Ibu bekerja: boleh G4L4U?

  • Ibu rumah tanga= IBU yangย  bekerja DI DALAM rumah
  • Ibu bekerja= IBU yang JUGA bekerja DI LUAR rumah
  • Ibu labil? Ya campuran keduanya, dong! *termasuk yang ngetik*ย 

*ketiga pengertian diatas tentu saja berdasarkan primbon Baginda Ratu abal-abal, yes? ๐Ÿ˜†

ilustrasi pinjem dari sini

ilustrasi pinjem dari sini

Ini sekaligus sebagai bentuk pernyataan ketidaksetujuan saya sama istilah full time mother. Menurut saya, jadi ibu itu murni anugrah. Well, yeah. Kalo ada yang menganggap itu musibah: saya ikut prihatin. Tapi yang jelas, Ibu itu bukan profesi. Jadi sudah lah, cukup berhenti di istilah menjadi IBU saja. Jangan pake embel-embel full time segala. Situ mau, kalo suatu saat dikasih kesempatan bekerja di luar rumah, trus dipanggil part time mother? Hihihi.. *ngikik usil*

Jurnal ini harusnya dibuat begitu selesai baca postingannya si neng Feni Besinikel yang ini. Apadaya, ngumpulin energi buat ngetiknya aja ternyata makan waktu, loh! *sok sibuk alert* ๐Ÿ™‚

Waktu di tahun 1997 dulu memutuskan untuk kuliah di sekolah kedinasan, terus begitu lulus menjadi CPNS, lalu 2 tahun kemudian (eh, bener nggak ya, 2 tahun? *mendadak ragu* ) menjadi PNS, saya sungguh nggak pernah ngebayangin bahwa suatu saat, menjadi ibu yang bekerja di luar rumah ini bakal menjadi salah 1 kegalauan saya. Ya lah, jangan cuma galau masalah nyekolahin anak di sekolah swasta/negeri, atau galau masalah biayanya, atau galau soal rumah idaman di buah batu regency, atau galau masalah bisa nggak, ganti si item sama new CRV, atau galau berani nggak, beli SK II—> yang ini beneran makin ngaco ๐Ÿ˜†

Kemaren, salah seorang teman menceritakan betapa katanya, sang istri ngiri sama temen-temen kantor wanita suaminya (err, berarti termasuk saya?) karena bisa kerja dan menghasilan duit sendiri.

Ookaaayyy… Saat itu juga, saya langsung ngakak. Dia tahu nggak sih, kalo sejak A3 lahir, sungguh saya ngiri sama ibu-ibu yang nggak kerja di luar rumah? Yang bisa nemenin anaknya dari sejak bangun tidur sampe tidur lagi, yang bisa dengan santai nyusuin anaknya (apa itu merah/mompa ASI? ๐Ÿ˜€ ), mandiin, makein baju, nyuapin, nemenin jalan-jalan pagi di sekitar rumah, main sepeda, belanja sambil gossip-gossip kecil sama tetangga di tukang sayur (eh, nggossip, mau kecil atau gede, dosanya sama nggak sih? ๐Ÿ˜† ), trus nganterin anak sekolah, pulangnya masak, habis itu jemput anak sekolah, trus makan siang bareng anak-anaknya, lalu -kalo sedang beruntung- bisa tidur siang bareng, bangun sore mandiin mereka trus nemenin mereka belajar, ngaji, lanjut masak buat makan malem dan mandi, pake baju rapi dan wangi nungguin suami pulang dengan muka sumringah. Atau naik kelas sedikit deh, jadi ibu-ibu yang ‘cuma’ kebagian yang ‘enak-enak’ saja macem nganter anak sekolah, trus sambil nungguin mereka pulang, bisa ngupi-ngupi cantik atau nyalon sama mahmud lain karena segala macem kerjaan domestik udah ada yang beresin di rumah. Well, keduanya sama aja buat saya. Rutinitas beraroma surga. ๐Ÿ™‚

03 November 2010. Masih cuti melahirkan, dan ini lagi 'jemur' Amartha yang baru berumur 3 hari. *baru ngelahirin ya, Bu. maklum kan, kalo gendut* hahaha. Aaaahh, setelah 3 tahun berlalu, sungguh kangen masa-masa itu...

03 November 2010. Masih cuti melahirkan, dan ini lagi ‘jemur’ Amartha yang baru berumur 3 hari. *badan gendut itu karena baru ngelahirin ya, Bu* hahaha, penting dong dibahas.ย  Aaaahh, setelah 3 tahun berlalu, sungguh kangen masa-masa itu…

Sabarrrr! Mohon diingat postingan ini diketik sama em(b)ak-em(b)ak yang dari jam setengah 8 pagi sampe jam 5 sore teng, musti duduk anteng di kursi kantor. ๐Ÿ™‚

Kembali ke realita, sejak memutuskan untuk menitipkan anak-anak ke daycare dan mengerjakan semua urusan rumah sendiri, bukannya saya nggak pernah ngalamin yang namanya drama, ya. Kalo ibu-ibu lain mungkin bertragedi dengan ART, saya juga beberapa kali bertragedi dengan pengasuh di daycare. Yah, mau segimanapun deketnya hubungan kita sama mereka, tetep lah mana bisa kita sandingin kasih sayang mereka dengan kasih sayang kita ke ke anak-anak, kan? Dan sebaik-baiknya teori pengasuhan mereka, masa iya sih, lebih baik dari pengasuhan kita, orangtuanya?

Sebaik-baik pengasuhan anak adalah ketika pengasuhan itu dilakukan oleh kedua orangtuanya. ย 

Oke.

Yang itu saya setuju. Pake banget. No doubt. Bahkan untuk emak-emak tukang ngomel macem saya, yang air minum tumpah atau sedikit susu berceceran di lantai saja bisa bikin merepet 4 dimensi, yang ketika anak-anak LUPA (?) memasukkan kembali susu karton ke dalam kulkas bisa saya jadikan alasan untuk nyerocos dari A sampe Z, saya tahu banget bahwa, nggak ada perempuan lain di dunia ini yang menyayangi anak-anak melebihi saya, dan nggak ada laki-laki lain di dunia ini yang menyayangi mereka melebihi ayahnya. Jadi, rasanya patah hatiiiii sekali, waktu kapan hari itu, si tengah Aura, tanpa tendesi apapun, ngomong ke saya:

” Bu, tadi dik Amartha pup di celana, trus bu S*i marah, trus katanya dik Amartha disuruh cebok sendiri…”

What the…#$@%@%&!*&^

Marah. Sebel. Sedih. Kesal. Kecewa. Sakit hati.

Dan lalu… saya marah ke diri saya sendiri. Ibu macam apa yang menyerahkan pengasuhan anaknya yang baru berumur 3 tahun ke orang lain? Anak umur 3 tahun yang masih belajar ke toilet, yang masih belum bisa membedakan mana tangan kanan, mana tangan kiri. Yang ketika ingin tidur masih mencari-cari saya, ibunya. Yang ketika saya marah tanpa kata sekalipun, dengan perasaannya yang peka itu dia bisa segera menangkap kemarahan saya. Yang bahkan kepadanya tak segan saya minta pengertian ketika saya ingin ditinggal sendiri karena lelah? Dimana saya, saat anak saya itu dimarahi orang lain *yang bukan siapa-siapa kami* ? Dimana saya??? ๐Ÿ˜ฅ

Waktu itu, bermacam perandaian berlomba mucul di kepala saya: cobaaaaa, dulu saya nggak kuliah di sekolah kedinasan. Cobaaaaa, saya nggak kerja. Cobaaaaa, saya punya kekuatan untuk resign. Cobaaaa, setiap hari saya di rumah… Maaf, sayang! Maaaaffffff…! ๐Ÿ˜ฅ

Ketika kemudian emosi saya sudah stabil (percayalah, butuh waktu lamaaaaa untuk menstabilkan emak-emak emosian ini!) saya mikir lagi.

Apa iya, saya akan bisa bertahan hidup ‘cuma’ di seputaran rumah-sekolah anak-tukang sayur-tetangga-rumah-sekolah anak-tukang sayur-tetangga… (dan mungkin sesekali hang out dengan beberapa teman?)

Seandainya saya ditanya dalam kondisi tak sadar sekalipun, saya tahu dengan pasti jawabannya: saya nggak bisa. ๐Ÿ˜ฆ

Payah kamu, Fit! Payaaaahhhh!ย 

Dalam beberapa kali kesempatan, saya pernah terpaksa cuti dari kantor. Pernah karena daycare libur, pernah karena baginda raja diklat ke jakarta (dan saat itu saya belum biasa nyetir), pernah juga karena anak-anak sakit. Dan dari situ, saya sadar, segimana kapasitas saya sebagai ibu rumah tangga. Nol! Nggak ada yang bisa dibanggakan sama sekali. Oh yeah, saya mungkin bisa menjaga rumah tetep bersih *tatap judes A3 saat mereka bikin kotor* ๐Ÿ˜† saya juga mungkin bisa bikin beraneka macam masakan… hasil googling ๐Ÿ˜† saya bahkan, MUNGKIN bisa bikin usaha kecil-kecilan dari keisengan mantengin online shop. Huahaha…

Tapiiiii…

Apa iya, saya bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar saat saya capek? Apa iya, saya bisa menahan emosi ketika mereka berulah? Apa bisa, saya mengajak mereka untuk bekerjasama dengan kata-kata yang baik? Apa bisa, saya tidak menyakiti batin anak-anak saat kepala saya pening? Kata orang, luka di badan mudah obatnya; luka di hati,ย  siapa punya penawarnya?

Trus, lebih milih anak-anak dimarahin orang, begitu?

Ya nggaaaakkk begitu juga, dong! Mana tegaaaa?

Tapi…ย  tega ya,ย  kalo ibunya sendiri yang marahin mereka..?

……………. hening ………………….

Orang lain nggak boleh marahin mereka, tapi ibunya boleh. Begituuuuu?

……………. makin hening ……………

Nah terus sekarang gimana, Fit?

Menyeimbangkan dengan sebaik-baiknya, antara waktu di kantor sama waktu di rumah?

Kalo untuk itu, menurut saya kok terlalu mengada-ada, ya. Lah gimana, dong. Dari segi jam-nya aja, udah nggak imbang, Bu. Di kantor, melek dari jam setengah 8 sampe jam 5 sore. Berapa jam, tuh? Di rumah, jam 5 sampe… jam berapa? Meleknya loh, ya. Jam tidur jangan dihitung, dong! ๐Ÿ˜‰

Every family has their own mountains to climb and battles to fight. Begitu kan, katanya?

Dan bukannya mau mengecilkan gaji dan tunjangan yang saat ini saya terima ya, saya syukuri setiap rupiah yang saya terima setiap bulan, karena dengan begitu saya masih bisa leluasa ngatur uang yang ini buat bayar keperluan yang itu, uang yang itu buat bayar pengeluaran yang ini *macem mana duit cuma numpang lewat doang* :mrgreen: tapi bisa dibilang, memang bukan melulu uang yang saya cari, ketika saya memutuskan untuk tetap bekerja di instansi ini. Untuk orang yang berusaha mempertahankan kewarasan dalam level aman dengan cara memainkan gadget di sela-sela kesibukan mengerjakan urusan domestik dan keriweuhan ngurusin anak-anak seperti saya ini, bekerja (di luar rumah) sudah pasti termasuk terapi ampuh supaya kadar emosi tak sampai melebihi ambang normal. Bagaimana dengan niat bekerja demi mendapatkan pahala? Oh iya, saya niatkan kerja saya sebagai ibadah juga, kok. Dan khusus untuk urusan yang ini, biar saya dan ALLAH saja deh, yang tahu ya. ๐Ÿ™‚

Oh, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Ini (lagi-lagi) postingan yang gak jelas. Cuma lagi pengen curhat aja, kok. Mumpung curhat masih gratiiissssss… ๐Ÿ™‚

Advertisements

Dunia oh dunia…

Kemaren malem, saya ditraktir salah seorang temen yang beberapa minggu lalu berulang tahun, buka puasa di RM Cibiuk sebelah kantor. Nyantai serasa ke pantai, tinggal ngesot aja kesana. Baginda Raja berbaik hati menjemput the krucils ke daycare dan membawa mereka ke kantornya, sembari nunggu saya selesai bukber. Paham banget beliau, istrinya ini perlu sesekali gaul dengan geng kantor, biar nggak mati gaya, secara sehari-hari siklus hidup saya cuma kantor-rumah dan daycare anak2 doang.. ๐Ÿ™‚ Aihhhh, akhirnyaaa… setelah sekian lama, ada juga yang ngajak bukber di luar. Selama ini saya sudah cukup puas buka puasa di rumah saja. Saya memang kurang suka dengan keriweuhan di rumah-rumah makan pas jam berbuka puasa tiba. Alih-alih makan enak, yang ada bakal ngomel karena tempat penuuuhh, ngantri, rame, bising, makanan terlalu cepat dimasak jadi pas mau dimakan malah udah dingin bikin selera makan turun, belum lagi kalo tempat sholatnya nggak representatif karena kecil, sesak dan ngantriiiiii. Seneng sih, makan rame-rame, tapi kalo cuma gegara itu kita jadi nggak kebagian waktu Maghrib, kok rasanya kebangetan, ya…

Nah, kemaren itu kami makan ber-8 (reservasi dulu dong, kalo nggak ya nggak akan dapet tempat kita). Di belakang meja kami, di bagian lesehannya, ada rombongan mbak-mbak muda dan beberapa cowok gaooll gituuu deeehh.. Berbanyakan mereka. 20 orang sih kayaknya lebih. Lumayan berisik, pada cekikikan, fofotoan dan yakh, gitu lah. Khas anak muda jaman sekarang. Keliatan lah, muka2nya beda jauuuhh dengan saya. Sambil nungguin Maghrib, saya iseng merhatiin mereka satu persatu (Seus, cewek merhatiin cewek lain head to toe itu masih wajar, kan? ๐Ÿ˜† ) dan nggak lama datanglah seorang cowok gaooollll ke tempat mereka ngumpul itu… dan jreng, jreeenggg… ada seorang cewek berbaju seksi (rok mini, atasan tanpa lengan dan.. menonjol di beberapa bagian, ehemmm!!!) yang langsung histeris, dan lari secepat kilat kearah si cowok berdiri, trus… meluk leher si cowok (meluk kenceng sampe nempel-nempel ketat, pokoknya bikin yang liat jengah), dan makin bikin saya shock karena si cewek ini langsung nyiumin leher si cowok yang baru dateng itu. (ehm, kata saya sih, istri yang udah tahunan nggak ketemu suaminya aja, nggak bakalan deh, seagresif dan seheboh itu. Di muka umum loh, ya. Kalo di kamar berdua saja sih yaaaa… wajar! ๐Ÿ˜† ) Saya, akhirnya cuma bisa nyengir malu sendiri…..

Lanjut ke tadi pagi. Di daycare, pas ngedrop anak-anak. Karena pengasuh daycare belum ada yang datang dan pager masih digembok, kami nunggu aja di dalem mobil sambil liatin si tengah dan si bontot makan donat. Glek, enak ya Nak? *mulai ilang fokus* ๐Ÿ˜†

Pas lagi anteng-anteng gitu, tetiba dari arah depan mobil kami, ada rame rombongan anak-anak berumur nanggung, macem 7 sampe 14 tahun-an, lah (yang kayaknya sih baru pada selesai sholat shubuh terus jalan-jalan pagi di sekitaran situ). Tadinya saya nggak ngeh mereka bersorak sorai kenapa, sampe Baginda Raja bilang sambil nunjuk kearah depan kami:

” Bang, yang kayak begitu itu nggak boleh ditiru, ya. Yang mereka lemparin itu bukan orang gila, loh. Kalo menurut Ayah sih, dia itu pemulung..! “

Dan ketika saya liat dengan seksama, ternyata rombongan anak-anak itu sedang melempari seorang laki-laki yang duduk diam tak bergerak di pinggir jalan, sekitar 100 meter dari tempat kami saat itu,dengan batu-batu kecil, sambil ketawa2 kegirangan. Penampilan laki2 itu memang lusuh, tapi saya yakin dia bukan orang gila. Lagian emang kenapa kalo bener dia orang gila? Justru karena gila kan, makanya nggak boleh diganggu…? Yang nggak normal siapa? Yang dilempari, apa yang melempari batu? Umur mereka yang terhitung belia justru membuat semuanya kian buruk di mata saya. Dan lalu darah saya mendidih. Keluar dari mobil, kepala saya bertanduk.

” Dek, dek..!!! ” (duh, mudah-mudahan para tetangga nggak tahu suara menggelegar yang mereka denger tadi pagi itu suara ibu salah seorang siswa di daycare.. Malu, akuuuu…! ๐Ÿ˜† )

Dan mereka nengok semua kearah saya. Bingung kali, kok mendadak ada emak-emakย cantik berdiri dideket mereka dengan tampang garang dan suara bak petir menyambar dan bergetar karena nahan marah.

” Apa-apaan, ituuu…??? Dia itu manusia! Hewan aja NGGAK BOLEH dilempari begitu. Apalagi manusiaaa…???? Dan kamuuu!! (saya tunjuk anak yang badannya paling besar) Kamu harusnya tegor tuh, adik-adikmu yang lebih kecil kalo mereka salah. Bukannya malah ketawa-ketawa!!! “

Sungguh, saya marah bukan main sampe nyaris pengen nangis. Nurani saya terkoyak. Perih, banget. Sampe hari ini saya belum pernah marahin anak orang. (marah ke anak sendiri kan nggak dihitung, ya? ๐Ÿ™‚ ) Jadi ini benar2 pertamakalinya saya marahin anak orang. Banyakan pula, serombongan gitu. Ya ampun, kalian anak-anak masih ingusan, berani-beraninya ngelemparin orang yang lagi duduk-duduk nggak ngerugiin kalian apapun pake batu sebanyak itu. Mau kayak apa kalian kalo udah gede nantiiii…???

Dan mereka lalu saling dorong-dorongan. Saling menyalahkan. Dan saya belum puas:

” Kalo orangtua kalian tahu, bakal dimarahin semua kalian itu…! “ (eh, bener begitu kan, ya? Err.. atau jangan-jangan ada juga orangtua yang ngediemin perilaku anaknya itu dan menganggapnya sebagai kenakalan wajar anak-anak… ๐Ÿ˜ฆ )

Ah, entahlah. Yang jelas tadi itu saya betul-betul marah. Saya terus berdiri disitu memperhatikan mereka dengan tatapan galak sampe mereka semua bubar jalan dan bener-bener berhenti mengganggu si pemulung itu.

Aduh, maaf ya para orangtua yang anak-anaknya saya marahin tadi. Saya marah karena saya sayang ke mereka, kok. Masa depan mereka masih panjaaanggg…! Hidup ini terlalu berarti untuk disia-siakan. Lebih cepat mereka belajar caranya memperlakukan makhluk hidup yang lain, akan makin cepat pula mereka berempati dan merespon kesulitan-kesulitan yang ada di sekitar mereka. Mudah-mudahan.

Lanjut siang pas jam istirahat tadi. Saya ke Yogya Kepatihan buat belanja baju lebaran ngilangin suntuk di kantor. Luar biasa ya, mall mendekali Lebaran itu super padat. Kata salah seorang teman saya, di 10 hari pertama Ramadhan, memang mesjid yang rame. Tapi di 20 hari terakhir Ramadhan, mall-mall doonggg yang penuh sesak. ๐Ÿ˜†

Daaannn… seperti tahun-tahun sebelumnya, pemandangan yang disuguhkan bagaikan dejavu : ibu-ibu meng-ignore tangis anak-anaknya (dan sibuk memilih-milih baju); lalu ada anak yang berurai airmata karena dipaksa mencoba sendal baru (yang mungkin udah kesekian kalinya); dan bapak-bapak… kenapa pada nggak Jum’atan sih, Paakkk…? Nemenin istri belanja itu bagus, tapi ninggalin yang hukumnya wajib, kok rasa-rasanya keterlaluan ya..! (tahun lalu saya malah mergokin banyak bapak-bapak yang nggak puasa dan dengan nyamannya makan siang di foodcourt, sementara istrinya sibuk belanja di lantai bawah. Muslim lah, wong istrinya berjilbab rapi. Musafir? Perjalanan kemana? Ke mall..? Yeah, right …! *rolling eyes* )

Dunia oh duniaaaa….

Seperti apa dirimu ketika buah hatiku dewasa nanti?

Akankah masih tersisa rasa malu, saat melakukan sesuatu yang jelas-jelas dilarang agama; akankah masih ada, hasrat saling mengasihi sesama manusia, pantang menyakiti; dan apakah benar, nantinya urusan duniawiย mengalahkan kepentingan mengumpulkan sebanyak2 bekal untuk hidup yang abadi? Ah, semoga saja tidak….

02 Juni 2013, @ Riau Junction: Dunia diluar sana keras, Nak. Jika saja manusia bisa diciptakan abadi, tentu saja Ibu tak berkeberatan untuk menjadi malaikat pelindung dan penjaga kalian. Tapi kalopun Ibu tak lagi bersama kalian, semoga hanya hal-hal baik sajalah yang menyelimuti kalian...

02 Juni 2013, @ Riau Junction: Dunia diluar sana memang keras, sayang. Sangat keras. Jika saja manusia bisa diciptakan abadi, tentu saja Ibu tak berkeberatan untuk menjadi malaikat pelindung dan penjaga kalian selamanya. Tapi, kalopun Ibu sudah tak ada lagi, semoga hanya HAL-HAL BAIK saja-lah yang akan mengelilingi dan menyelimuti kalian…

Dan untukMU Yaa Allah, itu doa khususku hari ini…

Ps: dan seandainya KAU masih mempertanyakan hal baik apa yang kumaksud, itu berarti: anugerahkan kepada mereka Iman dan Islam yang tak tergerus jaman, nasib baik dan keberuntungan, istri/suami yang taat padaMU, hidup yang sejahtera dan berkecukupan, dan kalo masih boleh meminta, kumpulkan kami sekeluarga di surgaMU. Aamin…

Nikmat yang mana lagi….

... yang kau dustakan…?

Pertanyaan itu serta merta terbersit dalam kepala saya, waktuย  siang tadi -setelah beberapa minggu absen kesana- saya menengok si tengah dan si bontot ke daycare. Suasana siang di daycare lumayan rame. Hanya si bontot saya saja yang sedang tidur, jadi masih ada 8 anak lagi yang sedang aktif bermain. Dan disanalah dia, gadis kecil yang badannya tidak lebih besar dari si tengah saya -menurut bunda pengasuhnya umurnya mau 3 tahun- berdiri membelakangi saya. Hanya terdengar suara ceriwisnya yang nanya ini itu. Normal-normal saja, seperti kebanyakan anak-anak seumuran-nya yang banyak komentar tentang ini, komentar tentang itu. Kalimat yang diucapkannya terdengar sempurna, dengan artikulasi yang terdengar cukup jelas. Sama saja dengan anak-anak yang lain.ย  Tapi begitu ia berbalik, saya tercekat. Wajahnya…. Subhanallah….

Saya tahu, menilai seseorang dari penampilan fisik itu dangkal sekali. Tapi melihat seorang gadis sekecil itu, dengan *maaf* tulang hidung merengsek ke dalam, dua bola mata yang tidak berhenti berkedut, dan kepala yang nyaris selalu bergoyang, (entah karena gerakan reflek, entah memang sarafnya yang tak mau berhenti bergerak)ย  saya, benar-benar terhenyak. Drupadi. Begitu namanya. Dari cerita bunda pengasuhnya, sang ibu masih amat sangat muda, -saya belum sempat ketemu, tentu saja- dan waktu hamil Dru, begitu si gadis kecil itu dipanggil, dokter sudah memberitahu kondisi Dru kalo ia lahir nanti. Mungkin secara tak langsung dokter memberikan opsi untuk menghentikan kehamilan karena meneruskan kehamilan itu sangat beresiko sang jabang bayi lahir dalam kondisi fisik tak sempurna. Tapi sang Ibu memilih untuk meneruskan kehamilannya, dan melahirkan Dru dengan kondisi yang seperti sekarang. Allahu Akbar…

Menurut cerita bunda pengasuhnya, mata kanan Dru saat ini adalah mata buatan. Kalo umurnya sudah mencukupi, akan dilakukan operasi cangkok mata. Gustiiiiii….! Hanya dengan membayangkannya saja bulu kuduk saya meremang. Operasi cangkok mata untuk sang gadis kecil kita?ย  Oh, My GOD! ๐Ÿ˜ฆ

Sungguh, hati saya trenyuh, sekali. Trenyuh dengan kebesaran hati sang ibu menerima kondisi Dru, walopun dari awal dokter sudah mengingatkan, dan itu artinya sebenarnya ia bisa saja memilih untuk tidak melahirkan Dru. (Baiklah, tidak usah memperdebatkan masalah ini, karena ujung-ujungnya akan sama saja dengan perdebatan ASI-Sufor, persalinan alami-cesar, ibu rumah tangga-ibu bekerja, endesbre, endesre…) Dan hingga detik ini saya masih belum bisa membayangkan seandainya saya di posisi ibunya Dru waktu itu, dan di posisinya sekarang, dan di posisinya nanti. Entah apa yang akan terjadi dengan sumbu sabar *pinjem istilahnya si Mamak 3G* saya yang pendek ini. Yang jelas, saat ini saya hanya bisa mengucap hamdallah, dikaruniai 3 anak yang sempurna fisiknya. Walopun kadang ke’aktif’an mereka bikin pening kepala, walopun kadang suara berantem mereka bikin kepala nyut-nyut-an, walopun kadang jutaan pertanyaan seringkali mereka lontarkan justru saat tubuh saya nyaris tak bisa digerakkan karena sudah over load … ๐Ÿ™‚

Karena kalo saja -sekali lagi, kalo saja- ALLAH berkehendak, IA cukup menggeser satu saja, entah saraf yang mana saja dari jutaan saraf di tubuh mereka, dan… sim salabim, hanya IA yang tahu akan seperti apa nanti jadinya fisik dan psikis mereka. Ah, Mama Drupadi… aku salut padamu, dan dengan kesabaranmu itu, mudah-mudahan Drupadi menjadi ladang amal buatmu, dan menjadikanmu (calon) penghuni surga. Amiiinnnn…

Jadi… mari diingat-ingat lagi… nikmat dari-NYA yang mana lagi yang sudah kita dustakan…?

Little celebration

Kadang-kadang, sebagai orangtua kita justru sangat tersentuh saat the krucil minta sesuatu dengan suara pelan, lembut dan nyaris tak terdengar. Seperti beberapa bulan lalu, waktu si genduk aka si tengah aka Mbak Aura di sounding tentang ulang tahunnya yang ke-4 tanggal 05 Oktober ini, dengan suara pelan ia minta ke saya:

” Bu, Auwa (sebenernya udah bisa ngomong r, cuma kok masih sering lupa, ya?) mau ulang tahun di sekolah… “

Dan begitu di-iya-kan, doski langsung super ceria, mata berbinar-binar, dan dengan antusias minta boneka princess di kue ulang tahunnya, dan rumah barbie, dan jam tangan, dan helm angry bird (????)ย  sebagai hadiah ulang tahunnya.

Saya dan Baginda Raja memang selalu berhati-hati dengan hal-hal yang menyangkut per-ulang tahun-an the krucil ini. Bukan apa-apa. Selain tidak ingin terjebak dalam stigma bahwa ulang tahun=pesta=banyak kado=banyak hadiah, kami juga ingin menanamkan pengertian bahwa it’s okay kok, ulang tahun tanpa pesta; tak masalah juga, ulang tahun tanpa kado; bahwa nggak apa-apa, ulang tahun tapi nggak ada kue.

Tapi meskipun begitu, sebagai orang tua yang seneng liat anaknya seneng -tentu saja- saya lega waktu Baginda Raja meng-iya-kan proposal saya untuk mengadakan syukuran ulang tahun si genduk di sekolahnya. Kenapa di sekolah? Karena di rumah doski kan gak punya banyak teman sebaya. Moso’ iya, ngundang anak tetangga yang udah pada SMP dan SMA itu..? ๐Ÿ˜€

Anyway.. secara kilat syukuran itu dipersiapkan dari hari Rabu siang, tanggal 03 Oktober, dengan bantuan 5 orang guru di Himyah (yang baik-baiknya minta ampun itu, alhamdulillah). Saya cuma belanja kartu undangan, balon, kertas hias seadanya, doorprize, dan selanjutnya, mereka yang mengerjakan semuanya. Dari nulisin undangan untuk 75 anak, nge-dekor ruangan dengan balon-balon dan pita-pita, ngebungkusin 15-an doorprize, ngebungkusin 75 jajanan untuk goodie bag, dan… pesen nasi kuning buat buah tangan. Saya? Cuma kebagian pergi ke Disini Bakery yang ada di Jl Cikawao situ, trus pesen kue berhiaskan little princess sesuai pesenan the birthday girl. Hari Jum’at jam setengah 11 siang dateng ke Himyah, kita tinggal foto-foto doang, deh. Bener-bener terima beres. Yeah, yeah, I know. It’s a W-O-W! ๐Ÿ˜€

Dan iyaaakkk..! Tentu saja, highlight-nya adalah foto yang terakhir ini:

Rumah barbie ini dibeli di Rumah Boneka yang di Jln. Buahbatu sana. Bahan dan finishing-nya lumayan oke, dan Bu Ati, pemiliknya, helpfull sekali.ย  High recommended, deh.

Itu foto maksa banget deh, soalnya emaknya yang pengen. Untung, si genduk masih mau senyum dikit. Hihihi..

Dan baiklah, little princess, Selamat genap 4 tahun ya. Dan walopun tanpa mahkota, kau akan selalu jadi putri kecil kami. ๐Ÿ™‚

#emaknya ngetik sambil ngumpulin bon-bon bekas belanjaan. Huhuhu..