Oleh-oleh mudik: beberapa catatan

Saya pernah baca beberapa nasehat dari Imam Al Ghozali (dalam urutan bolak-balik) yang kurang lebihΒ  berbunyi begini:

  • yang besar adalah hawa nafsu;
  • yang jauh adalah masa lalu;
  • yang berat adalah memegang amanah;
  • yang ringan adalah meninggalkan sholat;
  • yang sulit adalah ikhlas;
  • yang mudah adalah berbuat dosa;
  • yang susah adalah bersabar (kok, kalo yang 1 ini kepala saya ngangguk-ngangguknya kenceng banget, ya? πŸ˜† )
  • yang sering lupa adalah bersyukur;
  • yang singkat adalah waktu;
  • yang menipu adalah dunia;
  • yang dekat adalah kematian.

Jadi, selain keluh kesah saya di postingan mudik sebelumnya, saya mau share beberapa catatan saya selama perjalanan mudik Bandung-Banjarnegara kemaren:

1. Yang dekat adalah kematian.

Hari sabtu (10 Agustus 2013) lalu, saya pergi bersilaturahim ke rumah kakak ibu saya (pakdhe) yang rumahnya di Cilacap. Pulang sekitar jam setengah 2 siang, perjalanan kami tersendat di daerah Krukut Banyumas. Beberapa menit kemudian kami baru tahu, telah terjadi kecelakaan bis KaryaSari yang menewaskan 15 orang (termasuk 4 anak 😦 ) Dan lalu saya jadi ingat dengan quote diatas itu tadi. Yang dekat dengan kita memang kematian. Iya, maut memang Allah yang mengatur. Sudah ditentukan, kapan kita akan dipanggil kembali ke pangkuanNYA. Dan itu kan memang salah 1 rahasia BELIAU YANG MAHA BESAR, jadi tidak mungkin ada manusia yang bisa menebak, kapan malaikat maut akan datang menjemput. Tapi membayangkan seandainya saja kami satu jam lebih cepat sampai di TKP, bukan tidak mungkin kami lah yang jadi korban. Saya inget anak2 yang meninggal di kecelakaan itu. Hiiiiyyy, bulu kuduk saya meremang. 😦 Lalu sekali lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk sering-sering mengucap hamdallah, atas nikmat ALLAH yang mungkin tanpa disadari sedang diturunkan pada saya.

2. Wanita wajib perlu bisa masak (???)

Sebelumnya, mohon maaf kalo nanti ada yang rada kesinggung dengan paragraf yang ini. Punteeenn, tak ada maksud menyindir siapapun, wong soal per-dapur-an saya juga masih AMATIR, pake BANGET deh, pokoknya! πŸ™‚

Jadi, ada salah seorang sodara saya (sodara ya, bukan kakak, bukan adik. Biar aman saya nggak akan sebut korelasinya dengan saya, deh. Takut yang bersangkutan baca. Haha!) Sodara saya ini, ibu-ibu, sebut saja Bu H, umur sudah 50 tahun lebih. Beliau wanita karier. Penampilan keibuan banget. Cantik, ramah, bicaranya santun, lembut, dan sholehah. Tipikal ibu-ibu idaman banget, lah. Dan setelah bertahun-tahun ini, saya baru tahu, Beliau TER-NYA-TA nggak bisa masak, SAMA SEKALI. Lebaran tahun ini, beliau pesen ketupat dan opor ayam ke salah satu rumah makan, dan kemaren saya baru tahu, hal ini sudah jadi rutinitas beliau DARI DULU. Oke, sampe sini saya nggak mau komen lebih banyak, apalagi yang negatif.

Catatan buat saya pribadi, saat musim lebaran, dimana semua anak-cucu-menantu kumpul dan ngariung, apa sih yang bikin suasana makin komplit, kalo bukan masakan si nyonya rumah? Ibu saya, di umurnya yang 70 tahun ini, selalu dirindukan semua anak-cucu-menantu karena beliau punya banyak sekali masakan andalan. Yang terfavorit tentu saja mendoan panas yang dimakan sama cabe rawit. Lalu pecel yang rasanya TOP markotop. Terus kayak kemaren beliau masak 12 ekor gurame asam manis yang enak sampe ke kepala-kepalanya (ini pasti Baginda Raja setuju banget). Dan lalu beliau juga punya resep mendut, kue tradisional Jawa yang bahan utamanya (kalo nggak salah) tepung beras diisi sama enten-enten, gula jawa dan kelapa yang cihuyyyy banget, Resep ini sudah diturunkan kepada mbak Titi, kakak pertama saya. Dan lebaran tahun ini beliau dong yang kebagian bikin mendut… 6 kg aja loh, kakaaakkkk! πŸ˜†

Di Cirebon, saya selalu merindukan opor ayam bikinan my dearest mother in law (karena saya nggak makan daging sapi, jadi cuma opor ayam ini yang masuk ke perut saya kalo berlebaran disana πŸ™‚ ) lalu udang masak kemiri (yang resepnya udah berhasil saya warisi dong, haha, bangga! ) lalu tempe masak cabe ijo yang nampooollll banget, dan semua masakan beliau itu SELALU dikangenin anak-cucu-mantu2nya.

Menurut saya, makanan itu ibarat warisan. Ada nilai historis dan nostalgia disitu. Juga cerita, juga kenangan masa kecil, juga sentimentil pribadi yang nggak bisa dibangun dalam sekejap mata. Semua memiliki makna karena telah menjadi bagian penting dari masa lalu, dan selamanya terpatri rapi di dalam memori, dan bahkan mungkin, di alam bawah sadar kita. Masih inget kan, detail wangi, aroma dan rasa makanan ibu/nenek di masa kecil dulu, yang kemudian sangat kita rindukan saat pulang ke kampung halaman…? πŸ™‚

Catatan penting (again, untuk saya pribadi): perempuan perlu banget bisa masak. Se-enggak enak-enaknya masakan, kalo disajikan dengan penuh kehangatan dan cinta (cie, cie, cinta nih yeee..? πŸ˜† ) in shaa allah nyampenya ke perut yang makan : pasti enak. πŸ˜€

Jadi, seus… mari latihan masak! Jangan takut nggak enak. Lebih baik nggak enak sekarang, tapi syedappp di masa yang akan datang. Learning by doing. Nggak mau kan, nanti anak-cucu-mantu makan ketupat dan opor lebaran dapet beli di warung makan? *ngetik di depan kaca* :mrgreen:

Note: plissss, jangan ada yang tersinggung ya. Paragraf yang ini bener-bener subjektif sekali, loh! πŸ™‚

3. Dunia Pendidikan: (masih) sebuah ironi?

Sebut saja keponakan saya ini, A. Saya pake inisial karena saya belum minta persetujuannya, mau ceritain tentang tragedi yang dia alami di kampusnya. A adalah mahasiswa Teknik Sipil di Unsoed Purwokerto (saya nggak mau pake inisial nama kampusnya, wong kenyataannya emang terjadi disana) Bulan Maret 2013 kemaren, A ikut sidang skripsi, dan udah daftar untuk diwisuda bulan April 2013. Saya nggak tahu persis tanggal sidang dan tanggal wisudanya. Pokoknya jarak sidang dan wisuda itu sekitar sebulan doang. Nah. Euforia keluarga udah pasti terasa dari sejak si A ini nyusun skripsi, lalu sidang dan dinyatakan lulus, tinggal eksekusi wisuda. Namun entah ada badai apa, tetiba si A dinyatakan masih mempunyai 1 mata kuliah lagi yang belum diambil, jadi nggak bisa ikut wisuda.

Oke. Masih belum ngerasa aneh? Coba yang ini: A ‘dipaksa’ untuk menandatangani surat pengunduran diri dari Unsoed. Masih kurang aneh? Coba lagi ini: A harus meneruskan 1 mata kuliah yang belum diambil itu DI PERGURUAN TINGGI LAIN di Purwokerto, BUKAN di Unsoed lagi. Alasannya? Nggak jelas. Sebut saja saya tante yang membabi buta membela keponakan. Tapiiiiiii…. setahu saya, yang namanya mahasiswa ngajuin skripsi DAN sudah maju SIDANG, DAN sudah dinyatakan lulus, HARUSNYA sudah tidak mempunyai beban yang sifatnya administratif, termasuk didalamnya hutang mata kuliah. Artinya, semua mata kuliah HARUSNYA sudah terpenuhi, kan? Oke lah, mungkin (liat ya, saya masih tulis MUNGKIN) ada andil salah ponakan saya disini, karena dia nggak nyadar ada 1 mata kuliah yang belum dia ambil. CMIIW, tapiiiii… bukannya ada juga andil pihak kampus (bagian TU, mungkin?) yang nggak teliti sampe ‘meloloskan’ mahasiswa ngajuin skripsi dan maju sidang, padahal masih ada mata kuliah yang belum dipenuhi? Trus kenapa juga harus disuruh mengundurkan diri? Si A waktu itu mau aja disuruh tanda tangan, karena ketakutan semua nilai yang sudah dia punya selama kuliah di Unsoed nggak bisa dikonversikan ke PT yang baru itu. 😦

Saya pengen teriak saking marahnya pas diceritain hal ini. Mana kejadiannya udah lama pula, bulan April kemaren. Nasi sudah menjadi bubur. Mau ngadu kemana kita juga nggak tahu. Dekan dan Rektor katanya juga lagi kesandung masalah korupsi, jadi nggak bisa diharapkan bantuannya. Ke pengacara? Polisi? Diknas? Sorry to say, walopun saya PNS, tapi saya masih belum percaya sepenuhnya dengan hukum dan birokrasi di negara yang (katanya) tercinta ini.

Saya cuma pengen ngeluarin unge-uneg, mewakili kakak saya, ibu si A, yang ‘cuma’ seorang guru SD di kampung sana, yang sertifikasinya saja baru turun pertengahan tahun 2013 ini. Bapaknya, kakak ipar saya, juga guru SMP yang penghasilannya kurang lebih sama segitu-gitu-nya. Saya yang jadi saksi hidup, bagaimana orangtua si A ini hidup kembang kempis demi supaya anak sulungnya bisa kuliah di Teknik Sipil. Bayar kuliah, kost, dan biaya hidup yang nggak murah, selama kurun waktu 6 tahun lebih. Masih bersyukur lah, mereka itu hidup di kampung, belum ada kontaminasi hidup hedon, jadi gaji sejuta-dua juta juga masih bisa maksain untuk nguliahin anaknya, dengan konsekuensi hutang disana sini. Saya miris sekali. πŸ˜₯

4. Anak-anak makin besar, kita makin tua, begitu pun ibu kita.

Silaturahim ke rumah Pakdhe saya di Cilacap pas H+2 Lebaran itu sebenernya sekalian nengok Pakdhe saya yang udah 8 bulan lebih koma. Beliau ini dulunya seorang tentara, nggak pernah sakit, sehat, fit, pokoknya nggak ada keluhan kesehatan sama sekali. Mendadak di tahun 2011 beliau kena stroke, lalu tahun 2012 kena stroke yang kedua, dan sekarang berakhir koma di atas tempat tidur di rumahnya. Saya sedih liatnya. Sedih liat padhe, sedih liat budhe, juga sedih liat anak-anaknya, yang meskipun telaten merawat pakdhe, tapi kan kebayang kayak gimana beban psikis yang mereka pikul, liat bapaknya tergeletak tak berdaya begitu. 😦

Umur pakdhe dan ibu saya ini terpaut 4-5 tahun, gitu. Ibu saya juga nggak terlalu hapal. Tapi yang jelas, ibu kelahiran 05 Desember 1943, jadi umur beliau sekarang udah hampir 70 tahun. Yang bikin saya sedih, waktu kita lagi ngobrol soal kondisinya Pakdhe, tetiba ibu nyeletuk begini, “nggak tahu juga nih. Tinggal berapa tahun lagi ‘jatah’ (hidup) ibu…?”

Dan saya, juga mas Imam (kakak laki-laki yang paling dekat hubungannya dengan Ibu) langsung buru-buru memotong: “eh, jangan bilang begitu dong, Mbah. (sapaan anak-anak kami ke ibu saya). Yang penting Mbah harus jaga kesehatan dari sekarang. Harus PD Mbah bakal sehat terus, sampe nanti Andro nikah, trus Andro punya anak, trus sampe mbak Adiba (anaknya mas Imam) juga nanti punya suami… terus…. bla, bla….” saya nyerocos sampai mulut berliur-liur dengan niat menguatkan hati beliau, apadaya hati saya justru mencelos, dan mata saya tetiba jadi berair. Huhuhu… πŸ˜₯

Iya, saya sadar, anak-anak sudah makin besar, dan saya makin tua. Hanya saja, saya seringkali lupa, ibu saya juga bertambah tua.

………………………………………………………….. πŸ˜₯ ………………………………………………

Oke. Sudah cukup membahas yang sedih-sedih. Untuk penutup, boleh ya saya pajang foto-foto narsis saya selama mudik kemaren? Sebagian besar udah di pamer share di Instagram saya sih, tapi nggak papa ya, dipamerin lagi dimarih? Oh ya, buat yang punya akun di IG, kita ketemuan yuk. Temukan saya ya, @bagindaratu. Haha, UUP-ujung2nya promo- Eh, boleh dong? Kan promo di blog sendiri. *yakali* πŸ˜† Dan percayalah, kalo temen blogger yang mem-follow, udah pasti akan saya follow balik. Kalo yang jualan-jualan.. baru deh.. saya pilih-pilih. Huahaha… *no spamming* πŸ˜†

mudik8

Minggu, 04 Agustus 2013, @ RM Mergosari Cikoneng, Ciamis: jam 05 sore lebih dikit. Setelah macet parah, akhirnya si sopir tembak nggak kuat juga, teparrrr beliau sambil nungguin bedug maghrib. Biar anteng, A3 disetelin Despicable Me, dan ibunya nunggu adzan sambil… online! πŸ˜€

mudik7

Senin, 05 Agustus 2013, @ warung bakso Olala: panas terik, dan bapak ibunya cuma bisa ngiler liat mereka makan bakso dan fruit tea dingin. Kalian tega sekaliiiii…!

mudik6

Selasa, 06 Agustus 2013 @ mesjid Agung Banjarnegara: menyambangi 3 kakak saya dari ibu yang pertama. Si sulung dong, udah nggak mau ikut. Terpikat doski, sama game PS kakak sepupunya. πŸ™‚

mudik3

Rabu, 07 Agustus 2013, @ Alun-alun Banjarnegara: H-1, nyari-nyari kue kering buat suguhan tamu ibu saya. Alun-alun ini jadi satu-satunya tempat main favorit A3 selama mudik kemaren. Di Banjar nggak ada mall, kakaakkk..! Tapi saya suka dengan pohon2 rindangnya, dan macem-macem persewaan mobil2an, skuter dan kereta api disini murmer, ibunya syeneengggg…! πŸ™‚

mudik2

Minggu, 11 Agustus 2013: @ warung bakso Olala: Setelah seminggu di kampung halaman, di hari terakhir mudik AKHIRNYA bisa ngebakso juga. Sekalian main ke alun2, trus hunting oleh-oleh buat dibawa ke Bandung, pulangnya melipir dulu kemari.

mudik4

Minggu, 11 Agustus 2013, @ Alun2 Banjarnegara: sebulan puasa cuma turun 2 kg, seminggu mudik berasa langsung naik 5 kg! *gigit mendoan*

mudik5

Minggu, 11 Agustus 2013, @ jalan kampung: meninggalkan kampung halaman, sedih ninggalin ibu, sedih ninggalin kakak2 dan adik, ponakan2, sedih ninggalin pecel, sedih ninggalin mendoan… πŸ™‚

Dan setelah liat lagi foto-foto diatas, saya baru nyadar: ini foto baginda raja mana, yaaaa…??? Huahaha…. ampun, mas sayang! Kamu kok pasti ketinggalan aja, sih?Β  #sungkem lagi #mumpung masih syawal :mrgreen:

Advertisements

Oleh-oleh mudik: renungan

Saya masih jet lag pasca mudik kemaren. Ya iya, lah. Berangkat mudik ke Banjarnegara bermobil 15 jam lebih (dari normal waktu tempuh 8 jam jalan nyantai) lalu pulang dari Banjar kemaren hari Minggu jam setengah 5 sore, sukses sampe Bandung… hari Senin jam setengah 10 pagi (siang?) jadi perjalanan balik sekitar 16 jam-an sajah. 😦 Sampe rumah serasa udah jadi zombie, makanya langsung maksain tidur sekitar 2 jam (maaf ya, anak-anak. 2 jam lebih kalian ditemenin laptopΒ  demi supaya Ayah Ibu bisa mejamin mata sebentaaaarr saja). Bangun pas Dzuhur, langsung nyuapin the krucils makan siang pake… telor dadar doang (Haha, iya. Mana sempet belanja-belanja sayur apalagi masak. Masih bagus mereka nggak dikasih nugget πŸ˜† ) lalu bebersih rumah (yang debunya tebel benerrrrrr!! ), lanjut beberes cucian dan setrikaan yang menggunung dan bikin mata sepet -karena cepat ato lambat-mau nggak mau- musti dikerjain sendiri. Oleh-oleh yang dibawain ibu dan kakak-kakak saya bahkan sampe ini hari masih teronggok di pojokan dapur belum kesentuh sama sekali. Mana Selasa-nya udah mulai ngantor pula (saya cuma ngambil cuti sehari), boyong-boyong A3 karena seminggu ini daycare kan masih libur (untuuungg udah ada legalisasi untuk bawa anak ke kantor seminggu sebelum dan sesudah lebaran *cium basah logo kementerian tersayang yang mulai aware dengan problem klasik ibu-ibu pra-pasca Lebaran: pak Dirjen, aku terharu!*Β  πŸ™‚ )

Tapi tetep ya, aku capek! Oh ART, disaat seperti ini ku sungguh merindumu…. *gigit lap pel*

Anyway, cerita komplit soal mudik ke Banjar kemaren tunggu baginda ratu abal-abalΒ ini back on fire aja, ya. πŸ™‚

Saya lagi pengen curhat soal kejadian yang kami alami pas perjalanan balik Bandung kemaren. Buat yang belum pernah ngerasain mudik Lebaran lewat jalur darat, let me tell you something. Terlepas dari rasa senengnya, yang namanya mudik itu beneran HECTIC. Semuanya. Ya persiapannya, ya perjalanannya, ya orang-orangnya.

Jadi, karena saking banyaknya orang yang mudik ini, semua pomp bensin (dari yang kecil sampe yang gede), semua mesjid dan mushola (dari yang keliatan bersih sampe yang ‘kucel’), semua rumah makan (dari yang punya nama sampe warung pinggiran yang entah macem mana rasanya), pokoknya semua tempat yang bisa dijadikan tempat istirahat itu pasti full sama pemudik, apalagi di jam jam kritis macem jam makan dan jam sholat. Dan tingkat kepadatan dan kemacetan yang tumpah tindih itu sepertinya berpengaruh banyak pada tingkat kesabaran orang-orangnya. Saya pernah cerita tentang perilaku orang saat mengantri di postingan saya yang ini dan sungguh tak menyangka bakalan mengalaminya lagi.

1. Ibu-ibu yang tak sabaran

TKP: pomp bensin daerah Buntu, Cilacap.

Waktu:Β  sekitar jam 10 malem.

Kronologis:

Waktu saya sampe di toilet, sudah ada ibu-ibu dengan (mungkin) anak perempuannya yang sedang mengantri di depan pintu toilet yang cuma ada 2 biji. Saya nggak tahu ya, sudah berapa lama dia nunggu disitu, yang jelas begitu saya sampe situ, si ibu ini menggedor salah satu pintu toilet sambil (setengah) teriak: “cepetan dong, lagi mandi apa lagi tidur, sihhh..?” (ya ampun, mandi tengah malem…? Yang bener saja lah, Buuuu…! ) Lalu kedengeran suara dari dalem kamar mandi: “iya, sebentar..” Dan nggak lama nongol wajah seorang ibu muda MENGGENDONG BAYI dari balik pintu toilet sambil bilang pelan yang sepenangkapan saya sih: “tunggu sebentar lagi…” Sampe situ saya yang liat cuma bisa maklum. Yah, ibu-ibu bawa bayi di kamar mandi, mana bisa kita ngarepin dia 5 detik doang di dalemnya, kan? Eh, yang bikin hati saya langsung ilfil, si ibu yang tadi nggedor pintu itu teriak lagi: “ngantri iniiiii…!” Astaghfirullah…! 😦

Saya juga bukan perempuan yang sabaran, ya. Tapi liat perempuan lain BAWA BAYI di dalam kamar mandi, rasa-rasanya kok saya nggak akan tega, komen macem-macem. Terlepas dari lama/enggaknya perempuan itu; terlepas dari kuat/nggak kuat-nya saya nahan hasrat buang hajat. Tetep, nggak tega saya komen macem-macem. Apa kabarnya, toleransi sesama perempuan…? Protes dikit masih boleh lah, tapi sepertinya cukup dilakukan dalam hati saja, deh.

Nggak lama kemudian, pintu toilet di sebelah kami terbuka, dan si ibu yang tadi nggedor pintu ini langsung masuk sambil ngomel-ngomel nggak jelas gitu. Emang nggak lama kemudian si ibu ini udah langsung keluar lagi (secepat kilat dia buang hajat itu rasa2nya cuman mau ngasih tahu orang-orang yang ngantri disitu: niiiihh, ke kamar mandi tuh harusnya secepat iniii…! πŸ˜† ) dan begitu keluar -langsung digantiin anak perempuan yang bareng dia ngantri tadi- masih sempat-sempatnya dia ngedumel lagi dengan suara kenceng bak ngomong di lapangan bola : “wong kamar mandi sebau itu kok ya masih ada, orang yang betah lama-lama di kamar mandi..???” dan saya tahu lah, kepada siapa kalimat ini ditujukan. Tak berapa lama kemudian, si ibu-anak perempuan itu pergi sambil teuteuppp ngomel-ngomel nggak jelas. Kita yang pada berdiri ngantri disitu cuma bisa saling pandang. Kikuk sih udah pasti, namanya juga denger orang ngomel nggak keruan begitu.

Nah, yang bikin kita makin kikuk adalah ketika si ibu muda yang tadi bawa bayi (dan diteriak2in itu) keluar dari toilet DAN diikuti seorang wanita tua dibelakangnya (yang kalo dari bahasa sunda yang saya denger dari percakapan mereka sih, ibunya). Astaghfirullah…. Jadi dari tadi mereka bertiga di dalam toilet? Bayangkan sendiri deh, ber-3 di dalam toilet dengan seorang bayi (BAYI, bukan BATITA) dan seorang ibu tua yang dari jalannya aja udah keliatan susah setengah mati. Sayang, si ibu tukang ngomel itu nggak pernah tahu, karena dia udah keburu pergi. Pengen liat deh, gimana raut mukanya pas liat mereka ber-3. Kira-kira, se-salting apa, ya? Eh, tapi jangan-jangan lempeng juga, nggak ngerasa bersalah ato apa…. *muka tembok*Β  πŸ˜†

2. (lagi-lagi) Ibu-ibu yang tak sabaran.

TKP: pomp bensin daerah Gentong Garut.

Waktu: jam setengah 5 pagi.

Kronologis:

Karena udah nggak kuat nahan ngantuk, akhirnya jam 02 dini hari saya dan Baginda Raja sepakat untuk istirahat dulu di salah satu pomp bensin di daerah Gentong Garut. Baginda Raja tidur di mushola, sementara saya jagain A3 dan (mencoba) tidur di dalam mobil. Lumayan, dua jam tidur tanpa gangguan. Nah, pas Adzan Shubuh, Andro bangun, dan…. ngompol, donggggg! Ya ampuuunnn…! Seumur-umur baru kali ini dia ngompol di dalam mobil. Emang sih, kemaren itu cuaca dingiiiiiinnnn banget, trus saya juga nggak tega bangunin dia untuk pipis karena keliatan pules banget tidurnya. Berhubung udah terlanjur basah, akhirnya dibawalah Andro ke kamar mandi sama bapaknya, sambil bawa handuk dan baju ganti karena kan musti ganti semua tuh sampe daleman-dalemannya. Nggak lama ketika mereka balik ke mobil, Baginda Raja cerita kalo pas mereka di kamar mandi itu pintu kamar mandi digedor-gedor sama (lagi-lagi!) ibu-ibu yang nggak sabaran. Ish! Saya yang cuma denger ceritanya aja ikutan esmoni. Buuuuu, kalo emang nggak penting-penting banget, siapa sih yang mau lama-lama di kamar mandi jam setengah 5 pagiiii…? Lagian Andro itu cuma dilap aja, karena bekas ompol kan najis, ya. Bukan dimandiin. Gila apa, mandiin anak kecil shubuh-shubuh pake air dingin….? Tapi kata Baginda Raja, ibu-ibu yang nggedor pintu itu masih tetep ngomel loh, liat yang keluar dari toilet bapak-bapak BAWA ANAK KECIL. Ya ampuuunnn, dimana naluri keibuanmu, wahai perempuan…? 😦

Ah, saya cuma bisa ngelus dada.

Apa iya, ketika kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan orang lain, SEMUA HAL yang dilakukan demi memuluskan kepentingan pribadi itu DIRASA menjadi wajar dan lumrah, meskipun itu menyakiti hati orang lain? Apa iya, sopan santun dan budaya ketimuran kita benar-benar sudah luntur terkena imbas majunya jaman? Apa iya, segala tindakan yang kita ambil sudah cukup di-logika-kan saja dan tak perlu mengindahkan sisi kemanusiaan?

Dan apa iya, sebagai manusia kita juga harus kehilangan nurani kita…? 😦

Berhati-hatilah memperlakukan orang lain, karena cepat atau lambat, kita akan menuai apa yang kita tanam… *note to self*

Β 

Mudik asyik

Kalo nggak ada halangan, in Shaa Allah, hari Sabtu/Minggu besok saya bakal mudik ke kampung halaman saya di Banjarnegara, Jawa Tengah sana. Dari Bandung -kalo lancar- bermobil sekitar 7-8 jam. KALO LANCAR. Kalo macet… ya.. cuma Allah yang tahu.. πŸ™‚ Kenapa belum memutuskan hari pastinya, ya karena memang nggak ada target sampe disana hari apa. Keinginan kami cuma 1: mudik selamat, lancar –boleh macet, tapi please yaa Allah, jangan lama-lama, yaaaa! πŸ™‚ – dan semua personel diberikan kesehatan selama dan selesai mudik. Aamiinn…! Nah, tiap kali mau mudik Lebaran gini, saya selalu inget dengan momen mudik tahun 2006 lalu. Boleh ya, saya sharing disini..? Tapi punteennn, banyak detail-detail yang mungkin udah agak lupa. Yah, namapun sudah 7 tahun yang lalu ya, Buuu…. πŸ™‚

Tahun 2006 adalah tahun kedua pernikahan saya dengan Baginda Raja, dan tahun pertama kami berpuasa dan berlebaran dengan seorang anak di tengah-tengah kami (si sulung Andromeda lahir 13 April 2006). Subhanallah, rasanya seru banget. Walopun tinggal di rumah sa’uprit (kalo kata Ibu saya, rumah kok mini banget! Ya elah Bu, rumah mini itu utangnya 15 tahun, loohhh! πŸ˜† ) dengan perabot seadanya warisan dari kostan masing-masing (err, sekarang perabotan masih seadanya juga, sih :mrgreen: )Β  dan kemana-mana masih boncengan naik motor (dan MAKSAIN pake taksi kalo pas bawa Andro aja, haha) tapi rasanya hidup indah, banget! πŸ™‚ Mulai rada pusing ya pas datang bulan puasa, karena bulan berikutnya kan Idul Fitri, dan Idul Fitri buat kami ya mudik. Ih, nggak mau lah, ngerayain Lebaran bertiga doang di Bandung. Enakan juga pulang kampung, kali! πŸ™‚

Yang bikin panik tentu saja masalah transportasi mudiknya itu. Waktu itu kami kan baru punya motor doang (kredit pulak! haha) tapi udah gaya sok-sok idealis, pengen mudik ke Cirebon dan nafsu pula mudik ke Banjarnegara. Ya emang sih, jarak Cirebon-Banjar hampir sama dengan Bandung-Cirebon, KALO LANCAR. Kalo macet, ya wassalam juga. πŸ˜† Anyway, waktu itu cuma ada 3 pilihan transportasi untuk mudik : (pesawat nggak dihitung, secara nggak ada bandara di Banjar.. dan… dari dulu saya nggak pernah berani naik pesawat! Hahaha.. *ketawa perih* πŸ˜†Β  )

1. Naik bis dari terminal Cicaheum. Nilai plus: murah, walopun ada kenaikan tarif bis pas lebaran, tapi masih cing cay, lah. Nilai minus: nggak kebayang bawa baby Andro desak-desakan rebutan tempat duduk di terminalnya. Buat yang belum pernah mudik pake bis dan umpel-umpelan senggol-senggolan dan rebutan tempat duduk , you should try! EPIC & HECTIC! Hahaha..

2. Naik kereta. Kalo nggak salah, di tahun itu belum ada kereta jurusan Bandung-Cirebon, deh. Apalagi ke Banjarnegara, wong di kota kecil saya itu nggak ada stasiun. Jadi udah pasti kereta ini dicoret dari daftar.

3. Rental mobil. Nilai plus: nyamaaannn. Nggak perlu mikir soal bawaan, bisa langsung angkut dari rumah semuanya masuuukkk! Nilai minus: duitnya, Bu. Waktu itu, tarif rental Avanza dari Bandung-Cirebon ditawarin 600 ribu. Cuma nganterin doang. Aihhhh… nyaris setengah bulan gaji saya waktu itu! Tapi asli nggak kebayang umpel-umpelan bawa baby Andro di terminal, mending kalo cuma bawa badan doang. Nah itu koper2 dan oleh-oleh, gimana, cobaaaa..? Tapi, walopun masih galau, akhirnya dengan setengah hati kami memutuskan rental mobil saja, dan ber-skenario sampe cirebon H+2 lebaran, lalu minta dijemput kakak saya nerusin perjalanan ke Banjar (minimal mobil gretong, hihi…) Soal balik ke Bandung, gimana nanti. *koboi pisan* :mrgreen:

Dan pada saat galau itulah, secara tak sengaja saya liat iklan di koran Kompas hari Sabtu/Minggu, Sariwangi (teh Sariwangi-red) ngadain undian Mobil Mudik Sariwangi (MMS). Sebagai konsumen Sariwangi yang loyal (bukan postingan berbayar ya! πŸ˜† ) saya udah langsung semangat banget ikutan. Syaratnya cuma ngisi biodata di bungkus kosong Sariwangi, beserta tempat tujuan mudik. Waktu itu saya cuma kirim 2 bungkus , yah namanya juga iseng ya, karena selain stok sabar seadanya, sepertinya saya ini juga lahir dengan keberuntungan yang cuma segitu-gitunya, jadi seumur-umur nggak pernah sekalipun menang undian/dapet hadiah apaaaa, gitu. Pokoknya nggak ada bakat dapet peruntungan di ranah per-undi-undian itu, deh.

Saya juga nggak punya bayangan macem-macem tentang hasil undian ini, karena di iklan itu memang nggak ada detail tentang hadiah undiannya. Saya bahkan nggak terlalu peduli dengan kenyinyiran salah seorang teman kantor saya waktu itu, yang bilang kalo mudik masal ya palingan naik bis rame-rame gitu doang, nggak ada yang istimewa. Iya, saya nggak peduli. Wong kalo saya nggak menang dia juga nggak akan ikut repot bareng saya, kok. πŸ™‚ Pokoknya waktu itu niat saya cuma 1: bawa baby Andro mudik nyaman dan aman.

Singkat cerita, sekian hari sejak saya mengirimkan undian itu, ada missed call beberapa kali di ponsel saya. Nggak keangkat karena waktu itu saya lagi ada di kantor, dan riweuh pisan dengan kerjaan. Pas saya telpon balik, ternyata nomor itu Unilever Call Center, dan nggak bisa ditelpon dong, karena penerima-nya mesin. Udah rada GR, jangan-jangan menang nih undian Sariwanginya. Nggak lama, nomor itu nelpon lagi… dan betuuulll…. dari Undian Sariwangi, yang mau mengkonfirmasi biodata, dan… mencocokkan nomor KTP saya. Dudulnya, hari itu KTP saya ada di Baginda Raja, saya lupa kenapa KTP saya ada di beliau, tapi kalo nggak salah waktu itu dipinjem untuk urusan KPR ke bank, deh. Saya udah rada pasrah bakalan dieliminasi, eh nggak tahunya si mbak dari Unilevernya mau telpon lagi besoknya. Ah, God bless you, mbak! πŸ™‚ Singkat kata, beneran saya termasuk salah satu dari 100 pemudik Mobil Mudik Sariwangi. Dan yang diluar dugaan BUANGETTTT adalah:

1. Angkutan yang dipake.

Tadinya udah yakin 100%, ke-100 pemenang MMS ini bakal mudik pake bis yang disediakan sariwangi. Well, jujur ya, saya nggak keberatan sama sekali, wong gratissss dan… yang paling penting, baby Andro nggak perlu desak-desakan di terminal. TERNYATAAAA…. pemenang DIPINJAMI mobil LENGKAP dengan SOPIR (ya ampun, sopir gratis di musim lebaran itu anugerah banget nggak, sih?) SEMINGGUUUUU…! *angkat dagu di depan teman kantor saya yang nyinyir itu* huahaha. Udah gitu, sebagian besar pemenang kan dapet jatahnya kijang kapsul tuh, nah saya donggggg.. kebagian kijang Innova. Diundi lagi loh, itu. Diantara puluhan pemenang, yang kebagian Innova cuma 2 apa 3 orang, gitu. *angkat dagu lagi di depan teman kantor yang nyinyir itu* :mrgreen:

Aduh, senengnya minta ampun. Kijang Innova di tahun 2006 kan nge-heitz sekaliiii. Kalo nggak dapet undian MMS ini, nggak mungkin lah, saya bisa ngerasain enaknya Kijang Innova. πŸ™‚ Oh yessss, saya beruntung banget. WAKTU ITU. Tapi, seperti komen saya di postinyan Nya yang ini, nampaknya stok keberuntungan saya udah langsung abis begitu menang undian MMS ini, deh. Asli sold out, and NO MORE restock. Lah kalo emang masih ada, kenapa dong, saya nggak pernah menang undian-undian lagi? Inget udah ratusan kali ngisi biodata di kartu undian Yogya, lah. Hypermart, lah. Carrefour, lah. Tapi mana hasilnya? Manaaaa, manaaaaa…? *gigit struk belanja* πŸ˜†

2. Uang saku

Selain mobil lengkap dengan sopir, TERNYATA semua pemenang dapet uang saku 1,6 JETI, yang kalo kata panitia sih, itu dana buat beli bensin. Later on, si uang 1,6 jeti ini BERLEBIH sekali buat kami, sampe saya masih bisa nyisain 300 ribu buat tip sopirnya yang baiiiiikkkk banget. Si sopir ini namanya Mas Wisna. Orangnya sabaarrrrr pisan. Padahal perjalanan mudik waktu itu asli macet parah dimana-mana. Udahlah saya juga beberapa kali minta berhenti karena musti nyuapin baby Andro yang waktu itu udah mulai MPASI pulak. Mas Wisna ini aliimmm banget. Selalu sholat tepat waktu, tetep puasa, walopun sebenernya ada dispensasi puasa untuk musafir yang melakukan perjalanan jauh kan, ya? Bahkan waktu kami sekeluarga berlebaran, dia masih puasa karena dia ikut jadwal Lebaran pemerintah. Ah, mas Wisna… semoga ALLAH selalu memberkatimu, dimanapun kamu sekarang berada. πŸ™‚

3. Voucher makan

Disediakan konsumsi gratisssss di beberapa rest area yang udah ditunjuk, dengan menggunakan voucher makan itu. Voucher ini cuma saya yang pake sih, secara Baginda Raja kan puasa. πŸ˜€

4. Pulsa

Dikasih pulsa 50 ribu. Gede Bu, jaman tahun 2006 itu. Kata panitianya buat kita pake kalo mau nelpon2 sopirnya. Canggih apa canggih, ituuuu…?

acara bukber sekaligus ehm, apa ya istilah pas-nya? Pokoknya disini kita dikasih tahu apa saja hak dan kewajiban kita gitu, deh. :D

acara bukber sekaligus ehm, apa ya istilah pas-nya? Pokoknya disini kita dikasih tahu, apa saja hak dan kewajiban kita gitu, deh. πŸ˜€

buka puasa bareng panitia dan pemenang lain, dan.. langsung ngambil semua hadiahnya. CASH! dan... pajak undian ditanggung panitia, dong.. Cihuy, deh! :)

buka puasa bareng panitia dan pemenang lain, dan.. langsung ngambil semua hadiahnya. CASH! dan… pajak undian ditanggung panitia, dong.. Cihuy, deh! πŸ™‚

Baby Andro, 6 bulan 8 hari. Pipinya gembil, dan... matanya sipit. Entah nurun darimana. Masih misteri sampe hari ini.. :lol:

Baby Andro, 6 bulan 8 hari. Pipinya gembil, dan… matanya sipit. Entah nurun darimana. Masih misteri sampe hari ini.. πŸ™‚

Sejak menang undian MMS ini, saya makin yakin, hidup itu tidak melulu hitungan matematis. Nggak selamanya 2+2=4. Bisa jadi, 2+2=5-1. Bisa juga, 2+2=3+1. Pokoknya jangan underestimate dengan kehidupan kita, walopun mungkin kita merasa saat ini kita berada di titik hidup yang paling rendah. Kita tidak pernah tahu apa yang Gusti Allah rencanakan untuk kita. Hidup ini ghaib. Apa yang terjadi sekian detik, sekian menit, sekian hari, sekian minggu, sekian tahun yang akan datang, tidak ada satu-pun manusia yang bisa memprediksikannya. Oleh karena itu, sudah jadi kewajiban kita untuk selalu berusaha menjadi sebaik-baik makhluk, melakukan sebaik-baik usaha, dan serahkan hasil akhirnya pada DIA yang punya kehidupan ini.Β  *efek bulan puasa* πŸ˜†

Dan setiap anak dilahirkan dengan membawa rejeki-nya masing-masing itu, saya memang udah nggak ragu lagi. Mudik tahun 2006, rejeki Andro banget, kami bisa mudik senyaman itu, gaya to the max deh, ngerasain jadi orang kaya, walopun cuma seminggu -dan di mobil ada stiker Mobil Mudik Sariwangi-nya!Β  πŸ˜† Tahun 2007, kami sudah punya si putih esteem (mobil tua, keluaran tahun 1993) yang dibeli dengan gegap gempita senengnya luar biasa sampe mungkin keliatan norak, padahal ngumpulin duitnya ngos-ngosan abissss… πŸ˜† Lalu tahun 2008 ketika Aura lahir, udah ada si item yang beli baru sih, tapi kan nyicil 3 tahuuuunnn..! (dan kepala jadi kaki, kaki jadi tangan, nafas ngik-ngik-an bayar cicilannya, hahaha)Β  Dan setelah itu, Alhamdulillah, di mudik-mudik selanjutnya soal transportasi ini udah bukan masalah lagi. *tatap sayang si item yang Agustus besok genap 5 tahun* πŸ™‚ Eh, sebenernya bakal lebih seneng lagi sih, kalo mudik tahun depan udah bisa bawa New CRV. Atau Pajero Sport. Atau Alphard, kek. Vellfire, kek. Grand Serena, kek. Hahaha… *masuk blacklist KPK* :mrgreen:

Mulai 2 tahun lalu, acara mudik lebaran ini kami gilir cinta saja. Kayak tahun kemaren, lebaran di Cirebon, Idul Adha-nya di Banjarnegara, dan tahun ini, Lebaran di kampung saya, nanti Idul Adha -In shaa Allah- di kampungnya Baginda Raja. Kenapa digilir? Pengalaman beberapa kali lebaran, tiap bolak balik Bandung-Cirebon-Banjar-Bandung atau sebaliknya: Bandung-Banjar-Cirebon-Bandung, kami selalu apes kena macet dimana-mana. Berat banget rasanya, kasihan sama 3 krucil itu. Makanya, sepakat mulai tahun kemaren bergiliran saja lah, mudiknya. Biar sama-sama nyaman. Itu, harapannya.

Jadi… untuk mudik Lebaran tahun ini, saya cuma minta diberi 3 hal saja: kelancaran, kesehatan dan keselamatan. Urutannya boleh kok, dibolak balik. Oh, nggak keberatan juga sih, kalo ada tambahan THR dari kementerian tercinta. :mrgreen:

Ah, tapi yang paling penting semoga mudik kali ini membawa berkah deh, untuk semuanya.

Bisa minta tolong bantu di-amin-i, yaaa…? Aamiinnnn…! πŸ˜€

Lebaran 2012

Catatan kecil Lebaran tahun 2012 keluarga Sefriyana:

  1. Tahun ini nggak nambah cuti, soalnya mudik ke Cirebon doang, kapok Seus, mudik sana-sini, nggak kuat sama macetnyaaaaa…!
  2. Berangkat mudik Jum’at dini hari, keluar rumah jam 01.00 teng, sampe Cirebon kota jam 03.45 teng, sahur di KFC Jl Kartini, dan itu adalah kali pertama ngajak A3 nongkrong di luar rumah jam 04 pagi. Seru!!! πŸ˜€
  3. Sampe rumah mertua tersayang jam 05.30 wib. Itu bener-bener perjalanan mudik tercepat dan terlancar di sepanjang umur pernikahan kami.
  4. Di Cirebon nggak kemana-mana, asli ngendon, don, don di dalam rumah terus. Nggak kuat sama panas, gerah plus debu-nya. Ajaib, A3 pada sehat-sehat aja, padahal selama disana mereka jor-jor-an main di luar rumah, nggak kenal waktu, trus makanan/minuman apaaaaa, aja diembat. Ya jajanan, ya minuman dingin, nggak ada kontrol. Jadi bener-bener takjub, betapa mereka tetep sehat sampe sekarang. Alhamdulillah… πŸ™‚
  5. Balik ke Bandung senin malem, dari rencana awal Selasa malem. Heran juga, kok Baginda Raja nggak keberatan saya ngajak pulang lebih cepet. Dari rumah mertua jam 08.00 malem, sampe Bandung jam 01.00 pagi. Lumayan lancar, walopun rada tersendat di Sumedang.
  6. Over all, ini asli mudik Lebaran terlancar dan ternyaman kami, secara horor banget denger cerita temen-temen yang pada kejebak macet 15 jam-lah, 24 jam-lah, bahkan ada yang 36 jam. W-O-W!
  7. In the end, saya bersyukur banget, dapet suami orang Cirebon. Mudiknya deket! Hahaha….!
  8. Happy eid Mubarak, everyone! πŸ™‚