Semalam…

Sabtu kemaren, 2 orang adik dan 3 ponakan Baginda Raja dateng dari Cirebon. Demi supaya A3 puas ketemu sama para sepupu, diputuskan untuk sementara daycare mereka diliburkan. Eksplorasi 6 bocah di satu rumah itu sungguh bikin kepala pening, ya. Meskipun dengan tambahan 2 tenaga super dari adik ipar tersayang, nyatanya kondisi rumah tetep jadi (jauh) lebih berantakan dibanding hari-hari normal, dan tentu saja waktu yang paling pas untuk membersihkannya adalah saat para krucil itu sudah pada tepar, which is pastinya diatas jam setengah 10 malem. *kretekin pinggang pake sapu* ๐Ÿ˜€

Nah semalem, entah kenapa badan saya rasanya capek, banget. Yah, biasanya capek sih. Cuma kemaren siang ceritanya saya nengok bayinya temen ke salah satu RS di daerah Padalarang sana, nyetir bolak balik sekitar 2 jam-an ternyata lumayan bikin gempor si sopir abal-abal ini. :mrgreen: Jadi semalem beres setrika, cuci baju, cuci piring, trus nyapu, pengennya sih langsung ngepel -secara saya paling geli sama lantai yang lengket- tapi apa daya badan udah nggak mau diajak kompromi. Rasanya udah rada meriang, mana A3 susah banget disuruh turun karena masih asyik jumpalitan sama sepupu-sepupunya, jadi ibunya musti pake acara teriak-teriak segala gitu deh, huhuhu.

Jam 10-an saya ajak A3 sikat gigi, naik kasur, baca buku sebentar dan lalu ajak mereka tidur. Harapannya tentu supaya ibunya yang udah lemah lunglai ini bisa ikut gabung pula ke alam mimpi. 5-10 menit kemudian, Andro sama Aura pules, les, les -pake ngorok- haha. Ya eya lah wong kalo ada sepupunya mereka nggak pernah tidur siang. ๐Ÿ™‚ Yang keukeuh bertahan cuma si bontot Amartha. Doi hayuukk ajaaa ngajak saya ngobrol. Dari curhatan tentang abangnya yang seharian itu ngeledekin, lalu soal adek Haikal *adik sepupunya* yang sering nangis, sambung soal serunya naik sepeda sama mas Rafan *anak tetangga sebelah* sampe ke pertanyaan-pertanyaan: “kenapa kalo di kamar mandi kita nggak boleh nyanyi” dan lalu lanjut ke pertanyaan biologis macem apa itu alat kelamin, dan kenapa alat kelamin anak laki-laki disebut pen*s dan alat kelamin anak perempuan disebut vag*n*. Zzzz….ย  Ngantuk, ngantuk, ngantuk!

” Dik, bobo yuk. Udah malem…”

” Tapi aku belum ngantuk, Bu…”

” Tapi Ibu udah ngantuk….”

” Tapi kan aku kangen ke Ibuuuu…”

Iya lah, Ibu juga kangen padamu, sayang. Saya (berusaha) senyum. Habis kan emang tiap malem doi bilang kangen, jadi ibarat rayuan, udah gombal semua, tuh! Haha.

” Ibu juga kangen sama dik Amartha. Tapi sekarang kita bobo, yuk…” sedetik lagi saya yakin mata saya bakal benar-benar tertutup dan jatuh dalam tidur yang pulas. Ah, bantal sudah terasa makin empuk, kasur terasa makin nyaman…

” Tapi aku masih pengen sama Ibu……” ujarnya sambil mengusap pipi saya dengan tangannya yang mungil.

Jleb. Jleb. Jleb.

Seketika hilang kantuk saya, dan mata langsung terbuka lebar, selebar-lebarnya. Dan lalu saya takjub sendiri dengan betapa dahsyatnya efek kalimat pendek itu. Mata saya mendadak basah, dan air mata berlomba keluar, jatuh tak tertahan. Seolah saya mendengar kalimat itu bukan hanya dari mulut Amartha, tapi juga dari mulut abang dan mbaknya. Kalimat simpel tapi menohok tepat di ulu hati. Entah ya. Mungkin karena saya sedang sangat capek hingga tingkat sensitivitas naik sekian level sampai ke tingkat maksimum. Mungkin juga karena *tanpa pernah saya sadari* kalimat itu pula-lah sebenernya yang selama ini coba diucapkan oleh hati kecil saya.

Kemana saja kamu selama ini, Fit?

Apa saja yang sudah kamu lewatkan dengan anak-anakmu?

Apa saja..?

Apa saja..?

Apa saja..?

๐Ÿ˜ฅ

Saya ciumi dia, si 3,5 tahun saya yang kegirangan mendapati perhatian ibunya sontak tertuju sepenuhnya pada wajah kecilnya. Hilang sudah rasa kantuk, yang tersisa hanya rasa haru. Ah, Nak. Betapa ajaib dirimu. Betapa sering kepolosanmu membuat Ibumu ini malu…

03 agustus 2011. Foto nyaris 3 tahun yang lalu. Tapi melihat mata polos mereka, hati saya selalu meleleh. Selalu...

03 agustus 2011. Foto nyaris 3 tahun yang lalu. Ini salah satu foto favorit, dan hati saya selalu meleleh melihat mata mereka…

Dan terima kasih pada suasana gelap, dia tak perlu melihat air mata di pipi saya. Lalu saya nyanyikan lagu Kasih Ibu untuknya dengan lancar dan (sok) riang, meskipun dengan suara bergetar:

Kasih Ibu, kepada beta.. tak terhingga, sepanjang masa…

Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia…

Surya? Siapa? Saya? Matahari? Yang setia memberi tanpa harap kembali?

Sungguh? Benar begitu?

Ah, entahlah. Saya, tidak yakin. Sungguh. Benar-benar tidak yakin…

comments off

Calon Duta BKKBN (?)

Beberapa kali di blog ini saya cerita kalo saya adalahย  anak ke-10 dari 11 bersaudara dari SATU IBU dan… anak ke-15 dari 16 bersaudara dari SATU AYAH. Yup! Ibu saya mengandung dan melahirkan 11 (SEBELAS) anak. Punya saudara banyak, enak dong. Minimal kalo lebaran rameeee banget macem kumpul di kelurahan, trus kalo ada masalah kita enak lah ya, bisa gotong royongย  menyelesaikan. Abaikan dulu drama-drama yang terjadi. Apa kerennya keluarga, kalo tak ada drama, kan? Hahaha. Cuma, salah satu nggak enaknya bersaudara banyak -selain jatah makanan dan baju sangat minimal- ๐Ÿ˜† adalah kurangnya waktu saya untuk bermanja-manja dengan Ibu. Apalagi sejak Bapak meninggal di tahun 1983 (saat saya masih berumur 4 tahun dan adik saya baru 7 bulan), beliau harus banting tulang menjadi single parent hingga praktis tak banyak sisa waktu beliau untuk saya.

Saya nyaris tak pernah merasakan nikmatnya dimandiin, dipakein baju, disuapin, ditemenin belajar atau diajak main oleh Ibu, saking sibuknya beliau saat saya kecil dulu. Dan bukan, saya bukan mau menyalahkan ibu, kok. Hormat dan salut saya nggak akan pernah habis untuk beliau yang puluhan tahun berjuang membesarkan 16 anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun. Iya, tanpa bantuan siapapun. Nggak ada pembantu di rumah kami. Mungkin karena Ibu tak punya uang untuk menggaji seorang pembantu. Semua beliau kerjakan sendiri. Wow! Bisa? Ternyata bisa. Mana tuh, em(b)ak-em(b)ak yang suka merepet repotnya ngurus tiga anak (doang?) itu, hah? *tunjuk muka sendiri* ๐Ÿ˜† Bertahan hidup secara ekonomi dengan bermodalkan kepandaian untuk menjual padi, hasil kebun, dan… tanah warisan Bapak doang ya, Bu!ย  ๐Ÿ™‚ Jadi, meskipun bisa dibilang saya ini dibesarkan oleh kakak-kakak saya, tapi saya tak pernah lupa, siapa ibu saya.ย Tetiba inget sama neng Jihan yang sejak kecil diasuh oleh ART karena ibunya bekerja, tapi tak pernah sedikitpun dia lupa kepada siapa dia harus memanggil ”mama”—> meletin lidah ke orang yang nyinyir pada ibu bekerja :mrgreen:

Cuma ya, kalo saja boleh memilih, TENTU SAJA saya akan memilih untuk memiliki (lebih) sedikit sodara, atau bahkan jadi anak tunggal, supaya waktu Ibu lebih banyak untuk saya. SENDIRI. SEMUAAAA waktu yang beliau punya itu. Egois? Tidak. Itu buah pikiran seorang kanak-kanak yang iri liat betapa enak hidup teman-temannya yang kalo makan disuapin ibu, mandi dan pake baju ditemani Ibu, mengerjakan PR dibantu Ibu, dan hal remeh temeh lain dilakukan bersama Ibu. Tetapi, saat itu, saya -dan Ibu- memang tak punya pilihan lain. Situasi-kondisi memaksa kami harus hidup dalam segala keterbatasan. Seandainya saja ada pilihan yang lain…

Saya, nggak pernah sekalipun mendengar Ibu mengeluh tentang beratnya hidup yang beliau jalani sejak bapak meninggal dunia. Saya bahkan tak ingat sama sekali, kapan terakhir kali saya melihat beliau marah, atau ngomelin anak-anaknya yang jumlahnya lebih dari cukup untuk bikin kesebelasan sepak bola itu. Samar-samar, saya hanya ingat beliau sesekali menangis di malam hari selesai sholat tahajud. Dan biasanya, isak tangis-nya akan terdengar lebih lama di malam takbiran Idul Fitri atau Idul Adha.ย  Ah, cuma mengetik ini saja tetiba mata saya basah. ๐Ÿ˜ฆ

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan perempuan berusia 70 tahun inilah, yang kepada Beliau saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran...

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan kepada perempuan berusia 70 tahun di samping saya inilah, saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran…

Anyway.. Kemaren sore di perjalanan pulang dari daycare, si bontot Amartha muntah-muntah. Lalu semalem badannya panaaaas, sampe susah tidur dan saya yang nemenin mau nggak mau jadi kebolak balik bangun untuk mastiin dia nggak apa-apa *ngetik dengan kepala kliyengan* ๐Ÿ˜ฆ Dan seperti biasa, kalo lagi nggak enak badan begitu dia makin nempeeelll ke ibunya. Maunya dikelonin, dan kalo saya gerak atau jalan sedikit, doi ngintil kemanapun saya pergi. Berhubung ada setrikaan yang harus dibereskan, saya ajak dia ke atas, jadi sambil nyetrika, saya kudu bagi konsentrasi juga menjawab dan menimpali semua ocehan penting nggak penting yang kenapa sih sayang, kalo lagi sakit malah makin banyak ocehanmuuu…? ๐Ÿ˜† Nggak lama, si tengah nyusul naik, trus TANPA DIMINTA, doi mijitin kaki adiknya yang tiduran di sofa samping meja setrikaan. Nah itu tuh, salah satu bukti betapa baiknya si tengah kami ini. ๐Ÿ™‚

Dan kemudian terjadilah percakapan yang kurang lebih isi-nya begini:

” Bu, tadi pas di daycare ya Bu, ada temenku yang bilang kalo Nay*a pacaran sama Bang Andro…”

Hahhhh? Appaaaaa…??? Saya nyaris kesenggol setrikaan saking kagetnya. Oke, tenang Fit. Muka panik tidak akan banyak membantu di saat-saat seperti ini. Tenaaangg! Tenaaanggg!

” Bu, pacaran itu apa, sih..? “

Seakan-akan belum cukup shock yang saya alami, ada suara si bontot yang menambahi. Aduh! Nggak mungkin kan, saya teriak panggil Baginda Raja dan mendisposisikan pertanyaan mereka ke beliau? Jatuh dong, harga diri saya di depan para krucils. ๐Ÿ˜†

” Ehm.. pacaran itu, buat suami istri yang udah nikah, sayang. Kalo Nay*a sama bang Andro kan belum nikah, jadi mereka bukan pacaran, tapi berteman…” cuma jawaban itu yang terbersit di otak udang saya ini.

” Ooohhh, kayak Ayah sama Ibu ya, Bu…” jawab Aura sambil senyum-senyum. Adiknya ikutan senyum.

” Iya. Kayak Ayah dan Ibu…” Fiuuuhhh. *usap keringet di dahi*

” Ehm… Suami istri itu apa sih, Bu..? “

Aduh! Kenapa kalian nggak tanya soal yang lain sih, Naaakkk…? Lagi setrika, iniiii…! Dan itulah kenapa saat ALLAH menurunkan kalian ke dalam perut Ibu, SEHARUSNYA IA kirimkan juga manual book komplit yang berisi jawaban tentang semuaaa pertanyaan ajaib kalian itu. ๐Ÿ˜†

” Suami istri itu… *ulur-ulur waktu* …. orang yang sudah menikah. Contohnya Ayah sama Ibu. Karena Ayah dan Ibu sudah menikah, jadi sekarangย  Ayah itu sudah jadi suaminya Ibu. Nah kalo Ibu, sudah jadi istrinya Ayah…”

Aura masih keliatan mikir.

” Ooohh… Kalo gitu, aku mah nanti nikahnya mau sama Dik Amartha aja deh, Bu… “

Ibunya pengen pingsan di tumpukan baju. ๐Ÿ˜†

” Eh, nggak boleh, sayang. Dik Amartha kan adiknya mbak Aura. Kalo kakak-adik itu, nggak boleh nikah…”

” Kenapa, Bu? Kan aku sayang sama dik Amartha…”

” Aku juga sayang sama mbak Auraaaa…” si bocah yang badannya lagi panas itu menyela sambil cengar cengir. Lalu mereka saling ketawa. Ish! Kalian ini, ya…!

” Karena mbak Aura sama dik Amartha kan kakak-adik. Satu keluarga. Kalo masih satu keluarga, berarti nggak boleh nikah..”

Keduanya masih bengong. Nampak belum paham. Oke, kudu dicari kalimat yang lain, kalo begitu

” Jadi, kalo nanti mbak Aura nikah, berarti mbak Aura akan punya keluarga yang baru, trus punya anak. Sama kayak Ayah dan Ibu, sekarang punya anak Bang Andro, Mbak Aura, sama Dik Amartha…” Kalian juga nggak boleh nikah, karena nikah dengan kakak atau adik itu sama saja dengan insest, dan insest itu dilarang oleh agama karena dosa… bla, bla, bla… Kalimat terakhir tentu cuma saya ucapkan dalam hati. ๐Ÿ™‚

” Ooohh, gituuuu…”

Saya masih kurang yakin sih, Aura beneran ngerti atau pura-pura ngerti dalam rangka menyelamatkan muka panik saya. Entah gimana pula adiknya. Tapi biasanya, doi pasti ngikut aja apa kata mbak-nya. Haha. Tapi lumayan lah, saya jadi bisa narik nafas dan ngelanjutin nyetrika.

” Ehm.. Bu… tapi nanti aku anaknya mau 2 aja, deh. Eh, nggak ding. Mau 1 aja. Iya, aku mau punya 1 anak aja…”

Eh? Apa? Saya spontan menghentikan tangan, meletakkan setrikaan di posisi berdiriย  dan menatap langsung mata si anak gadis. Perasaan saya kok mendadak jadi nggak enak, ya?

” Loh, kok cuma 1..?”

” Nanti, kalo anaknya 3, jadi sama kayak Ibu, dong! REPOT. Kan kalo bang Andro pengen ditemenin Ibu belajar, trus aku minta ditemenin main, trus dik Amartha pengen sama Ibu juga, Ibu jadi repot. Gimana, dooonggg…? “ lalu dia nyengir supeeerrr lebarrrrr dengan mata makin membulat lucu.

Plak, plak, plak! Perih ya, kalo ditampar anak sendiri. Perih, tapi kan mana boleh marah, Buuuu…? Coba ya, Fit. Mulai dari sekarang, di rem itu mulut lebarmu. Jangan sedikit-sedikit ngeluh repot. Sedikit-sedikit ngeluh capek. Sedikit-sedikit ngomel kerjaan rumah nggak habis-habis. Ada CCTV berjalan yang 24 jam mengawasi, loh! Lupakan sebentar kenyataan bahwa jadi ibu memang melelahkan. Ingat, apapun yang kita ucapkan, akan mereka dengar. Apapun yang kita lakukan, akan mereka lihat. Apapun yang kita keluhkan, akan mereka rasakan. Dan apapun yang kita nilai atas mereka sekarang, akan seperti itu pula-lah mereka nanti. Untuk seorang Ibu, ucapan katanya doa, ya? Jadi hati-hati dengan mulutmu. Jaga baik-baik apapun kalimat yang keluar, terutama di saat marah. Repot, ya? Emang. Ribet, ya? Iya. Tapi adaย  benernya juga kok, kata bu Elly Risman. Nggak mau repot…? Jangan punya anak! :mrgreen:

Duh, mbak Aura, mbak Aura. Makin lama kok kamu emang makin mirip Ibu, sih? Keren!—> bapaknya langsung protes. Woiii, ada saham ogud juga disitu, woiiii! ๐Ÿ˜†

Dan karena Ibu tahu betapa polos pikiranmu, Ibu jadi yakin kalimatmu itu bukan untuk menyindir Ibu, apalagi men-diskredit-kan ibu-ibu yang punya anak lebih dari 1. Soalnya kan masih ada ibu-ibu beranak banyak, yang tetep (bisa) hepi. Kamu kenal kan, samaย  Budhe Tituk yang ber-anak 4 lalu budhe Titi yang buntutnya 5,ย  dan tante El yang anaknya 6 itu? ๐Ÿ˜€

Trus, gimana dengan Baginda Ratu? Anak 3 biji, semua manis, kok. *kalo lagi manis* ๐Ÿ˜† Suami juga baik-penyayang-penuh-pengertian-sabar-rajin-mijitin: apa lagi yang kurang? Nggak ada. Alhamdulillah! ๐Ÿ™‚

Jadi.. tak apa-apa lah, Nduk. Soal jumlah anak ini masih bisa kita diskusikan lagi saat kau sudah menemukan suami yang baik dan bertanggungjawab -minimal seperti ayahmu- dan selanjutnya kita akan pikirkan bersama-sama, seberapa besar kans-mu untuk jadi duta BKKBN nanti, ya! ๐Ÿ˜†

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo bandung sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha...

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha…

ย 

3 tahun…

Si bayi yang dulu pas baru brojol tampangnya begini…

amartha1

.. tahu-tahu sekarang udah bisa bergaya di depan kamera…

amartha

… Si bayi yang dulu dicuekin abangnya, karena game di ponsel SELALU lebih menarik…

amartha3

… sekarang udah bisa diajak nge-game berjama’ah dan memaksa ibunya merogoh kocek lebih dalam… *tekorrrr* ๐Ÿ˜†

amartha12

… Si bayi yang dulu cuma bisa diciumin secara posesif sama mbaknya itu…

amartha4

… sekarang udah bisa diajak naik skuter bareng..

amartha2

… Si batita yang dulu kemana-mana harus selalu digandeng (dan digendong) itu…

amartha6

… sekarang rela berjalan kaki, demi supaya mbaknya yang kelelahan bisa digendong oleh sang penggendong sejati…

amartha8

… Si bayi yang dulu cuma bisa ditowel-towel diatas kasur itu..

amartha2

… sekarang udah bisa diajak narsis foto bareng..

narsis

Aaahhhh… betapa benar kata orang: waktu berjalan begitu cepat, saat kita sedang bersenang-senang.

Jadi, semoga sajaaaaa tak ada lagi nikmat ALLAH yang kita dustakan, ya… ๐Ÿ™‚

Selamat genap 3 tahun, Amartha Barron Farras Sefriyana…

Seperti semua Ibu di seluruh penjuru bumi ini, tak pernah bosan Ibu mendoakanmu, agar hidupmu nanti selalu dipenuhi dengan hal-hal baik: kesehatan, kecerdasan, keislaman-keimanan, nasib baik, keberuntungan, kesejahteraan dan keselamatan, DUNIA-AKHIRAT. Aamiin…

amartha13

31 Oktober 2013: di perjalanan menuju daycare. Ini wajah sumringah karena dapet sendal angry bird dari “mbak Aura” dan mobil Alphard (mainan, tentu saja. Moso’ beneran? ) dari “bang Andro”. Trus, dari ayah-ibunya? Cinta dan kasih sayang, laaahhh…! Apalagi? ๐Ÿ˜†

Oh, dan seandainya saja waktu bisa diputar ulang, Ibu tak keberatan sama sekali loh, melahirkanmu di tanggal 1, tanggal 2, 3, atau 4 November. Jadi bukannya di penghujung bulan yang tongpes macem sekarang, sayaaaanggg…! *ini sekaligus peringatan keras untuk yang mau coba-coba minta traktiran* Huahaha… :mrgreen:

Si bontot (bagian 2)

Semalem, waktu ibunya lagi meringkuk di balik selimut gegara badan meriang tanda-tanda masuk angin:

” Yah, ayah… mobil (mobilan) ini belinya dimana…? “ suara si bontot kedengeran menimpali Baginda Raja yang lagi asyik ngobrol sama Dik Aji, adik ipar saya.

” Ooohh… mobil-mobilan itu beli di TOKO, sayang! ” lalu terdengar bapaknya meneruskan obrolan dengan Dik Aji. Di salah satu soal ujian sekolah Andro dulu –entah pelajaran apa, saya lupa- ada pertanyaan yang kurang lebih begini: dimana kita membeli mainan? Jawaban Andro : (toserba) YOGYA. Jawaban itu ternyata dianggap salah, karena jawaban seharusnya adalah di TOKO MAINAN. *ya elah Pak/Bu. Namapun anak kelas 1 SD, yang mereka hapal kan merk dagang-nya, bukan fungsinya?* ๐Ÿ˜†ย  Tapi dari sejak saat itu, kami membiasakan menyebut (toserba) Yogya/Griya/Hypermart dan lain-lain itu dengan istilah TOKO.

” Ooohhh… beli di Toko, ya….”

” Iya, sayang… Beli di TOKO. ” kirain udah ngerti, eh nggak tahunya doi nyambung lagi:

” Beli di… TOKO-YAKI…? “

Huahahaha…

Bapak dan om-nya langsung pada ketawa. Di dalam kamar, emaknya yang lagi setengah mati berusaha mejamin mata karena sakit kepala, nggak bisa nggak, ikutan ngakak.

” Kalo yang itu sih TAKOYAKI, sayaaanggg…! ”ย  ๐Ÿ˜†

*Ada yang belum tahu Takoyaki? Ini jajanan asal Jepang, dan belakangan jadi jajanan favoritnya si sulung, si tengah… dan… TENTU SAJA si bontot, – sang copycat sejati itu –ย ย  ๐Ÿ˜†

Amartha, 2 tahun 10 bulan. TOKO dan TAKO memang beda tipis ya, Nak... Sama kayak beda tipisnya NO-KIA dengan NU-KIE. huahaha...

Amartha, 2 tahun 10 bulan. TOKO dan TAKO memang beda tipis ya, Nak… Sama kayak beda tipisnya NO-KIA dengan NU-KIE. huahaha…

Si bontot…

Pada suatu malam yang sudah sangat larut, seorang ibu sedang bersusah payah menidurkan 3 anaknya.

Semua ritual sebelum tidur sudah dilaksanakan:

  • cuci tangan dan kaki: check!
  • gosok gigi: check!
  • ganti baju tidur: check!
  • baca do’a: check!
  • baca buku cerita (BERKALI-KALI!) : check!

” Oke, udah malem. Sekarang udah waktunya tidur. Bobo yang nyenyak, ya sayang, semoga mimpi indah…”

” Bu, gulingku diambil abang…!” suara anak perempuan. Si tengah.

” Aku kan mau guling yang iniiiii…! “ suara yang paling dominan menimpali galak. Si sulung, dong. Siapa lagi..? ๐Ÿ˜†

Dan kemudian kamar langsung gaduh karena mendadak dangdut ada yang sibuk rebutan guling.

” Aku juga mau guliiiinggg! “ suara paling kecil yang selalu latah, maunya ikut A-PA-PUN yang dilakukan kakak-kakaknya. Si bontot.

” Ssssshhh… udah, udah. Kan semua udah punya guling. Hayoooo, semua tidur sekarang. Udah malem, ini. Ibu kan juga mau tidur… ! Udah ditungguin Ayah, tuh.. ๐Ÿ˜†

Dan setelah setengah jam baku hantam percakapan yang kenapa sih, Nak, harus dibicarakan se-larut ini, saat mata Ibu udah setengah watt doang..???

” Oke. Setelah ini, Ibu akan menghitung sampe 3. Kalo udah hitungan ke-3, semuanya harus diem, trus bobo, ya. Nggak boleh lagi ada suara-suara. Oke, semuaaaa…? “

” Oke!” si sulung dan si tengah jawab berbarengan.

Lalu si bontot nyusul belakangan.

“Okeeee….! “

Huffttt.. Akhirnya!

” Satu… dua… tiga… ! “

…………………………………..

” Empaaaatttt..! “ suara cempreng si bontot nyahut dengan semangat.

Huahahahahaha……

Ibunya pengen banget jitak manis kepalanya trus ngomel, tapi apadaya nggak kuat nahan tawa, apalagi si sulung dan si tengah juga ngakak nggak berhenti-berhenti. Dan si bontot langsung teriak-teriang girang berasa berhasil bikin semua orang happy (???)ย  :mrgreen:

Jadi akhirnya… ritual tidur pun harus dimulai lagi, DARI AWAL…!

Zzzzzzz……..

Oh, tidur cepat dan nyenyak.

Aku sungguh merindumu…..

bahkan ketika bibir manyun sekalipun, kamu tetep lucu kok, di mata Ibu, Nak... Tapi coba kalo malem gampang diajak tidur, pasti tambah lucu, deh... *cinta bersyarat* hahaha...

Bahkan ketika bibir manyun sekalipun, kamu tetep lucu di mata Ibu loh, Nak… Apalagi kalo tiap malem gampang diajak tidur, pasti tambah lucu, dan Ibu akan tambah cintaย  sama kamu…! ish, cinta yang bersyarat! Huahaha…

Mahaguru kehidupan

Dulu, di beberapa infotainment, saya melihat betapa hebatnya perjuangan Dewi Yull membesarkan Gischa, anak perempuannya yang tuna rungu. Saya terkagum-kagum dengan kebesaran hati Dewi Yull mengasuh, mendidik dan membesarkan Gischa (dan maaf ya, saya sempat mengutuk suaminya yang kawin lagi itu! ๐Ÿ˜† ) hingga kemudian Gischa menikah, mempunyai anak, dan lalu di usianya yang masih relatif muda, dipanggil ke pangkuan ALLAH SWT. Dalam beberapa kesempatan, Dewi Yull selalu bilang, Gischa adalah mahaguru kehidupannya. Orang yang mengajarkan banyak hal mengenai ketabahan, ketahanan dan kesabaran yang tak terbatas. Meskipun ikut terharu, tapi dulu, saya masih meraba-raba apa yang sebenarnya dimaksud Dewi Yull, dan baru mengerti sepenuhnya, ketika the krucils kami lahir.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, Andro, si sulung kami adalah pelopor. Nyaris semua yang dia lakukan udah pasti ditiru adik-adiknya. Dengan begitu, dalam rangka menjaga supaya suara orangtua selalu dalam level ‘aman’ dan seisi rumah tenang tak kena imbas buruk, beban saya yang paling utama memang mengarahkan dia untuk selalu berada di jalur yang ‘benar’. Jalur yang benar disini artinya nggak bikin emaknya manyun, ngomel, merepet, atau bahkan yang paling parah, jejeritan histeris. Nggak perlu bikin ibunya ketawa lah, (untuk kewajiban bikin ketawa ini lempar kepada bapaknya saja, haha!) nggak bikin alis ibunya makin nyureng aja, sudah cukup kok.

Ketika para juniors ‘berulah’ bikin kepala pening, sumpah deh, susahnya setengah mati menjaga supaya mata ini nggak TERLALU melotot. Dan berusaha sebisa mungkin ngomong dengan nada suara rendah kepada para bocah itu sambil mengatupkan rahang serapat-rapatnya supaya suara yang keluar nggak segahar halilintar, rasanya kok mustahil banget, ya… ๐Ÿ˜†

Pada Andro saya memang paling sering ngomel ngasih pengertian, bahwa selain harus ngantor setiap hari, saya juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga rumah selalu bersih, mencuci piring, baju, menyetrika, memasak, dan lain sebagainya. Harapannya tentu biar supaya dia mikir-mikir lagi deh, kalo mau main di tempat yang kotor, atau paling tidak, mikir ulang waktu mau berantakin semua mainannya. Harapan tertingginya sudah pasti biar adik-adiknya ngikut tertib juga, dong. Kapanan biar sekali tepuk, 2-3 anak nurut, yes? ๐Ÿ™‚ Trus tanggapan Andro kalo dikasih tahu? Cengar cengir doang, as usual, dengan bahasa tubuh tak meyakinkan yang bikin ibunya makin gemes; omongan saya yang lebih menyerupai repetan itu dimasukkin ke dalam telinga nggak, sih? Jadi, ketika suatu hari dengan inisiatif sendiri dia mengepel lantai karena saya ngomel gegara ada minuman yang tumpah, saya cukup terharu. Lupakan saja kenyataan bahwasanya proses mengepel itu harus saya ulang, namanya juga anak kelas 2 SD, ngepel lantai ya cuma bisa srak srek-srak srek doang, asal lantai basah. ๐Ÿ˜†

Lain Andro, lain adiknya. Kapan itu, ketika saya sedang baringan di atas kasur melepas penat, si tengah Aura dengan takut-takut menunjukkan bajunya yang basah setelah gosok gigi dan minta ijin untuk menggantinya dengan yang baru. Doski memang paling nggak betah dengan baju basah, walopun basahnya cuma dikiiiiitt banget. Iya, deh. Salahkan emaknya ini, yang masih belum bisa lepas dari kebiasaan ngomel kalo ada salah satu krucil yang mainan air dan membuat baju basah (karena baju basah kan ekuivalen dengan tambahan cucian dan setrikaan, yes?) Tapi melihat mukanya yang ketakutan setengah mati melaporkan bajunya yang basah itu, tetiba hati saya pedih, sekali.

Duh, Nduk… Ibu memang galak to the max, tapi melihatmu takut bicara pada Ibu, rasa-rasanya kok hati ini patah sekali, ya... ๐Ÿ˜ฅ

Yang paling juara bikin hati saya jumpalitan tentu saja, si bontot Amartha. Dia ini kan SEPERTI IBUNYA (lebih aman langsung ngaku, daripada bingung mau nunjuk mirip siapa ๐Ÿ˜† )ย  kerasย kepala hati sekali. Kalo maunya A, ya A. Mau B, ya B. Susaaaahhh banget dibelokkin. Bisa sih, dibelokkin. Tapi prosesnya lamaaaaa dan panjaaanggg..! Choki-choki doang sih lewat, dah! ๐Ÿ˜† Dan begitu berhadapan dengan ibunya, udah pasti kenceng banget benturannya. Keras ketemu keras, gitu loh! :mrgreen: Tapi begitu selesai ‘berantem’ dan semua sudah diklarifikasi sampe tuntas, dia akan lari secepat kilat ke dalam pelukan saya sambil teriak kegirangan: “Ibu udah nggak marah lagiiii…!” Dan binar di matanya yang seneng itu otomatis melunturkan semua kesel yang tadinya numpuk di dalam hati emaknya. ๐Ÿ˜€

Di blog ini saya sering banget ngeluh, bahwasanya segala sesuatu yang musti pake embel-embel kesabaran jelas-jelas bukan pilihan saya. Tapi begitu jadi seorang ibu, justru kesabaran itu kan, yang jadi harga mati? Sungguh, saya nggak berkeberatan sama sekali ngerjain kerjaan rumah yang serasa tak ada ujung pangkalnya dan bikin tulang serasa rontok ketika malam hari akhirnya tiba saat untuk beristirahat itu. Saya juga nggak berkeberatan, mengerjakan bertumpuk-tumpuk berkas dari bu Jendral dan dikejar-kejar jatuh tempo yang mefffffeeettt! Tapi, berjibaku dengan masalah yang memerlukan stok sabar berlapis-lapis, rasanya saya pengen langsung menyerah kalah saja, deh. ๐Ÿ˜ฆ *payah*

Beberapa hari lalu, selesai beberes urusan domestik, saya leyeh-leyeh di kursi depan TV sambil megang si tablet kesayangan, lalu balesin email-email yang masuk. Tiba-tiba si bontot saya yang lagi main mobil-mobilan manggil-manggil:

“Bu.. Ibu…”

” Ya, sayang…”

Saya masih asyik dengan tablet saya. Online, niiiihhh..! ๐Ÿ˜†

” Bu, ibuuu…! “ suaranya makin keras.

“Ya, dik.. kenapa..?”

Saya cuma nengok sebentar, memastikan dia nggak kenapa-kenapa, lalu lanjut ketak ketik di tablet saya.

” Bu, Ibu FITRIIIII…!!!”

Hahhh…! Kaget banget, deh! Itu kali pertamanya si bocah 2 tahun 10 bulan itu manggil nama gadis ibunya di belakang embel-embel panggilan Ibu. Reaksi saya waktu itu ngakak gemes gimana, gitu. Lah manggilnya serius macem ngasih ibunya duit sekoper aja, nggak tahunya ‘cuma’ pengen ngasih liat ban mobil-mobilannya yang katanya kena ‘polisi tidur’ Zzzzz….

Tapi kemudian saya berfikir: sampai kapan ya, para bocah itu memanggil saya hanya demi mendapat sedikiiiiittt saja perhatian saya? Sampai kapan mereka akan minta bantuan saya untuk menuangkan susu ke dalam gelas, mengambilkan sereal, membantu mandi dan memakai baju, membacakan buku cerita, menyuapi makan, mengambilkan air minum, menemani bermain peran, memberitahu dengan bangga, betapa bagusnya coretan krayon mereka di dinding rumah (???) dan segala printilan kecil yang kaloย  saya pikir-pikir: apa sih menariknyaaaa…?

Salah satu blogger favorit saya, Jihan Davincka pernah menulis dengan sangat indah di postingannya yang ini dan di bawah saya copas beberapa kalimat favorit saya.

Ijin ya, mbak Jihan. Dirimu kan baik, cantik lagi.. *bantuin benerin poni* ๐Ÿ˜†

I wonโ€™t always cry โ€˜mommyโ€™ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I wonโ€™t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day youโ€™ll miss having a chocolate face to wipe.
You wonโ€™t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You wonโ€™t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs canโ€™t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I wonโ€™t be this small.

***

Jihan doesnโ€™t know who the author is, but she (and I) do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worryโ€ฆ because one day, they wonโ€™t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka.ย 

source: Jihan’s blog

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: lagi puasa, dan demi mereka, bapak ibunya rela menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, dan lalu dengan enak makan sosis dan es teh manis. Glekkkk....

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: bulan puasa, tapi demi mereka -3 mahaguru kehidupan kami- bapak ibunya ini rela dong, menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, lalu dengan enaknya makan sosis dan es teh manis. Glekkkk….

Oke, oke… jadi intinya harus lebih banyak latihan bersabar kan, ya?

Baiklaaaaah. Mari dicoba-coba lagi, kakaaakkk…! ๐Ÿ˜†

Oh, tapi.. buat yang merasa hidupnya saat iniย  sedang beraaaaatttt, cobain deh, ajak 3 energizer bunny ini untuk tertib tidur di kamar mereka sendiri dan berhenti ngerecoki bapak ibunya yang jam 11 malem (???) udah teler berat pengenย pacaran istirahat. Hahaha, curcol nih, yeeee…? :mrgreen:

Selalu ada yang pertama…

…. untuk segalanya.

… seperti ketika dulu banjir keringat dingin pas latihan nyetir, dan lalu mesin mobil mati di tanjakan, dan diklaksonin mobil belakang;

… seperti ketika dulu terharu melihat si tengah tampil perdana nari di depan orang banyak, dengan muka lempeng-se-lempeng-lempengnya ๐Ÿ˜†

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya masem macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja... :D

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya jut*k macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja… ๐Ÿ˜€

… seperti ketika minggu lalu mati gaya karena pagi-pagi sebelum nge-drop krucils ke daycare, baju kantor kena (sorry!) pup si bontot yang (masih) latihan lepas diaper;

Dan selain yang saya inget diatas itu, ternyata masih ada beberapa hal lain yang menjadi pengalaman pertama bagi saya juga Baginda Raja:

1.Bertemu secara langsung, orang yang kulitnya jauuuuhhh lebih hitem dari Baginda Raja eh, KAMI !ย  ๐Ÿ˜†

05 Agustus 2013. Para keponakans, ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu... and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM, temen kuliah Wahyu, asal Bangladesh.

05 Agustus 2013. Para keponakan, gotong royong nyiapin makanan untuk berbuka puasa. Ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu… and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM-temen kuliah Wahyu- asli Bangladesh yang ikut berlebaran di rumah kami. Dan keponakans yang berkulit ‘normal’ย  selayaknya orang Indonesia itu, boleh lah sedikit GR dan merasa kulit mereka ternyata ‘agak’ kinclong. Hihi. Eh, Sohel ini baiikkk sekali. Ramah, dan care abis sama the krucils. ๐Ÿ™‚

Tanpa bermaksud SARA, waktu liat kulitnya Sohel ini, Baginda Raja bisa dong cengar-cengir bilang: “Tuh, Dik. Kulit yang item tuh yang kayak Sohel itu. Kalo kulit Mas kan coklat. Coklat eksotis!” huahaha.. Iya deh, Mas. Iya. Daripada kau potong uang belanjaku… ๐Ÿ˜†

2. Melatih anak mengelola uang saku itu ternyata SUSAH.

Tahun ajaran baru ini adalah kali pertama saya memberi Andro uang saku (BUKAN uang jajan, ya!) 15 ribu per minggu. Dari awal masuk minggu lalu, saya udah sounding dia soal uang saku ini. Saya jelaskan teori-teori keuangan sederhana tentang uang saku, uang jajan dan menabung. Maksud hati pengen dia latihan mengelola uang gitu, deh. Harapan saya sih dari jatah 3 ribu per hari itu, dia bisa lah sisihin minimal 1000 perak buat ditabungin. Apakah sounding saya berhasil? Tentu saja TIDAK. Lha kok enak banget hidup saya kalo semuanya segampil itu. ๐Ÿ˜† Hari Senin pagi dikasih 15 rebu, senin sore pas pulang doski laporan, uangnya abis dibeliin martabak, coklat, dan aqua! Ya ampun, aqua kan tinggal nuang aja dari dispenser di kelasnyaaa…??? Zzzzz… *jitak manis kepala Andro* ๐Ÿ˜†

3. Mempunyai tempat tidur, setelah (nyaris) 9 tahun nikah ngemper tidur pake kasur doang.

Yang bilang kawin musti punya banyak duit, sini ngadep ke saya. Dari dulu sampe sekarang, modal saya dan Bagindaraja kawin cuma dengkul, loh! ๐Ÿ˜† Kami bisa angkat dagu bangga, karena kawin tanpa ngerepotin orangtua (secara finansial ya!), lalu setelah kawin bisa tetep lancar nerusin cicilan motor, lalu punya rumah (teuteuppp dong ah, kredit! haha!); lalu berkesempatan punya si putih esteem, dan lalu setahun kemudian diijinkan kredit si item. Alhamdulillah. ๐Ÿ™‚

Setiap kali ibu atau kakak saya datang berkunjung dan nanya kenapa kami belum punya tempat tidur, saya masih bisa berkilah anak-anak masih kecil. Gengsi dong, bilang nggak punya fulus. Padahal sih emang nggak ada duit. ๐Ÿ˜† Alasan the krucils masih kecil dan kami takut mereka jatuh dari tempat tidur itu rasa-rasanya cukup bagus deh, at least ibu, mertua dan sodara-sodara nggak ada yang (berani?) komentar macem-macem. :mrgreen: Nah sekarang, begitu si bontot udah tahu mana tempat tinggi, mana tempat rendah, punya tempat tidur yang proper rasanya kok nggak bisa ditunda-tunda lagi, ya? Aku kan juga pengen ngerasain tidur diatas tempat tiduuuurrr… *kasihan* ๐Ÿ˜†

Makanya, begitu kemaren punya rejeki untuk beli tempat tidur, rasanya amazed sendiri. Ah, akhirnya! Lupakan King Koil yang harganya bikin manyun itu. Bisa beli tempat tidur kelas rakyat dari ngumpulin duit bertahun-tahun itu aja, rasanya bangga luar biasa! Hahaha! *lebay* :mrgreen:

Dan kalo cuma nebeng duduk doang di tempat tidur orangtua, masih boleh kok... :)

… Itu tempat tidur orangtua sih, Nak. Tapi kalo cuma nebeng duduk doang sih, masih boleh kok… ๐Ÿ™‚

... dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di -let say- kamar pribadi kalian ini.. :)

… dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di –let say– kamar pribadi kalian ini.. ๐Ÿ™‚

Dan maaf kalo saya norak pajang-pajang fotonya di instagram dan juga di blog ini. Habis kan lagi syeneeengg, kakaaakk..! Maklum, kan? Kan? Kan? *maksa to the max* ๐Ÿ˜† Lah kalo Aura sih enak, doski masih bisa dengan enteng dan centilnya ngajakin Eshal, anak tetangga yang jadi sekutu terakrabnya, tour de kamar, tanpa risih MAMERIN tempat tidur baru kami. Nah saya? Moso’ harus seret-seret itu ibu-ibu arisan, sih? *disumpel gelas kocokan* ๐Ÿ˜†

4. Sehubungan dengan poin ke-3, setelah punya buntut (yang artinya udah lebih dari 7 tahun yang lalu!) AKHIRNYA malem minggu kemaren saya dan Baginda Raja bisa tidur berdua lagi.

Deg-deg-an pisan deh, serasa pengantin baru, dan itu pula sebabnya kenapa sepanjang hari minggu kemaren saya ngantuuukk banget! Kurang tidur, euy! #eeaaaa #dibahasssss #sensorrrrr…. Huahaha…

5. Si sulung ngeledekin adik-adiknya? Biasa lah, itu. Nah kalo bacain cerita untuk mereka TANPA DIMINTA? Well, itu baru supeerrrr…! ๐Ÿ™‚

Selama ini, Aura-Amartha kan tidur bareng saya, dan kalo mau tidur mereka MUSTI pegang tangan saya. Udah ritual wajib itu. Jadi waktu malem minggu kemaren mendadak mereka musti tidur ber-3 saja dengan abangnya, drama sebelum tidur pun nggak bisa dihindari. Bolak balik keluar kamar anak-anak trus masuk kamar orangtua (begitulah kami menyebut kamar-kamar di rumah sekarang ๐Ÿ™‚ ) trus diajak balik ke kamar anak-anak, bacain buku cerita (lagi!), trus balik nyusul lagi ke kamar orangtua, dan terus berulang bolak balik begitu entah berapa kali, sampe pusing liatnya dan emaknya ini lama-lama jadi senewen…

pemandangan langka seperti ini sudah cukup membuat hati ibunya meleleh. :)

… tapi pada akhirnya, pemandangan langka seperti iniย  sudah cukup kok, bikin ibunya berhenti ngomel. Ah, kalian pinter banget deh, membolak-balikkan hati… *cium krucils satu-satu* ๐Ÿ™‚

Happy lazy monday, people! ๐Ÿ˜€