Semalam…

Sabtu kemaren, 2 orang adik dan 3 ponakan Baginda Raja dateng dari Cirebon. Demi supaya A3 puas ketemu sama para sepupu, diputuskan untuk sementara daycare mereka diliburkan. Eksplorasi 6 bocah di satu rumah itu sungguh bikin kepala pening, ya. Meskipun dengan tambahan 2 tenaga super dari adik ipar tersayang, nyatanya kondisi rumah tetep jadi (jauh) lebih berantakan dibanding hari-hari normal, dan tentu saja waktu yang paling pas untuk membersihkannya adalah saat para krucil itu sudah pada tepar, which is pastinya diatas jam setengah 10 malem. *kretekin pinggang pake sapu* πŸ˜€

Nah semalem, entah kenapa badan saya rasanya capek, banget. Yah, biasanya capek sih. Cuma kemaren siang ceritanya saya nengok bayinya temen ke salah satu RS di daerah Padalarang sana, nyetir bolak balik sekitar 2 jam-an ternyata lumayan bikin gempor si sopir abal-abal ini. :mrgreen: Jadi semalem beres setrika, cuci baju, cuci piring, trus nyapu, pengennya sih langsung ngepel -secara saya paling geli sama lantai yang lengket- tapi apa daya badan udah nggak mau diajak kompromi. Rasanya udah rada meriang, mana A3 susah banget disuruh turun karena masih asyik jumpalitan sama sepupu-sepupunya, jadi ibunya musti pake acara teriak-teriak segala gitu deh, huhuhu.

Jam 10-an saya ajak A3 sikat gigi, naik kasur, baca buku sebentar dan lalu ajak mereka tidur. Harapannya tentu supaya ibunya yang udah lemah lunglai ini bisa ikut gabung pula ke alam mimpi. 5-10 menit kemudian, Andro sama Aura pules, les, les -pake ngorok- haha. Ya eya lah wong kalo ada sepupunya mereka nggak pernah tidur siang. πŸ™‚ Yang keukeuh bertahan cuma si bontot Amartha. Doi hayuukk ajaaa ngajak saya ngobrol. Dari curhatan tentang abangnya yang seharian itu ngeledekin, lalu soal adek Haikal *adik sepupunya* yang sering nangis, sambung soal serunya naik sepeda sama mas Rafan *anak tetangga sebelah* sampe ke pertanyaan-pertanyaan: “kenapa kalo di kamar mandi kita nggak boleh nyanyi” dan lalu lanjut ke pertanyaan biologis macem apa itu alat kelamin, dan kenapa alat kelamin anak laki-laki disebut pen*s dan alat kelamin anak perempuan disebut vag*n*. Zzzz….Β  Ngantuk, ngantuk, ngantuk!

” Dik, bobo yuk. Udah malem…”

” Tapi aku belum ngantuk, Bu…”

” Tapi Ibu udah ngantuk….”

” Tapi kan aku kangen ke Ibuuuu…”

Iya lah, Ibu juga kangen padamu, sayang. Saya (berusaha) senyum. Habis kan emang tiap malem doi bilang kangen, jadi ibarat rayuan, udah gombal semua, tuh! Haha.

” Ibu juga kangen sama dik Amartha. Tapi sekarang kita bobo, yuk…” sedetik lagi saya yakin mata saya bakal benar-benar tertutup dan jatuh dalam tidur yang pulas. Ah, bantal sudah terasa makin empuk, kasur terasa makin nyaman…

” Tapi aku masih pengen sama Ibu……” ujarnya sambil mengusap pipi saya dengan tangannya yang mungil.

Jleb. Jleb. Jleb.

Seketika hilang kantuk saya, dan mata langsung terbuka lebar, selebar-lebarnya. Dan lalu saya takjub sendiri dengan betapa dahsyatnya efek kalimat pendek itu. Mata saya mendadak basah, dan air mata berlomba keluar, jatuh tak tertahan. Seolah saya mendengar kalimat itu bukan hanya dari mulut Amartha, tapi juga dari mulut abang dan mbaknya. Kalimat simpel tapi menohok tepat di ulu hati. Entah ya. Mungkin karena saya sedang sangat capek hingga tingkat sensitivitas naik sekian level sampai ke tingkat maksimum. Mungkin juga karena *tanpa pernah saya sadari* kalimat itu pula-lah sebenernya yang selama ini coba diucapkan oleh hati kecil saya.

Kemana saja kamu selama ini, Fit?

Apa saja yang sudah kamu lewatkan dengan anak-anakmu?

Apa saja..?

Apa saja..?

Apa saja..?

πŸ˜₯

Saya ciumi dia, si 3,5 tahun saya yang kegirangan mendapati perhatian ibunya sontak tertuju sepenuhnya pada wajah kecilnya. Hilang sudah rasa kantuk, yang tersisa hanya rasa haru. Ah, Nak. Betapa ajaib dirimu. Betapa sering kepolosanmu membuat Ibumu ini malu…

03 agustus 2011. Foto nyaris 3 tahun yang lalu. Tapi melihat mata polos mereka, hati saya selalu meleleh. Selalu...

03 agustus 2011. Foto nyaris 3 tahun yang lalu. Ini salah satu foto favorit, dan hati saya selalu meleleh melihat mata mereka…

Dan terima kasih pada suasana gelap, dia tak perlu melihat air mata di pipi saya. Lalu saya nyanyikan lagu Kasih Ibu untuknya dengan lancar dan (sok) riang, meskipun dengan suara bergetar:

Kasih Ibu, kepada beta.. tak terhingga, sepanjang masa…

Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia…

Surya? Siapa? Saya? Matahari? Yang setia memberi tanpa harap kembali?

Sungguh? Benar begitu?

Ah, entahlah. Saya, tidak yakin. Sungguh. Benar-benar tidak yakin…

comments off

8 tahun

image

Hai, Bang Andro..

Tadinya Ibu pengeeen banget bikin surat cinta yang indah buatmu di ulang tahunmu yang ke 8 ini. Apadaya, hectic pindahan kantor ternyata menguras banyak sekali waktu (dan juga emosi, ehem! ) Ibu, jadi ya sudah lah, kita cukupkan saja dengan pagi-pagi membangunkanmu sambil menyetel lagu selamat ulang tahun di henpon *yang baru ibu download jam 5 pagi* lalu baca doa di deket party supplies kiriman tante Feni *kamu ternganga2 waktu Ibu bilang tulisan keren ini dikirim jauh2 dari Bogor* dan kemudian potong kue yang Ibu beli di Holland Bakery (tanpa sepengetahuanmu) lalu buka 3 kado (1 dari dik Aura, 1 dari dik Amartha dan 1nya lagi dari ayah dan Ibu) *berakhir dengan 1 kado disabotase adik bontotmu* πŸ˜†
Sesederhana itu, dan itu sudah membuat wajahmu berseri-seri. Ah, kamu memang gampang sekali dibikin senang ya, Nak! πŸ™‚

Bang, Ibu pengen kamu tahu, kehadiranmu 8 tahun lalu itu adalah bukti nyata bahwa teori manusia dan ketentuan Allah adalah 2 hal yang sangat berbeda. Dan iya, kadang2 keduanya tak seiring sejalan. Jadi ketika Ibu dinyatakan positif mengandungmu tepat sebulan setelah Ibu keguguran untuk yang KEDUA KALINYA, dan lalu dokter dengan santai bilang ” kemungkinan besar ibu akan keguguran lagi” rasanya Ibu patah hatiiii sekali. Ayahmu yang jadi saksi betapa sedih dan terpukulnya Ibu waktu itu, mengingat sudah 2x calon buah hati kami gugur sebelum tiba waktunya dilahirkan. Kamu tahu, sayang… saat itu hati Ibu pediiihh sekali. Terlebih saat kamu, calon buah hati ke-3 kami juga divonis serupa. Ah, rasanya dunia runtuh! πŸ˜₯

Tapi seiring waktu, kamu tumbuh makin besar di rahim Ibu, dan makin kuat setiap harinya, (kadang bahkan membuat Ibu meringis nyeri karena tulang ini terkena tendanganmu). Perlahan tapi pasti, kekhawatiran dan ketakutan kami pun sirna, berganti menjadi harapan besar bahwa kamu akan hadir sehat di buaian kami.

Ketika kamu lahir secara alami di 13 April 2006 *dan terbilang sangat cepat karena prosesnya kurang lebih 4 jam saja* Ibu meyakini: keajaiban itu ada, jika Allah yang menghendaki. Subhanallah…

Bang, maaf ya kalo akhir2 ini Ibu banyaaakkk sekali ngomel dan marah-marah padamu. Seandainya bekas omelan itu terlihat secara kasat mata di badanmu, entah sudah seperti apa bentuk ragawimu sekarang. Duh, hanya dengan membayangkannya saja, Ibu langsung pengen nangis!

Maaf ya Bang..
Untuk ketidaksabaran Ibu menghadapimu,
Untuk teriakan2 Ibu yang gemas dengan tingkahmu saat menggoda adik2mu,
Untuk kurangnya waktu Ibu untuk mendengar celotehan2mu,
Juga untuk kurang enaknya macaroni schootel bikinan Ibu…
Maaf.
Maaf.
Maaf.

Selamat genap 8 tahun, Andromeda Barron Falatehan Sefriyana. Dengan semua yang sudah kau lalui bersama kami, sudah sepantasnya Ibu mendoakan hanya HAL BAIK yang akan mengelilingimu di hidupmu nanti.
Oh ya.. sekarang Ibu harus katakan sesuatu : Ibu, sayang, padamu!

Peluk cium selama-lamanya,
~~~Ibu : perempuan yang masih harus terus belajar sabar~~~

Soal (latihan) memasak

Pada suatu sore di hari libur:

“Bang, Ibu bikin macaroni schootel, nih. Enak loh, kejunya banyak….”

” Mana, Bu? mana?” disahut dengan semangat sama si boss kecil.

Lalu beberapa saat kemudian.

” Gimana, bang? Enak nggak, macaroni schootel bikinan Ibu…? “

” Nggak, ah. Lebih enak yang di jual sama mamang yang keliling itu…”

Appaaaa…!!!!??? *ibunya teriak histeris*

!!!!!%$#^*&*&*%??!!!!

———-****———–

Kehidupan setelah menikah itu ternyata bikin shock. Jaman masih perawan dulu, makan dengan menu rumahan itu rasanya biasa-biasa aja, ya. Eng, saya bukan tipikal orang yang suka makan di kafe juga sih *bilang aja duitnya nggak ada, Fit* πŸ˜† cuma rasanya dari dulu nggak pernah kepikir sama sekali buat latihan masak demi terwujudnya keluarga yang sehat dengan masakan rumah gitu lah. Aih, masak? Trus ngapain dong, ada rumah makan padang dan warteg? Haha. Eh begitu ketemu Baginda Raja, nikah lalu A3 lahir, baru deh terasa makanan yang dimasak di rumah itu… mewah! Apalagi makin kesini makin sadar bahwasannya sebaik-baik makanan, yang paling baik katanya ya makanan yang dibuat di rumah. Karena pake cinta? Hohoho…

Saya nggak mau nyalahin Ibu saya yang nggak pernah nuntut saya untuk mengakrabkan diri dengan segala macam bumbu dan peralatan tempur di dapur, sih. Cuma kalo di flashback, beliau emang nggak pernah sekalipun nyuruh saya untuk belajar masak. Lah wong nyuci baju saya sendiri aja beliau nggak pernah nyuruh. Pokoknya, sampe kuliah terus kerja, saya (nyaris) nggak pernah masuk dapur. Nge-bedain merica sama ketumbar aja baru bisa kemaren… hahaha… *ngakak tengsin* πŸ˜† Dan untuuungg, dulu Baginda Raja nggak mensyaratkan calon istri-nya kudu pinter masak. Kalo iya, mungkin sampe sekarang saya masih jadi perawan. Huahahaha…

Sebenernya, saya suka ngiri liat temen kantor yang bawa makanan dari rumah buat sarapan/makan siang. Kadang suka sotoy nuduh: “istri situ nggak kerja, ya?” hahaha. Emang situ, Fit? Sarapan aja beli nasi kuning mulu, mentok-mentok ya roti isi, bersembunyi di balik ke- (sok)-sibukan kerja, tak ada waktu, tak sempat masak pagi-pagi buat bekal suami dan anak-anak? *toyor pake talenan* πŸ˜†

Trus bukannya nggak tertohok sih, pas mbak Tituk bilang “bukan licinnya setrikaan yang membuat anak-anak kangen padamu…” UHUKKKKK! KENAAAA PASSSS DI ULU HATIIIII…! >>> mewek di bawah meja setrikaan. πŸ˜†

Nah. Jadi bulat sudah tekad saya untuk memulai lagi (latihan) memasak. Yah, meskipun untuk beberapa jenis makanan sih mari serahkan saja pada ahlinya ya: ayam crispy pada KFC, pizza pada PHD, cimol dan cireng pada tukang gorengan di Buahbatu, brownis dan pisang molen pada Kartika Sari, bakso enak ya pada Bakso Enggal, lalu ayam goreng pada ayam goreng Indrawati… Nah, loh! Semua diserahkan pada ahlinya, trus kamu masak apaan dong jadinya, Fiiittt..? hahaha….

Saya udah (lumayan) sering sih bikin sop ayam, ayam goreng, capcay, perkedel, risoles *resep dari mbak Tituk tersayang* dan tidak lupa gorengan macem tempe dan bala-bala juga cingcay lah. Tapi ya jangan lupa, juri masakan saya ini kan cuma Baginda Raja sama A3 sahaja, jadi asal mereka masih mau makan (dan habis), maka saya bisa kategorikan masakan saya itu enak. *tidak meyakinkan* hahaha. Belum sampe taraf yang bisa ngebekelin Baginda Raja sama A3 sih, cuma ya pelan-pelan sedang menuju kesana. Kapanan nyetir aja dimulai dari gigi 1, yes? πŸ˜€

Tapi… emang ya, kalo mau ngenalin keluarga sama jenis makanan baru, mending dicekokinnya sama bikinan sendiri, deh. Jadi nggak kayak saya nih, si macaroni schootel yang berbahan dasar premium *dan dibuat dengan tambahan kasih sayang* kalah saing sama macaroni schootel harga 7 rebu yang dijual sama tukang keliling itu. Androooo…! Kamyuh, terlaluuuuu…!!! *unyel-unyel pake oven* πŸ˜†

makan malam pake sate ayam yang beli di deket rumah. Jenis makanan yang ribet kudu bakar2 macem ini tentu saja kita serahkan pada orang-orang madura saja ya sayang.. :)

makan malam pake sate ayam yang beli di deket rumah. Jenis makanan yang ribet kudu bakar2 macem ini tentu saja kita serahkan pada tukang sate dari madura itu saja ya sayang.. πŸ™‚

Terus gimana dengan resep warisan? Beberapa teman (laki-laki) saya mengaku menyuruh istri-nya untuk belajar caranya masak ke ibu mereka karena konon katanya nggak ada yang bisa ngalahin nikmatnya masakan ibu.Β  Terdengar sentimentil? Iya lah. Dan nggak apa-apa. Karena menurut saya, masakan Ibu itu kan emang bukan melulu makanan yang masuk ke mulut doang. Ada tetesan cinta yang sentimentil di setiap butir masakannya…. *mulai berlebihan* πŸ™‚ Jadi jangan tersinggung dong, kalo kita disuruh suami belajar masak ke ibu mertua. Itu tandanya suami percaya kita bisa masak se-enak ibu mereka, cyiiinnn…! πŸ™‚

Dan, meskipun Baginda Raja tak pernah meminta, -entah karena beliau cukup mengerti kerempongan saya, entah karena khawatir saya bakal ngambek πŸ˜† – saya dengan suka hati belajar caranya masak udang dengan resep ibu mertua, juga masak tahuΒ  cabe ijo yang jadi favorit beliau kalo pulang ke Cirebon. Eng… ada juga sih, sop dengkil. Tapi… maaf lah Mas, aku cinta mati padamu sih, tapi… ngebayangin ada kaki kambing di panci-ku kok rasanya langsung merinding ini bulu kuduk…. hahaha…

Saya bercita-cita, suatu hari nanti *entah kapan* Andro dan Amartha juga akan membanggakan masakan saya, di depan istri-istri mereka. Catet: bangga ya, bukan pamer apalagi membanding-bandingkan. Eh, cita-cita mulia kan, ini? Jadi.. bisa minta aamiin? πŸ™‚

Tentang anak ke-4 (lagi!)

Begitu ngetik judul ini langsung inget sama Mamak Sondang: kalo kita masih bolak balik membahas tentang sesuatu, itu artinya masih ada galau diantara kita. πŸ˜†

Jadi ya, telinga saya ini sebenernya udah lumayan kebal kalo ada temen yang nanya (atau ngeledek?) : kapan nih, Amartha dikasih adik? Tambah 1 lagi, Fit. Biar genap! Kayaknya lucu deh, kalo anakmu 4. Cowoknya 2, ceweknya 2. Pas, tuh! Dan seterusnya. Yah gitu kan ya, di NKRI tercinta ini. Belum nikah, ditanya kapan nikah. Udah nikah, ditanya kapan ber-anak. Udah punya anak 3, ditanya kapan punya anak 4. *tepok jidat pake pil KB* πŸ˜†

Anyway, selama ini respon saya sih tergantung banget sama tanggalan di kalender. Untuk respon di awal bulan: ketawa. Respon di tengah bulan: senyum. Respon di akhir bulan? Melotot, dong! Hahaha…

Uhm, sekarang sih kadar kekebalan kuping udah makin tinggi, seiring dengan bertambahnya usia kesadaran bahwa jumlah anak ekuivalen dengan tingkat kerepotan, dan makin tinggi tingkat kerepotan tentu saja makin meninggikan kemungkinan baginda ratu abal-abal untuk merepet dan mengomel. Begitu hukum pasarnya. Iya, kan? πŸ™‚ Nah, berhubung makin tua berarti HARUSNYA saya makin bijaksana bijaksini, maka dari itu kalo ada usulan soal anak ke-4, mari senyum saja, lah. Sudah saya putuskan untuk lebih santai nanggepin ledekan-ledekan (atau doa?) itu. Walopun kadang sanubari pengen menjerit : Yaaa situ sih enak Pak/Bu, nyuruh sini nambah-nambah anak. Tapi situ mau apa, bayarin sekolahnya? Mau, bayarin daycare-nya? Mau, ngajarin mereka baca-tulis-ngaji? Mau, ngajarin mereka soal akhlakul karimah? Mau, ngajarin gimana caranya supaya mereka aman dari pengaruh pergaulan bebas, narkoba, gaya hidup hedon, dan semua hal serem-serem itu, hah? Hah? Hah? *sewot apa curcol, Fit?* :mrgreen:

Kapan hari sebelum absen sore, saya kan jemput A3 ke daycare dan bawa mereka ke kantor, tuh. Nah ada beberapa teman *pegawai baru* yang keliatan shock-shock gimanaaaa gitu, liat 3 buntut yang ngabring di belakang saya. Ada raut wajah kaget, muka heran, lalu mengangguk-angguk penuh pengertian, bahkan sepertinya kalo nggak salah ada juga yang terlihat takjub (???) liat 3 junior saya yang lari-larian di koridor kantor. Haha, keluarga kecil tapi besar ya, Pak…? πŸ˜†

Trus ada salah 1 diantara mereka yang nyeletuk: “Tambah satu lagi, mbak. Pasti tambah seru…!”

Ya elah Paaakkk….! Seru sih seru. Cuman epic-nya itu, loh! Hahaha….

Jujur nih, sampe ini hari saya sama Baginda Raja masih belum nemu titik ekuilibrium (eh cie, jadi sekarang ngomong tentang keseimbangan pasar, Bu? πŸ˜† ) soal akan ada/nggaknya anak ke-4. Maklum ya, sebagai anak ke-15 dari 16 bersodara, saya tahu banget gimana rasa-nya punya sodara banyak. Di sisi lain, pesan sponsor dari bumer yang anaknya 4 : laki-perem-laki-perem *dan nampak ideal* juga kan masih kenceng. Secara tersirat beliau pengen kami juga ber-buntut 4 gitu, deh. Jadi sampe sekarang Baginda Raja masih cengar cengir aja tuh, kalo ada yang nyinggung-nyinggung soal adiknya Amartha. Biasanya pake ditambahin sama kedap-kedip mata-nya yang jahil itu. Huh! Anak 4? Dengan stok sabarku yang cuma segini-gininya? Ish! Nggak asyik ah, kamyuh Mas!Β  #cuma_berani_ngomong_ke_suaminya_nggak_berani_ngomong_ke_mertuanya* πŸ˜†

15 Februari 2012. Yang tengah asyik mainin dompet, yang bontot nangis histeris -lupa kenapa- dan si sulung dengan cuek niruin teriakan adiknya. Oh ya, makin banyak anak, makin tebal telinga emaknya, hahaha...

12 Februari 2012. Si tengah lagi asyik mainin dompet, si bontot nangis histeris -lupa kenapa- dan si sulung dengan cuek niruin teriakan histeris adiknya. Ibunya? Cukup ketawa! Oh iya, makin banyak anak, makin tebal juga dong, telinga emaknya, hahaha…

So far cuma Andro partner sejati yang bisa saya ajak kongkalikong. Waktu eyangΒ  Cirebon menyinggung-nyinggung soal (bakal calon) anak ke-4 ini, doi dengan enteng menjawab:

“Nggak, ah. Kalo punya adik lagi nanti aku repot…”

Laaaah, perasaan Ibu sama Ayah deh Bang, yang repot. Bukannya selama ini tugasmu cuma ngeledekin adik-adikmu doang? :mrgreen: Yang istiqomah minta adik (lagi) emang si tengah Aura. Doi rajin banget ceki-ceki, siapa tahu emaknya berubah pikiran dan memberinya 1 orang adik lagi:

” Bu, aku mau punya adek bayi…”

” Loh, kan udah ada adek Haikal… ” (Haikal ini bayi adiknya Baginda Raja yang umurnya baru 4 bulanan)

” Tapi kan aku mau punya adek bayi-ku sendiri….”

Aduh, nduk! Please deh, yaaaa… !

Terus, entah ada korelasinya atau nggak dengan kedekatannya sama mbaknya, tetiba beberapa hari lalu, si bontot mendadak nyeletuk begini:

” Bu, aku mau punya adek bayiiii…”

” Hmmm? Kan mas Amartha udah punya adek bayi. Nah itu, adek Haikal kan adeknya mas Amartha…”

” Tapi kan aku mau punya adek bayi yang kecil. Yang lucu..! Yang dari perut Ibuuuu…! ” ngomong sambil mata di nyureng-nyureng-in dan tangan ngelus-ngelus perut gendut ibunya.

Nah, loh! πŸ˜†

Maaf ya, sayang-sayangku. Saat ini Ibu udah cukup pusing dengan semua urusan rumah, printilan daycare, masalah sekolah, dan kerjaan kantor itu. Kalopun masih ada space di otak Ibu ini, udah pasti nggak akan Ibu isi dengan ide tentang anak ke-4. Mending juga fokus ke gimana caranya bisa beli SK II, ganti new CRV, sama punya rumah di Buah Batu regency sana. Huahahaha…. :mrgreen:

Calon Duta BKKBN (?)

Beberapa kali di blog ini saya cerita kalo saya adalahΒ  anak ke-10 dari 11 bersaudara dari SATU IBU dan… anak ke-15 dari 16 bersaudara dari SATU AYAH. Yup! Ibu saya mengandung dan melahirkan 11 (SEBELAS) anak. Punya saudara banyak, enak dong. Minimal kalo lebaran rameeee banget macem kumpul di kelurahan, trus kalo ada masalah kita enak lah ya, bisa gotong royongΒ  menyelesaikan. Abaikan dulu drama-drama yang terjadi. Apa kerennya keluarga, kalo tak ada drama, kan? Hahaha. Cuma, salah satu nggak enaknya bersaudara banyak -selain jatah makanan dan baju sangat minimal- πŸ˜† adalah kurangnya waktu saya untuk bermanja-manja dengan Ibu. Apalagi sejak Bapak meninggal di tahun 1983 (saat saya masih berumur 4 tahun dan adik saya baru 7 bulan), beliau harus banting tulang menjadi single parent hingga praktis tak banyak sisa waktu beliau untuk saya.

Saya nyaris tak pernah merasakan nikmatnya dimandiin, dipakein baju, disuapin, ditemenin belajar atau diajak main oleh Ibu, saking sibuknya beliau saat saya kecil dulu. Dan bukan, saya bukan mau menyalahkan ibu, kok. Hormat dan salut saya nggak akan pernah habis untuk beliau yang puluhan tahun berjuang membesarkan 16 anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun. Iya, tanpa bantuan siapapun. Nggak ada pembantu di rumah kami. Mungkin karena Ibu tak punya uang untuk menggaji seorang pembantu. Semua beliau kerjakan sendiri. Wow! Bisa? Ternyata bisa. Mana tuh, em(b)ak-em(b)ak yang suka merepet repotnya ngurus tiga anak (doang?) itu, hah? *tunjuk muka sendiri* πŸ˜† Bertahan hidup secara ekonomi dengan bermodalkan kepandaian untuk menjual padi, hasil kebun, dan… tanah warisan Bapak doang ya, Bu!Β  πŸ™‚ Jadi, meskipun bisa dibilang saya ini dibesarkan oleh kakak-kakak saya, tapi saya tak pernah lupa, siapa ibu saya.Β Tetiba inget sama neng Jihan yang sejak kecil diasuh oleh ART karena ibunya bekerja, tapi tak pernah sedikitpun dia lupa kepada siapa dia harus memanggil ”mama”—> meletin lidah ke orang yang nyinyir pada ibu bekerja :mrgreen:

Cuma ya, kalo saja boleh memilih, TENTU SAJA saya akan memilih untuk memiliki (lebih) sedikit sodara, atau bahkan jadi anak tunggal, supaya waktu Ibu lebih banyak untuk saya. SENDIRI. SEMUAAAA waktu yang beliau punya itu. Egois? Tidak. Itu buah pikiran seorang kanak-kanak yang iri liat betapa enak hidup teman-temannya yang kalo makan disuapin ibu, mandi dan pake baju ditemani Ibu, mengerjakan PR dibantu Ibu, dan hal remeh temeh lain dilakukan bersama Ibu. Tetapi, saat itu, saya -dan Ibu- memang tak punya pilihan lain. Situasi-kondisi memaksa kami harus hidup dalam segala keterbatasan. Seandainya saja ada pilihan yang lain…

Saya, nggak pernah sekalipun mendengar Ibu mengeluh tentang beratnya hidup yang beliau jalani sejak bapak meninggal dunia. Saya bahkan tak ingat sama sekali, kapan terakhir kali saya melihat beliau marah, atau ngomelin anak-anaknya yang jumlahnya lebih dari cukup untuk bikin kesebelasan sepak bola itu. Samar-samar, saya hanya ingat beliau sesekali menangis di malam hari selesai sholat tahajud. Dan biasanya, isak tangis-nya akan terdengar lebih lama di malam takbiran Idul Fitri atau Idul Adha.  Ah, cuma mengetik ini saja tetiba mata saya basah. 😦

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan perempuan berusia 70 tahun inilah, yang kepada Beliau saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran...

02 Januari 2012. Di Surya Yudha Park Banjarnegara. Dan kepada perempuan berusia 70 tahun di samping saya inilah, saya sandarkan semuaaaa kiblat saya tentang pelajaran kesabaran…

Anyway.. Kemaren sore di perjalanan pulang dari daycare, si bontot Amartha muntah-muntah. Lalu semalem badannya panaaaas, sampe susah tidur dan saya yang nemenin mau nggak mau jadi kebolak balik bangun untuk mastiin dia nggak apa-apa *ngetik dengan kepala kliyengan* 😦 Dan seperti biasa, kalo lagi nggak enak badan begitu dia makin nempeeelll ke ibunya. Maunya dikelonin, dan kalo saya gerak atau jalan sedikit, doi ngintil kemanapun saya pergi. Berhubung ada setrikaan yang harus dibereskan, saya ajak dia ke atas, jadi sambil nyetrika, saya kudu bagi konsentrasi juga menjawab dan menimpali semua ocehan penting nggak penting yang kenapa sih sayang, kalo lagi sakit malah makin banyak ocehanmuuu…? πŸ˜† Nggak lama, si tengah nyusul naik, trus TANPA DIMINTA, doi mijitin kaki adiknya yang tiduran di sofa samping meja setrikaan. Nah itu tuh, salah satu bukti betapa baiknya si tengah kami ini. πŸ™‚

Dan kemudian terjadilah percakapan yang kurang lebih isi-nya begini:

” Bu, tadi pas di daycare ya Bu, ada temenku yang bilang kalo Nay*a pacaran sama Bang Andro…”

Hahhhh? Appaaaaa…??? Saya nyaris kesenggol setrikaan saking kagetnya. Oke, tenang Fit. Muka panik tidak akan banyak membantu di saat-saat seperti ini. Tenaaangg! Tenaaanggg!

” Bu, pacaran itu apa, sih..? “

Seakan-akan belum cukup shock yang saya alami, ada suara si bontot yang menambahi. Aduh! Nggak mungkin kan, saya teriak panggil Baginda Raja dan mendisposisikan pertanyaan mereka ke beliau? Jatuh dong, harga diri saya di depan para krucils. πŸ˜†

” Ehm.. pacaran itu, buat suami istri yang udah nikah, sayang. Kalo Nay*a sama bang Andro kan belum nikah, jadi mereka bukan pacaran, tapi berteman…” cuma jawaban itu yang terbersit di otak udang saya ini.

” Ooohhh, kayak Ayah sama Ibu ya, Bu…” jawab Aura sambil senyum-senyum. Adiknya ikutan senyum.

” Iya. Kayak Ayah dan Ibu…” Fiuuuhhh. *usap keringet di dahi*

” Ehm… Suami istri itu apa sih, Bu..? “

Aduh! Kenapa kalian nggak tanya soal yang lain sih, Naaakkk…? Lagi setrika, iniiii…! Dan itulah kenapa saat ALLAH menurunkan kalian ke dalam perut Ibu, SEHARUSNYA IA kirimkan juga manual book komplit yang berisi jawaban tentang semuaaa pertanyaan ajaib kalian itu. πŸ˜†

” Suami istri itu… *ulur-ulur waktu* …. orang yang sudah menikah. Contohnya Ayah sama Ibu. Karena Ayah dan Ibu sudah menikah, jadi sekarangΒ  Ayah itu sudah jadi suaminya Ibu. Nah kalo Ibu, sudah jadi istrinya Ayah…”

Aura masih keliatan mikir.

” Ooohh… Kalo gitu, aku mah nanti nikahnya mau sama Dik Amartha aja deh, Bu… “

Ibunya pengen pingsan di tumpukan baju. πŸ˜†

” Eh, nggak boleh, sayang. Dik Amartha kan adiknya mbak Aura. Kalo kakak-adik itu, nggak boleh nikah…”

” Kenapa, Bu? Kan aku sayang sama dik Amartha…”

” Aku juga sayang sama mbak Auraaaa…” si bocah yang badannya lagi panas itu menyela sambil cengar cengir. Lalu mereka saling ketawa. Ish! Kalian ini, ya…!

” Karena mbak Aura sama dik Amartha kan kakak-adik. Satu keluarga. Kalo masih satu keluarga, berarti nggak boleh nikah..”

Keduanya masih bengong. Nampak belum paham. Oke, kudu dicari kalimat yang lain, kalo begitu

” Jadi, kalo nanti mbak Aura nikah, berarti mbak Aura akan punya keluarga yang baru, trus punya anak. Sama kayak Ayah dan Ibu, sekarang punya anak Bang Andro, Mbak Aura, sama Dik Amartha…” Kalian juga nggak boleh nikah, karena nikah dengan kakak atau adik itu sama saja dengan insest, dan insest itu dilarang oleh agama karena dosa… bla, bla, bla… Kalimat terakhir tentu cuma saya ucapkan dalam hati. πŸ™‚

” Ooohh, gituuuu…”

Saya masih kurang yakin sih, Aura beneran ngerti atau pura-pura ngerti dalam rangka menyelamatkan muka panik saya. Entah gimana pula adiknya. Tapi biasanya, doi pasti ngikut aja apa kata mbak-nya. Haha. Tapi lumayan lah, saya jadi bisa narik nafas dan ngelanjutin nyetrika.

” Ehm.. Bu… tapi nanti aku anaknya mau 2 aja, deh. Eh, nggak ding. Mau 1 aja. Iya, aku mau punya 1 anak aja…”

Eh? Apa? Saya spontan menghentikan tangan, meletakkan setrikaan di posisi berdiriΒ  dan menatap langsung mata si anak gadis. Perasaan saya kok mendadak jadi nggak enak, ya?

” Loh, kok cuma 1..?”

” Nanti, kalo anaknya 3, jadi sama kayak Ibu, dong! REPOT. Kan kalo bang Andro pengen ditemenin Ibu belajar, trus aku minta ditemenin main, trus dik Amartha pengen sama Ibu juga, Ibu jadi repot. Gimana, dooonggg…? “ lalu dia nyengir supeeerrr lebarrrrr dengan mata makin membulat lucu.

Plak, plak, plak! Perih ya, kalo ditampar anak sendiri. Perih, tapi kan mana boleh marah, Buuuu…? Coba ya, Fit. Mulai dari sekarang, di rem itu mulut lebarmu. Jangan sedikit-sedikit ngeluh repot. Sedikit-sedikit ngeluh capek. Sedikit-sedikit ngomel kerjaan rumah nggak habis-habis. Ada CCTV berjalan yang 24 jam mengawasi, loh! Lupakan sebentar kenyataan bahwa jadi ibu memang melelahkan. Ingat, apapun yang kita ucapkan, akan mereka dengar. Apapun yang kita lakukan, akan mereka lihat. Apapun yang kita keluhkan, akan mereka rasakan. Dan apapun yang kita nilai atas mereka sekarang, akan seperti itu pula-lah mereka nanti. Untuk seorang Ibu, ucapan katanya doa, ya? Jadi hati-hati dengan mulutmu. Jaga baik-baik apapun kalimat yang keluar, terutama di saat marah. Repot, ya? Emang. Ribet, ya? Iya. Tapi adaΒ  benernya juga kok, kata bu Elly Risman. Nggak mau repot…? Jangan punya anak! :mrgreen:

Duh, mbak Aura, mbak Aura. Makin lama kok kamu emang makin mirip Ibu, sih? Keren!—> bapaknya langsung protes. Woiii, ada saham ogud juga disitu, woiiii! πŸ˜†

Dan karena Ibu tahu betapa polos pikiranmu, Ibu jadi yakin kalimatmu itu bukan untuk menyindir Ibu, apalagi men-diskredit-kan ibu-ibu yang punya anak lebih dari 1. Soalnya kan masih ada ibu-ibu beranak banyak, yang tetep (bisa) hepi. Kamu kenal kan, samaΒ  Budhe Tituk yang ber-anak 4 lalu budhe Titi yang buntutnya 5,Β  dan tante El yang anaknya 6 itu? πŸ˜€

Trus, gimana dengan Baginda Ratu? Anak 3 biji, semua manis, kok. *kalo lagi manis* πŸ˜† Suami juga baik-penyayang-penuh-pengertian-sabar-rajin-mijitin: apa lagi yang kurang? Nggak ada. Alhamdulillah! πŸ™‚

Jadi.. tak apa-apa lah, Nduk. Soal jumlah anak ini masih bisa kita diskusikan lagi saat kau sudah menemukan suami yang baik dan bertanggungjawab -minimal seperti ayahmu- dan selanjutnya kita akan pikirkan bersama-sama, seberapa besar kans-mu untuk jadi duta BKKBN nanti, ya! πŸ˜†

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo bandung sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha...

suatu hari di bulan Agustus 2013. Ini pose di Miko Mall,daerah Kopo sana. Nampak ideal kan ya, walopun ber-anak 3? *asah golok buat yang bilang nggak* Hahaha…

Β 

Si genduk…

Kemaren malam, ketika saya sedang membuat telor ceplok untuk abangnya, si tengah datang merapat lalu bicara dengan nada halus sambil memilin-milin tissue di atas meja.

“Bu, kalo liat temenku bawa susu, aku suka pengen, iiiih..! ” Saya tercenung sebentar. Rasanya emang beberapa minggu belakangan ini si genduk absen bawa susu ke sekolah, tapi itu karena sebelumnya beberapa kali susu yang saya bawakan selalu dibawa pulang dalam kondisi utuh tak dibuka.

” Oh, ya? Emang mbak Aura pengen susu apa, gitu?” udah kebayang lah ya. Mau dibawa kemana hubungan kitaaaa arah pembicaraan ini. Palingan doi pengen susu yang merknya sama dengan yang dibawa temen sekolahnya—> girls! πŸ˜†

” Itu, susu strawberry. Yang warna pink, ada gambar beruangnya…” Saya senyum. Hm, nggak susah nyari susu yang itu. Banyak kok, di Indomaret.

” Oh, okay.. besok kalo ada waktu kita beli ya, mbak…”

” Iyaaa. Ehm, Bu… kapan-kapan, aku boleh bekal nasi nggak, Bu? Pake sayuran yang ada wortel sama buncisnya. Trus nanti kapan-kapan, bekel mie goreng yang ada sayurannya. Biar sehat aku-nyaaaa….” nyengir ke arah saya.

” Waduhhhh, kalo mbak Aura pengen bawa bekal nasi sama sayur ke sekolah, Ibu masaknya musti pagi-pagi sekali, dong…!” Jawaban yang bodoh, memang. Namapun ibu-ibu, sudah sewajarnya kan bangun sebelum shubuh ngurusin anak dan kerjaan rumah. Gimana sih, Fit? *getok kepala pake panci* πŸ˜†

” Eh, iya, ya. Kalo Ibu masak dulu, nanti Ibu jadi nggak bisa nyuci baju ya, Bu. Sama nyapu. Sama mandiin aku. Nanti kita jadi kesiangan…” liat, kan? Betapa pengertiannya anak perempuan saya? Anaknya yang baik kok emaknya yang bangga, sih? πŸ˜†

Saya ketawa, lalu saya usap kepalanya sekilas. Saya pikir pembicaraan kami sudah selesai, jadi saya bergerak ke arah tempat cuci piring.

” Bu, Ibu.. tadi ada temenku yang bilang bosen ke aku…”

Heh? Bosen? Ke anak gadis saya yang manis itu? Saya nyaris teriak. Maksudnya apaaaa? Kok tetiba saya jadi inget sinetron kacangan tentang suami yang bosen ke istrinya, yak? πŸ˜† Saya lalu berusaha menenangkan diri dan beberapa detik kemudian dengan nada santai bertanya,

” Maksudnya bosen gimana, mbak..?”

” Katanya: emang kamu nggak bosen apa, bekal roti terus..? “

Jederrr! Jederrrr! Jederrrrrr! *petir menggelegar di kepala*

Jadi memang selama ini kan di sekolah Aura itu sudah ada kesepakatan soal bekal murid. Senin: bawa roti dan susu, Selasa: mie goreng, Rabu: buah, Kamis: nasi lengkap dengan lauk pauk, Jum’at boleh membawa kentang goreng, sosis atau nugget. Dan nggak boleh bawa ciki-ciki-an. Duluuuu, waktu Andro masih sekolah TK disitu (dan masih ada ART) saya lumayan rajin membuat bekal untuk anak-anak sesuai jadwal. Begitu ART-less dan Andro masuk SD, ya bekal anak-anak otomatis menyesuaikan. Yang paling sering emang roti isi. Simply karena bikinnya cepet nggak pake lama, dan anak-anak (terlihat) suka dengan roti isi bikinan ibu-bapaknya. Oke, seharusnya urutan alasan-nya karena ANAK-ANAK SUKA dulu, baru karena bikinnya praktis gak pake rempong, Fit! Hahaha.

Saya bukannya tak pernah melihat ekspresi (agak) malas Aura di beberapa bulan belakangan ini, saat ia tahu saya cuma membekalinya roti isi dan susu, tapi kan naluri untuk menyelamatkan seluruh keluarga dari keterlambatan dan segala efeknya -pemotongan tunjangan untuk saya dan baginda raja dan pemotongan jam istirahat untuk Andro- membuat saya mengesampingkan hal-hal yang saya rasa masih bisa disubstitusikan dengan yang lain.Β Bekal sekolah? Mari alihtugaskan pada toko-toko kue saja. Makan siang? Ada kantin kantor. Makan malem? Ada Ayam Goreng Indrawati, tukang sate deket rumah, atau bahkan… PHD!Β  *emak koboi* πŸ˜† Jadi saya sungguh tak menyangka, masalah ‘perbekalan ke sekolah’ ini akan berpengaruh pada Aura. Pada anak perempuan berumur 5 tahun 4 bulan itu, yang -sunguh saya baru ingat- selama ini ketika menyampaian suatu keinginan ia selalu memakai kalimat-kalimat yang manis, sistematis, runut, tanpa tuntutan yang ngotot apalagi memaksa, tapi justru karena itulah ia selalu bisa memporakporandakan perasaan saya. Belum lagi pengertian-pengertiannya pada saya, juga betapa dia selalu berhasil mendinginkan suasana dan mengembalikan pikiran waras ibunya…

Lalu kemudian, separuh hati saya jatuh….

Dan beberapa detik berikutnya, mendadak saya merasa sangat malu. Malu pada anak perempuan saya itu. Malu, karena pekerjaan ringan sebatas membuat bekal sekolah-nya saja, saya (sok-sok) nggak mampu. Sok sibuk. Sok nggak sempat. Sok kebanyakan pekerjaan. Sok kehabisan waktu. Sementara, disela-sela pekerjaan kantor saya masih bisa asyik-asyik browsing, ketawa ketiwi dengan teman, ditambah lagiΒ  sampe di rumah saya masih minta jatah me time buka-buka henpon untuk online. Bisa-bisanya?! Diluar sana, anak perempuan saya satu-satunya itu (mungkin) menahan malu karena setiap hari jadi bahan cibiran teman-teman sekolahnya. Dan mungkin memendam perasaan iri melihat teman-temannya yang berbekal komplit. Dan mungkin lalu bertanya-tanya dalam hati, kalo ibu teman-temanku bisa, kenapa Ibuku nggak bisa? Apa yang salah? Sementara di saat yang sama, saya, perempuan yang suka membangga-banggakan diri jadi ibunya ini, justru se-enaknya saja minta dimaklumiΒ  dan dimengerti soal kurangnya waktu untuk mengerjakan apa-apa yang jadi hak-nya sebagai seorang anak. Yaa Allah! Hidup seperti inikah yang sudah saya berikan pada anak-anak saya?Β  Apa lagi yang sudah saya lewatkan? Ibu? Hah! Yang benar saja! Ibu macam apa…???

Iya, benar. Ibu macam apa, saya ini….. 😦

Dan malam itu, sebelum sempat menyadarinya, ternyata saya menyetrika baju dengan mata basah... πŸ˜₯ *pasti karena hormon PMS*

Maaf ya, mbak Aura. Ibu masih kurang kuat berusaha. Masih kurang ngotot untuk memenuhi hak-hakmu. Masih kurang maksimal dalam membuatmu senang. Masih sangat egois karena hanya memikirkan apa yang enak menurut Ibu. Ternyata, memang masih banyak yang harus Ibu lakukan untuk memperbaiki diri. Membantumu tumbuh sebagaimana mestinya adalah tugas Ibu. Bantu Ibu, Nduk. Selalu ingatkan Ibu, dan tolong jangan pernah menyerah pada Ibu ya…

Mungkin terdengar klise, tapi… sungguh, Ibu sangat sayang padamu! *ciyummm sampe pipi kempes* πŸ™‚

Skala prioritas: dulu dan kini…

Kalau diingat-ingat, di jaman kuliah dulu, manajemen keuangan adalah salah satu pelajaran yang nampooollll banget di kepala saya. Begitu lulus, trus kerja, trus punya duit sendiri, ternyata eh ternyata, ngatur keuangan itu susaaaah! -apalagi kalo duitnya nggak ada- πŸ˜› Pokoknya makin yakin bahwasannya, teori itu dibuat hanya untuk dipelajari, bukan dipraktekkan :mrgreen: Setelah kerja dan masih singel happy, tiap saya pengen sesuatu ya langsung beli. Pengen ganti HP, ganti. Pengen beli baju baru, beli. Pengen beli tas, beli. Eh, ini kesannya kok duit saya banyak amat, ya? Hahaha! Justru karena itu-lah makanya saya bilang, saya nggak bisa mempraktekkan teori manajemen keuangan. Secara ya, nggak sadar diri gitu, bawaannya. Nggak pake mikir-mikir dulu kalo pengen sesuatu, main hajar bela beli aja, jadi begitu tengah bulan gaji abis, ya gigit atm kosong, deh! Makan tuh, telor ceplok sama kecap tiap hari. Besar pasak daripada tiang doang sih lewat, dah! Huahaha…

Begitu ketemu baginda raja tersayang, nikah dan lalu berbuntut, pelan-pelan mulai sadar (kemampuan) diri. Mulai deh tuh, kenalan sama yang namanya skala prioritas. Mulai pelan-pelan membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Err.. ngaku dulu deh, ada kalanya saya menyarukan keinginan dengan kebutuhan, demi terpenuhinya hasrat konsumtif yang terkutuk. Ya abis saya kan masih manusia biasa. Tempat salah dan khilaf. Muahaha..  😈

Sebagai silent reader paling sejati blog cupu ini, Baginda Raja suka protes kalo saya nyinggung-nyinggung masalah SK II -yang entah udah berapa puluh kali saya curhatin dimarih- πŸ˜†

” Kalo mau beli SK II ya tinggal beli aja, Dik. Bolak-balik diomongin di blog, kayak beneran nggak mampu beli aja..! jangan malu-maluin suami, dong…! Mau, Mas beliin? Tapi pake kartu kredit, yah?” Ish! Gimana sih, Mas? Itu kan biar blog ini rada rame aja. Demi menaikkan stats, tahuuu! *langsung dipelototin* πŸ˜†

Menjadi seorang Ibu itu katanya merelakan hati dan pikiran kita berjalan jauuuuhhh di luar ragawi kita, ya? Ternyata, memang benar begitu adanya. Kalo nggak mikirin anak-anak dan suami, trus ngikutin nafsu doang, kali udah kebeli deh tuh, SK II, trus New CRV, trus rumah di buahbatu regency….Β  Hahaha. Becanda!

Kapan itu waktu ada pelatihan SDM di kantor, salah satu trainer menyuruh saya meng-urut-kan 5 prioritas dalam hidup saya. Tanpa berpikir panjang, saya jawab: “karena anak saya ada 3, maka prioritas hidup saya adalah anak, anak, anak, suami, lalu kantor…” *cium sayang baginda raja trus kedipin mata ke pak dirjen yang udah kelamaan nggak naikin tunjangan* πŸ˜†

Begitu menjadi ibu, memang ada banyaaaak sekali hal yang berubah dalam diri saya, dan terutamanya sih emang menekan ego yang ada hubungannya dengan.. pengeluaran uang. Jaman belum nikah dan punya anak, nonton dan ngupi2 cantik setiap minggu ayo-ayo aja, gamis harga 500 rebu itu kecil, upgrade henpon bisa tiap bulanΒ  *mulai sombong* πŸ˜† mana kepikir bahwa biaya sekolah itu makin hari makin meroket; mana mau saya susah-susah ngebayangin rumah macam apa yang akan ditempati saat sudah beranak pinak; mana keinget soal perlunya kendaraan roda 4 buat ngangkut para krucils nanti… pokoknya hidup itu senang-senang aja dulu, bersakit-sakit kemudian. Hahaha… Eh lah sekarang, mau ngapa-ngapain kok ya mikirnya panjaaaang banget. Kadang sampe lupa apa yang dimaui, saking kelamaan mikirnya. Yang paling epic, saya beneran udah lupa, kapan terakhir saya beli baju Lebaran. Iiiih, nggak percaya? Serius loh, ini!

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice: once for herself, and once for her child.

Sophia Loren

Sekarang, ternyata saya baik-baik saja, tuh. Malah takjub sendiri, kok ternyata bisa ya, nggak lirak lirik ponsel keluaran terbaru lagi; kok ternyata nggak masalah ya, walopun nggak pernah beli-beli tas lagi; kok ternyata nggak papa ya, nggak beli baju ber-merk; kok ternyata nggak (terlalu) susah ya, menahan keinginan pribadi demiΒ  4 kepala yang ada di rumah itu? Eh, masih agak susah sih. Terutama kalo udah menyangkut online shop, kriptonite saya itu. Hahaha…

Hidup kami dari dulu sampe sekarang kayaknya begini-begini aja. Well, ada sih, kemajuan. Tapi yah majunya dikit-dikit gitu, deh. Kemaren sempat agak shock *tapi seneng* liat temen kantor yang ber-anak 6 (oh yes, saya nggak salah ketik. ENAM anak) Padahal umurnya setahun di bawah saya. Orangnya kalem, baik, dan utamanya nggak pernah ngeluh apalagi merepet soal susahnya ngebesarin 6 (sekali lagi: ENAM!) anak. Badannya tetep langsing, pinter masak, rajin kerja, tapi juga rajin sholat Dhuha dan baca Qur’an di kantor, dan dengan gaji tunjangan kurang lebih sama dengan kita, dia dan suaminya bisa renov rumah, sekaligus kredit 2 (DUA!) mobil baru. Kredit ya, bukan beli cash. Itu kan artinya pinter benerrrr ngatur duit. —> silakan ngiri, Fit πŸ˜† Saya kenal baik temen saya ini, jadi percaya banget kalo duit yang mereka pake itu HALAAL. πŸ™‚ Nah saya? Udah bisa kredit apalagi coba, selain rumah -yang cicilannya masih 5 tahun lagi- itu? Nggak ada. Tabungan juga nambahnya nggak signifikan. Jadi, apa nih yang salah? Oke, bisa nggak ya, salahkan gaya hidup…? Hahaha…

Jadi memang penting ya cyiiinn, membuat garis pembeda yang jelas (plus tegas) di antara kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan itu berarti rumah yang sehat, aman dan nyaman—>keinginan adalah sebuah rumah besar yang cakep di Buah Batu Regency sana.

Kebutuhan itu berarti mobil yang lancar jalannya dan nggak rewel (dan nggak utang)—->keinginan adalah New CRV (warna merah marun) *kudu jelas* dan nggak utang *teutepp*

Kebutuhan terakhir adalah muka sehat tak berjerawat bermodalkan pelembab lokal yangmurahmeriahtapinggakmurahan—->keinginan tentu saja muka kinclong bak pualam dioles SK II. Hahaha….

Dear Allah yang maha Pemurah lagi Maha Penyayang, saya tak keberatan sama sekali loh, kalo keinginan-keinginan itu ENGKAU ubah jadi kebutuhan. BuatMU, tak ada yang mustahil, kan ya? Uhm, urutannya boleh kok, dibolak balik.Β  :mrgreen:

Intinya, jangan takut bermimpi, tapi tetapkan mimpi terpenting mana yang bisa diwujudkan, SAAT INI. Seribu mimpi terlalu banyak, satu kenyataan terlalu sedikit. Make it happen! πŸ™‚

Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.

Linda Wooten

Jadi… kalo ada beberapa orang yang belum punya rumah tapi memilih beli mobil baru, lalu sebagian orang lagi menghabiskan uangnya untuk bepergian ke luar negeri SENDIRI tanpa anak-anak dan suami padahal rumah aja masih ngontrak … ya… itu kan hak mereka. Jangan nyinyir lah, Fit. Kecuali kamu bisa kasih dia duit buat beli rumah. πŸ˜€ Ya kan mungkin daripada rumah nggak kebeli-beli, trus uangnya abis nggak keruan, mending dipake buat jalan-jalan ke luar negeri tiap 3 bulan sekali, atau buat ganti mobil, atau… buat sekedar beli gadget tercanggih. Sah-sah saja, kok. Kapanan katanya every family has their own mountains to climb and battles to fight. Ya, kaaannn..? πŸ˜‰

berempatFokus saja-lah sama prioritas utama-mu: siapa lagi kalo bukan mereka ber-4 ini…? πŸ˜€

Happy thursday, people! πŸ™‚