingin pengalaman anak ke 2 terulang, jadi berjuang mati-matian untuk memenuhi asupan gizi dari hamil sampai lahir sekarang…

    Duh kalo lihat si tengahku ini, rasanya kasihan banget… badannya kecii karena juga susah makan….

  27. dan akupun menghabiskan 2 tisu untuk mengusap air mataku….huhuhuhuhu….hatiku sedihhhh banget bacanya…..

    sebagai anak tengah yang sungguh bisa merasakan ketidakadilan itu, aku…. aku….. merasakan kesedihan itu๐Ÿ˜ฆ hik.
    dan trauma itu….. masih membekas sampai sekarang lho….. keliatan kan…kenapa hanya punya Inot…๐Ÿ˜ฆ

    untuk Barbie…. Aura, its okay kalau Ibu gak beliin Aura Barbie yang ori….Tante dulu juga gak punya, dan baru punya setelah kerja๐Ÿ˜› dan kemudian Barbie nya dilempar ke gudang, ihihihihi….. mana sempet lha…..

  28. jd anak tengah emg susah susah gampang. ngerti bgt seh posisi aura yg harus jd kakak untuk adeknya, dan jadi si perempuan yg mana maenan nya ga bisa minjem or share2an sama sodara laki2nya. moga2 emaknya ttp inget post ini ya, tiap aura minta maenan, haha bisa bangkrut nurutin beli maenan mulu๐Ÿ˜€

  29. Huaaaa ampe nangis aq bacanya mbk…kl aq justru ke anak sulung alias si kakak yg sering gt mbk, apa krn br sebulan ini punya anak 3..moga slalu bisa adil sm anak2,aamiin *lap air mata*

  30. Ahh..mbak Aura keren sekali. *peluk2 mbak Aura.
    apa karna perempuan sendiri ya jadi lebih cepat dewasa dan gak enakan sama emaknya
    takut ngrepotin dan bikin susah.

  31. ahhh sukseeess bikin saya menangis *walow gak segruk sgruk di sore hari ini๐Ÿ˜ฆ * teringat semuaaaa apa yg saya lakukan pada si cantik anak tengahku, btw samaan kita ya…yang tengah cewek semata wayang. jadi pengen cepet cepet pulang dan kekepin dia. iyaa apa karna dia anak tengah yaa cenderung lebih mandiri, lebih dewasa…itu kayaknya juga karena anak tengah dan perempuan yaa๐Ÿ™‚ *postingannya kereeeennnnn bangeettt*

  32. Hmm.. baca cerita ini jadi inget adikku yang nomor 2, mbak. Anak tengah juga. Dan secara tidak langsung kalo aku perhatikan orang tuaku juga menuntutnya untuk dewasa seperti aku (kakaknya) dan ga boleh kekanak-kanakan seperti adikku yang bungsu.๐Ÿ˜ฆ

  33. yeayyy…Aura punya stroller pink. Boleeh dong, tante pinjem buat shopping hihihihi
    duuh, Aura ini saatnya kamu minta macem-macem sama ibu. Dia lagi termehek-mehek nih, pertahanan lagi melemah…ayoo,cepetan minta ini-itu hihihihi *evilsmirk๐Ÿ˜›

  34. *menyeka air mata yang bercucuran*

    Sebagain anak tengah aku tau banget rasanya huhu. Masih kerasa sampe sekarang dan emang aku jadi yang paling pertama buat ninggalin rumah (karena kuliah di luar). Aku yakin banget gedenya Aura nanti bakal jadi anak yang mandiri, kuat, dan sangat berbakat hehe. Anak yang paling istimewa itu sebenernya anak tengah karena kemandiriannya jauh dari kakak dan adeknya *hidup anak tengah!* hehe

    Salam ya mbak buat Aura๐Ÿ™‚

  35. Aura yg cantik.. Beruntung kmu memiliki ibu yg bgitu peka..
    Jangan sampai seperti saya. Sudah 20tahun jadi anak nomor dua dari tiga bersaudara, hanya bapak yang mengerti posisi saya dan tidak mengucilkan saya.. Sdgkan ibu dan dua saudara perempuan saya hanya memandang saya rendah dan sampai sekarang mereka selalu kompak mengejek saya “anak tiri yg dapat di tong sampah”
    Hhahhaha tentunya mereka tdk berani bicara begitu ddepan bapak ..

    Smoga masa depan kamu cerah aura….

silakan tinggalkan komentar disini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s