8 tahun

image

Hai, Bang Andro..

Tadinya Ibu pengeeen banget bikin surat cinta yang indah buatmu di ulang tahunmu yang ke 8 ini. Apadaya, hectic pindahan kantor ternyata menguras banyak sekali waktu (dan juga emosi, ehem! ) Ibu, jadi ya sudah lah, kita cukupkan saja dengan pagi-pagi membangunkanmu sambil menyetel lagu selamat ulang tahun di henpon *yang baru ibu download jam 5 pagi* lalu baca doa di deket party supplies kiriman tante Feni *kamu ternganga2 waktu Ibu bilang tulisan keren ini dikirim jauh2 dari Bogor* dan kemudian potong kue yang Ibu beli di Holland Bakery (tanpa sepengetahuanmu) lalu buka 3 kado (1 dari dik Aura, 1 dari dik Amartha dan 1nya lagi dari ayah dan Ibu) *berakhir dengan 1 kado disabotase adik bontotmu* πŸ˜†
Sesederhana itu, dan itu sudah membuat wajahmu berseri-seri. Ah, kamu memang gampang sekali dibikin senang ya, Nak! πŸ™‚

Bang, Ibu pengen kamu tahu, kehadiranmu 8 tahun lalu itu adalah bukti nyata bahwa teori manusia dan ketentuan Allah adalah 2 hal yang sangat berbeda. Dan iya, kadang2 keduanya tak seiring sejalan. Jadi ketika Ibu dinyatakan positif mengandungmu tepat sebulan setelah Ibu keguguran untuk yang KEDUA KALINYA, dan lalu dokter dengan santai bilang ” kemungkinan besar ibu akan keguguran lagi” rasanya Ibu patah hatiiii sekali. Ayahmu yang jadi saksi betapa sedih dan terpukulnya Ibu waktu itu, mengingat sudah 2x calon buah hati kami gugur sebelum tiba waktunya dilahirkan. Kamu tahu, sayang… saat itu hati Ibu pediiihh sekali. Terlebih saat kamu, calon buah hati ke-3 kami juga divonis serupa. Ah, rasanya dunia runtuh! πŸ˜₯

Tapi seiring waktu, kamu tumbuh makin besar di rahim Ibu, dan makin kuat setiap harinya, (kadang bahkan membuat Ibu meringis nyeri karena tulang ini terkena tendanganmu). Perlahan tapi pasti, kekhawatiran dan ketakutan kami pun sirna, berganti menjadi harapan besar bahwa kamu akan hadir sehat di buaian kami.

Ketika kamu lahir secara alami di 13 April 2006 *dan terbilang sangat cepat karena prosesnya kurang lebih 4 jam saja* Ibu meyakini: keajaiban itu ada, jika Allah yang menghendaki. Subhanallah…

Bang, maaf ya kalo akhir2 ini Ibu banyaaakkk sekali ngomel dan marah-marah padamu. Seandainya bekas omelan itu terlihat secara kasat mata di badanmu, entah sudah seperti apa bentuk ragawimu sekarang. Duh, hanya dengan membayangkannya saja, Ibu langsung pengen nangis!

Maaf ya Bang..
Untuk ketidaksabaran Ibu menghadapimu,
Untuk teriakan2 Ibu yang gemas dengan tingkahmu saat menggoda adik2mu,
Untuk kurangnya waktu Ibu untuk mendengar celotehan2mu,
Juga untuk kurang enaknya macaroni schootel bikinan Ibu…
Maaf.
Maaf.
Maaf.

Selamat genap 8 tahun, Andromeda Barron Falatehan Sefriyana. Dengan semua yang sudah kau lalui bersama kami, sudah sepantasnya Ibu mendoakan hanya HAL BAIK yang akan mengelilingimu di hidupmu nanti.
Oh ya.. sekarang Ibu harus katakan sesuatu : Ibu, sayang, padamu!

Peluk cium selama-lamanya,
~~~Ibu : perempuan yang masih harus terus belajar sabar~~~

Mahaguru kehidupan

Dulu, di beberapa infotainment, saya melihat betapa hebatnya perjuangan Dewi Yull membesarkan Gischa, anak perempuannya yang tuna rungu. Saya terkagum-kagum dengan kebesaran hati Dewi Yull mengasuh, mendidik dan membesarkan Gischa (dan maaf ya, saya sempat mengutuk suaminya yang kawin lagi itu! πŸ˜† ) hingga kemudian Gischa menikah, mempunyai anak, dan lalu di usianya yang masih relatif muda, dipanggil ke pangkuan ALLAH SWT. Dalam beberapa kesempatan, Dewi Yull selalu bilang, Gischa adalah mahaguru kehidupannya. Orang yang mengajarkan banyak hal mengenai ketabahan, ketahanan dan kesabaran yang tak terbatas. Meskipun ikut terharu, tapi dulu, saya masih meraba-raba apa yang sebenarnya dimaksud Dewi Yull, dan baru mengerti sepenuhnya, ketika the krucils kami lahir.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, Andro, si sulung kami adalah pelopor. Nyaris semua yang dia lakukan udah pasti ditiru adik-adiknya. Dengan begitu, dalam rangka menjaga supaya suara orangtua selalu dalam level ‘aman’ dan seisi rumah tenang tak kena imbas buruk, beban saya yang paling utama memang mengarahkan dia untuk selalu berada di jalur yang ‘benar’. Jalur yang benar disini artinya nggak bikin emaknya manyun, ngomel, merepet, atau bahkan yang paling parah, jejeritan histeris. Nggak perlu bikin ibunya ketawa lah, (untuk kewajiban bikin ketawa ini lempar kepada bapaknya saja, haha!) nggak bikin alis ibunya makin nyureng aja, sudah cukup kok.

Ketika para juniors ‘berulah’ bikin kepala pening, sumpah deh, susahnya setengah mati menjaga supaya mata ini nggak TERLALU melotot. Dan berusaha sebisa mungkin ngomong dengan nada suara rendah kepada para bocah itu sambil mengatupkan rahang serapat-rapatnya supaya suara yang keluar nggak segahar halilintar, rasanya kok mustahil banget, ya… πŸ˜†

Pada Andro saya memang paling sering ngomel ngasih pengertian, bahwa selain harus ngantor setiap hari, saya juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga rumah selalu bersih, mencuci piring, baju, menyetrika, memasak, dan lain sebagainya. Harapannya tentu biar supaya dia mikir-mikir lagi deh, kalo mau main di tempat yang kotor, atau paling tidak, mikir ulang waktu mau berantakin semua mainannya. Harapan tertingginya sudah pasti biar adik-adiknya ngikut tertib juga, dong. Kapanan biar sekali tepuk, 2-3 anak nurut, yes? πŸ™‚ Trus tanggapan Andro kalo dikasih tahu? Cengar cengir doang, as usual, dengan bahasa tubuh tak meyakinkan yang bikin ibunya makin gemes; omongan saya yang lebih menyerupai repetan itu dimasukkin ke dalam telinga nggak, sih? Jadi, ketika suatu hari dengan inisiatif sendiri dia mengepel lantai karena saya ngomel gegara ada minuman yang tumpah, saya cukup terharu. Lupakan saja kenyataan bahwasanya proses mengepel itu harus saya ulang, namanya juga anak kelas 2 SD, ngepel lantai ya cuma bisa srak srek-srak srek doang, asal lantai basah. πŸ˜†

Lain Andro, lain adiknya. Kapan itu, ketika saya sedang baringan di atas kasur melepas penat, si tengah Aura dengan takut-takut menunjukkan bajunya yang basah setelah gosok gigi dan minta ijin untuk menggantinya dengan yang baru. Doski memang paling nggak betah dengan baju basah, walopun basahnya cuma dikiiiiitt banget. Iya, deh. Salahkan emaknya ini, yang masih belum bisa lepas dari kebiasaan ngomel kalo ada salah satu krucil yang mainan air dan membuat baju basah (karena baju basah kan ekuivalen dengan tambahan cucian dan setrikaan, yes?) Tapi melihat mukanya yang ketakutan setengah mati melaporkan bajunya yang basah itu, tetiba hati saya pedih, sekali.

Duh, Nduk… Ibu memang galak to the max, tapi melihatmu takut bicara pada Ibu, rasa-rasanya kok hati ini patah sekali, ya... πŸ˜₯

Yang paling juara bikin hati saya jumpalitan tentu saja, si bontot Amartha. Dia ini kan SEPERTI IBUNYA (lebih aman langsung ngaku, daripada bingung mau nunjuk mirip siapa πŸ˜† )Β  kerasΒ kepala hati sekali. Kalo maunya A, ya A. Mau B, ya B. Susaaaahhh banget dibelokkin. Bisa sih, dibelokkin. Tapi prosesnya lamaaaaa dan panjaaanggg..! Choki-choki doang sih lewat, dah! πŸ˜† Dan begitu berhadapan dengan ibunya, udah pasti kenceng banget benturannya. Keras ketemu keras, gitu loh! :mrgreen: Tapi begitu selesai ‘berantem’ dan semua sudah diklarifikasi sampe tuntas, dia akan lari secepat kilat ke dalam pelukan saya sambil teriak kegirangan: “Ibu udah nggak marah lagiiii…!” Dan binar di matanya yang seneng itu otomatis melunturkan semua kesel yang tadinya numpuk di dalam hati emaknya. πŸ˜€

Di blog ini saya sering banget ngeluh, bahwasanya segala sesuatu yang musti pake embel-embel kesabaran jelas-jelas bukan pilihan saya. Tapi begitu jadi seorang ibu, justru kesabaran itu kan, yang jadi harga mati? Sungguh, saya nggak berkeberatan sama sekali ngerjain kerjaan rumah yang serasa tak ada ujung pangkalnya dan bikin tulang serasa rontok ketika malam hari akhirnya tiba saat untuk beristirahat itu. Saya juga nggak berkeberatan, mengerjakan bertumpuk-tumpuk berkas dari bu Jendral dan dikejar-kejar jatuh tempo yang mefffffeeettt! Tapi, berjibaku dengan masalah yang memerlukan stok sabar berlapis-lapis, rasanya saya pengen langsung menyerah kalah saja, deh. 😦 *payah*

Beberapa hari lalu, selesai beberes urusan domestik, saya leyeh-leyeh di kursi depan TV sambil megang si tablet kesayangan, lalu balesin email-email yang masuk. Tiba-tiba si bontot saya yang lagi main mobil-mobilan manggil-manggil:

“Bu.. Ibu…”

” Ya, sayang…”

Saya masih asyik dengan tablet saya. Online, niiiihhh..! πŸ˜†

” Bu, ibuuu…! “ suaranya makin keras.

“Ya, dik.. kenapa..?”

Saya cuma nengok sebentar, memastikan dia nggak kenapa-kenapa, lalu lanjut ketak ketik di tablet saya.

” Bu, Ibu FITRIIIII…!!!”

Hahhh…! Kaget banget, deh! Itu kali pertamanya si bocah 2 tahun 10 bulan itu manggil nama gadis ibunya di belakang embel-embel panggilan Ibu. Reaksi saya waktu itu ngakak gemes gimana, gitu. Lah manggilnya serius macem ngasih ibunya duit sekoper aja, nggak tahunya ‘cuma’ pengen ngasih liat ban mobil-mobilannya yang katanya kena ‘polisi tidur’ Zzzzz….

Tapi kemudian saya berfikir: sampai kapan ya, para bocah itu memanggil saya hanya demi mendapat sedikiiiiittt saja perhatian saya? Sampai kapan mereka akan minta bantuan saya untuk menuangkan susu ke dalam gelas, mengambilkan sereal, membantu mandi dan memakai baju, membacakan buku cerita, menyuapi makan, mengambilkan air minum, menemani bermain peran, memberitahu dengan bangga, betapa bagusnya coretan krayon mereka di dinding rumah (???) dan segala printilan kecil yang kaloΒ  saya pikir-pikir: apa sih menariknyaaaa…?

Salah satu blogger favorit saya, Jihan Davincka pernah menulis dengan sangat indah di postingannya yang ini dan di bawah saya copas beberapa kalimat favorit saya.

Ijin ya, mbak Jihan. Dirimu kan baik, cantik lagi.. *bantuin benerin poni* πŸ˜†

I won’t always cry β€˜mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

Jihan doesn’t know who the author is, but she (and I) do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry… because one day, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka.Β 

source: Jihan’s blog

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: lagi puasa, dan demi mereka, bapak ibunya rela menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, dan lalu dengan enak makan sosis dan es teh manis. Glekkkk....

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: bulan puasa, tapi demi mereka -3 mahaguru kehidupan kami- bapak ibunya ini rela dong, menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, lalu dengan enaknya makan sosis dan es teh manis. Glekkkk….

Oke, oke… jadi intinya harus lebih banyak latihan bersabar kan, ya?

Baiklaaaaah. Mari dicoba-coba lagi, kakaaakkk…! πŸ˜†

Oh, tapi.. buat yang merasa hidupnya saat iniΒ  sedang beraaaaatttt, cobain deh, ajak 3 energizer bunny ini untuk tertib tidur di kamar mereka sendiri dan berhenti ngerecoki bapak ibunya yang jam 11 malem (???) udah teler berat pengenΒ pacaran istirahat. Hahaha, curcol nih, yeeee…? :mrgreen:

Selalu ada yang pertama…

…. untuk segalanya.

… seperti ketika dulu banjir keringat dingin pas latihan nyetir, dan lalu mesin mobil mati di tanjakan, dan diklaksonin mobil belakang;

… seperti ketika dulu terharu melihat si tengah tampil perdana nari di depan orang banyak, dengan muka lempeng-se-lempeng-lempengnya πŸ˜†

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya masem macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja... :D

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya jut*k macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja… πŸ˜€

… seperti ketika minggu lalu mati gaya karena pagi-pagi sebelum nge-drop krucils ke daycare, baju kantor kena (sorry!) pup si bontot yang (masih) latihan lepas diaper;

Dan selain yang saya inget diatas itu, ternyata masih ada beberapa hal lain yang menjadi pengalaman pertama bagi saya juga Baginda Raja:

1.Bertemu secara langsung, orang yang kulitnya jauuuuhhh lebih hitem dari Baginda Raja eh, KAMI !Β  πŸ˜†

05 Agustus 2013. Para keponakans, ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu... and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM, temen kuliah Wahyu, asal Bangladesh.

05 Agustus 2013. Para keponakan, gotong royong nyiapin makanan untuk berbuka puasa. Ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu… and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM-temen kuliah Wahyu- asli Bangladesh yang ikut berlebaran di rumah kami. Dan keponakans yang berkulit ‘normal’Β  selayaknya orang Indonesia itu, boleh lah sedikit GR dan merasa kulit mereka ternyata ‘agak’ kinclong. Hihi. Eh, Sohel ini baiikkk sekali. Ramah, dan care abis sama the krucils. πŸ™‚

Tanpa bermaksud SARA, waktu liat kulitnya Sohel ini, Baginda Raja bisa dong cengar-cengir bilang: “Tuh, Dik. Kulit yang item tuh yang kayak Sohel itu. Kalo kulit Mas kan coklat. Coklat eksotis!” huahaha.. Iya deh, Mas. Iya. Daripada kau potong uang belanjaku… πŸ˜†

2. Melatih anak mengelola uang saku itu ternyata SUSAH.

Tahun ajaran baru ini adalah kali pertama saya memberi Andro uang saku (BUKAN uang jajan, ya!) 15 ribu per minggu. Dari awal masuk minggu lalu, saya udah sounding dia soal uang saku ini. Saya jelaskan teori-teori keuangan sederhana tentang uang saku, uang jajan dan menabung. Maksud hati pengen dia latihan mengelola uang gitu, deh. Harapan saya sih dari jatah 3 ribu per hari itu, dia bisa lah sisihin minimal 1000 perak buat ditabungin. Apakah sounding saya berhasil? Tentu saja TIDAK. Lha kok enak banget hidup saya kalo semuanya segampil itu. πŸ˜† Hari Senin pagi dikasih 15 rebu, senin sore pas pulang doski laporan, uangnya abis dibeliin martabak, coklat, dan aqua! Ya ampun, aqua kan tinggal nuang aja dari dispenser di kelasnyaaa…??? Zzzzz… *jitak manis kepala Andro* πŸ˜†

3. Mempunyai tempat tidur, setelah (nyaris) 9 tahun nikah ngemper tidur pake kasur doang.

Yang bilang kawin musti punya banyak duit, sini ngadep ke saya. Dari dulu sampe sekarang, modal saya dan Bagindaraja kawin cuma dengkul, loh! πŸ˜† Kami bisa angkat dagu bangga, karena kawin tanpa ngerepotin orangtua (secara finansial ya!), lalu setelah kawin bisa tetep lancar nerusin cicilan motor, lalu punya rumah (teuteuppp dong ah, kredit! haha!); lalu berkesempatan punya si putih esteem, dan lalu setahun kemudian diijinkan kredit si item. Alhamdulillah. πŸ™‚

Setiap kali ibu atau kakak saya datang berkunjung dan nanya kenapa kami belum punya tempat tidur, saya masih bisa berkilah anak-anak masih kecil. Gengsi dong, bilang nggak punya fulus. Padahal sih emang nggak ada duit. πŸ˜† Alasan the krucils masih kecil dan kami takut mereka jatuh dari tempat tidur itu rasa-rasanya cukup bagus deh, at least ibu, mertua dan sodara-sodara nggak ada yang (berani?) komentar macem-macem. :mrgreen: Nah sekarang, begitu si bontot udah tahu mana tempat tinggi, mana tempat rendah, punya tempat tidur yang proper rasanya kok nggak bisa ditunda-tunda lagi, ya? Aku kan juga pengen ngerasain tidur diatas tempat tiduuuurrr… *kasihan* πŸ˜†

Makanya, begitu kemaren punya rejeki untuk beli tempat tidur, rasanya amazed sendiri. Ah, akhirnya! Lupakan King Koil yang harganya bikin manyun itu. Bisa beli tempat tidur kelas rakyat dari ngumpulin duit bertahun-tahun itu aja, rasanya bangga luar biasa! Hahaha! *lebay* :mrgreen:

Dan kalo cuma nebeng duduk doang di tempat tidur orangtua, masih boleh kok... :)

… Itu tempat tidur orangtua sih, Nak. Tapi kalo cuma nebeng duduk doang sih, masih boleh kok… πŸ™‚

... dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di -let say- kamar pribadi kalian ini.. :)

… dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di –let say– kamar pribadi kalian ini.. πŸ™‚

Dan maaf kalo saya norak pajang-pajang fotonya di instagram dan juga di blog ini. Habis kan lagi syeneeengg, kakaaakk..! Maklum, kan? Kan? Kan? *maksa to the max* πŸ˜† Lah kalo Aura sih enak, doski masih bisa dengan enteng dan centilnya ngajakin Eshal, anak tetangga yang jadi sekutu terakrabnya, tour de kamar, tanpa risih MAMERIN tempat tidur baru kami. Nah saya? Moso’ harus seret-seret itu ibu-ibu arisan, sih? *disumpel gelas kocokan* πŸ˜†

4. Sehubungan dengan poin ke-3, setelah punya buntut (yang artinya udah lebih dari 7 tahun yang lalu!) AKHIRNYA malem minggu kemaren saya dan Baginda Raja bisa tidur berdua lagi.

Deg-deg-an pisan deh, serasa pengantin baru, dan itu pula sebabnya kenapa sepanjang hari minggu kemaren saya ngantuuukk banget! Kurang tidur, euy! #eeaaaa #dibahasssss #sensorrrrr…. Huahaha…

5. Si sulung ngeledekin adik-adiknya? Biasa lah, itu. Nah kalo bacain cerita untuk mereka TANPA DIMINTA? Well, itu baru supeerrrr…! πŸ™‚

Selama ini, Aura-Amartha kan tidur bareng saya, dan kalo mau tidur mereka MUSTI pegang tangan saya. Udah ritual wajib itu. Jadi waktu malem minggu kemaren mendadak mereka musti tidur ber-3 saja dengan abangnya, drama sebelum tidur pun nggak bisa dihindari. Bolak balik keluar kamar anak-anak trus masuk kamar orangtua (begitulah kami menyebut kamar-kamar di rumah sekarang πŸ™‚ ) trus diajak balik ke kamar anak-anak, bacain buku cerita (lagi!), trus balik nyusul lagi ke kamar orangtua, dan terus berulang bolak balik begitu entah berapa kali, sampe pusing liatnya dan emaknya ini lama-lama jadi senewen…

pemandangan langka seperti ini sudah cukup membuat hati ibunya meleleh. :)

… tapi pada akhirnya, pemandangan langka seperti iniΒ  sudah cukup kok, bikin ibunya berhenti ngomel. Ah, kalian pinter banget deh, membolak-balikkan hati… *cium krucils satu-satu* πŸ™‚

Happy lazy monday, people! πŸ˜€

Pelajaran Pertama

Minggu pagi kemaren, demi supaya the krucils berhenti ribut nagih jatah jalan-jalan di hari libur, kami ngajak mereka ke Metro Indah Mall (MIM), mall yang paling dekat rumah. Yah, puasa-puasa gini, diminimalisir lah ya, acara pergi-pergi keluar. Kalo nggak penting-penting pisan mah, mending hibernasi di rumah sajah. Muacetnya itu loh, kakakkkk! Bikin spanneng. Apalagi Andro kan juga latihan puasa tahun ini,Β  dan udah dapet kurang lebih 10 hari-an, emaknya nggak hapal persis, habis nggak ngitung sih, hahaha! kasihan aja kalo jalan-jalan gitu kan default-nya sama makan siang. Nah nanti adik-adiknya pada asyik cemal cemil, doski cuma bisa ngiler… err.. ujung-ujungnya ngerayu emaknya supaya boleh ikutan makan, dan… nanti lanjut puasa lagi. Aih, makin pinter kamu sekarang yah, Bang! Niru siapa, cobaaaa..? πŸ˜†

Saya nggak keberatan sama sekali main ke MIM ini selain karena dekeeeett banget sama rumah, juga karena jatah mereka main beneran bisa diatur to the bottom limit, secara disitu kan cuma ada Timezone doang (nggak papa ya, langsung sebut merk. Males ngetik bintang-bintangnya, euy! πŸ˜€ ) ada sih playground di lantai atas, tapi kami malah belum pernah ngajak mereka kesana, wong main di timezone-nya aja udah happy banget, kok. πŸ™‚ Nah, soal main di zone-zone-an ini, ada 1 permainan yang jadi favorit Andro banget yaitu Animal Kaiser. Saya sebenernya kurang sreg dengan permainan ini, karena kan ide permainannya itu ngaduin 1 hewan dengan hewan yang lain gitu, dan kalo mau jujur, sebenernya kurang cocok buat konsumsi anak-anak karena jatuhnya jadi rada sadis. Tapi ya.. nggak tahu dulu awalnya gimana, pokoknya Andro jadi kecanduan game ini dan jadi kebiasaan tiap masuk Timezone/Game Zone wajib mainin Animal Kaiser.

Dulu pertama kali main tahun 2010-2011, 1 kali gesek (kalo nggak salah) 6000 perak , sampe kemaren hari Minggu itu saya liat 1 kali gesek udah 10 ribu aja, untuk permainan adu hewan yang paling lama 3-5 menitan itu. Dan peminatnya buanyaaaakkk..! Kalo lagi apes nih, bisa loh, ngantri sampe setengah jam lebih cuma buat dapet giliran main. Dan semua yang lama-lama begitu kan, udah pasti bikin seseorang manyun. *tunjuk muka sendiri* Hahaha... Maksud saya, bagusnya dimana, sihhhh…? Ehm, mungkin karena tiap selesai main, ada kartu yang dikeluarkan dari mesinnya itu kali, ya. Kartu ini bisa dipakai lagi di game yang lain. Yang paling keren tentu saja kartu raja, yang kalo kata Andro sih kuat banget, pokoknya jadi andalan pas main, deh. Kalo sekarang dihitung-hitung, entah udah ada berapa ratus kartu Animal Kaiser yang Andro punya, pokoknya 1 album itu udah nggak sanggup nampung semua koleksinya. (Later on, saya baru tahu ada 4 kartu raja di dalam album kartu animal kaiser Andro). Selain kartu-kartu yang disimpan rapi di kantong album-nya, masih ada puluhan kartu yang disisipin gitu aja karena emang belum nemu album pengganti yang lebih gede.

Long story short, pas Andro selesai main animal kaiser itu (saya jatah dua kali gesek aja, dong. Ogah rugi lah emaknya ini.. πŸ˜† ) dan Aura lagi asyik bikin bunga yang diwarnai,Β  saya pamit ke Baginda Raja sambil bawa si bontot, ke supermarketnya Hypermart (again, saya ketik tanpa bintang-bintang, ya πŸ™‚ ) buat beli-beli kebutuhan dapur. Baru mau masuk ke Hypermart, Andro mendadak nyusul saya, pengen ikut katanya. Tapi nggak lama kemudian dia teriak gini:

” Bu, album animal kaiserku manaaaa…? “

Dan perasaan saya langsung nggak enak. Karena saya ingat betul, pas saya pamit Baginda Raja, beliau nggak keliatan bawa apa-apa, kecuali ponsel yang dipake buat motret-motret Aura. Langsung saya suruh Andro tanya ke bapaknya, dan… betul saja, albumnya ilang. 😦

Terlepas dari kecerobohan Andro, kekurangpedulian saya, dan kekurangawasan-nya Baginda Raja, saya sesalkan sekali album itu beneran ilang begitu saja disana. FYI, waktu  pertama kami dateng itu Timezone baruuuuu banget buka. Malah pintunya juga baru dibuka separoh, dan pengunjung belum terlalu banyak. Dan durasi main  Andro juga nggak sampe setengah jam jadi beneran kondisinya masih lengang. Kami udah muter-muter nyari-nyari (bahkan sampe ke nyaris semua kolong tempat permainan yang sudah kami singgahi, which is nggak terlalu luas juga, karena areanya kan cuma segitu-gitunya. ) tapi hasilnya nihil. Beneran lenyap tak berbekas. Saya bahkan sampe melirik tajam ke semua anak yang keliatan bawa-bawa album animal kaiser disana, (Iiiih, maafkan Tante ya, Nak. Kesannya jadi suudzon! ) but still, zero result. 😦

Saya sedih, karena liat Andro terpukul banget. Dia bahkan sempat ngadat nggak mau bicara dengan kami. Mukanya kusuuuttt, matanya berkaca-kaca nyaris nangis, dan makin keliatan lemesnya. Hati emaknya mencelos… Huhuhu…

Di perjalanan pulang, saya nasihati dia, bahwa saat kita kehilangan sesuatu, itu adalah saat paling tepat untuk kita instrospeksi diri: jangan-jangan kita lupa sedekah, jangan-jangan ada hak orang lain yang belum kita berikan, atau bahkan mungkin, semua kartu animal kaiser yang sudah susah payah dikumpulkan itu, memang bukan rejeki Andro. Saya sudah sering bilang dari awal, album itu murni tanggung jawab dia sendiri, jadi jangan ngandelin saya/ayahnya untuk ngejagain. Jangan pula menyalahkan orang lain atas akibat yang timbul dari kecerobohan yang dia buat sendiri (di awal-awal kejadian kemaren, dia memang sempat menyalahkan ayahnya gitu… )

Well, kayaknya dia ngerti sih, dinasihatin macem-macem sama saya. Nggak sampe nangis, apalagi teriak-teriak, tapi di sepanjang jalan pulang itu dia dieemmmm aja, sampe akhirnya jatuh tertidur. Tapi kan justru muka putus asa itu yang bikin saya patah hati. 😦 Dan cukup dengan melihat raut muka sedihnya saat tidur itu saja, saya sudah tahu, hatinya masih kacau balau… πŸ˜₯

abangnya pemeran utama, adiknya sudah cukup puas jadi figurannya. Dan album yang biru itu tuh, yang sekarang entah ada dimana.. :(

28 Juli 2013, @ Timezone MIM: abangnya pemeran utama dan adiknya masih cukup puas jadi figurannya saja. Album warna biru yang ada di kursi itu tuh, yang sekarang entah ada dimana.. 😦

Saya sudah titipkan sih, nomor ponsel saya ke petugas Timezone, in case ada orang yang berbaik hati mengembalikan album si boss kecil itu. Tapi sampe hari ini belum ada kabar baik. Ini bulan Puasa sih ya. Katanya kalo bulan puasa (eh, bulan-bulan lain juga, ding.. πŸ˜† ) kita nggak boleh ngomongin orang. Tapi sungguh, sampe di detik ini saya masih nggak habis pikir… kok bisa, orang yang nemuin ‘tanpa sengaja’ album itu nggak berusaha tanya ke petugas timezone-nya. Kapanan itu album isinya banyak, beneran banyak, bukan cuma kartu selembar-dua lembar doang, jadi meskipun mungkin si penemu nggak tahu apa itu Animal Kaiser, at least dia kan bisa tanya-tanya ke petugas timezone-nya, album apa sebenernya itu.

Itu yang pertama. Yang kedua, seandainya iya, yang nemuin anak-anak yang doyan main animal kaiser, rada masuk akal sih kalo album itu bagaikan harta karun yang ditinggalkan pewarisnya dan jadi barang tak bertuan, sampe-sampe dia memutuskan untuk membawanya pulang. Iya, lah. Saya maklum. Namanya juga anak-anak. Lagian toleransi saya ke tindak tanduk anak-anak tinggi sekali, kok. Eh tapiiiii… kalo saya yang jadi orangtuanya, tindakan anak itu otomatis akan langsung saya koreksi. Bu, ngapain coba, bawa pulang barang milik orang? Kalo udah jelas barang itu menarik untuk anak kita, udah pasti lah berharga pula untuk pemilik aslinya. Apa yang keren di mata anak kita, BIASANYA cool pula dimata anak lain. Itu kan, mahzab-nya anak-anak…?

Pada akhirnya, hari itu Andro mendapatkan pelajaran pertamanya:

Berhati-hatilah menjaga barang milik kita, karena diluar sana, TERNYATA tidak semua orang berpola pikir sama dengan kita….

Iya, ini pelajaran yang berharga ya, Bang. Ibu ikut prihatin, karena pelajaran ini harus dibayar dengan kesedihanmuTapi percayalah, kalo rejeki, nggak akan lari kemana, kok… πŸ™‚

Kebutuhan lawan keinginan

Tadi pagi baca postingan si Mamak Ketjeh yang ini , dan saya langsung inget Andro yang baruuu aja kemaren minta jatah tas sekolah baru. Dari muka dan nada ngomongnya jelas ketahuan dia beneran pengeeennn banget ganti tas. πŸ™‚

Jadi tahun ajaran baru ini Andro kan memang naik ke kelas 2, tuh. Dan berdasarkan pengamatan saya sebagai ibu-ibu yangΒ  pelitΒ  cermat, saya nilai (dan putuskan) dia cuma perlu baju seragam putih yang baru -karena setelah dipake setahun kemaren, 2 baju putihnya itu berubah warna semua jadi rada krem2 gimanaaa, gitu- πŸ˜† (celana merahnya masih oke) sama buku tulis baru, (karena nggak mungkin juga ya, buku catatan kelas 2 nerusin buku catatan kelas 1) plus pensil, penggaris, crayon, penghapus, pokoknya stationery yang KENAPA SIH SERING BANGET ILANG, Baaanggg..? πŸ˜†

Sementara untuk tas dan sepatu, menurut saya dan Baginda Raja masih layak pakai (banget!) jadi nggak perlu beli-beli yang baru. Eh tapi, pas mulai masuk hari Senin kemaren, mendadak ada salah satu resleting tas sekolah Andro yang rusak. Sebenernya tas itu masih bisa dipake, karena resleting tasnya kan ada 2, kanan-kiri gitu, loh. Jadi meskipun ada salah 1 resleting yang rusak, si tas ini masih bisa di buka tutup sempurna, ASAL bukan resleting yang rusak itu yang ditarik. Emang sih, tas Andro ini umurnya udah hampir 3 tahun. Seingat saya tas itu dibeli tahun 2010, waktu Andro masih di TK B. Merk Eksport. (nggak apa-apa kan, sebut merk? πŸ˜€ ) Harganya 200 ribu sekian, lah. Dan saya inget, dulu waktu pertama kali dipake, keliatan banget masih kegedean di punggung Andro. Ya maaaafffff, namapun emak-emak. Kalo dengan harga yang sama udah bisa beli yang gede, ngapain juga beli yang kecil…? *cermat apa pelit* Huahaha.. :mrgreen:

Kembali soal Andro, jadi kayaknya sekarang dia lagi rada-rada terpengaruh sama temen-temennya yang di tahun ajaran baru ini notabene hampir semuanya beratribut sekolah baru. Ya baju, celana, sepatu, kaos kaki, ikat pinggang, dan… tas. Euphoria orang di tahun ajaran baru borong keperluan sekolah anak memang saya lihat nyaris setiap tahun, jadi musim liburan udah pasti mall-mall juga rame menjual alat-alat keperluan sekolah macem baju, tas, sepatu, buku, alat tulis, dan lain sebagainya. Eh, bahkan toko sepeda juga rame, loh. Banyak orang yang memberikan hadiah sepeda untuk anaknya yang naik kelas, soalnya. *bukan saya* πŸ˜† Uhm, nggak salah juga, sih. Wong itu kan hak orang untuk merayakan kenaikan kelas anaknya. Tapi sesuai dengan prinsip ekonomi: makin tinggi permintaan, makin tinggi pula penawaran, kan..? Dan saya jadi pusiiingg liat harga-harga keperluan sekolah anak-anak sekarang. Huidiiihhh… manyun aja pokoknya liat harga-harga tas sama sepatu kalo musim liburan.

Sebelum Andro minta, sebenernya saya udah punya niat juga sih, beliin dia tas (karena pertimbangan resleting tas yang rusak itu) tapi memang lagi nunggu momen yang pas. Momen yang mana? Momen diskon lah, Buuuu…! Jadi liat aja nanti, sebulan-dua bulan kedepan. Saat anak-anak sudah mulai konsen belajar di sekolahnya masing-masing… pada diskon semua deh, barang-barang yang di peak season harganya naudzubillah itu. Iiihhh, kalo bisa hemat sampe 50%, saya sih nggak keberatan sama sekali loh, nunggu sebulan-2 bulan untuk belanja tas/sepatu anak. Asyik kan, nanti bisa kembaran sama anak orang, tapi saya cukup ngeluarin duit setengahnya sajaaaa…? huahahaha… *ketawa puwasss* Dan itu, Bu… yang namanya strategi keuangan keluarga. Modal mini hasil maksi. πŸ˜†

Eh, tapi saya beneran udah pernah ngebuktiin sendiri. Dulu pernah tuh, beli tas buat Aura di Yogya Kepatihan. Saya cinta banget sama warna dan modelnya. Si genduk belum butuh-butuh amat, sih. Tapi emaknya yang gatel ini udah kadung jatuh cinta gitu sama tasnya. Dibelilah si tas tanpa pikir panjang. Aura seneng banget sih, tapi sebulan kemudian, tas yang saya beli DENGAN HARGA NORMAL itu, pindah tempat aja gitu, di box diskonan yang 50%. Akuuuhhh sebelllll….!!! Dan dari situ saya benar-benar belajar untuk memberi batas yang jelas diantara kebutuhan dan keinginan. Butuh berarti beli, sedangkan ingin berarti tunda (selama mungkin, ya. Dan liat, ada nggak kemungkinannya, keinginan itu berubah jadi kebutuhan. Jangan-jangan seiring waktu malah udah nggak pengen lagi… πŸ™‚ ).

Oh, by the way… ini prinsip saya, ya. Emak-emak yang keuangannya terbatas (banget!). Nah kalo buat ibu-ibu yang duitnya banyak, ya nggak perlu pake prinsip ini. Kapanan model terbaru yang lagi ‘in’ dan ‘nge-heitzzz’ yang dikejar. Kalo saya mah, ngejar hematnya sajaaahhh… ! :mrgreen:

Juli 2012. Setahun lalu. TENTU SAJA pake baju seragam yang dibeli dengan harga normal. Lha kalo nungguin diskon, mau pake apa dia di hari pertamanya masuk SD...? :lol:

Juli 2012. Andro, setahun lalu. TENTU SAJA pake baju seragam yang dibeli dengan harga normal. Lha kalo nungguin diskon, mau pake apa dia di hari pertamanya masuk SD…? πŸ˜†

Dan jadi begitu ya, sayang…

Untuk sementara ini, pakai saja dulu tas kamu yang resletingnya rusak itu. Jangan lupa, banyak-banyaklah berdo’a supaya rejeki Ibu dan Ayahmu selalu lancarrrr. Dan kita lihat bulan depan, mudah-mudahan ada tas diskonan baru buatmu yang bisa kita bawa pulang. Meski tak mungkin rasanya memenuhi semua keinginanmu, tapi percayalah, SEKUAT TENAGA kami akan selalu berusaha untuk mencukupkan semuaaaa kebutuhanmu. Deal? πŸ™‚

Dan lalu Andro teriak dari sekolahnya: ” Aku cuma butuh 1 hal, Buuuu…! TAS BARUUUU…!!!” :mrgreen:

Kena batunya…

Baruuuuu kemaren posting tentang mulutmu adalah harimau-mu, hatimu adalah do’amu disini, eh… sekarang kok ya kejadian bener. Jadi, dulu saya kan suka nyinyir (dalam hati) tiap ketemu anak kecil yang giginya ompong dan gupis, tuh. Nyinyir ke orangtuanya, lah. Bukan ke anaknya. Huidiihhh, kok gigi anaknya nggak diurus gitu sih, pasti minum susu pake dot sambil tiduran, pasti nggak pernah diajarin sikat gigi, pasti dikasih makan banyak permen.. dan seterusnya. Kira-kira begitu lah, kenyinyiran saya. Trus suka ngejadiin si anak kecil yang bergigi jelek itu contoh buruk buat the krucils saat mereka males-malesan pas disuruh sikat gigi. “kalian nggak mau kan, gigi kalian kayak si A..? -sebut nama anak bergigi jelek yang pernah kami temui-Β  Si A itu giginya jelek karena males sikat gigi, trus kebanyakan makan yang manis-manis…” (kalo minum susu pake botol sih nggak, ya. Karena emang sejak umur setahun, mereka sudah dibiasakan minum pake gelas πŸ™‚ )

Biasanya, jurus ‘nakut-nakutin’ ini cukup ampuh, karena kan namapun anak-anak ya, biar kata ibunya udah nyerocos sampe berliur tentang bahayanya kalo mereka nggak rajin sikat gigi, tapi kalo belum liat “hasil akhir” kayaknya belum masuk telinga mereka, deh. Well, anak-anak itu perlu bukti, Seus…! Bukan janji. Jadi jangan pernah pake pendekatan abstrak kalo ngomong sama mereka. Musti yang konkrit, yang terpampang nyata cetar membahana di pelupuk mata, pokoknya. *Syahrini abal-abal* :mrgreen:

Selama ini yang saya jadiin contoh buruk anak bergigi jelek nggak pernah jauh-jauh, sih. Kalo bukan keponakan Baginda Raja, ya keponakan saya yang notabene emang pengetahuan orangtuanya tentang kesehatan gigi cuma segitu-gitunya. πŸ˜€ Nggak berani lah, nyinyir ke anak orang yang nggak saya kenal. Takut kualat. Wong nyinyir ke sodara sendiri aja sekarang kena batunya… :mrgreen:

Nah, sejak usaha ngajak Andro ke dokter gigi gagal total dan berakhir menjadi drama bulan lalu, sekarang nyaris SETIAP HARI, setiap ada kesempatan (bahkan di saat kami sedang becanda heboh) saya dan Baginda Raja membujuk dia untuk mau diajak ke dokter gigi lagi. Ato kalopun nggak mau ke dokter gigi, ya paling tidak mengijinkan ayahnya untuk memeriksa gigi mana saja yang udah goyang, dan perlu digoyang lebih keras biar lebih cepet tanggal. Habis gemeessss banget liat giginya yang sekarang amorf itu. Sungguh tak sedap nian dipandang mata. Aku ngeriiiii… !

Dan seperti yang sudah saya duga, dia keukeuh nggak mau. Nggak mau diperiksa sama ayahnya, dan ngotot nggak mau diajak ke dokter gigi (lagi). Bujuk rayu yang lemah lembut, janji-janji hadiah, bahkan kalimat tegas (yang semoga saja tidak dianggap sebagai ancaman) nggak ada satupun yang mempan. 😦 Trus mana berani saya ngambil resiko maksa dan nyeret bawa dia ke dokter gigi lagi? Bisa runtuh itu RS Gigi dan Mulut kalo dia nangis… *berlebihan*

Saya pasrah lah, sudah. Mungkin memang musti nunggu peri gigi nyabutin gigi susu Andro satu per satu pas dia tidur kali, ya… πŸ™‚

Eh tapi, semalem gigi-nya copot loh. Dua biji sekaligus. Suhanallah, KAU memang baik sekali yaa, ALLAH! *tengadahkan tangan ke langit* πŸ˜€

Gigi yang atas mendadak copot begitu saja, kalo yang bawah emang dari minggu lalu udah goyang banget, tinggal ditarik juga pasti copot. Cuma ya itu, kalo nggak drama kan bukan si boss kecil, namanya….. πŸ˜†

Dan liat kondisi gigi Andro sekarang, saya sedih. Total udah ompong 3 biji, coba! Inget dulu suka ngeledekin anak kecil yang giginya ompong, “gigimu dimakan permen, ya…” Atau: “gigimu dimakan coklat, ya. Makanya, yang rajin sikat gigi…”Β  Ish, manalah saya ngerti, kalo keropos, gupis, tanggal dan ompong pada gigi anak-anak itu adalah salah satu fase dari mau tumbuhnya gigi tetap…? Aku kan DULU tak tahuuuu…! Haduh, langsung kebayang nanti ada yang ngeledek gigi Andro. Huhuhu… *jedotin kepala ke bantal* Pokoknya, nggak lagi-lagi deh, komentar miring tentang gigi jelek anak-anak. Aku kapoookkk..! Suweeeeerrr, finger crossed! πŸ™‚

Oooohhh tapi baiklah, silakan ketawa sampe puas deh, kalian para orangtua yang dulu anaknya saya bully …. Tapi pliiisss, tolong jangan bawa-bawa nama Andro sebagai per-contoh-an anak bergigi buruk, ya. Ibunya kan, periiihhhh…!!! *mau nge-bully nggak mau di bully* πŸ˜†

02 Mei 2013, @ Jepang Doeloe. Pernah upload foto ini di postingan Jepang Doeloe. :) Ini pengen nunjukkin aja, gigi Andro DULU lumayan bagus. Ah, semoga nanti besar gigimu juga tetap bagus ya, Nak. Gen gigi buruk di keluarga kita semoga berhenti di ayah-ibumu saja... *sadar diri* :)

02 Mei 2013, @ Jepang Doeloe. Pernah upload foto ini di postingan Jepang Doeloe. πŸ™‚ Pengen nunjukkin aja, gigi Andro DULU lumayan bagus. Ah, semoga nanti besar gigimu juga tetap bagus ya, Nak. Semoga gen gigi buruk di keluarga kita berhenti di ayah-ibumu saja… πŸ™‚

Dan sembari ngetik, sekarang saya mulai mengingat-ingat… dulu-dulu suka nyinyir apalagi, yaaaa…? Aku mau tobat. Mumpung lagi puasa, kakakkkk…! πŸ˜†

Ride your Bike(s)!

29 Maret 2009. Andromeda, diatas sepeda pertamanya. Beli di kawasan Kosambi, lupa harganya. Agak mahal untuk ukuran kantong saat itu, cuma worth it banget, secara kepake sampe umur 7 tahun! :)

29 Maret 2009. Andromeda, diatas sepeda pertamanya. Beli tahun 2008 di kawasan Kosambi, untuk hadiah ulang tahunnya yang ke-2. Lupa harganya. Agak mahal sih untuk ukuran kantong saat itu, cuma worth it banget, secara sepeda ini kepake sampe umur 7 tahun! Bahkan sampe sekarang masih ada, DAN masih bisa dipake. Cuma ya tampilannya udah nggak se-ciamik dulu… πŸ™‚

11 April 2013, @ Kosambi, beli sepeda ke-2, as his early birthday present. Ini sepeda lipet, kalo nggak salah harganya 700 ribuan. Merk Element, lumayan kuat, bapaknya aja bisa naikin. Ibunya belum pernah nyobain, lebih seneng jogging, sih. Uhuy! :) Tadinya udah rada terprovokasi beli yang harga 1,5 jt. Tapi ternyata kata-kata jujur dari kedalaman isi kantong lebih mendominasi. Haha.. Well, mari kita lihat berapa lama sepeda ini bertahan...

11 April 2013. Andromeda @ Kosambi, beli sepeda yang ke-2, as his early birthday present. Ini sepeda lipet, kalo nggak salah harganya 900 ribuan. Merk Element, lumayan kuat, bapaknya aja bisa naikin. Ibunya belum pernah nyoba, lebih seneng jogging, sih. Uhuy! πŸ™‚
Tadinya udah rada terprovokasi mau beli yang harga 2 jt. Tapi ternyata kata-kata jujur dari kedalaman isi kantong lebih mendominasi. Haha.. Well, mari kita lihat berapa lama sepeda ini bertahan…

06 November 2011, Aurora, di depan rumah. Lupa, kapan tepatnya beliin si Genduk sepeda. Yang jelas setelah adiknya lahir. Ini kayak semacem hadiah buat dia karena udah jadi kakak. :) Merk United, lupa pula harganya. Yang jelas beli di Kosambi lagi, dimana pula bisa kita temukan tempat jualan sepeda yang komplit dari yang harga 300 rebu sampe 30 jeti (???) selain di Kosambi, yes? :) Oh ya, sekarang sepeda roda 4 ini udah jadi sepeda roda 2, dan masih keliatan kokoh. Moga2 tetep begitu, at least sampe si tengah ulang tahun yang ke-7. Haha...

06 November 2011. Aurora, di depan rumah. Lupa, kapan tepatnya beliin si Genduk sepeda. Yang jelas setelah adiknya lahir. Ini kayak semacem hadiah buat dia karena udah jadi kakak. πŸ™‚ Merk United, lupa pula harganya berapa. Yang jelas beli di Kosambi (lagi). Dimana pula bisa kita temukan tempat jualan sepeda yang komplit dari yang harga 300 rebu sampe 30 jeti (???) selain di Kosambi, yes? πŸ™‚ Oh ya, roda 4-nya itu udah berubah jadi roda 2, dan kondisinya masih bagus . Moga-moga tetep begitu, at least sampe dia ulang tahun yang ke-7. *itungan* Haha…

25 Juni 2013, Amartha, di rumah. Abaikan itu grafiti di dinding rumah, fokus ke si tengah saja, lah. :) Ini beliin dia sepeda gegara suka kasihan kalo pas main diluar selaluuu aja ditinggalin sama kakak-kakaknya. Secara dia kan ngesot pake mobil-mobilan plastik doang, ya udah pasti nggak bisa ngimbangin ngebutnya si abang dan mbaknya. :) Beli kemaren 550 rebu di Kosambi, merk Wim Cycle. Well, keluar duitnya 545 rebu sih, yang 5 rebu buat ongkos Mamang yang nyetelin sepeda dan bantu ngangkut ke dalam mobil. :) Semoga sepeda ini juga awet, paling tidak 3 tahun ke depan ya, Nak...

25 Juni 2013. Amartha, di rumah. Abaikan itu grafiti yang di dinding, fokus pada si bontot-nya saja, lah. πŸ™‚ Akhirnya beliin dia sepeda, karena kasihan ya, liat dia pas main diluar selaluuu aja ditinggalin sama kakak-kakaknya. Habis selama ini dia kan ngesot pake mobil-mobilan plastik-nya doang, jadi ya udah pasti nggak bisa ngimbangin ngebutnya si abang dan mbaknya. Uuuh, kasihan deh kamu, anak bawang! πŸ™‚
Beli kemaren 550 rebu di Kosambi, merk Wim Cycle. Eh, keluar duitnya 545 rebu sih, yang 5 rebu buat ongkos Mamang yang nyetelin sepeda dan bantu ngangkut ke dalam mobil. πŸ™‚
Semoga sepeda ini juga awet, paling tidak 3 tahun ke depan ya, Nak. Ibu kan pengen beli rumah di Buahbatu Regency, nah kalo duitnya dipake mulu buat beliin kalian sepeda, trus kapan kebelinya dong,Β  itu rumah impian…? *dilempar kunci stang* hahaha…

Olahraga bersepeda sangat baik untuk kekuatan kaki, koordinasi, keseimbangan, kebugaran otot jantung, kontrol berat badan, disiplin, merakyat (???), ikatan keluarga, kebebasan (???) dan kesadaran lingkungan. (sumber dari sini)

Ah, Alhamdulillah ya.. para kru cilik itu sehat jasmani-rohani, jadi bisa terus sesepedaan;

Alhamdulillah, lingkungan rumah juga mendukung the krucils sesepedaan dengan aman; (Iya, In Shaa Allah akan selalu aman. Aamiiiinn…)

Alhamdulillah, punya rejeki untuk beliin mereka sepeda.

Iya, Alhamdulillah…

Jadi nikmat ALLAH yang mana lagi ya, yang saya dustakan? πŸ™‚

Β