36 tahun

Saya tahu dalam hidup saya banyak melupakan banyak hal. Tapi pagi ini ketika Bu Helfie, salah seorang boss yang jadi tandem saya datang paling pagi di kantor ini berujar: Mbak, Mas Myko hari ini ulang tahun, ya…? “ -sekedar informasi, kementerian tersayang kami punya situs yang memungkinkan sesama pegawai ngeliat siapa dan dimana pegawai yang berulang tahun setiap harinya – saya langsung mati kutu. Apppaaaaa…? Tidak mungkiiinnn saya melupakan yang satu itu. 11 tahun mengenal beliau, belum pernah sekalipun saya lupa tanggal lahir Baginda Raja. Nggak pernah, even once! Oh well, ternyata memang selalu ada yang pertama untuk segala hal. Saya, lupa. Dan detik itu langsung nelpon beliau, ngucapin permintaan maaf diikuti rentetan doa semoga selalu sehat, makin sabar, makin sayang anak estri, makin rajin nyapu, makin rajin bantuin nyuci, ngepel, ngurus A3… *haha* trus beliau cuma ber-ham-hem-ham-hem aja. Hahaha, ngambek nih yeeee…. πŸ˜†

Maaf ya, Mas sayang. Tapi cintaku tak cuma sebatas ingat hari lahirmu saja, kok. Sungguh! πŸ™‚

Ini pose rada absurd sih ya. Antara pamer si bronze sama pamer lengan. Hohoho.. Tapi ya sudah lah. Yang jelas ini pose keren dong... di mata estrinya. :D

Ini pose rada absurd sih ya. Nggak jelas antara pamer si bronze ato pamer lengan. Hohoho.. Tapi ya sudah lah. Yang jelas ini pose keren dong… di mata estrinya. πŸ˜€

Selamat genap 36 tahun, lelaki tersayangku. Semoga Allah menambahkan semua hal baik di hidupmu, di hidup kita. Dan dengan semua yang sudah kau lakukan untukku dan anak-anakku, mana mungkin aku tak semakin sayang padamu, kan? *pelukciumselamanya* πŸ™‚

comments off

Profesi di masa depan

01 September 2013. @ Hypermart Metro Indah Mall: negosiasi mengenai mobil-mobilan mana yang boleh diambil. Negosiasi yang alot, tentu saja. Ada yang pengen 2, ada yang minta 3, bahkan ada yang pengen semuanya! Aih, mana bisa begitu? Ambil 1, atau tidak sama sekali! Oh yes, Nak. Selagi kalian masih numpang makan-tidur-main di rumah kami, kalian deh ya, yang musti ngikut aturan kami..! Huahaha...

01 September 2013. @ Hypermart Metro Indah Mall: Tentu saja bukan sedang bernegosiasi soal jurusan apa yang akan mereka ambil saat kuliah nanti. Ini negosiasi alot tentang mobil-mobilan mana yang boleh mereka beli. Ada yang pengen-nya 2, ada yang minta 3, bahkan ada yang pengen semuanya! Aih, mana bisa begitu? Ambil 1, atau tidak sama sekali! Oh yes, Nak. Selagi kalian masih numpang makan-tidur-main di rumah kami, kalian deh ya, yang musti ngikut aturan kami..! Huahaha… *sadis* πŸ˜†

Tergelitik, sekaligus tertampar baca jurnal si Mamak kece ini. (aku suka to the max postinganmu yang ini, Mak! πŸ˜€ ) Sampe sekarang, saya dan Baginda Raja memang belum pernah secara serius membicarakan soal profesi anak-anak kami nanti. Concern kami kan lebih pada BERAPA DUIT yang musti disediakan DARI SEKARANG kalo nanti mereka kuliah di PT(N) A, B, C dan lain-lainnya itu. πŸ˜€ Habisnya pas kemaren tahu berapa biaya yang dikeluarkan salah seorang tetangga untuk masukkin anaknya ke salah 1 PTN di Bandung ini, saya sumpah shock banget deh. Gilaaa, duit semua, ituuuu? Boleh nggak, sebagiannya pake daun? Daun telinga? :mrgreen: Hiks, pegimane nanti, let say 10 tahun yang akan datang? In our case, biayanya dikalikan 3 aja, gitu! Huhuhu… Dan terus ngiri sama orang yang anaknya cuma 1. :mrgreen:

Anyhow, secara sepintas pernah sih, ngenalin Andro (adik-adiknya masih jadi tim penggembira aja kalo udah ngomongin masa depan, hihi) ke profesi-profesi yang sudah terpampang nyata dan familiar aja dulu deh, di mata dia kayak polisi, dokter, guru, artis (???) dan tentu saja masih ditanggapi secara tentatif sama si boss kecil. Maksudnya, kalo liat iring-iringan mobil polisi dengan sirine meraung-raung minta jalan, -dan keliatan keren karena pasti bikin semua mobil di jalan minggir- kalo nggak mau diklaksonin sampe telinga pekak– ya doski pengen jadi polisi; kalo liat mobil keren dan bikin mata melotot saking takjubnya, ya doski pengen jadi pengusaha (haha, untuk yang ini salahkan emak bapaknya yang selalu bilang orang kaya=pengusaha. Ya mana mungkin tho, PNS punya vellfire/ferrari/hummer..? πŸ˜€ )

Tapi pernah sih, secara mengejutkan dia bilang pengen kerja kayak Ayah dan Ibu. Hah? Kenapa? Biar bisa punya mobil dan rumah, katanya. Huahaha…! Hoalah, Bang. RumahΒ mungil dan mobilΒ sepuluh juta ummat ini kan kami cicil tiap bulan, Nak. Nggak serta merta turun dari langit. Dan kami ini sayang sekali loh padamu, sampe-sampe kami pengen pas kamu besar nanti, bisa lah beli rumah dan mobil TUNAI! Jangan ngutang macam kami iniiiii…! :mrgreen: Atau mungkin, karena pekerjaan kami ngumpulin uang buat bayar gajiΒ  PNS, polisi, membangun jembatan, sekolah, sarana jalan dan lain-lain itu terlihat sangat mulia dan keren (???) di mata si boss kecil? Haha, iya! Mungkin! Pekerjaan apa sih, yang lebih keren daripada menggaji polisi ya, Bang..? πŸ˜†

Dan pekerjaan kami sekarang ini, ehm.. gimana ya. Dibilang enak, ya enak lah. Minimal dengan gaji dan tunjangan yang kami terima saat ini, kami bisa dengan leluasa ngatur UTANG. Loh, kok utang? Lah, ya iya dong, kapanan nggak semua orang bisa dengan gampil dapet fasilitas kredit, yes? Sebagai PNS level prajurit, jangan mimpi lah, bisa beli rumah harga 100-200 juta tanpa utang, beli mobil baru tanpa kredit. Jadi mari bersyukur, bisa dengan gampil memanfaatkan semua fasilitas kredit yang ditawarkan secara marathon oleh para bank itu, betul? πŸ˜€

Tapi jujur nih ya, sebagai orang yang udah sepuluh tahun lebih bergelut di lingkungan pekerjaan ini, saya dan Baginda Raja mengharapkan A3 mendapatkan pekerjaan yang jauuuhhh lebih baik dari pekerjaan kami sekarang. Bukan, bukan karena kami kurang puas dengan pencapaian kami saat ini, (bilang nggak puas nanti takutnya jadi kufur nikmat, kan? πŸ˜‰ ) tapi lebih ke apa ya, ehm rasanya dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan. Ada masih banyaakkk sekali tempat dan kesempatan yang terbentang di luar sana, menunggu untuk dieskplore, untuk ditaklukkan. Masih ada banyaaakk sekali rupiah, dan dollar (dan euro? dan real? πŸ˜‰ ) yang bisa diburu, hahaha..

Iya, memang nggak bijaksana ya, mengukur tingkat kesuksesan dan kebahagiaan seseorang dari berapa banyak duit/harta yang dia punya. Tapi menurut saya, kalo bisa sukses, bahagia dan punya duit banyak DENGAN CARA YANG HALAL : kenapa nggaaaaakk…? Hahaha… *teuteuppp* πŸ˜†

Soal duit yang berhubungan dengan pekerjaan ini, kadang jatuhnya emang jadi sensitif banget deh, ya. Terus terang, saya pernah loh, rada nyolot ke salah seorang sepupu Baginda Raja yang kerja di salah satu pabrik garmen di daerah Dayeuhkolot sana, karena waktu itu dengan entengnya dia bilang: ” Ooohh.. kalian kerja di Paj*k ya. Waktu itu ada, tuh. Orang dari Paj*k yang dateng ke kantor, minta duit…” Dan ngomongnya di acara keluarga yang lumayan banyak orang. Saya ini bukannya mau membabi buta membela institusi ya, tapi mbok yao lihat-lihat lah kalo mau komen sesuatu. Siapa yang diajak bicara, ada siapa aja disitu, pantes nggak ngomong begitu. Jujur, waktu itu saya langsung protes keras (ke Baginda Raja, lah. Masa’ ke ibu mertua? πŸ˜† )Β  Maksud saya, orang Paj*k yang ‘kantor-nya’ dimana? Sekarang banyak lho, orang yang ngaku-ngaku dari kantor Paj*k! Beneran! Jadi, kalo emang ada oknum Paj*k yang minta-minta duit, tinggal catet namanya, catet identitas pegawainya, trus laporin deh. Se-sederhana itu? Iya, se-sederhana itu, kok. So, kalo nggak tahu duduk perkara yang sebenernya, jangan langsung komen, deh. Daripada bikin sakit hati orang, betul tidak..? *Aa Gym mode on* πŸ˜€

Omong-omong, di instansi manapun, pemerintah/swasta, yang namanya okum itu akan selalu ada. Katanya sih, karena ada permintaan, makanya ada penawaran. Trus, karena ada penawaran, makanya ada permintaan..? πŸ˜‰ Eh tapi kan bukan berarti, ketika di Kepolisian ada ketangkep oknum seperti Irjen Djoko Susilo, maka berarti semua anggota POLRI itu koruptor, ya? Juga ketika di gedung DPR yang terhormat ada ketangkep Muhamad Nazaruddin, kan nggak berarti juga semua anggota dewan itu kelakuannya sama? Pun ketika di salah 1 bank swasta nasional, ada Melinda Dee yang tindak tanduknya bikin shock para nasabah, tidak serta merta kita nggak percaya lagi sama institusi perbankan, kan? Lalu gimana dengan bidan yang memperjual-belikan bayi-bayi, guru yang mem-bully anak didiknya, dokter yang melecehkan perawat-nya… 😦 Nggak usah jauh-jauh, deh. Saya sering tuh, liat oknum pegawai yang minta bon kosong waktu mereka makan di rumah makan. Ada? Banyaaakkk..! Tapi kan mana boleh, menyamaratakan semua orang yang ada di 1 institusi, hanya karena melihat satu-dua oknumnya, tho? Mana bisa kita men-judge negatif satu profesi hanya karena salah satu, dua, tiga orangnya melakukan tindakan kriminil..? Jadi setuju banget sama Mamak Sondang: dalam setiap profesi yang halal, ada banyak orang yang baik, yang jujur, yang bekerja keras, yang nggak makan gaji buta, yang mau doing the extra mile.

Makanya saya pasang badan deh, kalo ada yang bilang semua pegawai De-Je-Pe itu kayak Gay*s. Iiih, sampeyan pasti belum ketemu saya. Rumah saya di ujung Bandung kalo nggak boleh dibilang kampung ngutangnya 10 tahun, mobil emang baru, tapi kredit 3 tahun dan megap-megap bayar cicilannya, pernah ditipu mentah-mentah sama pemborong gila yang ngerenov rumah, sampai pontang panting kepala jadi kaki, kaki jadi dengkul, nutup utang sana sini. *curcol abissss* :mrgreen: Sampeyan juga pasti belum ketemu ya, sama puluhan ribu pegawai De-Je-Pe lain yang rumahnya masih ngontrak, motor-nya nyicil, pusing 7 keliling 8 putaran karena musti itung-itungan sampe njlimet waktu mau bayar uang pangkal sekolah anak-nya, stress setengah mati waktu mau bayar tagihan RS anak/istrinya yang cuma di cover sekian ribu perak sama Askes. Jadi, pikir-pikir dulu ya Pak/ Bu sebelum ngomong! πŸ˜‰

Karena itu, mari belajar dari sekarang untuk berbaik sangka sama orang, APAPUN profesinya. Ketika melihat seorang polisi menilang pengendara bermotor misalnya, daripada bilang : “nah lhoooo.. kena berapa tuh?” mendingan juga bilang: “betul pak Polisi, tilang tuh kalo ada yang melanggar. Biar nambah kas negara kita…” Eh, atau kalo kalimat itu terlalu panjang untuk diucapkan, ya mending diem aja deh, biar aman. πŸ˜† Pokoknya ingat-ingat saja, ada sponge mini berjalan yang menyerap dengan sangat cepat, dan lalu meniru dan mengikuti, apapun yang kita ucapkan, apapun yang kita lakukan, bahkan (kadang-kadang) apapun yang kita pikirkan! *lirik sayang A3* πŸ˜€

Dan oh, jangan lupa rajin-rajin berdo’a, semogaaaaa para junior(s) kita nanti dilancarkan dan dimudahkan semua urusannya, menjadi orang yang menikmati pekerjaan-nya, dimuliakan jodoh dan keturunan-nya, sukses dunia akhirat-nya, bahagia lahir bathin-nya, banyak harta-nya (yang ini tentuuu pesan sponsor emaknya: nggak boleh ketinggalan dong, ah! :mrgreen: ) dan… jadi ahli surga! Aamiinnn…..! *du’a of the year* πŸ˜€

9 tahun…

Sejak menikah DAN punya juniors, rasanya jadi susaaaaah banget foto ber-2. Saking pengennya foto ber-2 saja, mumpung si tengah dan si bontot lagintidur, curi2 deh kita fofotoan di lampu merah. Oh, dan tolong abaikan minnion di tengah kami. Itu kerjaan si sulung yang keukeuh pengen Kevin kesayangannya ikut mejeng juga. Zzzzz...

Sejak menikah DAN punya juniors, rasanya jadi susaaaaah banget foto ber-2. Saking pengennya foto ber-2 saja, mumpung si tengah dan si bontot lagi tidur, curi-curi deh kita, fofotoan di lampu merah. Oh, dan tolong abaikan minnion di tengah kami. Itu kerjaan si sulung yang keukeuh pengen Kevin kesayangannya ikut mejeng juga. Zzzzz…

Awal sebuah cerita:
Saya lupa, kapan tepatnya saya melihat beliau di kampus kami. Tapi begitu melihatnya, saya tahu.. selain sosok jangkungnya, ada hal lain yang membuatnya tampak istimewa di mata saya. Rajinnya beliau sholat tepat waktu, dan meninggalkan teman2nya yang sedang asyik ngobrol di kantin? Mungkin. Cara bicaranya yang tenang? Mungkin. Pengetahuannya yang di atas rata-rata? Mungkin. Gaya berpakaiannya yang sederhana? Mungkin. Yang jelas, saya tahu, saat berbincang dengannya, saya tidak perlu pusing memikirkan hal lain. Saya cukup menjadi diri saya sendiri.

03 September 2003:
Untuk pertama kalinya kami pulang kuliah berdua, JALAN KAKI melewati gedung sate, gasibu, dan menerobos kerumunan orang yang menonton konser Padi. Ngobrol santai di Sindang Reret Gasibu, dan dengan santainya saya tutup hidung di depan beliau yang sedang asyik merokok, trus waktu beliau tanya: “kenapa?” Saya jawab dengan enteng: “nggak apa2.. saya nggak suka aja, sama asap rokok…. “ Dan tanpa bicara lagi beliau langsung mematikan rokok yang baru beberapa menit dinyalakannya. πŸ™‚

04 September sampai dengan 08 September 2003:
Janjian setiap pulang kuliah makan malem berdua, dengan menu2 awal resto dan cafe, lalu selanjutnya melipir ke warung2 tenda pinggir jalan. Haha, mulai bokek nih, yeeee… πŸ˜†
Dan selama seminggu itu, saya dijudesin seseorang di kampus kami yang TADINYA nempellll terus ke beliau. Istri? Bukan! Pacar? (katanya) juga bukan. Ya sudah, saya cuekin aja… Drama lain? Ada seseorang yang katanya jedot2in kepalanya ke tembok gegara ‘ditinggal’ dan ada seseorang (lagi) di suatu tempat lain yang patah hati, karena diputusin sepihak. Saya jahat? Iiihhh, saya kan nggak merebut suami orang, dan saya cukup percaya waktu beliau bilang status 3 orang itu bukan pacar. HTS-an? Mungkiiiiinn… ! But sorry ya, girls. The man is mine…. *evil laugh* πŸ˜†

09 September 2003:
Beliau mendeklarasikan BERHENTI MEROKOK, dan itu TANPA SAYA MINTA. Cinta? Well, you tell me! πŸ™‚

11 September 2003:
Di salah 1 cafe di daerah Dipati Ukur, beliau melamar saya. As a wife. Bukan sebagai pacar. No diamond ring, no down on his knees. He just asked me, and I said yes. As simple as that. Tapi hatiku membuncah bahagia! πŸ™‚

11 September 2004:
Ijab qobul di rumah saya, dalam bahasa Arab, mas Agus, kakak laki2 saya sebagai wali. Dengan mahar uang 1.192.004 rupiah, kami SAH sebagai suami istri. Alhamdulillah… πŸ™‚

13 April 2006: lahir si sulung;
05 Oktober 2008: lahir si tengah;
31 Oktober 2010: lahir si bontot.

Aaaaah, kurang baik apalagi coba, Allah sama saya? DIA kirimkan seseorang yang sejak DARI PANDANGAN PERTAMA, udah saya yakini akan menjadi pendamping hidup saya (oh yes, love at the very first sight does exist! πŸ™‚ )
Beliau kemudian menjadi kekasih, sahabat, suami, ayah, menantu, dan ipar YANG LUAR BIASA HEBAT, dan beliau selalu ada disana, meyakinkan diri saya segalanya akan baik-baik saja, BAHKAN di saat-saat genting ketika saya tidak percaya pada diri saya sendiri.

Bunga pertama (semoga bukan yang terakhir, haha) yang dikirim ke rumah, dan bikin estrinya tersipu2. Dan lalu estrinya secara nggak sopan kepikiran: aih, berapa ini harganya? Sayang tahu, duitnyaaaaa... huahaha...

Bunga pertama (semoga bukan yang terakhir, haha) yang dikirim ke rumah, dan bikin estrinya tersipu2. Dan lalu estrinya secara nggak sopan kepikiran: aih, berapa ini harganya? Sayang tahu, duitnyaaaaa… huahaha…

Terima kasih ya, Mas. Untuk 9 tahun yang luar biasa ini.
Aku menunggu keajaiban lain di 9 tahun ke-2, ke-3, ke-4 dan seterusnya yang akan datang nanti, dengan 1 keyakinan: kita akan berhasil melewatinya dengan baik, karena cinta adalah KITA…
(11 September 2004-11 September 2013)

Selalu ada yang pertama…

…. untuk segalanya.

… seperti ketika dulu banjir keringat dingin pas latihan nyetir, dan lalu mesin mobil mati di tanjakan, dan diklaksonin mobil belakang;

… seperti ketika dulu terharu melihat si tengah tampil perdana nari di depan orang banyak, dengan muka lempeng-se-lempeng-lempengnya πŸ˜†

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya masem macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja... :D

19 Juni 2013, @Dunia Bermain: heboh latihannya ngalahin gladi resik konser-nya Lady Gaga. Begitu hari H, mukanya jut*k macem nari terpaksa dan berada di bawah penindasan. Aih, Nduk. Coba mau senyum dikiiittt aja… πŸ˜€

… seperti ketika minggu lalu mati gaya karena pagi-pagi sebelum nge-drop krucils ke daycare, baju kantor kena (sorry!) pup si bontot yang (masih) latihan lepas diaper;

Dan selain yang saya inget diatas itu, ternyata masih ada beberapa hal lain yang menjadi pengalaman pertama bagi saya juga Baginda Raja:

1.Bertemu secara langsung, orang yang kulitnya jauuuuhhh lebih hitem dari Baginda Raja eh, KAMI !Β  πŸ˜†

05 Agustus 2013. Para keponakans, ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu... and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM, temen kuliah Wahyu, asal Bangladesh.

05 Agustus 2013. Para keponakan, gotong royong nyiapin makanan untuk berbuka puasa. Ki-ka: Salasti, Agis, Gunadi, Yani, Anisa, Wahyu… and please meet Sohel Rana, mahasiswa S2 UGM-temen kuliah Wahyu- asli Bangladesh yang ikut berlebaran di rumah kami. Dan keponakans yang berkulit ‘normal’Β  selayaknya orang Indonesia itu, boleh lah sedikit GR dan merasa kulit mereka ternyata ‘agak’ kinclong. Hihi. Eh, Sohel ini baiikkk sekali. Ramah, dan care abis sama the krucils. πŸ™‚

Tanpa bermaksud SARA, waktu liat kulitnya Sohel ini, Baginda Raja bisa dong cengar-cengir bilang: “Tuh, Dik. Kulit yang item tuh yang kayak Sohel itu. Kalo kulit Mas kan coklat. Coklat eksotis!” huahaha.. Iya deh, Mas. Iya. Daripada kau potong uang belanjaku… πŸ˜†

2. Melatih anak mengelola uang saku itu ternyata SUSAH.

Tahun ajaran baru ini adalah kali pertama saya memberi Andro uang saku (BUKAN uang jajan, ya!) 15 ribu per minggu. Dari awal masuk minggu lalu, saya udah sounding dia soal uang saku ini. Saya jelaskan teori-teori keuangan sederhana tentang uang saku, uang jajan dan menabung. Maksud hati pengen dia latihan mengelola uang gitu, deh. Harapan saya sih dari jatah 3 ribu per hari itu, dia bisa lah sisihin minimal 1000 perak buat ditabungin. Apakah sounding saya berhasil? Tentu saja TIDAK. Lha kok enak banget hidup saya kalo semuanya segampil itu. πŸ˜† Hari Senin pagi dikasih 15 rebu, senin sore pas pulang doski laporan, uangnya abis dibeliin martabak, coklat, dan aqua! Ya ampun, aqua kan tinggal nuang aja dari dispenser di kelasnyaaa…??? Zzzzz… *jitak manis kepala Andro* πŸ˜†

3. Mempunyai tempat tidur, setelah (nyaris) 9 tahun nikah ngemper tidur pake kasur doang.

Yang bilang kawin musti punya banyak duit, sini ngadep ke saya. Dari dulu sampe sekarang, modal saya dan Bagindaraja kawin cuma dengkul, loh! πŸ˜† Kami bisa angkat dagu bangga, karena kawin tanpa ngerepotin orangtua (secara finansial ya!), lalu setelah kawin bisa tetep lancar nerusin cicilan motor, lalu punya rumah (teuteuppp dong ah, kredit! haha!); lalu berkesempatan punya si putih esteem, dan lalu setahun kemudian diijinkan kredit si item. Alhamdulillah. πŸ™‚

Setiap kali ibu atau kakak saya datang berkunjung dan nanya kenapa kami belum punya tempat tidur, saya masih bisa berkilah anak-anak masih kecil. Gengsi dong, bilang nggak punya fulus. Padahal sih emang nggak ada duit. πŸ˜† Alasan the krucils masih kecil dan kami takut mereka jatuh dari tempat tidur itu rasa-rasanya cukup bagus deh, at least ibu, mertua dan sodara-sodara nggak ada yang (berani?) komentar macem-macem. :mrgreen: Nah sekarang, begitu si bontot udah tahu mana tempat tinggi, mana tempat rendah, punya tempat tidur yang proper rasanya kok nggak bisa ditunda-tunda lagi, ya? Aku kan juga pengen ngerasain tidur diatas tempat tiduuuurrr… *kasihan* πŸ˜†

Makanya, begitu kemaren punya rejeki untuk beli tempat tidur, rasanya amazed sendiri. Ah, akhirnya! Lupakan King Koil yang harganya bikin manyun itu. Bisa beli tempat tidur kelas rakyat dari ngumpulin duit bertahun-tahun itu aja, rasanya bangga luar biasa! Hahaha! *lebay* :mrgreen:

Dan kalo cuma nebeng duduk doang di tempat tidur orangtua, masih boleh kok... :)

… Itu tempat tidur orangtua sih, Nak. Tapi kalo cuma nebeng duduk doang sih, masih boleh kok… πŸ™‚

... dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di -let say- kamar pribadi kalian ini.. :)

… dan kalian boleh lah begaya sepuas-puasnya di –let say– kamar pribadi kalian ini.. πŸ™‚

Dan maaf kalo saya norak pajang-pajang fotonya di instagram dan juga di blog ini. Habis kan lagi syeneeengg, kakaaakk..! Maklum, kan? Kan? Kan? *maksa to the max* πŸ˜† Lah kalo Aura sih enak, doski masih bisa dengan enteng dan centilnya ngajakin Eshal, anak tetangga yang jadi sekutu terakrabnya, tour de kamar, tanpa risih MAMERIN tempat tidur baru kami. Nah saya? Moso’ harus seret-seret itu ibu-ibu arisan, sih? *disumpel gelas kocokan* πŸ˜†

4. Sehubungan dengan poin ke-3, setelah punya buntut (yang artinya udah lebih dari 7 tahun yang lalu!) AKHIRNYA malem minggu kemaren saya dan Baginda Raja bisa tidur berdua lagi.

Deg-deg-an pisan deh, serasa pengantin baru, dan itu pula sebabnya kenapa sepanjang hari minggu kemaren saya ngantuuukk banget! Kurang tidur, euy! #eeaaaa #dibahasssss #sensorrrrr…. Huahaha…

5. Si sulung ngeledekin adik-adiknya? Biasa lah, itu. Nah kalo bacain cerita untuk mereka TANPA DIMINTA? Well, itu baru supeerrrr…! πŸ™‚

Selama ini, Aura-Amartha kan tidur bareng saya, dan kalo mau tidur mereka MUSTI pegang tangan saya. Udah ritual wajib itu. Jadi waktu malem minggu kemaren mendadak mereka musti tidur ber-3 saja dengan abangnya, drama sebelum tidur pun nggak bisa dihindari. Bolak balik keluar kamar anak-anak trus masuk kamar orangtua (begitulah kami menyebut kamar-kamar di rumah sekarang πŸ™‚ ) trus diajak balik ke kamar anak-anak, bacain buku cerita (lagi!), trus balik nyusul lagi ke kamar orangtua, dan terus berulang bolak balik begitu entah berapa kali, sampe pusing liatnya dan emaknya ini lama-lama jadi senewen…

pemandangan langka seperti ini sudah cukup membuat hati ibunya meleleh. :)

… tapi pada akhirnya, pemandangan langka seperti iniΒ  sudah cukup kok, bikin ibunya berhenti ngomel. Ah, kalian pinter banget deh, membolak-balikkan hati… *cium krucils satu-satu* πŸ™‚

Happy lazy monday, people! πŸ˜€

Anak gadis ayah

Saya pernah beberapa kali baca postingan temen-temen di blog tentang kekerasan verbal yang menyangkut fisik anak mereka. Maaf, beneran lupa punya siapa. πŸ™‚ Dan baru posting tentang ini sekarang, karena baruuu banget kejadian kemaren di rumah. Bukan kekerasan verbal sih, tapi sedikit menyangkut fisik gitu, lah.

Jadi, selama ini saya selalu menghindari penggunaan label-label negatif yang sifatnya fisik kepada anak-anak. Nggak berani deh, mengolok-olok anak dengan label fisik yang negatif. Anak sendiri nggak berani, apalagi anak orang, ya. Pokoknya semua label negatif yang menjurus fisik kayak contohnya: gendut, item, tembem, ceking, kriwil, dan sebangsanya itu. Maksud saya, siapa sih, yang pengen lahir dengan kulit sehitam arang, misalnya? Atau badan over weight, atau sebaliknya kurus ceking kayak tiang? Urusan fisik manusia itu hak prerogatif Gusti Allah Yang Maha Esa, jadi mana boleh kita mencela/memperolok-olok makhluk ciptaan-NYA, kan? *pencitraan sholehah* πŸ˜†

Pun, saya berusaha untuk tidak melabeli anak dengan label negatif yang menyerang secara psikologis, misalnya: nakal, cengeng, penakut, bodoh (apalagi itu!), bandel, nggak bisa dinasehati, dan yang sejenisnya. Karena apa? Karena kata-kata yang keluar dari mulut orangtua (apalagi ibu) terhadap anaknya adalah do’a. Sadar tidak sadar, saat kita mencap anak sebagai anak nakal, sejatinya saat itu kita sedang mendoakan anak menjadi nakal. Dan begitulah seterusnya…

Kembali soal fisik anak. Semua temen yang kenal Baginda Raja tahu, kalo kulit beliau itu… ehm… hitem coklat eksotik (haha, mem-bully suami sendiri, yang berani protes paling ibu mertua! πŸ˜† ) sedangkan kulit saya… sedikiiittt (liat baik-baik ya, sedikiiiitttt) lebih terang dibandingkan beliau. Kalo pas lagi di rumah dan pake kaos lengan pendek, rada jelas lah ya, perbedaan warna kulit itu. Ah, ya iya. Wong tangan saya nggak pernah terpapar matahari, kapanan tiap keluar rumah selalu berlengan panjang. πŸ˜‰

Dan so far kalo bercanda dan ledek-ledekan soal warna kulit ini, tentu saja saya yang menang, secara ya.. terpampang nyata di depan mata gitu loh, kulit saya sedikiiiittt ( tuh kan, saya ketik lagi sedikit-nya. πŸ™‚ )Β  lebih cerah dibanding beliau. Dan ya sudah, no hurt feeling aja, gitu. Namanya saling ledek diantara suami istri. Kalah-menang udah biasa, tho? Kalo (kadang) ada yang suka manyun karena kalah diledek, ya… kebangetan, deh!Β  *tunjuk muka sendiri* πŸ˜†

Nah, yang rada bikin kaget, pernah waktu itu nggak ada hujan apalagi badai, si tengah kami tetiba bilang gini:

” Aku doongg, kulitnya sama kayak Ayah… coklat! “ Waktu itu sih ngomongnya masih sambil cengengesan bangga-bangga gimanaaaa, gitu. Hoalah Nduk, nduk…! Punya kulit coklat kok bangga. Hahaha…

Uhm, kalo mau jujur sih, dari tiga bocah itu, yang punya kulit paling kinclong emang si bontot Amartha. Kalo Andro mirip saya. Dibilang item nggak, dibilang putih juga nggak. STD, lah. Naaahh… kalo kulit Aura… memang miriiiiipp banget bapaknya. πŸ˜€

Suatu ketika saya pernah iseng tanya:

” Mbak, emang perempuan yang cantik itu, yang kulitnya gimana, sih?”

” Yang kulitnya putih, dong… kayak dik Amartha” jawabnya tanpa ragu. Ish, kenapa nggak kayak Ibu sih, Mbak…? πŸ˜†

” Trus, kalo mbak Aura, kulitnya putih.. apa item..?”

” Coklat… kayak Ayah…” Salahkan bapaknya itu, suka menyaru kata item jadi coklat.Β  :mrgreen:

” Tapi mbak Aura cantik, kooookk..! ” lalu saya peluk dia, sambil berkata dalam hati, jangan sakit hati, kalo suatu saat nanti ada yang mengolok-olok kulitmu ya, Nduk. Se-hitam apapun kulitmu, kamu selalu cantik kok, di mata Ibu, ayah dan sodara-sodaramu…!

Dan biasanya asal udah dipeluk ibunya, dia sih langsung senyum-senyum kesenengan gituuuu… πŸ™‚

Jadi ya begitu, deh… Sekarang musti sering-sering ingetin diri sendiri aja, apapun kalimat yang keluar dari mulut kita -sengaja nggak sengaja- akan selalu melekat dalam ingatan anak-anak, dan selamanya akan berada disana, cepat atau lambat akan membentuk kepribadian mereka, membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Buuuu, kalimat yang kita sangka cuma kalimat sepele yang nggak ada artinya saja, ternyata mempengaruhi pola pikir mereka, loh! Apalagi kalimat-kalimat doktrin yang memang kita sengaja tanamkan di otak mereka? Makanya… sekarang-sekarang ini, saya lagi belajar melontarkan kalimat-kalimat positif saat sedang kesel/sebel/kecewa/marah kepada mereka. Jadi kalo salah satu dari the krucils berulah dan bikin kepala bertanduk, saya berusaha supaya kalimat-kalimat yang terlontar pada mereka kurang lebih seperti ini:

Aduuuuh, kamu tuh ya… anak sholeh/sholehah, cakep/cantik, baik, pinter, bageur, bernasib baik, beruntung, jadi ahli ibadah, gede nanti bolak-balik pergi haji, (yang terakhir ini masih mungkin nggak, sih? haha.. )

Kalo repetan saya udah keluar semua, baru deh… dijelasin kenapa saya kesal sama mereka. Lumayan sih ya, pergulatan untuk menyingkronkan otak kanan dengan otak kiri itu kan perlu usaha keras. Namanya lagi kesel bin sebel, eh.. suruh nge-do’a-in. Reppooootttt…!!! Tapi oh tapi… apa sih, yang nggak kalo buat kebaikan anak sendiri, Buuu…? πŸ˜€

Dan hal se-sepele ini-pun, AKHIRNYA jadi PR juga buat saya (Nah, lhooo…! Makin buaaanyak ya Seus, PR-muuuu…! πŸ˜† )

Anyway, Aura ini kesayangannya Baginda Raja banget. Well, Andro-Amartha kesayangannya juga, sih. Tapi kalo ke si genduk, beliau cenderung lebih sabar, lebih toleran, trus lebih nerimo, lebih nggak tega-an, lebih nurut (???) pokoknya terkesan lebih ‘lunak’ deh. Saya bahkan kadang suka protes karena beliau (lupa) nggak negur Aura saat anak perempuan-nya itu bersikap ‘kurang sopan’ ke ayahnya. Ya namapun anak-anak, kadang kalo dimanja-manja, dibaik-baikin, dilembut-lembutin gitu jadinya malah ngelunjak, kan? Mirip siapaaaa…? πŸ˜†

Nah, beberapa hari lalu Baginda Raja cerita ke saya, tentang percakapan dengan si genduk yang isinya kira-kira begini :

” Mbak, Ayah sayaaanggg banget sama mbak Aura…”

” Tapi aku nggak sayang ke Ayah. Aku sayangnya ke Ibu…”

” Kenapaaaa…? Kan Ayah sayang ke mbak Aura..” (bapaknya mulai ngotot)

” Soalnya kulit Ibu putih….”

…………………………………. P-E-D-I-H…………………………………

Muahahaha….!!!

Malangnya nasibmu, Mas… di bully sama anak sendiri… :mrgreen:

IMG_20130323_161353

.. dan meskipun sudah dibikin sakit hati, beliau tetep telaten ngolesin caladine ke kulit anak gadisnya… πŸ™‚

... dan dengan senang hati membantu menyelesaikan cooking mama... ^_^

… juga dengan senang hati membantu menyelesaikan game cooking mama… πŸ˜‰

Selain pengertian yang luar biasa itu: dengan sukarela membantu mencuci baju, menyapu+mengepel lantai, mencuci piring, mijitin kakiku (???), cara manismu memperlakukan anak-anak kita adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuat cintaku mentok padamu, Mas… πŸ˜€

… dan kira-kira, kalo tampilan bapaknya garang begini, nanti ada nggak ya, cowok yang berani ngapelin anak gadisnya..? πŸ˜€

Been there done that

Waktu kemaren baca kenyinyiran Noni, saya senyam senyum sendiri. Soalnya isi postingan itu: sayaaaaa, banget. Ehm, nggak semua, sih. Punten, ku copy paste item-item kenyinyiranmu disini ya, Mrs. Nowak... Kamu kan baik…. πŸ˜€

01. Laki-Laki Bawain Tas Pasangannya

Batas toleransi saya: kalo sudah suami istri, nggak masalah. Apalagi kalo si istri udah ribet pegang bayi/anaknya/bawa-bawa belanjaan (saya lebih seneng liat suami bawain belanjaan sih, daripada bawain tas istrinya -belanjaan rumah tangga ya, bukan belanjaan macem tas, make up dan sepatu cewek-Β  πŸ˜€ )

Menurut saya, dalam pernikahan kedudukan suami istri itu sama aja, kok. Nggak ada yang lebih tinggi, nggak ada yang lebih rendah. Kan katanya istri itu diciptakan dari tulang rusuk suami, jadi kenapa juga suami males bawain tas istrinya, wong kalo di rumah si istri juga nggak segan nyuci mobil suaminya… *bukan curcol* πŸ™‚

Yang kurang sreg: kalo masih pacaran.Β  Wuidddiiih, nanti dulu laaaahhh. Nggak enak diliatnya, kakaaakkk…! πŸ˜† Oh ya, 1 lagi: saya nggak suka liat anak SMP/SMA yang cium tangan cowoknya. Uuuuhh, nggaaaakkk banget! Ehm, kalo mbak-mbak/mas-mas yang udah mature dan siap nikah sih mungkin masih oke lah, ya. Walopun teuteuuuppp, saya lebih seneng cium tangan cowok kalo udah jadi suami… πŸ™‚

02. Naik Motor Dan Si Anak Tanpa Helm

Batas toleransi saya: Zero! Nggak ada toleransi untuk yang satu ini. Saya paling benci liat anak kecil naik motor nggak pake helm. Bukan benci ke anaknya, saya sebel ke orangtuanya. Nalarnya dimana…? Kalo ada apa-apa, berani nanggung resikonya…? Dan sayangnya, tingkat toleransi Polisi kepada biker2 yang ngeboncengin anak-anak sekolah tanpa helm di jalan raya itu justru tinggi sekali, loh! Sok, liat. Pernah nggak, liat polisi pagi-pagi nilang pengendara motor yang ngeboncengin anak sekolah (bahkan kadang sampe 2-3 bocah) yang nggak pake helm..? Padahal jalannya nyelap nyelip sambil ngebut. Di Bandung? Saya belum pernah liat sama sekali! 😦 Please deh ya pak polisi. Ditilang dong itu, anak-anak yang naik motor tanpa pengaman kepala. Kan demi kelangsungan hidup generasi penerus bangsa kitaaaaa…!*kibar2 bendera merah putih*

03. Buang Sampah Sembarangan Dari Mobil Atau Rumah

Batas toleransi saya: NOL juga. Aksi buang sampah di jalanΒ seenaknya menunjukkan di tingkat mana sebenernya manner seseorang itu berada.

04. Nyokap Pake Jilbab Gak Bener

Batas toleransi saya: Emang harusnya sih nggak ada toleransi ketika seorang muslimah sudah memutuskan untuk menutup auratnya, ya. Aturan buka tutup aurat itu kan sudah sangat jelas. Sejak pulang haji tahun 2007 lalu, Alhamdulillah ibu saya total banget tutup auratnya. Anak-anaknya lewat, deh… termasuk saya. Ahem! :mrgreen:Β  Jadi mau nggak mau saya musti ngaku, dulu saya juga suka pake kaos lengan pendek kalo belanja di tukang sayur yang lewat di depan rumah. Walopun pake jilbab yang lebar banget, kalo mau jujur, tetep aja ada bagian lengan yang keliatan, walopun dikiiiittt banget. Well, itu dulu kok. Sekarang… Saya lagi BARU MULAI latihan pake kaos kaki, nih! *baru mulai kok pamer* πŸ˜†

Masih banyak ibu-ibu tetangga saya yang pas belanja sayur ato nyapu jalan di depan rumahnya pake jilbab, tapi ber-daster lengan pendek, jadi saya nggak mau nyinyir soal yang satu ini, deh. *cari aman* πŸ˜†

05. Lagi Kosong Bang

Batas toleransi saya: Sori, beda sama Noni, batas toleransi saya untuk yang 1 ini lumayan tinggi. Kesel sih udah pasti. Tapi ya tinggal melipir nyari ke tempat lain, tho? Malah bagus, jadi ada alesan belanja lagi… hahaha… *ditimpuk Noni* πŸ˜†

Anyway…. akhir-akhir ini saya seriiingg banget liat kejadian yang seakan ngajak saya flashback sekian tahun ke belakang, dan ujung-ujungnya bikin saya nyengir :

  • Di Riau Junction: liat pasangan muda (keliatan dari muka dan umur bayinya) bawa diaper bag segede kapal. Saya tilik-tilik bahkan ada termos-nya! Bawa tas ke mall kayak bawa tas buat mudik. Jangan protes, saya dan Baginda Raja pernaaahhhh…!
  • Di PVJ: liat keluarga dengan 2 anak, baby sitternya 2 biji, masing-masing pegang anak satu-satu, si nyonya dan tuan melenggang jalan gandengan. Jangan komentar, saya dan Baginda Raja juga pernaaahhh….!
  • Di KFC: liat ibu-ibu nyuapin anaknya yang main di playground trus si anak kesedak dan muntah karena makan sambil loncat-loncatan. Jangan nyinyiiiirrr, saya dan Baginda Raja juga pernaaahhh…!
  • Di MTC: liat anak kecil nangis di lantai mall gara-gara orangtuanya nggak mau/nggak mampu (??) beliin mainan yang diminta si anak. Saya cuma bisa lempar senyum penuh pengertian pada orangtuanya: been there too, Pak/Bu… πŸ˜€
  • Di Rm Laksana: liat suami makan gantian sama istrinya, karena musti ada salah satu dari mereka yang jagain anaknya. Bagian yang ini juga UDAH PASTI saya dan Baginda Raja : pernaaaahhh..!
  • Di jalan raya: liat suami istri boncengan motor. Perut gendut si istri menandakan dia lagi hamil gede. Dan perhatian saya tertuju sepenuhnya kepada kantong-kantong plastik yang jumlahnya bejibun, menuhin motor bagian depan, dan tengah juga. Ish, belanjaan 2 troli dinaiikin motor semua, kayaknya. Dan tebaaaakkk, siapa yang dulu juga begituuuu…? *tutup muka* πŸ˜†

Intinya sih, menurut saya nih, hati-hati aja sama mulut dan hati kita.

Note to self: jangan menilai negatif perilaku orang lain sebelum mengalaminya sendiri. Mulut-mu adalah harimau-mu, dan hatimu adalah do’a-mu. πŸ˜€

05 Mei 2013, @ Game Master Ciwalk. Meski sudah ada 3 bocah, sampe sekarang sebagai orang tua kami mungkin masih terhitung amatir. Tapi paling tidak ngajak krucil jalan-jalan dan makan diluar ber-5 saja TANPA ART sudah tak se-seram dulu. Ada error-error dikit, tapi semuanya masih aman terkendali, kok. Boleh ya, bangga sedikit..? :D

05 Mei 2013, @ Game Master Ciwalk. Sampe sekarang masih jadi orangtua yang amatir, sih. Tapi paling tidak, ngajak krucil jalan-jalan dan makan diluar ber-5 saja TANPA ART sudah tak se-seram dulu. Ada-lah, error-error kecilnya, tapi semua masih aman terkendali, kok. Boleh ya, bangga sedikit..? πŸ™‚

05 Mei 2013 @ BMK Ciwalk. Dan walopun si bontot masih suka naik-naik kursi kalo diajak makan diluar, tapi paling tidak bapak ibunya sudah lega, bisa makan BERSAMA-SAMA tanpa harus ada yang musti ngalah nahan laper karena musti ngawasin salah satu krucil... :)

05 Mei 2013 @ BMK Ciwalk. Dan walopun si bontot masih suka naik-naik kursi, tapi paling tidak bapak ibunya sudah bisa bernafas lega, AKHIRNYA bisa makan BERSAMA-SAMA tanpa harus ada yang ngalah nahan laper karena musti ngawasin salah satu krucil. So, boleh bangga lagi…? Duh, jadi banyak dong Bu, bangga-nya..? πŸ˜†

Happy fasting, everyone! πŸ™‚

White House Down

image

Dari judul, udah langsung bisa ketebak isi-nya. Dan meskipun ide ceritanya sama persiiiiisss dengan Olympus Has Fallen, (sebenernya masih rada heran, sih… kok bisa ya, 2 film mengangkat tema yang sama, dalam waktu yang nyaris bersamaan?) tapi saya lebih suka liat White House Down.

Menurut saya film ini lebih rasional, lebih manusiawi, dan saya suka banget dengan kelucuan2 tak terduga yang berhasil di sisipkan. Efeknya nggak overload, nasionalisme yang ditunjukkan pas, sisi patriotiknya juga nggak berlebihan. Ibarat sayur, semua bumbunya sesuai takaran. Nggak kurang, nggak lebih. Pokoknya, me likeeeeyyyy! πŸ™‚

Nah, jadi gimana… saya udah mirip kritikus film, belum…? *dilempar roll film* πŸ˜†