Calon Duta BKKBN (?)

Beberapa kali di blog ini saya cerita kalo saya adalahΒ  anak ke-10 dari 11 bersaudara dari SATU IBU dan… anak ke-15 dari 16 bersaudara dari SATU AYAH. Yup! Ibu saya mengandung dan melahirkan 11 (SEBELAS) anak. Punya saudara banyak, enak dong. Minimal kalo lebaran rameeee banget macem kumpul di kelurahan, trus kalo ada masalah kita enak lah ya, bisa gotong royongΒ  menyelesaikan. Abaikan dulu drama-drama yang terjadi. Apa kerennya keluarga, kalo tak ada drama, kan? Hahaha. Cuma, salah satu nggak enaknya bersaudara banyak -selain jatah makanan dan baju sangat minimal- πŸ˜† adalah kurangnya waktu saya untuk bermanja-manja dengan Ibu. Apalagi sejak Bapak meninggal di tahun 1983 (saat saya masih berumur 4 tahun dan adik saya baru 7 bulan), beliau harus banting tulang menjadi single parent hingga praktis tak banyak sisa waktu beliau untuk saya.

Saya nyaris tak pernah merasakan nikmatnya dimandiin, dipakein baju, disuapin, ditemenin belajar atau diajak main oleh Ibu, saking sibuknya beliau saat saya kecil dulu. Dan bukan, saya bukan mau menyalahkan ibu, kok. Hormat dan salut saya nggak akan pernah habis untuk beliau yang puluhan tahun berjuang membesarkan 16 anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun. Iya, tanpa bantuan siapapun. Nggak ada pembantu di rumah kami. Mungkin karena Ibu tak punya uang untuk menggaji seorang pembantu. Semua beliau kerjakan sendiri. Wow! Bisa? Ternyata bisa. Mana tuh, em(b)ak-em(b)ak yang suka merepet repotnya ngurus tiga anak (doang?) itu, hah? *tunjuk muka sendiri* πŸ˜† Bertahan hidup secara ekonomi dengan bermodalkan kepandaian untuk menjual padi, hasil kebun, dan… tanah warisan Bapak doang ya, Bu!Β  πŸ™‚ Jadi, meskipun bisa dibilang saya ini dibesarkan oleh kakak-kakak saya, tapi saya tak pernah lupa, siapa ibu saya.Β Tetiba inget sama neng Jihan yang sejak kecil diasuh oleh ART karena ibunya bekerja, tapi tak pernah sedikitpun dia lupa kepada siapa dia harus memanggil ”mama”—> meletin lidah ke orang yang nyinyir pada ibu bekerja :mrgreen:

Cuma ya, kalo saja boleh memilih, TENTU SAJA saya akan memilih untuk memiliki (lebih) sedikit sodara, atau bahkan jadi anak tunggal, supaya waktu Ibu lebih banyak untuk saya. SENDIRI. SEMUAAAA waktu yang beliau punya itu. Egois? Tidak. Itu buah pikiran seorang kanak-kanak yang iri liat betapa enak hidup teman-temannya yang kalo makan disuapin ibu, mandi dan pake baju ditemani Ibu, mengerjakan PR dibantu Ibu, dan hal remeh temeh lain dilakukan bersama Ibu. Tetapi, saat itu, saya -dan Ibu- memang tak punya pilihan lain. Situasi-kondisi memaksa kami harus hidup dalam segala keterbatasan. Seandainya saja ada pilihan yang lain…

Saya, nggak pernah sekalipun mendengar Ibu mengeluh tentang beratnya hidup yang beliau jalani sejak bapak meninggal dunia. Saya bahkan tak ingat sama sekali, kapan terakhir kali saya melihat beliau marah, atau ngomelin anak-anaknya yang jumlahnya lebih dari cukup untuk bikin kesebelasan sepak bola itu. Samar-samar, saya hanya ingat beliau sesekali menangis di malam hari selesai sholat tahajud. Dan biasanya, isak tangis-nya akan terdengar lebih lama di malam takbiran Idul Fitri atau Idul Adha.  Ah, cuma mengetik ini saja tetiba mata saya basah. 😦

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan perempuan berusia 70 tahun inilah, yang kepada Beliau saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran...

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan kepada perempuan berusia 70 tahun di samping saya inilah, saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran…

Anyway.. Kemaren sore di perjalanan pulang dari daycare, si bontot Amartha muntah-muntah. Lalu semalem badannya panaaaas, sampe susah tidur dan saya yang nemenin mau nggak mau jadi kebolak balik bangun untuk mastiin dia nggak apa-apa *ngetik dengan kepala kliyengan* 😦 Dan seperti biasa, kalo lagi nggak enak badan begitu dia makin nempeeelll ke ibunya. Maunya dikelonin, dan kalo saya gerak atau jalan sedikit, doi ngintil kemanapun saya pergi. Berhubung ada setrikaan yang harus dibereskan, saya ajak dia ke atas, jadi sambil nyetrika, saya kudu bagi konsentrasi juga menjawab dan menimpali semua ocehan penting nggak penting yang kenapa sih sayang, kalo lagi sakit malah makin banyak ocehanmuuu…? πŸ˜† Nggak lama, si tengah nyusul naik, trus TANPA DIMINTA, doi mijitin kaki adiknya yang tiduran di sofa samping meja setrikaan. Nah itu tuh, salah satu bukti betapa baiknya si tengah kami ini. πŸ™‚

Dan kemudian terjadilah percakapan yang kurang lebih isi-nya begini:

” Bu, tadi pas di daycare ya Bu, ada temenku yang bilang kalo Nay*a pacaran sama Bang Andro…”

Hahhhh? Appaaaaa…??? Saya nyaris kesenggol setrikaan saking kagetnya. Oke, tenang Fit. Muka panik tidak akan banyak membantu di saat-saat seperti ini. Tenaaangg! Tenaaanggg!

” Bu, pacaran itu apa, sih..? “

Seakan-akan belum cukup shock yang saya alami, ada suara si bontot yang menambahi. Aduh! Nggak mungkin kan, saya teriak panggil Baginda Raja dan mendisposisikan pertanyaan mereka ke beliau? Jatuh dong, harga diri saya di depan para krucils. πŸ˜†

” Ehm.. pacaran itu, buat suami istri yang udah nikah, sayang. Kalo Nay*a sama bang Andro kan belum nikah, jadi mereka bukan pacaran, tapi berteman…” cuma jawaban itu yang terbersit di otak udang saya ini.

” Ooohhh, kayak Ayah sama Ibu ya, Bu…” jawab Aura sambil senyum-senyum. Adiknya ikutan senyum.

” Iya. Kayak Ayah dan Ibu…” Fiuuuhhh. *usap keringet di dahi*

” Ehm… Suami istri itu apa sih, Bu..? “

Aduh! Kenapa kalian nggak tanya soal yang lain sih, Naaakkk…? Lagi setrika, iniiii…! Dan itulah kenapa saat ALLAH menurunkan kalian ke dalam perut Ibu, SEHARUSNYA IA kirimkan juga manual book komplit yang berisi jawaban tentang semuaaa pertanyaan ajaib kalian itu. πŸ˜†

” Suami istri itu… *ulur-ulur waktu* …. orang yang sudah menikah. Contohnya Ayah sama Ibu. Karena Ayah dan Ibu sudah menikah, jadi sekarangΒ  Ayah itu sudah jadi suaminya Ibu. Nah kalo Ibu, sudah jadi istrinya Ayah…”

Aura masih keliatan mikir.

” Ooohh… Kalo gitu, aku mah nanti nikahnya mau sama Dik Amartha aja deh, Bu… “

Ibunya pengen pingsan di tumpukan baju. πŸ˜†

” Eh, nggak boleh, sayang. Dik Amartha kan adiknya mbak Aura. Kalo kakak-adik itu, nggak boleh nikah…”

” Kenapa, Bu? Kan aku sayang sama dik Amartha…”

” Aku juga sayang sama mbak Auraaaa…” si bocah yang badannya lagi panas itu menyela sambil cengar cengir. Lalu mereka saling ketawa. Ish! Kalian ini, ya…!

” Karena mbak Aura sama dik Amartha kan kakak-adik. Satu keluarga. Kalo masih satu keluarga, berarti nggak boleh nikah..”

Keduanya masih bengong. Nampak belum paham. Oke, kudu dicari kalimat yang lain, kalo begitu

” Jadi, kalo nanti mbak Aura nikah, berarti mbak Aura akan punya keluarga yang baru, trus punya anak. Sama kayak Ayah dan Ibu, sekarang punya anak Bang Andro, Mbak Aura, sama Dik Amartha…” Kalian juga nggak boleh nikah, karena nikah dengan kakak atau adik itu sama saja dengan insest, dan insest itu dilarang oleh agama karena dosa… bla, bla, bla… Kalimat terakhir tentu cuma saya ucapkan dalam hati. πŸ™‚

” Ooohh, gituuuu…”

Saya masih kurang yakin sih, Aura beneran ngerti atau pura-pura ngerti dalam rangka menyelamatkan muka panik saya. Entah gimana pula adiknya. Tapi biasanya, doi pasti ngikut aja apa kata mbak-nya. Haha. Tapi lumayan lah, saya jadi bisa narik nafas dan ngelanjutin nyetrika.

” Ehm.. Bu… tapi nanti aku anaknya mau 2 aja, deh. Eh, nggak ding. Mau 1 aja. Iya, aku mau punya 1 anak aja…”

Eh? Apa? Saya spontan menghentikan tangan, meletakkan setrikaan di posisi berdiriΒ  dan menatap langsung mata si anak gadis. Perasaan saya kok mendadak jadi nggak enak, ya?

” Loh, kok cuma 1..?”

” Nanti, kalo anaknya 3, jadi sama kayak Ibu, dong! REPOT. Kan kalo bang Andro pengen ditemenin Ibu belajar, trus aku minta ditemenin main, trus dik Amartha pengen sama Ibu juga, Ibu jadi repot. Gimana, dooonggg…? “ lalu dia nyengir supeeerrr lebarrrrr dengan mata makin membulat lucu.

Plak, plak, plak! Perih ya, kalo ditampar anak sendiri. Perih, tapi kan mana boleh marah, Buuuu…? Coba ya, Fit. Mulai dari sekarang, di rem itu mulut lebarmu. Jangan sedikit-sedikit ngeluh repot. Sedikit-sedikit ngeluh capek. Sedikit-sedikit ngomel kerjaan rumah nggak habis-habis. Ada CCTV berjalan yang 24 jam mengawasi, loh! Lupakan sebentar kenyataan bahwa jadi ibu memang melelahkan. Ingat, apapun yang kita ucapkan, akan mereka dengar. Apapun yang kita lakukan, akan mereka lihat. Apapun yang kita keluhkan, akan mereka rasakan. Dan apapun yang kita nilai atas mereka sekarang, akan seperti itu pula-lah mereka nanti. Untuk seorang Ibu, ucapan katanya doa, ya? Jadi hati-hati dengan mulutmu. Jaga baik-baik apapun kalimat yang keluar, terutama di saat marah. Repot, ya? Emang. Ribet, ya? Iya. Tapi adaΒ  benernya juga kok, kata bu Elly Risman. Nggak mau repot…? Jangan punya anak! :mrgreen:

Duh, mbak Aura, mbak Aura. Makin lama kok kamu emang makin mirip Ibu, sih? Keren!—> bapaknya langsung protes. Woiii, ada saham ogud juga disitu, woiiii! πŸ˜†

Dan karena Ibu tahu betapa polos pikiranmu, Ibu jadi yakin kalimatmu itu bukan untuk menyindir Ibu, apalagi men-diskredit-kan ibu-ibu yang punya anak lebih dari 1. Soalnya kan masih ada ibu-ibu beranak banyak, yang tetep (bisa) hepi. Kamu kenal kan, samaΒ  Budhe Tituk yang ber-anak 4 lalu budhe Titi yang buntutnya 5,Β  dan tante El yang anaknya 6 itu? πŸ˜€

Trus, gimana dengan Baginda Ratu? Anak 3 biji, semua manis, kok. *kalo lagi manis* πŸ˜† Suami juga baik-penyayang-penuh-pengertian-sabar-rajin-mijitin: apa lagi yang kurang? Nggak ada. Alhamdulillah! πŸ™‚

Jadi.. tak apa-apa lah, Nduk. Soal jumlah anak ini masih bisa kita diskusikan lagi saat kau sudah menemukan suami yang baik dan bertanggungjawab -minimal seperti ayahmu- dan selanjutnya kita akan pikirkan bersama-sama, seberapa besar kans-mu untuk jadi duta BKKBN nanti, ya! πŸ˜†

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo bandung sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha...

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha…

Β 

Advertisements

Si genduk…

Kemaren malam, ketika saya sedang membuat telor ceplok untuk abangnya, si tengah datang merapat lalu bicara dengan nada halus sambil memilin-milin tissue di atas meja.

“Bu, kalo liat temenku bawa susu, aku suka pengen, iiiih..! ” Saya tercenung sebentar. Rasanya emang beberapa minggu belakangan ini si genduk absen bawa susu ke sekolah, tapi itu karena sebelumnya beberapa kali susu yang saya bawakan selalu dibawa pulang dalam kondisi utuh tak dibuka.

” Oh, ya? Emang mbak Aura pengen susu apa, gitu?” udah kebayang lah ya. Mau dibawa kemana hubungan kitaaaa arah pembicaraan ini. Palingan doi pengen susu yang merknya sama dengan yang dibawa temen sekolahnya—> girls! πŸ˜†

” Itu, susu strawberry. Yang warna pink, ada gambar beruangnya…” Saya senyum. Hm, nggak susah nyari susu yang itu. Banyak kok, di Indomaret.

” Oh, okay.. besok kalo ada waktu kita beli ya, mbak…”

” Iyaaa. Ehm, Bu… kapan-kapan, aku boleh bekal nasi nggak, Bu? Pake sayuran yang ada wortel sama buncisnya. Trus nanti kapan-kapan, bekel mie goreng yang ada sayurannya. Biar sehat aku-nyaaaa….” nyengir ke arah saya.

” Waduhhhh, kalo mbak Aura pengen bawa bekal nasi sama sayur ke sekolah, Ibu masaknya musti pagi-pagi sekali, dong…!” Jawaban yang bodoh, memang. Namapun ibu-ibu, sudah sewajarnya kan bangun sebelum shubuh ngurusin anak dan kerjaan rumah. Gimana sih, Fit? *getok kepala pake panci* πŸ˜†

” Eh, iya, ya. Kalo Ibu masak dulu, nanti Ibu jadi nggak bisa nyuci baju ya, Bu. Sama nyapu. Sama mandiin aku. Nanti kita jadi kesiangan…” liat, kan? Betapa pengertiannya anak perempuan saya? Anaknya yang baik kok emaknya yang bangga, sih? πŸ˜†

Saya ketawa, lalu saya usap kepalanya sekilas. Saya pikir pembicaraan kami sudah selesai, jadi saya bergerak ke arah tempat cuci piring.

” Bu, Ibu.. tadi ada temenku yang bilang bosen ke aku…”

Heh? Bosen? Ke anak gadis saya yang manis itu? Saya nyaris teriak. Maksudnya apaaaa? Kok tetiba saya jadi inget sinetron kacangan tentang suami yang bosen ke istrinya, yak? πŸ˜† Saya lalu berusaha menenangkan diri dan beberapa detik kemudian dengan nada santai bertanya,

” Maksudnya bosen gimana, mbak..?”

” Katanya: emang kamu nggak bosen apa, bekal roti terus..? “

Jederrr! Jederrrr! Jederrrrrr! *petir menggelegar di kepala*

Jadi memang selama ini kan di sekolah Aura itu sudah ada kesepakatan soal bekal murid. Senin: bawa roti dan susu, Selasa: mie goreng, Rabu: buah, Kamis: nasi lengkap dengan lauk pauk, Jum’at boleh membawa kentang goreng, sosis atau nugget. Dan nggak boleh bawa ciki-ciki-an. Duluuuu, waktu Andro masih sekolah TK disitu (dan masih ada ART) saya lumayan rajin membuat bekal untuk anak-anak sesuai jadwal. Begitu ART-less dan Andro masuk SD, ya bekal anak-anak otomatis menyesuaikan. Yang paling sering emang roti isi. Simply karena bikinnya cepet nggak pake lama, dan anak-anak (terlihat) suka dengan roti isi bikinan ibu-bapaknya. Oke, seharusnya urutan alasan-nya karena ANAK-ANAK SUKA dulu, baru karena bikinnya praktis gak pake rempong, Fit! Hahaha.

Saya bukannya tak pernah melihat ekspresi (agak) malas Aura di beberapa bulan belakangan ini, saat ia tahu saya cuma membekalinya roti isi dan susu, tapi kan naluri untuk menyelamatkan seluruh keluarga dari keterlambatan dan segala efeknya -pemotongan tunjangan untuk saya dan baginda raja dan pemotongan jam istirahat untuk Andro- membuat saya mengesampingkan hal-hal yang saya rasa masih bisa disubstitusikan dengan yang lain.Β Bekal sekolah? Mari alihtugaskan pada toko-toko kue saja. Makan siang? Ada kantin kantor. Makan malem? Ada Ayam Goreng Indrawati, tukang sate deket rumah, atau bahkan… PHD!Β  *emak koboi* πŸ˜† Jadi saya sungguh tak menyangka, masalah ‘perbekalan ke sekolah’ ini akan berpengaruh pada Aura. Pada anak perempuan berumur 5 tahun 4 bulan itu, yang -sunguh saya baru ingat- selama ini ketika menyampaian suatu keinginan ia selalu memakai kalimat-kalimat yang manis, sistematis, runut, tanpa tuntutan yang ngotot apalagi memaksa, tapi justru karena itulah ia selalu bisa memporakporandakan perasaan saya. Belum lagi pengertian-pengertiannya pada saya, juga betapa dia selalu berhasil mendinginkan suasana dan mengembalikan pikiran waras ibunya…

Lalu kemudian, separuh hati saya jatuh….

Dan beberapa detik berikutnya, mendadak saya merasa sangat malu. Malu pada anak perempuan saya itu. Malu, karena pekerjaan ringan sebatas membuat bekal sekolah-nya saja, saya (sok-sok) nggak mampu. Sok sibuk. Sok nggak sempat. Sok kebanyakan pekerjaan. Sok kehabisan waktu. Sementara, disela-sela pekerjaan kantor saya masih bisa asyik-asyik browsing, ketawa ketiwi dengan teman, ditambah lagiΒ  sampe di rumah saya masih minta jatah me time buka-buka henpon untuk online. Bisa-bisanya?! Diluar sana, anak perempuan saya satu-satunya itu (mungkin) menahan malu karena setiap hari jadi bahan cibiran teman-teman sekolahnya. Dan mungkin memendam perasaan iri melihat teman-temannya yang berbekal komplit. Dan mungkin lalu bertanya-tanya dalam hati, kalo ibu teman-temanku bisa, kenapa Ibuku nggak bisa? Apa yang salah? Sementara di saat yang sama, saya, perempuan yang suka membangga-banggakan diri jadi ibunya ini, justru se-enaknya saja minta dimaklumiΒ  dan dimengerti soal kurangnya waktu untuk mengerjakan apa-apa yang jadi hak-nya sebagai seorang anak. Yaa Allah! Hidup seperti inikah yang sudah saya berikan pada anak-anak saya?Β  Apa lagi yang sudah saya lewatkan? Ibu? Hah! Yang benar saja! Ibu macam apa…???

Iya, benar. Ibu macam apa, saya ini….. 😦

Dan malam itu, sebelum sempat menyadarinya, ternyata saya menyetrika baju dengan mata basah... πŸ˜₯ *pasti karena hormon PMS*

Maaf ya, mbak Aura. Ibu masih kurang kuat berusaha. Masih kurang ngotot untuk memenuhi hak-hakmu. Masih kurang maksimal dalam membuatmu senang. Masih sangat egois karena hanya memikirkan apa yang enak menurut Ibu. Ternyata, memang masih banyak yang harus Ibu lakukan untuk memperbaiki diri. Membantumu tumbuh sebagaimana mestinya adalah tugas Ibu. Bantu Ibu, Nduk. Selalu ingatkan Ibu, dan tolong jangan pernah menyerah pada Ibu ya…

Mungkin terdengar klise, tapi… sungguh, Ibu sangat sayang padamu! *ciyummm sampe pipi kempes* πŸ™‚

(Nasib) si tengah

Ini jurnal ketiga saya minggu ini. Iyessss..! *bangga dong, pada pencapaian ini* Hahaha… Dan ini postingan rada menye-menye *boleh ya, nyalahin hormon* cocok dibaca sama em(b)ak-em(b)ak yang jumlah anaknya ganjil kayak saya, atau.. yang lagi proses perakitan anak ke-3, atau.. yang udah nikah dan pengen.. punya anak (minimal) 3! πŸ˜†

Salah satu dari sekian banyak tugas berat jadi seorang Ibu adalah memberikan perlakuan yang adil kepada anak (anak)-nya. Maksudnya, bukan cuma menuntut kewajiban si anak, tapi juga harus secara legowo memberikan haknya. Eh gimana, prolog yang nampak serius, kan? Ihikkkk…

Aura, si tengah kami, adalah anak yang proses hadir-nya beneran kami program. Emang ada ya, yang bukan karena program? Haha! Maksudnya, waktu itu kami emang niat ngasih adik buat Andro, gitu. πŸ™‚ Jadi waktu positif hamil Aura, saya super excited, hepi banget. Beda pas hamil Andro dulu saya sempet stress, karena dinyatakan positif hamil justru tepat sebulan setelah saya keguguran, dan dokter kandungan sempat menakut-nakuti bilang bahwa sangat besar kemungkinannya saya akan keguguran lagi.Β  Kalo Amartha, terus terang kemunculannya bikin shock *terlalu semangat bikin sampe lupa konsentrasi* πŸ˜† karena saya hamil dia ketika saya masih menyusui Aura yang baru berumur 15 bulan. Sempat ada rasa nggak percaya, sebel, kesel, dan segala macem perasaan nggak enak lainnya, secara ya, walopun proses persalinan kakak-kakaknya itu bisa dibilang cukup ‘indah’, (karena semua alami dan itungannya cepet, cuma dalam kurun waktu sekitar 4-5 jam doang) tapi kan setiap hamil mereka itu saya beneran jadi manusia setengah zombie, maboknya sumpah parah pisan. Bahkan sampe kehamilan 7 bulan, saya masih aja munmun. Huhuhu.Β Β  Anyhow, sayang sejuta sayang, kegembiraan hamil Aura waktu itu nggak berlangsung lama, karena ujian kehidupan datang dan memporakporandakan kehidupan kami yang tadinya terasa smooth sekali. 😦 Sedikit banyak, tekanan psikis selama proses hamil dan melahirkan (lalu berlanjut sekian tahun setelahnya) mempengaruhi pola pikir dan cara saya memperlakukan Aura. Loh emaknya yang stress, kok anaknya yang jadi korban…? *tanya kenapa* 😦

Saya punya beberapa teman yang posisinya juga anak tengah dalam keluarga. Beberapa diantara mereka mengeluhkan betapa jadi anak tengah itu nggak enak banget, karena dituntut untuk sedewasa kakak-nya, tapi nggak boleh se-kekanak2kan adiknya. Protes ke orangtua? Ish, mana boleh? Orangtua itu selalu benar. Itu aturan pertama-nya. Kalo orangtua bikin salah, liat dong, aturan yang pertama. Nah loh, pusing nggak sih? :mrgreen:

Ketika si bontot hadir di tengah-tengah kami, maka sejak saat itu resmi pula-lah Aura jadi anak tengah di rumah kami. Dan TERNYATAAAAA… secara sadar (nggak sadar) saya berubah menjadi sosok orangtua seperti yang dikeluhkan beberapa teman yang posisinya anak tengah di dalam keluarga itu.

Jujur nih, sebenernya Aura ini pengertian banget sama saya, adik, dan abangnya, loh. (kalo sama bapaknya sih masih suka galak πŸ˜† ) Contoh kecilnya pernah saya ceritakan disini. Walopun sebagai anak-anak tetep lah ya, ada masa-nya dimana dia nangis_kejer_ngotot_pengen_sesuatu_dan_susah_dikasih_tahu, tapi over all, dia itu amat sangat manis, perhatian, lembut, penyayang, nggak tegaan, ringan tangan dan nggak segan-segan berkorban agar supaya ketentraman dalam rumah tetap terjaga di level aman. Terlihat mengada-ada..? Nggak. Untuk orang yang egonya sangat besar, percayalah, ambang batas pujian saya ini cukup tinggi. πŸ˜€

Kamis malem Jum’at kemaren, kami mampir ke Griya Buah Batu dalam rangka nyari kado untuk teman Aura-Amartha di daycare, dan.. temen sekolah Andro. Bagussss ya, beli kado ulangtahun di masa paceklik begini? *gigit ATM* πŸ˜† Dan sebelnya kalo nyari kado buat anak kicik itu kan mau nggak mau nyarinya di bagian anak kicik yang mana TENTU SAJA penuh sama yang namanya mobil-mobilan, boneka-boneka, dan aneka mainan nan menggiurkan itu di mata mereka. Nggak masalah sih, KALO nyarinya sendiri. Kalo nyarinya ber-5 dengan mereka…? Jreng, jreng!

” Bu, aku mau yang ini ya Bu…”

” Bu, aku juga mau yang ini…”

” Bu, aku belum punya yang ini…”

” Bu, aku maunya tiga-tiga-nya…! “

Zzzzzzz…

Emaknya pingsan di tumpukan boneka.

Singkat cerita, akhirnya berhasil milih baju dan kaos untuk dibawa Aura sama Amartha di syukuran ulang tahun temen daycare-nya, dan boneka untuk diberikan Andro ke temen sekolahnya. Selesai? Cencu cidaaakkk! Ada yang langsung nodong hotwheels, dong. Dan salahkan emaknya yang lemah iman ini, begitu liat stiker: buy 2 get 1 free, langsung goyah pertahanan. Bungkussss…!!! *apa itu financial planning?* πŸ˜†

Itu untuk si sulung dan si bontot. Si tengah? Sudah beberapa kali saya berhasil membujuk dia untuk menunda keinginannya membeli mainan, secara mainan anak perempuan macem barbie gitu kan ampun ya, mahalnya. Pernah beberapa kali beli yang murce-murce harga 30 rebuan gitu, eh end up aja gitu di dus mainan, gabung sama mainan rusak tak berbentuk lainnya. 😦

Nah kemaren, pas adik sama abangnya berhasil meluluhkan hati emaknya yang labil ini, si tengah cuma ngeliatin aja, nggak bilang minta jatah atau apa, gitu. Doski cuma berkali-kali muterin booth tempat barbie dipajang (mata saya ngebelalak liat harga-nya!) sambil menyentuh pelan-pelan jajaran boneka-boneka itu. Dia kayaknya masih inget, tiap kali minta dibelikan barbie (yang katanya original itu) saya selalu membujuknya untuk memilih mainan yang lain dan merepet betapa mahalnya harga boneka sekarang.Β  Sebelumnya, saya harus mengakui betapa gampil saya meluluskan permintaan Andro atau Amartha saat mereka merengek meminta dibelikan mobil-mobilan, dan sebaliknya, mengerutkan kening ketika Aura memohon *kadang dengan takut-takut* untuk dibelikan mainan berbau-bau anak perempuan.

” Mbak Aura pengen beli mainan apa..?Β  “ saya giring dia menjauhi booth boneka. Dan dia menurut. Kalopun nggak saya tanya, saya kok yakin dia nggak akan minta apa-apa, ya? *baiknya kamu, nduk* Kami berjalan menuju tempat masak-masakan, mainan yang memang jadi default-nya selama ini. Saya tawarkan beberapa alat-alat masak memasak, dan dia menggeleng. Dan lalu, disanalah dia berhenti. Di depan sebuah stroller mainan warna pink -yang cukup dengan melihat sekilas saja- saya langsung tahu betapa ringkihnya mainan itu. Tangan kecilnya mengusap si stroller mainan, matanya berbinar-binar lalu berbisik lirih:

” Dulu aku pernah punya ya, Bu? Mainan yang kayak gini…? “

Beberapa tahun lalu saya memang pernah membelikan stroller sejenis, dan kalo nggak salah, cuma bertahan seminggu, setelah itu patah disana sini. Sejak saat itu, setiap kali dia minta dibelikan mainan serupa, saya selalu menolak dengan tegas, mengingatkannya betapa mainan itu gampang sekali rusak, dan mainan yang cepat rusak itu sama saja artinya dengan membuang-buang uang.

Mendengar kalimat dengan nada pasrah -tak mungkin Ibu mau membelikan ini- yang keluar dari mulut kecilnya itu, rasa-rasanya saya tidak perlu punya kemampuan membaca pikiran untuk mengetahui, betapa mainan (murah) itu sangat istimewa di mata anak tengah saya;

Juga tidak perlu keahlian khusus untuk menerjemahkan raut muka-nya yang seolah bertekad : akan ku jaga stroller ini dengan lebih baik seandainya saja stroller ini nanti jadi milikku;

… dan tidak perlu menjadi ibu yang hebat untuk mengetahui, betapa dia amat-sangat menginginkan stroller mainan itu.

Detik berikutnya, saya merasakan hati saya ini mencelos jatuh, se-jatuh jatuhnya. Hanya dengan melihatnya berdiri disana sambil mengusap-usap stroller mainan itu, terbayang kembali semuaaaa perlakuan tak adil saya padanya: segala macam tuntutan saya, semua penolakan-penolakan saya. Ibu macem apa, saya ini. πŸ˜₯

Saya, seringkali memposisikan Aura sejajar dengan Andro, dan melarangnya berperilaku seperti adiknya. Saya melarangnya menangis, saya tidak menolerir rengekannya, saya menuntutnya untuk terus mandiri: makan-minum-mandi-memakai baju-mengambil susu dan cereal sendiri. Belakangan, saya bahkan nyaris sudah nggak pernah lagi menemaninya ke toilet. Dan saya menganggap semua itu wajar-wajar saja. Tokh cepat atau lambat dia memang harus mandiri, kan?

Tapi saya lupa, dia, si anak tengah saya itu, masih kanak-kanak. Dan entah kenapa, saya merasa saya sudah banyaaakk sekali merampas haknya. Yang mana hak utama-nya adalah merasakan, bukan memikirkan. Merasa senang itu hak anak, memikirkan bagaimana caranya adalah tugas orangtua. Dan sudah sepantasnya saya mengenalkan padanya perasaan dimengerti, dipahami, dicintai dan dihargai, karena hanya dengan begitu, ia belajar untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri.

Ah, Nduk…

Ternyata memang masih ada banyaaakkk sekali hal yang harus Ibu pelajari, terutama darimu. Memang ada banyak hal yang sering Ibu lupakan, tapi tidak menghiraukanmu, adalah kesalahan terbesar Ibu.

Tolong, jangan pernah berhenti menjadi mahaguru kehidupan Ibu, ya.

Dan percayalah, tidak ada hal penting lain di dunia ini, selain kebahagiaanmu.

'Cuma' dengan modal 35 ribuan, saya dapat melihat senyum cerah dan muka ceria ini. Well, hidup kadang memang tak serumit yang dibayangkan, ya?

‘Cuma’ dengan modal 35 ribu, saya dapat melihat senyum cerah dan muka ceria ini. Well, hidup kadang memang tak serumit yang dibayangkan, ya?

Dan coba tebak, siapa yang semalam tidur sambil memeluk stroller pink itu dengan senyum puas di wajahnya…? πŸ™‚

5 tahun…

05 Oktober 2013: Princess wanna be ini sudah sangat sumringah dikasih tiara harga 10 rebu, tongkat peri 30 rebu, dan oh... ada sendal princess di kakinya, dibeli dengan harga 70 rebuan. Rok tutu kesayangan dari mbak Indah Mumut dan gelang manis dari neng Tyka ini juga selalu jadi andalan dong, biar penampilan paripurna. Haha, jadi ladies... ngapain repot2 jadi miss universe, kalo dengan modal 100 rebuan bisa jadi princess biarpun cuma sehari? :lol:

05 Oktober 2013: Princess wanna be ini sudah sangat sumringah dikasih tiara harga 10 rebu, tongkat peri 30 rebu, dan oh… ada sendal princess di kakinya, dibeli dengan harga 70 rebuan. Rok tutu kesayangan dari mbak Indah Mumut dan gelang manis dari neng Tyka juga selalu jadi andalan dong, biar penampilan paripurna. Haha, jadi ladies… ngapain repot2 jadi miss universe, kalo dengan modal 100 rebuan bisa jadi princess biarpun cuma sehari? πŸ˜†

Memang betul ya, kata orang: waktu berjalan sangat cepat ketika kita sedang sangat menikmatinya…

Perasaan, baruuuu aja kemarin Ibu mabok kronis pas hamil kamu; (nyaris 7 bulan muntah2, oh my… waktu berjalan sangat lama saat itu.. )

Perasaan, baruuuu aja kemarin Ibu ngerasain berada di pintu surga dan neraka sekaligus, saat melahirkanmu; (ternyata, tempat di antara hidup dan mati itu sungguh2 ada, ya! )

Perasaan, baruuuu aja kemarin Ibu nyusuin kamu, merah ASI, lalu cuci2 botol ASIPmu. (Ibu sangat menikmati saat2 menyusuimu. Tapi memerah ASI dan lalu cuci2 botol bekas ASI itu? Aih, itu sungguh-sungguh 2 hal yang sangaaattt berbeda… πŸ™‚ )

Perasaan, baruuuu aja kemarin ngerasa hidup kami makin lengkap dengan kehadiranmu… (oh, hidup kita terasa makin komplit saat si bontot lahir kan ya, mbak? )

Aahhh… Tak terasa, hari ini… sudah genap 5 tahun kau bersama kami. Terima kasih ya, Nduk. Untuk semuanya. Untuk senyum ikhlasmu, untuk sabarmu, untuk samudra maafmu, untuk semua pengertianmu, untuk semua kebaikan yang kau bawa ke dalam kehidupan kami. Terima kasih, karena tak pernah menyerah pada (kegalakan dan kejudesan) Ibu…

Dan seperti yang selalu Ibu bilang, rasanya sulit membayangkan abang dan adikmu bisa mempunyai saudara perempuan yang lebih baik dari kamu. Dan kami? Tak bisa membayangkan, memiliki anak gadis lain yang mempunyai ketulusan melebihi ketulusanmu…

Selamat genap 5 tahun, Aurora Barron Florista.
Seperti segala kebaikan yang telah kau bawa, semoga hanya kebaikan sajalah yang akan bertambah dalam hidupmu.
Semoga Allah akan selalu menambah kecerdasanmu, ketulusan hatimu, kesabaran jiwamu, keberuntungan, dan juga nasib baikmu. Aamiin..

Bandung 05 Oktober 2013
Yang selalu sayang padamu,
Ayah-Ibu-bang Andro-dik Amartha

Ps. Kami sih selalu berusaha untuk memenuhi semua keinginanmu, mbak. Tapiiii…. Pleaseeee jangan minta adik bayi lagi, ya. Ibu kan jadi galau, nih! :mrgreen:

Mahaguru kehidupan

Dulu, di beberapa infotainment, saya melihat betapa hebatnya perjuangan Dewi Yull membesarkan Gischa, anak perempuannya yang tuna rungu. Saya terkagum-kagum dengan kebesaran hati Dewi Yull mengasuh, mendidik dan membesarkan Gischa (dan maaf ya, saya sempat mengutuk suaminya yang kawin lagi itu! πŸ˜† ) hingga kemudian Gischa menikah, mempunyai anak, dan lalu di usianya yang masih relatif muda, dipanggil ke pangkuan ALLAH SWT. Dalam beberapa kesempatan, Dewi Yull selalu bilang, Gischa adalah mahaguru kehidupannya. Orang yang mengajarkan banyak hal mengenai ketabahan, ketahanan dan kesabaran yang tak terbatas. Meskipun ikut terharu, tapi dulu, saya masih meraba-raba apa yang sebenarnya dimaksud Dewi Yull, dan baru mengerti sepenuhnya, ketika the krucils kami lahir.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, Andro, si sulung kami adalah pelopor. Nyaris semua yang dia lakukan udah pasti ditiru adik-adiknya. Dengan begitu, dalam rangka menjaga supaya suara orangtua selalu dalam level ‘aman’ dan seisi rumah tenang tak kena imbas buruk, beban saya yang paling utama memang mengarahkan dia untuk selalu berada di jalur yang ‘benar’. Jalur yang benar disini artinya nggak bikin emaknya manyun, ngomel, merepet, atau bahkan yang paling parah, jejeritan histeris. Nggak perlu bikin ibunya ketawa lah, (untuk kewajiban bikin ketawa ini lempar kepada bapaknya saja, haha!) nggak bikin alis ibunya makin nyureng aja, sudah cukup kok.

Ketika para juniors ‘berulah’ bikin kepala pening, sumpah deh, susahnya setengah mati menjaga supaya mata ini nggak TERLALU melotot. Dan berusaha sebisa mungkin ngomong dengan nada suara rendah kepada para bocah itu sambil mengatupkan rahang serapat-rapatnya supaya suara yang keluar nggak segahar halilintar, rasanya kok mustahil banget, ya… πŸ˜†

Pada Andro saya memang paling sering ngomel ngasih pengertian, bahwa selain harus ngantor setiap hari, saya juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga rumah selalu bersih, mencuci piring, baju, menyetrika, memasak, dan lain sebagainya. Harapannya tentu biar supaya dia mikir-mikir lagi deh, kalo mau main di tempat yang kotor, atau paling tidak, mikir ulang waktu mau berantakin semua mainannya. Harapan tertingginya sudah pasti biar adik-adiknya ngikut tertib juga, dong. Kapanan biar sekali tepuk, 2-3 anak nurut, yes? πŸ™‚ Trus tanggapan Andro kalo dikasih tahu? Cengar cengir doang, as usual, dengan bahasa tubuh tak meyakinkan yang bikin ibunya makin gemes; omongan saya yang lebih menyerupai repetan itu dimasukkin ke dalam telinga nggak, sih? Jadi, ketika suatu hari dengan inisiatif sendiri dia mengepel lantai karena saya ngomel gegara ada minuman yang tumpah, saya cukup terharu. Lupakan saja kenyataan bahwasanya proses mengepel itu harus saya ulang, namanya juga anak kelas 2 SD, ngepel lantai ya cuma bisa srak srek-srak srek doang, asal lantai basah. πŸ˜†

Lain Andro, lain adiknya. Kapan itu, ketika saya sedang baringan di atas kasur melepas penat, si tengah Aura dengan takut-takut menunjukkan bajunya yang basah setelah gosok gigi dan minta ijin untuk menggantinya dengan yang baru. Doski memang paling nggak betah dengan baju basah, walopun basahnya cuma dikiiiiitt banget. Iya, deh. Salahkan emaknya ini, yang masih belum bisa lepas dari kebiasaan ngomel kalo ada salah satu krucil yang mainan air dan membuat baju basah (karena baju basah kan ekuivalen dengan tambahan cucian dan setrikaan, yes?) Tapi melihat mukanya yang ketakutan setengah mati melaporkan bajunya yang basah itu, tetiba hati saya pedih, sekali.

Duh, Nduk… Ibu memang galak to the max, tapi melihatmu takut bicara pada Ibu, rasa-rasanya kok hati ini patah sekali, ya... πŸ˜₯

Yang paling juara bikin hati saya jumpalitan tentu saja, si bontot Amartha. Dia ini kan SEPERTI IBUNYA (lebih aman langsung ngaku, daripada bingung mau nunjuk mirip siapa πŸ˜† )Β  kerasΒ kepala hati sekali. Kalo maunya A, ya A. Mau B, ya B. Susaaaahhh banget dibelokkin. Bisa sih, dibelokkin. Tapi prosesnya lamaaaaa dan panjaaanggg..! Choki-choki doang sih lewat, dah! πŸ˜† Dan begitu berhadapan dengan ibunya, udah pasti kenceng banget benturannya. Keras ketemu keras, gitu loh! :mrgreen: Tapi begitu selesai ‘berantem’ dan semua sudah diklarifikasi sampe tuntas, dia akan lari secepat kilat ke dalam pelukan saya sambil teriak kegirangan: “Ibu udah nggak marah lagiiii…!” Dan binar di matanya yang seneng itu otomatis melunturkan semua kesel yang tadinya numpuk di dalam hati emaknya. πŸ˜€

Di blog ini saya sering banget ngeluh, bahwasanya segala sesuatu yang musti pake embel-embel kesabaran jelas-jelas bukan pilihan saya. Tapi begitu jadi seorang ibu, justru kesabaran itu kan, yang jadi harga mati? Sungguh, saya nggak berkeberatan sama sekali ngerjain kerjaan rumah yang serasa tak ada ujung pangkalnya dan bikin tulang serasa rontok ketika malam hari akhirnya tiba saat untuk beristirahat itu. Saya juga nggak berkeberatan, mengerjakan bertumpuk-tumpuk berkas dari bu Jendral dan dikejar-kejar jatuh tempo yang mefffffeeettt! Tapi, berjibaku dengan masalah yang memerlukan stok sabar berlapis-lapis, rasanya saya pengen langsung menyerah kalah saja, deh. 😦 *payah*

Beberapa hari lalu, selesai beberes urusan domestik, saya leyeh-leyeh di kursi depan TV sambil megang si tablet kesayangan, lalu balesin email-email yang masuk. Tiba-tiba si bontot saya yang lagi main mobil-mobilan manggil-manggil:

“Bu.. Ibu…”

” Ya, sayang…”

Saya masih asyik dengan tablet saya. Online, niiiihhh..! πŸ˜†

” Bu, ibuuu…! “ suaranya makin keras.

“Ya, dik.. kenapa..?”

Saya cuma nengok sebentar, memastikan dia nggak kenapa-kenapa, lalu lanjut ketak ketik di tablet saya.

” Bu, Ibu FITRIIIII…!!!”

Hahhh…! Kaget banget, deh! Itu kali pertamanya si bocah 2 tahun 10 bulan itu manggil nama gadis ibunya di belakang embel-embel panggilan Ibu. Reaksi saya waktu itu ngakak gemes gimana, gitu. Lah manggilnya serius macem ngasih ibunya duit sekoper aja, nggak tahunya ‘cuma’ pengen ngasih liat ban mobil-mobilannya yang katanya kena ‘polisi tidur’ Zzzzz….

Tapi kemudian saya berfikir: sampai kapan ya, para bocah itu memanggil saya hanya demi mendapat sedikiiiiittt saja perhatian saya? Sampai kapan mereka akan minta bantuan saya untuk menuangkan susu ke dalam gelas, mengambilkan sereal, membantu mandi dan memakai baju, membacakan buku cerita, menyuapi makan, mengambilkan air minum, menemani bermain peran, memberitahu dengan bangga, betapa bagusnya coretan krayon mereka di dinding rumah (???) dan segala printilan kecil yang kaloΒ  saya pikir-pikir: apa sih menariknyaaaa…?

Salah satu blogger favorit saya, Jihan Davincka pernah menulis dengan sangat indah di postingannya yang ini dan di bawah saya copas beberapa kalimat favorit saya.

Ijin ya, mbak Jihan. Dirimu kan baik, cantik lagi.. *bantuin benerin poni* πŸ˜†

I won’t always cry β€˜mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

Jihan doesn’t know who the author is, but she (and I) do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry… because one day, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka.Β 

source: Jihan’s blog

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: lagi puasa, dan demi mereka, bapak ibunya rela menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, dan lalu dengan enak makan sosis dan es teh manis. Glekkkk....

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: bulan puasa, tapi demi mereka -3 mahaguru kehidupan kami- bapak ibunya ini rela dong, menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, lalu dengan enaknya makan sosis dan es teh manis. Glekkkk….

Oke, oke… jadi intinya harus lebih banyak latihan bersabar kan, ya?

Baiklaaaaah. Mari dicoba-coba lagi, kakaaakkk…! πŸ˜†

Oh, tapi.. buat yang merasa hidupnya saat iniΒ  sedang beraaaaatttt, cobain deh, ajak 3 energizer bunny ini untuk tertib tidur di kamar mereka sendiri dan berhenti ngerecoki bapak ibunya yang jam 11 malem (???) udah teler berat pengenΒ pacaran istirahat. Hahaha, curcol nih, yeeee…? :mrgreen:

Selalu ada yang pertama…

…. untuk segalanya.

… seperti ketika dulu banjir keringat dingin pas latihan nyetir, dan lalu mesin mobil mati di tanjakan, dan diklaksonin mobil belakang;

… seperti ketika dulu terharu melihat si tengah tampil perdana nari di depan orang banyak, dengan muka lempeng-se-lempeng-lempengnya πŸ˜†

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya masem macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja... :D

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya jut*k macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja… πŸ˜€

… seperti ketika minggu lalu mati gaya karena pagi-pagi sebelum nge-drop krucils ke daycare, baju kantor kena (sorry!) pup si bontot yang (masih) latihan lepas diaper;

Dan selain yang saya inget diatas itu, ternyata masih ada beberapa hal lain yang menjadi pengalaman pertama bagi saya juga Baginda Raja:

1.Bertemu secara langsung, orang yang kulitnya jauuuuhhh lebih hitem dari Baginda Raja eh, KAMI !Β  πŸ˜†

05 Agustus 2013. Para keponakans, ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu... and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM, temen kuliah Wahyu, asal Bangladesh.

05 Agustus 2013. Para keponakan, gotong royong nyiapin makanan untuk berbuka puasa. Ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu… and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM-temen kuliah Wahyu- asli Bangladesh yang ikut berlebaran di rumah kami. Dan keponakans yang berkulit ‘normal’Β  selayaknya orang Indonesia itu, boleh lah sedikit GR dan merasa kulit mereka ternyata ‘agak’ kinclong. Hihi. Eh, Sohel ini baiikkk sekali. Ramah, dan care abis sama the krucils. πŸ™‚

Tanpa bermaksud SARA, waktu liat kulitnya Sohel ini, Baginda Raja bisa dong cengar-cengir bilang: “Tuh, Dik. Kulit yang item tuh yang kayak Sohel itu. Kalo kulit Mas kan coklat. Coklat eksotis!” huahaha.. Iya deh, Mas. Iya. Daripada kau potong uang belanjaku… πŸ˜†

2. Melatih anak mengelola uang saku itu ternyata SUSAH.

Tahun ajaran baru ini adalah kali pertama saya memberi Andro uang saku (BUKAN uang jajan, ya!) 15 ribu per minggu. Dari awal masuk minggu lalu, saya udah sounding dia soal uang saku ini. Saya jelaskan teori-teori keuangan sederhana tentang uang saku, uang jajan dan menabung. Maksud hati pengen dia latihan mengelola uang gitu, deh. Harapan saya sih dari jatah 3 ribu per hari itu, dia bisa lah sisihin minimal 1000 perak buat ditabungin. Apakah sounding saya berhasil? Tentu saja TIDAK. Lha kok enak banget hidup saya kalo semuanya segampil itu. πŸ˜† Hari Senin pagi dikasih 15 rebu, senin sore pas pulang doski laporan, uangnya abis dibeliin martabak, coklat, dan aqua! Ya ampun, aqua kan tinggal nuang aja dari dispenser di kelasnyaaa…??? Zzzzz… *jitak manis kepala Andro* πŸ˜†

3. Mempunyai tempat tidur, setelah (nyaris) 9 tahun nikah ngemper tidur pake kasur doang.

Yang bilang kawin musti punya banyak duit, sini ngadep ke saya. Dari dulu sampe sekarang, modal saya dan Bagindaraja kawin cuma dengkul, loh! πŸ˜† Kami bisa angkat dagu bangga, karena kawin tanpa ngerepotin orangtua (secara finansial ya!), lalu setelah kawin bisa tetep lancar nerusin cicilan motor, lalu punya rumah (teuteuppp dong ah, kredit! haha!); lalu berkesempatan punya si putih esteem, dan lalu setahun kemudian diijinkan kredit si item. Alhamdulillah. πŸ™‚

Setiap kali ibu atau kakak saya datang berkunjung dan nanya kenapa kami belum punya tempat tidur, saya masih bisa berkilah anak-anak masih kecil. Gengsi dong, bilang nggak punya fulus. Padahal sih emang nggak ada duit. πŸ˜† Alasan the krucils masih kecil dan kami takut mereka jatuh dari tempat tidur itu rasa-rasanya cukup bagus deh, at least ibu, mertua dan sodara-sodara nggak ada yang (berani?) komentar macem-macem. :mrgreen: Nah sekarang, begitu si bontot udah tahu mana tempat tinggi, mana tempat rendah, punya tempat tidur yang proper rasanya kok nggak bisa ditunda-tunda lagi, ya? Aku kan juga pengen ngerasain tidur diatas tempat tiduuuurrr… *kasihan* πŸ˜†

Makanya, begitu kemaren punya rejeki untuk beli tempat tidur, rasanya amazed sendiri. Ah, akhirnya! Lupakan King Koil yang harganya bikin manyun itu. Bisa beli tempat tidur kelas rakyat dari ngumpulin duit bertahun-tahun itu aja, rasanya bangga luar biasa! Hahaha! *lebay* :mrgreen:

Dan kalo cuma nebeng duduk doang di tempat tidur orangtua, masih boleh kok... :)

… Itu tempat tidur orangtua sih, Nak. Tapi kalo cuma nebeng duduk doang sih, masih boleh kok… πŸ™‚

... dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di -let say- kamar pribadi kalian ini.. :)

… dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di –let say– kamar pribadi kalian ini.. πŸ™‚

Dan maaf kalo saya norak pajang-pajang fotonya di instagram dan juga di blog ini. Habis kan lagi syeneeengg, kakaaakk..! Maklum, kan? Kan? Kan? *maksa to the max* πŸ˜† Lah kalo Aura sih enak, doski masih bisa dengan enteng dan centilnya ngajakin Eshal, anak tetangga yang jadi sekutu terakrabnya, tour de kamar, tanpa risih MAMERIN tempat tidur baru kami. Nah saya? Moso’ harus seret-seret itu ibu-ibu arisan, sih? *disumpel gelas kocokan* πŸ˜†

4. Sehubungan dengan poin ke-3, setelah punya buntut (yang artinya udah lebih dari 7 tahun yang lalu!) AKHIRNYA malem minggu kemaren saya dan Baginda Raja bisa tidur berdua lagi.

Deg-deg-an pisan deh, serasa pengantin baru, dan itu pula sebabnya kenapa sepanjang hari minggu kemaren saya ngantuuukk banget! Kurang tidur, euy! #eeaaaa #dibahasssss #sensorrrrr…. Huahaha…

5. Si sulung ngeledekin adik-adiknya? Biasa lah, itu. Nah kalo bacain cerita untuk mereka TANPA DIMINTA? Well, itu baru supeerrrr…! πŸ™‚

Selama ini, Aura-Amartha kan tidur bareng saya, dan kalo mau tidur mereka MUSTI pegang tangan saya. Udah ritual wajib itu. Jadi waktu malem minggu kemaren mendadak mereka musti tidur ber-3 saja dengan abangnya, drama sebelum tidur pun nggak bisa dihindari. Bolak balik keluar kamar anak-anak trus masuk kamar orangtua (begitulah kami menyebut kamar-kamar di rumah sekarang πŸ™‚ ) trus diajak balik ke kamar anak-anak, bacain buku cerita (lagi!), trus balik nyusul lagi ke kamar orangtua, dan terus berulang bolak balik begitu entah berapa kali, sampe pusing liatnya dan emaknya ini lama-lama jadi senewen…

pemandangan langka seperti ini sudah cukup membuat hati ibunya meleleh. :)

… tapi pada akhirnya, pemandangan langka seperti iniΒ  sudah cukup kok, bikin ibunya berhenti ngomel. Ah, kalian pinter banget deh, membolak-balikkan hati… *cium krucils satu-satu* πŸ™‚

Happy lazy monday, people! πŸ˜€

Anak gadis ayah

Saya pernah beberapa kali baca postingan temen-temen di blog tentang kekerasan verbal yang menyangkut fisik anak mereka. Maaf, beneran lupa punya siapa. πŸ™‚ Dan baru posting tentang ini sekarang, karena baruuu banget kejadian kemaren di rumah. Bukan kekerasan verbal sih, tapi sedikit menyangkut fisik gitu, lah.

Jadi, selama ini saya selalu menghindari penggunaan label-label negatif yang sifatnya fisik kepada anak-anak. Nggak berani deh, mengolok-olok anak dengan label fisik yang negatif. Anak sendiri nggak berani, apalagi anak orang, ya. Pokoknya semua label negatif yang menjurus fisik kayak contohnya: gendut, item, tembem, ceking, kriwil, dan sebangsanya itu. Maksud saya, siapa sih, yang pengen lahir dengan kulit sehitam arang, misalnya? Atau badan over weight, atau sebaliknya kurus ceking kayak tiang? Urusan fisik manusia itu hak prerogatif Gusti Allah Yang Maha Esa, jadi mana boleh kita mencela/memperolok-olok makhluk ciptaan-NYA, kan? *pencitraan sholehah* πŸ˜†

Pun, saya berusaha untuk tidak melabeli anak dengan label negatif yang menyerang secara psikologis, misalnya: nakal, cengeng, penakut, bodoh (apalagi itu!), bandel, nggak bisa dinasehati, dan yang sejenisnya. Karena apa? Karena kata-kata yang keluar dari mulut orangtua (apalagi ibu) terhadap anaknya adalah do’a. Sadar tidak sadar, saat kita mencap anak sebagai anak nakal, sejatinya saat itu kita sedang mendoakan anak menjadi nakal. Dan begitulah seterusnya…

Kembali soal fisik anak. Semua temen yang kenal Baginda Raja tahu, kalo kulit beliau itu… ehm… hitem coklat eksotik (haha, mem-bully suami sendiri, yang berani protes paling ibu mertua! πŸ˜† ) sedangkan kulit saya… sedikiiittt (liat baik-baik ya, sedikiiiitttt) lebih terang dibandingkan beliau. Kalo pas lagi di rumah dan pake kaos lengan pendek, rada jelas lah ya, perbedaan warna kulit itu. Ah, ya iya. Wong tangan saya nggak pernah terpapar matahari, kapanan tiap keluar rumah selalu berlengan panjang. πŸ˜‰

Dan so far kalo bercanda dan ledek-ledekan soal warna kulit ini, tentu saja saya yang menang, secara ya.. terpampang nyata di depan mata gitu loh, kulit saya sedikiiiittt ( tuh kan, saya ketik lagi sedikit-nya. πŸ™‚ )Β  lebih cerah dibanding beliau. Dan ya sudah, no hurt feeling aja, gitu. Namanya saling ledek diantara suami istri. Kalah-menang udah biasa, tho? Kalo (kadang) ada yang suka manyun karena kalah diledek, ya… kebangetan, deh!Β  *tunjuk muka sendiri* πŸ˜†

Nah, yang rada bikin kaget, pernah waktu itu nggak ada hujan apalagi badai, si tengah kami tetiba bilang gini:

” Aku doongg, kulitnya sama kayak Ayah… coklat! “ Waktu itu sih ngomongnya masih sambil cengengesan bangga-bangga gimanaaaa, gitu. Hoalah Nduk, nduk…! Punya kulit coklat kok bangga. Hahaha…

Uhm, kalo mau jujur sih, dari tiga bocah itu, yang punya kulit paling kinclong emang si bontot Amartha. Kalo Andro mirip saya. Dibilang item nggak, dibilang putih juga nggak. STD, lah. Naaahh… kalo kulit Aura… memang miriiiiipp banget bapaknya. πŸ˜€

Suatu ketika saya pernah iseng tanya:

” Mbak, emang perempuan yang cantik itu, yang kulitnya gimana, sih?”

” Yang kulitnya putih, dong… kayak dik Amartha” jawabnya tanpa ragu. Ish, kenapa nggak kayak Ibu sih, Mbak…? πŸ˜†

” Trus, kalo mbak Aura, kulitnya putih.. apa item..?”

” Coklat… kayak Ayah…” Salahkan bapaknya itu, suka menyaru kata item jadi coklat.Β  :mrgreen:

” Tapi mbak Aura cantik, kooookk..! ” lalu saya peluk dia, sambil berkata dalam hati, jangan sakit hati, kalo suatu saat nanti ada yang mengolok-olok kulitmu ya, Nduk. Se-hitam apapun kulitmu, kamu selalu cantik kok, di mata Ibu, ayah dan sodara-sodaramu…!

Dan biasanya asal udah dipeluk ibunya, dia sih langsung senyum-senyum kesenengan gituuuu… πŸ™‚

Jadi ya begitu, deh… Sekarang musti sering-sering ingetin diri sendiri aja, apapun kalimat yang keluar dari mulut kita -sengaja nggak sengaja- akan selalu melekat dalam ingatan anak-anak, dan selamanya akan berada disana, cepat atau lambat akan membentuk kepribadian mereka, membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Buuuu, kalimat yang kita sangka cuma kalimat sepele yang nggak ada artinya saja, ternyata mempengaruhi pola pikir mereka, loh! Apalagi kalimat-kalimat doktrin yang memang kita sengaja tanamkan di otak mereka? Makanya… sekarang-sekarang ini, saya lagi belajar melontarkan kalimat-kalimat positif saat sedang kesel/sebel/kecewa/marah kepada mereka. Jadi kalo salah satu dari the krucils berulah dan bikin kepala bertanduk, saya berusaha supaya kalimat-kalimat yang terlontar pada mereka kurang lebih seperti ini:

Aduuuuh, kamu tuh ya… anak sholeh/sholehah, cakep/cantik, baik, pinter, bageur, bernasib baik, beruntung, jadi ahli ibadah, gede nanti bolak-balik pergi haji, (yang terakhir ini masih mungkin nggak, sih? haha.. )

Kalo repetan saya udah keluar semua, baru deh… dijelasin kenapa saya kesal sama mereka. Lumayan sih ya, pergulatan untuk menyingkronkan otak kanan dengan otak kiri itu kan perlu usaha keras. Namanya lagi kesel bin sebel, eh.. suruh nge-do’a-in. Reppooootttt…!!! Tapi oh tapi… apa sih, yang nggak kalo buat kebaikan anak sendiri, Buuu…? πŸ˜€

Dan hal se-sepele ini-pun, AKHIRNYA jadi PR juga buat saya (Nah, lhooo…! Makin buaaanyak ya Seus, PR-muuuu…! πŸ˜† )

Anyway, Aura ini kesayangannya Baginda Raja banget. Well, Andro-Amartha kesayangannya juga, sih. Tapi kalo ke si genduk, beliau cenderung lebih sabar, lebih toleran, trus lebih nerimo, lebih nggak tega-an, lebih nurut (???) pokoknya terkesan lebih ‘lunak’ deh. Saya bahkan kadang suka protes karena beliau (lupa) nggak negur Aura saat anak perempuan-nya itu bersikap ‘kurang sopan’ ke ayahnya. Ya namapun anak-anak, kadang kalo dimanja-manja, dibaik-baikin, dilembut-lembutin gitu jadinya malah ngelunjak, kan? Mirip siapaaaa…? πŸ˜†

Nah, beberapa hari lalu Baginda Raja cerita ke saya, tentang percakapan dengan si genduk yang isinya kira-kira begini :

” Mbak, Ayah sayaaanggg banget sama mbak Aura…”

” Tapi aku nggak sayang ke Ayah. Aku sayangnya ke Ibu…”

” Kenapaaaa…? Kan Ayah sayang ke mbak Aura..” (bapaknya mulai ngotot)

” Soalnya kulit Ibu putih….”

…………………………………. P-E-D-I-H…………………………………

Muahahaha….!!!

Malangnya nasibmu, Mas… di bully sama anak sendiri… :mrgreen:

IMG_20130323_161353

.. dan meskipun sudah dibikin sakit hati, beliau tetep telaten ngolesin caladine ke kulit anak gadisnya… πŸ™‚

... dan dengan senang hati membantu menyelesaikan cooking mama... ^_^

… juga dengan senang hati membantu menyelesaikan game cooking mama… πŸ˜‰

Selain pengertian yang luar biasa itu: dengan sukarela membantu mencuci baju, menyapu+mengepel lantai, mencuci piring, mijitin kakiku (???), cara manismu memperlakukan anak-anak kita adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat cintaku mentok padamu, Mas… πŸ˜€

… dan kira-kira, kalo tampilan bapaknya garang begini, nanti ada nggak ya, cowok yang berani ngapelin anak gadisnya..? πŸ˜€