Hidup itu (tak selalu) pilihan

Akhir tahun 2012 lalu, salah seorang teman kantor saya, sebut saja namanya mas IR, kehilangan (calon) anak ke2-nya. Jadi waktu check up kehamilan, bayi yang nyaris 9 bulan dikandung istrinya diketahui sudah meninggal dunia di dalam perut, dan mau nggak mau harus segera dioperasi, demi keselamatan nyawa sang ibu. Shock? Siapa yang tidak? Saya menyaksikan sendiri betapa hancurnya mereka. Bukan cuma mereka sebenernya, kami teman kantor mas IR juga shock bukan main, karena berbulan-bulan sebelumnya kami juga sudah ikut merasakan sukacita mas IR mempersiapkan kelahiran calon anak ke2-nya ini. Acara syukuran kelahiran si (calon) bayi sudah diatur sedemikian rupa, tinggal eksekusi hari-nya. Apa daya, manusia hanya bisa merencanakan, ALLAH pula-lah yang menentukan.

Sebagai seorang ibu, saya sedih sekali melihat istri mas IR. Bayangkan, jabang bayi yang hampir 9 bulan di dalam perut -Hari Perkiraan Lahir tinggal hitungan hari- dinyatakan sudah meninggal, dan harus secepatnya dikeluarkan melalui jalan operasi. Gimana rasanya coba, pasca operasi yang (katanya) sakit minta ampun itu, si jabang bayi bukannya dipeluk, disusui dan dibawa pulang, melainkan langsung dibawa ke pemakaman..? Hiks, sungguh saya nggak bisa membayangkan rasanya. ๐Ÿ˜ฅ Later on, setelah dilakukan observasi, ternyata si calon bayi mereka itu mengidap kelainan jantung -entah apa istilah medisnya- yang mana kalo kata dokternya, seandainya si bayi ini lahirpun, hidupnya (diprediksi) tidak akan lama, mengingat kelainan jantung bawaan itu tadi. Kami juga nggak ngerti, bagaimana bisa kelainan itu tak terdeteksi di awal-awal kehamilan, padahal mereka cukup rajin periksa ke dokter kandungan. Nasi sudah menjadi bubur, dan sebagai teman saya cukup lega, akhirnya pelan tapi pasti mas IR dan istrinya bisa move on dari kejadian menyedihkan ini.

Nah, hari Sabtu kemaren, saya menemani Baginda Raja melayat ke rumah salah seorang teman kantornya, sebut saja namanya mbak IN. Putra ke-3 mbak IN yang berumur 1 tahun 2 bulan, meninggal dunia, dan secara kebetulan, JUGA karena mempunyai penyakit kelainan jantung. Kalo dari cerita Baginda Raja, kelainan ini sebenernya sudah dari tahun lalu terdeteksi, dan dokter yang memeriksa sudah menyarankan operasi sesegera mungkin. Tapi…. saya nggak tahu kenapa operasinya gagal dilakukan, saya juga (masih) nggak ngerti, kenapa kelainan jantung itu tidak terdeteksi sejak awal kehamilan. Yang jelas, saat melihat tubuh bocah sekecil itu terbujur kaku, diam tak bernafas, tak bergerak, tak bersuara, UNTUK SELAMA-LAMANYA, hati saya pediiiihhh sekali. Langsung terbayang para krucil saya. Terbayang betapa sering emaknya ini histeris ngomel dan merepet, bahkan disaat mereka ‘hanya’ melakonkan peran mereka sebagai seorang kanak-kanak. ๐Ÿ˜ฆ Hiks, apa jadinya kalo salah 1 dari mereka yang berada di posisi anak mbak IN itu..? Akankah saya bisa (terlihat) tegar, setegar mbak IN dan suaminya..? Ah, entahlah.. saya nggak bisa DAN nggak mau berandai-andai.. Nggak kuat. ๐Ÿ˜ฅ

Dan lalu di perjalanan pulang dari melayat itu, saya terllibat percakapan dengan Baginda Raja, membandingkan kejadian yang menimpa mas IR dan mbak IN ini. Seandainya disuruh memilih, pilih mana: seperti mas IR mengalami tragisnya kehilangan jabang bayiย  yang dilahirkan dalam kondisi tak bernafas, ATAU seperti mbak IN, yang diberi kesempatan melahirkan, menyusui dan membesarkan anaknya, TAPI ‘cuma’ diberi waktu setahun 2 bulan, which is not enaugh at all, yaa ALLAH..! ๐Ÿ˜ฅ

Keduanya bukan pilihan yang indah, saya tahu. Dan jujur, sampe detik ini, saya tidak mampu memilih. Sungguh. Mungkin, istri Mas IR merasa jauh lebih beruntung daripada mbak IN, karena kenangan atas si (calon) bayi ‘hanya’ sebatas pada proses kehamilan yang 9 bulan itu… tapi… bisa jadi, Mbak IN merasa jauuhhh lebih beruntung, karena bisa melahirkan, menyusui, menggendong, mengasuh putranya, dan mempunyai kenangan manis selama setahun 2 bulan yang pasti tak bisa digantikan oleh apapun. Saya menghormati dan salut sekali pada kebesaran hati mereka, karena saya benar-benar masih belum bisa memposisikan diri saya, seandainya harus menjadi salah satu diantara mereka. ๐Ÿ˜ฆ

Dan lalu akhirnya, saya dan Baginda Raja sampai pada 1 titik kesimpulan:

Bahwa benar, ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah apa-apa yang ada di diri mereka sendiri. Mau hidup senang atau sebaliknya hidup susah itu adalah pilihan. Kalo mau hidup senang, ya tinggal dikuatkan di niat-usaha-ikhtiar dan do’a-nya saja, tho? Se-simpel itu? Iya, memang se-simpel itu. Namun jangan lupa, Hidup itu TIDAK SELALU terdiri dari pilihan-pilihan. Kadang, sebagai manusia kita memang tidak bisa memilih, hanya bisa menjalani apa yang sudah ALLAH gariskan. Di sisi yang lain, yakinlah, seburuk-buruknya rencana ALLAH untuk kita, rencana itu -In shaa ALLAH- akan selalu menjadi yang terbaik, karena SEBAIK-BAIK pembuat skenario adalah DIA ALLAH SWT Yang Maha Mengetahui.

.. dan seandainya boleh memilih, aku memilih untuk bisa selalu bersama mereka ini, yaa ALLAH. Dalam sehat, sejahtera dan bahagia, DUNIA dan AKHIRAT. Aamiin...

.. dan seandainya boleh memilih, Yaa ALLAH.. aku memilih untuk bisa selalu bersama mereka ini, dalam sehat, sejahtera dan bahagia, DUNIA-AKHIRAT. Aamiin…

Jadi.. sekali lagi: nikmat ALLAH yang mana lagi, yang sudah saya dustakan..? *kumpulindosasegunung* ๐Ÿ˜†

PS: Postingan ini hanya curhat, tidak ada maksud untuk menakut-nakuti apalagi membuat galau. Buat yang udah punya anak, yuk mari Seus, kita sabar-sabar sama mereka *ngetik untuk diri sendiri* ๐Ÿ˜† Buat yang lagi hamil, jaga pikiran untuk selalu positif, in shaa ALLAH semuanya akan baik-baik saja. Dan buat yang belum hamil… uhm… musti ngasih nasihat apalagi, ya? Hayooo, bikin yang lebih cemungudhhh ya, kakaaakkk…! *elokatabikinprakarya?* :mrgreen:

Mahaguru kehidupan

Dulu, di beberapa infotainment, saya melihat betapa hebatnya perjuangan Dewi Yull membesarkan Gischa, anak perempuannya yang tuna rungu. Saya terkagum-kagum dengan kebesaran hati Dewi Yull mengasuh, mendidik dan membesarkan Gischa (dan maaf ya, saya sempat mengutuk suaminya yang kawin lagi itu! ๐Ÿ˜† ) hingga kemudian Gischa menikah, mempunyai anak, dan lalu di usianya yang masih relatif muda, dipanggil ke pangkuan ALLAH SWT. Dalam beberapa kesempatan, Dewi Yull selalu bilang, Gischa adalah mahaguru kehidupannya. Orang yang mengajarkan banyak hal mengenai ketabahan, ketahanan dan kesabaran yang tak terbatas. Meskipun ikut terharu, tapi dulu, saya masih meraba-raba apa yang sebenarnya dimaksud Dewi Yull, dan baru mengerti sepenuhnya, ketika the krucils kami lahir.

Seperti yang sudah pernah saya bilang, Andro, si sulung kami adalah pelopor. Nyaris semua yang dia lakukan udah pasti ditiru adik-adiknya. Dengan begitu, dalam rangka menjaga supaya suara orangtua selalu dalam level ‘aman’ dan seisi rumah tenang tak kena imbas buruk, beban saya yang paling utama memang mengarahkan dia untuk selalu berada di jalur yang ‘benar’. Jalur yang benar disini artinya nggak bikin emaknya manyun, ngomel, merepet, atau bahkan yang paling parah, jejeritan histeris. Nggak perlu bikin ibunya ketawa lah, (untuk kewajiban bikin ketawa ini lempar kepada bapaknya saja, haha!) nggak bikin alis ibunya makin nyureng aja, sudah cukup kok.

Ketika para juniors ‘berulah’ bikin kepala pening, sumpah deh, susahnya setengah mati menjaga supaya mata ini nggak TERLALU melotot. Dan berusaha sebisa mungkin ngomong dengan nada suara rendah kepada para bocah itu sambil mengatupkan rahang serapat-rapatnya supaya suara yang keluar nggak segahar halilintar, rasanya kok mustahil banget, ya… ๐Ÿ˜†

Pada Andro saya memang paling sering ngomel ngasih pengertian, bahwa selain harus ngantor setiap hari, saya juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga rumah selalu bersih, mencuci piring, baju, menyetrika, memasak, dan lain sebagainya. Harapannya tentu biar supaya dia mikir-mikir lagi deh, kalo mau main di tempat yang kotor, atau paling tidak, mikir ulang waktu mau berantakin semua mainannya. Harapan tertingginya sudah pasti biar adik-adiknya ngikut tertib juga, dong. Kapanan biar sekali tepuk, 2-3 anak nurut, yes? ๐Ÿ™‚ Trus tanggapan Andro kalo dikasih tahu? Cengar cengir doang, as usual, dengan bahasa tubuh tak meyakinkan yang bikin ibunya makin gemes; omongan saya yang lebih menyerupai repetan itu dimasukkin ke dalam telinga nggak, sih? Jadi, ketika suatu hari dengan inisiatif sendiri dia mengepel lantai karena saya ngomel gegara ada minuman yang tumpah, saya cukup terharu. Lupakan saja kenyataan bahwasanya proses mengepel itu harus saya ulang, namanya juga anak kelas 2 SD, ngepel lantai ya cuma bisa srak srek-srak srek doang, asal lantai basah. ๐Ÿ˜†

Lain Andro, lain adiknya. Kapan itu, ketika saya sedang baringan di atas kasur melepas penat, si tengah Aura dengan takut-takut menunjukkan bajunya yang basah setelah gosok gigi dan minta ijin untuk menggantinya dengan yang baru. Doski memang paling nggak betah dengan baju basah, walopun basahnya cuma dikiiiiitt banget. Iya, deh. Salahkan emaknya ini, yang masih belum bisa lepas dari kebiasaan ngomel kalo ada salah satu krucil yang mainan air dan membuat baju basah (karena baju basah kan ekuivalen dengan tambahan cucian dan setrikaan, yes?) Tapi melihat mukanya yang ketakutan setengah mati melaporkan bajunya yang basah itu, tetiba hati saya pedih, sekali.

Duh, Nduk… Ibu memang galak to the max, tapi melihatmu takut bicara pada Ibu, rasa-rasanya kok hati ini patah sekali, ya... ๐Ÿ˜ฅ

Yang paling juara bikin hati saya jumpalitan tentu saja, si bontot Amartha. Dia ini kan SEPERTI IBUNYA (lebih aman langsung ngaku, daripada bingung mau nunjuk mirip siapa ๐Ÿ˜† )ย  kerasย kepala hati sekali. Kalo maunya A, ya A. Mau B, ya B. Susaaaahhh banget dibelokkin. Bisa sih, dibelokkin. Tapi prosesnya lamaaaaa dan panjaaanggg..! Choki-choki doang sih lewat, dah! ๐Ÿ˜† Dan begitu berhadapan dengan ibunya, udah pasti kenceng banget benturannya. Keras ketemu keras, gitu loh! :mrgreen: Tapi begitu selesai ‘berantem’ dan semua sudah diklarifikasi sampe tuntas, dia akan lari secepat kilat ke dalam pelukan saya sambil teriak kegirangan: “Ibu udah nggak marah lagiiii…!” Dan binar di matanya yang seneng itu otomatis melunturkan semua kesel yang tadinya numpuk di dalam hati emaknya. ๐Ÿ˜€

Di blog ini saya sering banget ngeluh, bahwasanya segala sesuatu yang musti pake embel-embel kesabaran jelas-jelas bukan pilihan saya. Tapi begitu jadi seorang ibu, justru kesabaran itu kan, yang jadi harga mati? Sungguh, saya nggak berkeberatan sama sekali ngerjain kerjaan rumah yang serasa tak ada ujung pangkalnya dan bikin tulang serasa rontok ketika malam hari akhirnya tiba saat untuk beristirahat itu. Saya juga nggak berkeberatan, mengerjakan bertumpuk-tumpuk berkas dari bu Jendral dan dikejar-kejar jatuh tempo yang mefffffeeettt! Tapi, berjibaku dengan masalah yang memerlukan stok sabar berlapis-lapis, rasanya saya pengen langsung menyerah kalah saja, deh. ๐Ÿ˜ฆ *payah*

Beberapa hari lalu, selesai beberes urusan domestik, saya leyeh-leyeh di kursi depan TV sambil megang si tablet kesayangan, lalu balesin email-email yang masuk. Tiba-tiba si bontot saya yang lagi main mobil-mobilan manggil-manggil:

“Bu.. Ibu…”

” Ya, sayang…”

Saya masih asyik dengan tablet saya. Online, niiiihhh..! ๐Ÿ˜†

” Bu, ibuuu…! “ suaranya makin keras.

“Ya, dik.. kenapa..?”

Saya cuma nengok sebentar, memastikan dia nggak kenapa-kenapa, lalu lanjut ketak ketik di tablet saya.

” Bu, Ibu FITRIIIII…!!!”

Hahhh…! Kaget banget, deh! Itu kali pertamanya si bocah 2 tahun 10 bulan itu manggil nama gadis ibunya di belakang embel-embel panggilan Ibu. Reaksi saya waktu itu ngakak gemes gimana, gitu. Lah manggilnya serius macem ngasih ibunya duit sekoper aja, nggak tahunya ‘cuma’ pengen ngasih liat ban mobil-mobilannya yang katanya kena ‘polisi tidur’ Zzzzz….

Tapi kemudian saya berfikir: sampai kapan ya, para bocah itu memanggil saya hanya demi mendapat sedikiiiiittt saja perhatian saya? Sampai kapan mereka akan minta bantuan saya untuk menuangkan susu ke dalam gelas, mengambilkan sereal, membantu mandi dan memakai baju, membacakan buku cerita, menyuapi makan, mengambilkan air minum, menemani bermain peran, memberitahu dengan bangga, betapa bagusnya coretan krayon mereka di dinding rumah (???) dan segala printilan kecil yang kaloย  saya pikir-pikir: apa sih menariknyaaaa…?

Salah satu blogger favorit saya, Jihan Davincka pernah menulis dengan sangat indah di postingannya yang ini dan di bawah saya copas beberapa kalimat favorit saya.

Ijin ya, mbak Jihan. Dirimu kan baik, cantik lagi.. *bantuin benerin poni* ๐Ÿ˜†

I wonโ€™t always cry โ€˜mommyโ€™ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I wonโ€™t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day youโ€™ll miss having a chocolate face to wipe.
You wonโ€™t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You wonโ€™t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs canโ€™t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I wonโ€™t be this small.

***

Jihan doesnโ€™t know who the author is, but she (and I) do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worryโ€ฆ because one day, they wonโ€™t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka.ย 

source: Jihan’s blog

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: lagi puasa, dan demi mereka, bapak ibunya rela menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, dan lalu dengan enak makan sosis dan es teh manis. Glekkkk....

14 Juli 2013 @ Rumah Sosis: bulan puasa, tapi demi mereka -3 mahaguru kehidupan kami- bapak ibunya ini rela dong, menembus kemacetan Setiabudi, ngeliatin mereka main ini itu 2 jam lebih, lalu dengan enaknya makan sosis dan es teh manis. Glekkkk….

Oke, oke… jadi intinya harus lebih banyak latihan bersabar kan, ya?

Baiklaaaaah. Mari dicoba-coba lagi, kakaaakkk…! ๐Ÿ˜†

Oh, tapi.. buat yang merasa hidupnya saat iniย  sedang beraaaaatttt, cobain deh, ajak 3 energizer bunny ini untuk tertib tidur di kamar mereka sendiri dan berhenti ngerecoki bapak ibunya yang jam 11 malem (???) udah teler berat pengenย pacaran istirahat. Hahaha, curcol nih, yeeee…? :mrgreen:

Oleh-oleh mudik: beberapa catatan

Saya pernah baca beberapa nasehat dari Imam Al Ghozali (dalam urutan bolak-balik) yang kurang lebihย  berbunyi begini:

  • yang besar adalah hawa nafsu;
  • yang jauh adalah masa lalu;
  • yang berat adalah memegang amanah;
  • yang ringan adalah meninggalkan sholat;
  • yang sulit adalah ikhlas;
  • yang mudah adalah berbuat dosa;
  • yang susah adalah bersabar (kok, kalo yang 1 ini kepala saya ngangguk-ngangguknya kenceng banget, ya? ๐Ÿ˜† )
  • yang sering lupa adalah bersyukur;
  • yang singkat adalah waktu;
  • yang menipu adalah dunia;
  • yang dekat adalah kematian.

Jadi, selain keluh kesah saya di postingan mudik sebelumnya, saya mau share beberapa catatan saya selama perjalanan mudik Bandung-Banjarnegara kemaren:

1. Yang dekat adalah kematian.

Hari sabtu (10 Agustus 2013) lalu, saya pergi bersilaturahim ke rumah kakak ibu saya (pakdhe) yang rumahnya di Cilacap. Pulang sekitar jam setengah 2 siang, perjalanan kami tersendat di daerah Krukut Banyumas. Beberapa menit kemudian kami baru tahu, telah terjadi kecelakaan bis KaryaSari yang menewaskan 15 orang (termasuk 4 anak ๐Ÿ˜ฆ ) Dan lalu saya jadi ingat dengan quote diatas itu tadi. Yang dekat dengan kita memang kematian. Iya, maut memang Allah yang mengatur. Sudah ditentukan, kapan kita akan dipanggil kembali ke pangkuanNYA. Dan itu kan memang salah 1 rahasia BELIAU YANG MAHA BESAR, jadi tidak mungkin ada manusia yang bisa menebak, kapan malaikat maut akan datang menjemput. Tapi membayangkan seandainya saja kami satu jam lebih cepat sampai di TKP, bukan tidak mungkin kami lah yang jadi korban. Saya inget anak2 yang meninggal di kecelakaan itu. Hiiiiyyy, bulu kuduk saya meremang. ๐Ÿ˜ฆ Lalu sekali lagi, saya harus mengingatkan diri sendiri untuk sering-sering mengucap hamdallah, atas nikmat ALLAH yang mungkin tanpa disadari sedang diturunkan pada saya.

2. Wanita wajib perlu bisa masak (???)

Sebelumnya, mohon maaf kalo nanti ada yang rada kesinggung dengan paragraf yang ini. Punteeenn, tak ada maksud menyindir siapapun, wong soal per-dapur-an saya juga masih AMATIR, pake BANGET deh, pokoknya! ๐Ÿ™‚

Jadi, ada salah seorang sodara saya (sodara ya, bukan kakak, bukan adik. Biar aman saya nggak akan sebut korelasinya dengan saya, deh. Takut yang bersangkutan baca. Haha!) Sodara saya ini, ibu-ibu, sebut saja Bu H, umur sudah 50 tahun lebih. Beliau wanita karier. Penampilan keibuan banget. Cantik, ramah, bicaranya santun, lembut, dan sholehah. Tipikal ibu-ibu idaman banget, lah. Dan setelah bertahun-tahun ini, saya baru tahu, Beliau TER-NYA-TA nggak bisa masak, SAMA SEKALI. Lebaran tahun ini, beliau pesen ketupat dan opor ayam ke salah satu rumah makan, dan kemaren saya baru tahu, hal ini sudah jadi rutinitas beliau DARI DULU. Oke, sampe sini saya nggak mau komen lebih banyak, apalagi yang negatif.

Catatan buat saya pribadi, saat musim lebaran, dimana semua anak-cucu-menantu kumpul dan ngariung, apa sih yang bikin suasana makin komplit, kalo bukan masakan si nyonya rumah? Ibu saya, di umurnya yang 70 tahun ini, selalu dirindukan semua anak-cucu-menantu karena beliau punya banyak sekali masakan andalan. Yang terfavorit tentu saja mendoan panas yang dimakan sama cabe rawit. Lalu pecel yang rasanya TOP markotop. Terus kayak kemaren beliau masak 12 ekor gurame asam manis yang enak sampe ke kepala-kepalanya (ini pasti Baginda Raja setuju banget). Dan lalu beliau juga punya resep mendut, kue tradisional Jawa yang bahan utamanya (kalo nggak salah) tepung beras diisi sama enten-enten, gula jawa dan kelapa yang cihuyyyy banget, Resep ini sudah diturunkan kepada mbak Titi, kakak pertama saya. Dan lebaran tahun ini beliau dong yang kebagian bikin mendut… 6 kg aja loh, kakaaakkkk! ๐Ÿ˜†

Di Cirebon, saya selalu merindukan opor ayam bikinan my dearest mother in law (karena saya nggak makan daging sapi, jadi cuma opor ayam ini yang masuk ke perut saya kalo berlebaran disana ๐Ÿ™‚ ) lalu udang masak kemiri (yang resepnya udah berhasil saya warisi dong, haha, bangga! ) lalu tempe masak cabe ijo yang nampooollll banget, dan semua masakan beliau itu SELALU dikangenin anak-cucu-mantu2nya.

Menurut saya, makanan itu ibarat warisan. Ada nilai historis dan nostalgia disitu. Juga cerita, juga kenangan masa kecil, juga sentimentil pribadi yang nggak bisa dibangun dalam sekejap mata. Semua memiliki makna karena telah menjadi bagian penting dari masa lalu, dan selamanya terpatri rapi di dalam memori, dan bahkan mungkin, di alam bawah sadar kita. Masih inget kan, detail wangi, aroma dan rasa makanan ibu/nenek di masa kecil dulu, yang kemudian sangat kita rindukan saat pulang ke kampung halaman…? ๐Ÿ™‚

Catatan penting (again, untuk saya pribadi): perempuan perlu banget bisa masak. Se-enggak enak-enaknya masakan, kalo disajikan dengan penuh kehangatan dan cinta (cie, cie, cinta nih yeee..? ๐Ÿ˜† ) in shaa allah nyampenya ke perut yang makan : pasti enak. ๐Ÿ˜€

Jadi, seus… mari latihan masak! Jangan takut nggak enak. Lebih baik nggak enak sekarang, tapi syedappp di masa yang akan datang. Learning by doing. Nggak mau kan, nanti anak-cucu-mantu makan ketupat dan opor lebaran dapet beli di warung makan? *ngetik di depan kaca* :mrgreen:

Note: plissss, jangan ada yang tersinggung ya. Paragraf yang ini bener-bener subjektif sekali, loh! ๐Ÿ™‚

3. Dunia Pendidikan: (masih) sebuah ironi?

Sebut saja keponakan saya ini, A. Saya pake inisial karena saya belum minta persetujuannya, mau ceritain tentang tragedi yang dia alami di kampusnya. A adalah mahasiswa Teknik Sipil di Unsoed Purwokerto (saya nggak mau pake inisial nama kampusnya, wong kenyataannya emang terjadi disana) Bulan Maret 2013 kemaren, A ikut sidang skripsi, dan udah daftar untuk diwisuda bulan April 2013. Saya nggak tahu persis tanggal sidang dan tanggal wisudanya. Pokoknya jarak sidang dan wisuda itu sekitar sebulan doang. Nah. Euforia keluarga udah pasti terasa dari sejak si A ini nyusun skripsi, lalu sidang dan dinyatakan lulus, tinggal eksekusi wisuda. Namun entah ada badai apa, tetiba si A dinyatakan masih mempunyai 1 mata kuliah lagi yang belum diambil, jadi nggak bisa ikut wisuda.

Oke. Masih belum ngerasa aneh? Coba yang ini: A ‘dipaksa’ untuk menandatangani surat pengunduran diri dari Unsoed. Masih kurang aneh? Coba lagi ini: A harus meneruskan 1 mata kuliah yang belum diambil itu DI PERGURUAN TINGGI LAIN di Purwokerto, BUKAN di Unsoed lagi. Alasannya? Nggak jelas. Sebut saja saya tante yang membabi buta membela keponakan. Tapiiiiiii…. setahu saya, yang namanya mahasiswa ngajuin skripsi DAN sudah maju SIDANG, DAN sudah dinyatakan lulus, HARUSNYA sudah tidak mempunyai beban yang sifatnya administratif, termasuk didalamnya hutang mata kuliah. Artinya, semua mata kuliah HARUSNYA sudah terpenuhi, kan? Oke lah, mungkin (liat ya, saya masih tulis MUNGKIN) ada andil salah ponakan saya disini, karena dia nggak nyadar ada 1 mata kuliah yang belum dia ambil. CMIIW, tapiiiii… bukannya ada juga andil pihak kampus (bagian TU, mungkin?) yang nggak teliti sampe ‘meloloskan’ mahasiswa ngajuin skripsi dan maju sidang, padahal masih ada mata kuliah yang belum dipenuhi? Trus kenapa juga harus disuruh mengundurkan diri? Si A waktu itu mau aja disuruh tanda tangan, karena ketakutan semua nilai yang sudah dia punya selama kuliah di Unsoed nggak bisa dikonversikan ke PT yang baru itu. ๐Ÿ˜ฆ

Saya pengen teriak saking marahnya pas diceritain hal ini. Mana kejadiannya udah lama pula, bulan April kemaren. Nasi sudah menjadi bubur. Mau ngadu kemana kita juga nggak tahu. Dekan dan Rektor katanya juga lagi kesandung masalah korupsi, jadi nggak bisa diharapkan bantuannya. Ke pengacara? Polisi? Diknas? Sorry to say, walopun saya PNS, tapi saya masih belum percaya sepenuhnya dengan hukum dan birokrasi di negara yang (katanya) tercinta ini.

Saya cuma pengen ngeluarin unge-uneg, mewakili kakak saya, ibu si A, yang ‘cuma’ seorang guru SD di kampung sana, yang sertifikasinya saja baru turun pertengahan tahun 2013 ini. Bapaknya, kakak ipar saya, juga guru SMP yang penghasilannya kurang lebih sama segitu-gitu-nya. Saya yang jadi saksi hidup, bagaimana orangtua si A ini hidup kembang kempis demi supaya anak sulungnya bisa kuliah di Teknik Sipil. Bayar kuliah, kost, dan biaya hidup yang nggak murah, selama kurun waktu 6 tahun lebih. Masih bersyukur lah, mereka itu hidup di kampung, belum ada kontaminasi hidup hedon, jadi gaji sejuta-dua juta juga masih bisa maksain untuk nguliahin anaknya, dengan konsekuensi hutang disana sini. Saya miris sekali. ๐Ÿ˜ฅ

4. Anak-anak makin besar, kita makin tua, begitu pun ibu kita.

Silaturahim ke rumah Pakdhe saya di Cilacap pas H+2 Lebaran itu sebenernya sekalian nengok Pakdhe saya yang udah 8 bulan lebih koma. Beliau ini dulunya seorang tentara, nggak pernah sakit, sehat, fit, pokoknya nggak ada keluhan kesehatan sama sekali. Mendadak di tahun 2011 beliau kena stroke, lalu tahun 2012 kena stroke yang kedua, dan sekarang berakhir koma di atas tempat tidur di rumahnya. Saya sedih liatnya. Sedih liat padhe, sedih liat budhe, juga sedih liat anak-anaknya, yang meskipun telaten merawat pakdhe, tapi kan kebayang kayak gimana beban psikis yang mereka pikul, liat bapaknya tergeletak tak berdaya begitu. ๐Ÿ˜ฆ

Umur pakdhe dan ibu saya ini terpaut 4-5 tahun, gitu. Ibu saya juga nggak terlalu hapal. Tapi yang jelas, ibu kelahiran 05 Desember 1943, jadi umur beliau sekarang udah hampir 70 tahun. Yang bikin saya sedih, waktu kita lagi ngobrol soal kondisinya Pakdhe, tetiba ibu nyeletuk begini, “nggak tahu juga nih. Tinggal berapa tahun lagi ‘jatah’ (hidup) ibu…?”

Dan saya, juga mas Imam (kakak laki-laki yang paling dekat hubungannya dengan Ibu) langsung buru-buru memotong: “eh, jangan bilang begitu dong, Mbah. (sapaan anak-anak kami ke ibu saya). Yang penting Mbah harus jaga kesehatan dari sekarang. Harus PD Mbah bakal sehat terus, sampe nanti Andro nikah, trus Andro punya anak, trus sampe mbak Adiba (anaknya mas Imam) juga nanti punya suami… terus…. bla, bla….” saya nyerocos sampai mulut berliur-liur dengan niat menguatkan hati beliau, apadaya hati saya justru mencelos, dan mata saya tetiba jadi berair. Huhuhu… ๐Ÿ˜ฅ

Iya, saya sadar, anak-anak sudah makin besar, dan saya makin tua. Hanya saja, saya seringkali lupa, ibu saya juga bertambah tua.

………………………………………………………….. ๐Ÿ˜ฅ ………………………………………………

Oke. Sudah cukup membahas yang sedih-sedih. Untuk penutup, boleh ya saya pajang foto-foto narsis saya selama mudik kemaren? Sebagian besar udah di pamer share di Instagram saya sih, tapi nggak papa ya, dipamerin lagi dimarih? Oh ya, buat yang punya akun di IG, kita ketemuan yuk. Temukan saya ya, @bagindaratu. Haha, UUP-ujung2nya promo- Eh, boleh dong? Kan promo di blog sendiri. *yakali* ๐Ÿ˜† Dan percayalah, kalo temen blogger yang mem-follow, udah pasti akan saya follow balik. Kalo yang jualan-jualan.. baru deh.. saya pilih-pilih. Huahaha… *no spamming* ๐Ÿ˜†

mudik8

Minggu, 04 Agustus 2013, @ RM Mergosari Cikoneng, Ciamis: jam 05 sore lebih dikit. Setelah macet parah, akhirnya si sopir tembak nggak kuat juga, teparrrr beliau sambil nungguin bedug maghrib. Biar anteng, A3 disetelin Despicable Me, dan ibunya nunggu adzan sambil… online! ๐Ÿ˜€

mudik7

Senin, 05 Agustus 2013, @ warung bakso Olala: panas terik, dan bapak ibunya cuma bisa ngiler liat mereka makan bakso dan fruit tea dingin. Kalian tega sekaliiiii…!

mudik6

Selasa, 06 Agustus 2013 @ mesjid Agung Banjarnegara: menyambangi 3 kakak saya dari ibu yang pertama. Si sulung dong, udah nggak mau ikut. Terpikat doski, sama game PS kakak sepupunya. ๐Ÿ™‚

mudik3

Rabu, 07 Agustus 2013, @ Alun-alun Banjarnegara: H-1, nyari-nyari kue kering buat suguhan tamu ibu saya. Alun-alun ini jadi satu-satunya tempat main favorit A3 selama mudik kemaren. Di Banjar nggak ada mall, kakaakkk..! Tapi saya suka dengan pohon2 rindangnya, dan macem-macem persewaan mobil2an, skuter dan kereta api disini murmer, ibunya syeneengggg…! ๐Ÿ™‚

mudik2

Minggu, 11 Agustus 2013: @ warung bakso Olala: Setelah seminggu di kampung halaman, di hari terakhir mudik AKHIRNYA bisa ngebakso juga. Sekalian main ke alun2, trus hunting oleh-oleh buat dibawa ke Bandung, pulangnya melipir dulu kemari.

mudik4

Minggu, 11 Agustus 2013, @ Alun2 Banjarnegara: sebulan puasa cuma turun 2 kg, seminggu mudik berasa langsung naik 5 kg! *gigit mendoan*

mudik5

Minggu, 11 Agustus 2013, @ jalan kampung: meninggalkan kampung halaman, sedih ninggalin ibu, sedih ninggalin kakak2 dan adik, ponakan2, sedih ninggalin pecel, sedih ninggalin mendoan… ๐Ÿ™‚

Dan setelah liat lagi foto-foto diatas, saya baru nyadar: ini foto baginda raja mana, yaaaa…??? Huahaha…. ampun, mas sayang! Kamu kok pasti ketinggalan aja, sih?ย  #sungkem lagi #mumpung masih syawal :mrgreen:

Oleh-oleh mudik: renungan

Saya masih jet lag pasca mudik kemaren. Ya iya, lah. Berangkat mudik ke Banjarnegara bermobil 15 jam lebih (dari normal waktu tempuh 8 jam jalan nyantai) lalu pulang dari Banjar kemaren hari Minggu jam setengah 5 sore, sukses sampe Bandung… hari Senin jam setengah 10 pagi (siang?) jadi perjalanan balik sekitar 16 jam-an sajah. ๐Ÿ˜ฆ Sampe rumah serasa udah jadi zombie, makanya langsung maksain tidur sekitar 2 jam (maaf ya, anak-anak. 2 jam lebih kalian ditemenin laptopย  demi supaya Ayah Ibu bisa mejamin mata sebentaaaarr saja). Bangun pas Dzuhur, langsung nyuapin the krucils makan siang pake… telor dadar doang (Haha, iya. Mana sempet belanja-belanja sayur apalagi masak. Masih bagus mereka nggak dikasih nugget ๐Ÿ˜† ) lalu bebersih rumah (yang debunya tebel benerrrrrr!! ), lanjut beberes cucian dan setrikaan yang menggunung dan bikin mata sepet -karena cepat ato lambat-mau nggak mau- musti dikerjain sendiri. Oleh-oleh yang dibawain ibu dan kakak-kakak saya bahkan sampe ini hari masih teronggok di pojokan dapur belum kesentuh sama sekali. Mana Selasa-nya udah mulai ngantor pula (saya cuma ngambil cuti sehari), boyong-boyong A3 karena seminggu ini daycare kan masih libur (untuuungg udah ada legalisasi untuk bawa anak ke kantor seminggu sebelum dan sesudah lebaran *cium basah logo kementerian tersayang yang mulai aware dengan problem klasik ibu-ibu pra-pasca Lebaran: pak Dirjen, aku terharu!*ย  ๐Ÿ™‚ )

Tapi tetep ya, aku capek! Oh ART, disaat seperti ini ku sungguh merindumu…. *gigit lap pel*

Anyway, cerita komplit soal mudik ke Banjar kemaren tunggu baginda ratu abal-abalย ini back on fire aja, ya. ๐Ÿ™‚

Saya lagi pengen curhat soal kejadian yang kami alami pas perjalanan balik Bandung kemaren. Buat yang belum pernah ngerasain mudik Lebaran lewat jalur darat, let me tell you something. Terlepas dari rasa senengnya, yang namanya mudik itu beneran HECTIC. Semuanya. Ya persiapannya, ya perjalanannya, ya orang-orangnya.

Jadi, karena saking banyaknya orang yang mudik ini, semua pomp bensin (dari yang kecil sampe yang gede), semua mesjid dan mushola (dari yang keliatan bersih sampe yang ‘kucel’), semua rumah makan (dari yang punya nama sampe warung pinggiran yang entah macem mana rasanya), pokoknya semua tempat yang bisa dijadikan tempat istirahat itu pasti full sama pemudik, apalagi di jam jam kritis macem jam makan dan jam sholat. Dan tingkat kepadatan dan kemacetan yang tumpah tindih itu sepertinya berpengaruh banyak pada tingkat kesabaran orang-orangnya. Saya pernah cerita tentang perilaku orang saat mengantri di postingan saya yang ini dan sungguh tak menyangka bakalan mengalaminya lagi.

1. Ibu-ibu yang tak sabaran

TKP: pomp bensin daerah Buntu, Cilacap.

Waktu:ย  sekitar jam 10 malem.

Kronologis:

Waktu saya sampe di toilet, sudah ada ibu-ibu dengan (mungkin) anak perempuannya yang sedang mengantri di depan pintu toilet yang cuma ada 2 biji. Saya nggak tahu ya, sudah berapa lama dia nunggu disitu, yang jelas begitu saya sampe situ, si ibu ini menggedor salah satu pintu toilet sambil (setengah) teriak: “cepetan dong, lagi mandi apa lagi tidur, sihhh..?” (ya ampun, mandi tengah malem…? Yang bener saja lah, Buuuu…! ) Lalu kedengeran suara dari dalem kamar mandi: “iya, sebentar..” Dan nggak lama nongol wajah seorang ibu muda MENGGENDONG BAYI dari balik pintu toilet sambil bilang pelan yang sepenangkapan saya sih: “tunggu sebentar lagi…” Sampe situ saya yang liat cuma bisa maklum. Yah, ibu-ibu bawa bayi di kamar mandi, mana bisa kita ngarepin dia 5 detik doang di dalemnya, kan? Eh, yang bikin hati saya langsung ilfil, si ibu yang tadi nggedor pintu itu teriak lagi: “ngantri iniiiii…!” Astaghfirullah…! ๐Ÿ˜ฆ

Saya juga bukan perempuan yang sabaran, ya. Tapi liat perempuan lain BAWA BAYI di dalam kamar mandi, rasa-rasanya kok saya nggak akan tega, komen macem-macem. Terlepas dari lama/enggaknya perempuan itu; terlepas dari kuat/nggak kuat-nya saya nahan hasrat buang hajat. Tetep, nggak tega saya komen macem-macem. Apa kabarnya, toleransi sesama perempuan…? Protes dikit masih boleh lah, tapi sepertinya cukup dilakukan dalam hati saja, deh.

Nggak lama kemudian, pintu toilet di sebelah kami terbuka, dan si ibu yang tadi nggedor pintu ini langsung masuk sambil ngomel-ngomel nggak jelas gitu. Emang nggak lama kemudian si ibu ini udah langsung keluar lagi (secepat kilat dia buang hajat itu rasa2nya cuman mau ngasih tahu orang-orang yang ngantri disitu: niiiihh, ke kamar mandi tuh harusnya secepat iniii…! ๐Ÿ˜† ) dan begitu keluar -langsung digantiin anak perempuan yang bareng dia ngantri tadi- masih sempat-sempatnya dia ngedumel lagi dengan suara kenceng bak ngomong di lapangan bola : “wong kamar mandi sebau itu kok ya masih ada, orang yang betah lama-lama di kamar mandi..???” dan saya tahu lah, kepada siapa kalimat ini ditujukan. Tak berapa lama kemudian, si ibu-anak perempuan itu pergi sambil teuteuppp ngomel-ngomel nggak jelas. Kita yang pada berdiri ngantri disitu cuma bisa saling pandang. Kikuk sih udah pasti, namanya juga denger orang ngomel nggak keruan begitu.

Nah, yang bikin kita makin kikuk adalah ketika si ibu muda yang tadi bawa bayi (dan diteriak2in itu) keluar dari toilet DAN diikuti seorang wanita tua dibelakangnya (yang kalo dari bahasa sunda yang saya denger dari percakapan mereka sih, ibunya). Astaghfirullah…. Jadi dari tadi mereka bertiga di dalam toilet? Bayangkan sendiri deh, ber-3 di dalam toilet dengan seorang bayi (BAYI, bukan BATITA) dan seorang ibu tua yang dari jalannya aja udah keliatan susah setengah mati. Sayang, si ibu tukang ngomel itu nggak pernah tahu, karena dia udah keburu pergi. Pengen liat deh, gimana raut mukanya pas liat mereka ber-3. Kira-kira, se-salting apa, ya? Eh, tapi jangan-jangan lempeng juga, nggak ngerasa bersalah ato apa…. *muka tembok*ย  ๐Ÿ˜†

2. (lagi-lagi) Ibu-ibu yang tak sabaran.

TKP: pomp bensin daerah Gentong Garut.

Waktu: jam setengah 5 pagi.

Kronologis:

Karena udah nggak kuat nahan ngantuk, akhirnya jam 02 dini hari saya dan Baginda Raja sepakat untuk istirahat dulu di salah satu pomp bensin di daerah Gentong Garut. Baginda Raja tidur di mushola, sementara saya jagain A3 dan (mencoba) tidur di dalam mobil. Lumayan, dua jam tidur tanpa gangguan. Nah, pas Adzan Shubuh, Andro bangun, dan…. ngompol, donggggg! Ya ampuuunnn…! Seumur-umur baru kali ini dia ngompol di dalam mobil. Emang sih, kemaren itu cuaca dingiiiiiinnnn banget, trus saya juga nggak tega bangunin dia untuk pipis karena keliatan pules banget tidurnya. Berhubung udah terlanjur basah, akhirnya dibawalah Andro ke kamar mandi sama bapaknya, sambil bawa handuk dan baju ganti karena kan musti ganti semua tuh sampe daleman-dalemannya. Nggak lama ketika mereka balik ke mobil, Baginda Raja cerita kalo pas mereka di kamar mandi itu pintu kamar mandi digedor-gedor sama (lagi-lagi!) ibu-ibu yang nggak sabaran. Ish! Saya yang cuma denger ceritanya aja ikutan esmoni. Buuuuu, kalo emang nggak penting-penting banget, siapa sih yang mau lama-lama di kamar mandi jam setengah 5 pagiiii…? Lagian Andro itu cuma dilap aja, karena bekas ompol kan najis, ya. Bukan dimandiin. Gila apa, mandiin anak kecil shubuh-shubuh pake air dingin….? Tapi kata Baginda Raja, ibu-ibu yang nggedor pintu itu masih tetep ngomel loh, liat yang keluar dari toilet bapak-bapak BAWA ANAK KECIL. Ya ampuuunnn, dimana naluri keibuanmu, wahai perempuan…? ๐Ÿ˜ฆ

Ah, saya cuma bisa ngelus dada.

Apa iya, ketika kepentingan pribadi berbenturan dengan kepentingan orang lain, SEMUA HAL yang dilakukan demi memuluskan kepentingan pribadi itu DIRASA menjadi wajar dan lumrah, meskipun itu menyakiti hati orang lain? Apa iya, sopan santun dan budaya ketimuran kita benar-benar sudah luntur terkena imbas majunya jaman? Apa iya, segala tindakan yang kita ambil sudah cukup di-logika-kan saja dan tak perlu mengindahkan sisi kemanusiaan?

Dan apa iya, sebagai manusia kita juga harus kehilangan nurani kita…? ๐Ÿ˜ฆ

Berhati-hatilah memperlakukan orang lain, karena cepat atau lambat, kita akan menuai apa yang kita tanam… *note to self*

ย 

Si sulung

Hari ini Andro pergi study tourgitu ya, istilah kerennya?– bareng temen sekolahnya ke Taman Safari. Sebelumnya sempat ada opsi The Ranch juga, dan saya pilih, dengan pertimbangan lebih dekat plus Andro memang belum pernah kesana,ย tapiiii ternyata lebih banyak yang milih ke Taman Safari. Awalnya saya rada ragu ngelepas dia pergi sendirian, secara Cisarua itu kan lumayan jauh, dan jalurnya unpredictable sekali, kadang lancar, seringnya macet.ย  Nah trus gimana kalo nanti dia muntah (Andro nggak punya riwayat mabuk di jalan sih, tapi kan selalu ada yang pertama untuk semua hal, ya?) trus gimana kalo nanti dia pengin pipis/pup (bis kan nggak bisa berhenti sembarangan di pinggir jalan), trus gimana kalo dia kelaperan (dibawain bekel sih, tapi kalo ntar bekelnya abis, trus dia masih laper, gimana coba?), trus gimana kalo bis-nya kenapa-kenapa, sopirnya ngantuk, jalannya licin karena semalem hujan, belum lagi bis dan truk lain yang jalannya suka ngawur itu… Hahhh! Iya, iya. Saya emang emak-emak parnoan. Tapi kan memang itu, penyakit semua ibu di dunia ini. Iyaaa kaan? *cari temen* ๐Ÿ˜†

Anyway, pas minggu kemaren ditawarin mau ikut study tour apa nggak bahkan sampe kemaren saya masih berharap dalam hati dia nggak mau ikut, hihihi eh dia semangat banget mau ikutan, jadi nggak tega kan, kalo nggak ngasih ijin. Jadi akhirnya tadi pagi jam 05 lewat dikit kami nganter dia ke sekolahnya (dengan membopong si bontot yang masih tidur) karena di surat pemberitahuan anak-anak diwajibkan kumpul jam 05.30 pagi. Andro bahkan bangun sebelum adzan Shubuh, mandi cepet-cepet dan bolak-balik ngerusuhin saya biar cepet-cepet, takut telat dan ditinggal, cuenah. Cieee, yang lagi cemungudh…. ๐Ÿ˜€ Sampe Alcent jam setengah 06 lewat dikiiiitt banget, dan udah lumayan banyak yang dateng tapi ya dasar jam-nya orang Indonesia, udah jam 07 belum berangkat juga. Tanya ken-apaaaa…? *rolling eyes*

Long story short, dari beberapa hari yang lalu saya dan Baginda Raja sudah mewanti wanti ini itu ke si boss kecil:

  1. jangan lari-larian;
  2. jangan jauh-jauh dari rombongan;
  3. dengar apa kata Bu Guru;
  4. jangan jauh-jauh dari Bu Guru;
  5. kalo mau ke toilet, minta anter Bu Guru;
  6. kalo pusing, bilang Bu Guru;
  7. kalo mau muntah, bilang ke Bu Guru;
  8. kalo AC bis terlalu dingin, bilang Bu Guru… (baru nyadar, ini kok semua-muanya minta ke bu Guru, sih? Maaf ya, Bu Guruuu…ย  ๐Ÿ˜† )
  9. kalo mau muntah ada kantong plastik di saku tas;
  10. jajanan dimakan setelah makan siang;
  11. banyak minum air putih;
  12. jangan lupa sholat;
  13. kalo bis berhenti di peristirahatan, manfaatkan waktu buat ke kamar mandi;
  14. bla, bla, bla….

Dan sekarang, begitu udah duduk manis terkantuk-kantuk di meja kantor, tetiba saya jadi kepikir, itu semua pesan nasihat yang udah dari kemarin saya sampaikan ke dia -yang cuma ditanggapin dengan cengengesan dan body language yang tak meyakinkan itu- ๐Ÿ˜† cuma pesan nasihat buat bekal dia SEHARI di Taman Safari.

Gimana kalo dia nikah nanti….????

……………………………………………………………

… dan tanpa sadar,ย  mata saya basah…

I don’t remember who said this, but there really are places in the heart you don’t even know exist, until you love a child โ€• Anne Lamott

Your kids require you most of all to love them for who they are, not to spend your whole time trying to correct them โ€• Bill Ayers

Each day of our lives, we make deposits in the memory banks of our children -Charles R Swindoll-

To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their lives todayย  –Barbara Johnson-

We may not be able to prepare the future for our children, but we can AT LEAST prepare our children for the future.โ€• Franklin D. Roosevelt

quotes diambil dari sini

Ah, Nak. Semoga apapun kalimat yang kami ucapkan, apapun pesan yang kami sampaikan, dan apapun nasihat yang kami berikan, akan mencukupkan bekalmu di masa depan. Dan tolong lupakan semua kalimat negatif yang sudah terlanjur keluar dari mulut kami, juga tindakan-tindakan yang mungkin tanpa kami sadari sudah menyakiti perasaanmu, melukai harga dirimu. Tolong, ingat-ingat saja semua yang baik dari kami, karena memang hanya itu yang kami inginkan di hidupmu: SEMUA HAL BAIK…

IMG_20130407_093238

dan begini ini body language-nya kalo lagi dinasehatin… *unyel2 rambut Andro*

Ps. Kamu boleh melupakan banyak hal, tapi jangan pernah lupakan ini: tidak ada laki-laki di dunia ini yang mencintai-mu melebihi Ayah, dan tidak ada perempuan di dunia ini yang menyayangi-mu melebihi Ibu… (dan lalu mewek, ingat betapa sering suara saya meninggi sekian oktaf saat bicara dengan dia… ๐Ÿ˜ฅ )

*tissue, mana tissue?*

Si Genduk…

Saya tahu, anak itu adalah salah satu keajaiban Tuhan yang hadir di kehidupan orangtuanya. Jadi meskipun ada fase-fase dimana sebagai manusia biasa yang tingkat sabarnya cuma sejengkal, kita, eh saya, kadang merasa punya anak yang sedang di fase egosentris tingkat kronis itu sangat melelahkan -fisik dan psikis- tapi tetep ya, namanya anak itu anugrah yang tidak ternilai.

Membaca postingan Mami Laudya yang ini, dan Mamak 3G yang ini, saya langsung ingat dengan salah satu masa dimana dulu, si genduk as known as Mbak Aura (doski suka protes kalo dipanggil Aura saja, ato Aurora saja ๐Ÿ™‚ )ย  si tengah kami, juga pernah mengalami fase yang sama. Saya kurang ingat persis, kapan tepatnya fase berat itu. Yang jelas saat si bungsu lahir, dan sebagai ibu baru tentu saja saya harus berjibaku dengan waktu persusuan, pemerahan ASI, pencucian popok, per-hunting-an ART (waktu itu) dan sebagainya, dan sebagainya. Bahkan saat ayahnya dengan tingkat kesabaran yang nyaris tak terbatas itu selalu dengan senang hati meladeni apapun (-a-pa-pun-) permintaannya (yang kadang buat saya bener-bener tak masuk akal dan nyaris mengada-ada itu), entah kenapa, selalu adaaa saja alasan untuk si genduk merengek, merajuk, dan somehow, menangis histeris. Dan kalo sudah begitu, saya, manusia dengan sumbu sabar terpendek di dunia ini, seringkali tak mampu menahan emosi saya. Huhuhu… ๐Ÿ˜ฆ

Tapiiiii… itu duluuuuu…!

Sekarang…..

Saya seringkali takjub melihat betapa putihnya hati anak perempuan saya itu, terutama saat ia memperlakukan abang dan adiknya. Dengan ceria mengambil ini itu, apapun yang disuruh diambil oleh abangnya (kadang saya harus menegur keras abangnya untuk masalah ini), lalu tanpa keberatan membagi mainan/makanan/minuman yang ia pegang dengan adiknya (yeah, namapun anak-anak, sesekali agak berat kalo disuruh berbagi, ya wajar aja kali, ya.. ๐Ÿ™‚ )

Belum lagi saat di Timezone, saat dengan sabar ia meladeni adiknya, bolak balik -berkali-kali- mengambil bola basket untuk dilemparkan ke keranjang (walopun saya perhatikan sebenarnya ia juga ingin melemparkan bola itu ke keranjang dengan tangannya sendiri ), lalu menyelimuti adiknya saat adiknya itu tertidur -tanpa saya minta- lalu mengajak adiknya bermain berdua agar perhatian adiknya teralihkan dari merajuk minta mimi’ supaya ibunya bisa dengan tenang menyetrika, misalnya. Ato dengan penuh pengertianย  menutup pintu kamar, saat saya minta waktu sebentaaaar saja, untuk sekedar 5-10 menit berbaring melepaskan penat saya, saat penat itu sudah tak tertahankan, ato saat ia mengusap-usap lembut pundak adiknya saat mereka duduk bersebelahan menonton TV (emaknya benar-benar terharu melihat adegan ini).

Ah, Nduk..

Darimu Ibu belajar banyak hal. Bahwa cinta memang tidak cukup hanya dengan diucapkan. Bahwa cinta itu, harus ditunjukkan dan dibagikan. Bahwa cinta itu tidak pernah habis, sebanyak apapun yang sudah kita berikan pada orang lain. Bahwa cinta itu menjadi jauh lebih bermakna, saat untuk menunjukkannya, (kadang) kita harus sedikit mengorbankan apa yang kita suka, demi membuat orang yang kita cintai tersenyum…

Nduk, tolong bantu Ibu ya. Ingatkan Ibu, untuk selalu sabar menghadapimu, juga abangmu, juga adikmu..

Ingatkan Ibu untuk mencintai kalian apa adanya, karena sesungguhnya, cinta sejati itu adalah cinta yang tak bersyarat…

Nikmat yang mana lagi….

... yang kau dustakan…?

Pertanyaan itu serta merta terbersit dalam kepala saya, waktuย  siang tadi -setelah beberapa minggu absen kesana- saya menengok si tengah dan si bontot ke daycare. Suasana siang di daycare lumayan rame. Hanya si bontot saya saja yang sedang tidur, jadi masih ada 8 anak lagi yang sedang aktif bermain. Dan disanalah dia, gadis kecil yang badannya tidak lebih besar dari si tengah saya -menurut bunda pengasuhnya umurnya mau 3 tahun- berdiri membelakangi saya. Hanya terdengar suara ceriwisnya yang nanya ini itu. Normal-normal saja, seperti kebanyakan anak-anak seumuran-nya yang banyak komentar tentang ini, komentar tentang itu. Kalimat yang diucapkannya terdengar sempurna, dengan artikulasi yang terdengar cukup jelas. Sama saja dengan anak-anak yang lain.ย  Tapi begitu ia berbalik, saya tercekat. Wajahnya…. Subhanallah….

Saya tahu, menilai seseorang dari penampilan fisik itu dangkal sekali. Tapi melihat seorang gadis sekecil itu, dengan *maaf* tulang hidung merengsek ke dalam, dua bola mata yang tidak berhenti berkedut, dan kepala yang nyaris selalu bergoyang, (entah karena gerakan reflek, entah memang sarafnya yang tak mau berhenti bergerak)ย  saya, benar-benar terhenyak. Drupadi. Begitu namanya. Dari cerita bunda pengasuhnya, sang ibu masih amat sangat muda, -saya belum sempat ketemu, tentu saja- dan waktu hamil Dru, begitu si gadis kecil itu dipanggil, dokter sudah memberitahu kondisi Dru kalo ia lahir nanti. Mungkin secara tak langsung dokter memberikan opsi untuk menghentikan kehamilan karena meneruskan kehamilan itu sangat beresiko sang jabang bayi lahir dalam kondisi fisik tak sempurna. Tapi sang Ibu memilih untuk meneruskan kehamilannya, dan melahirkan Dru dengan kondisi yang seperti sekarang. Allahu Akbar…

Menurut cerita bunda pengasuhnya, mata kanan Dru saat ini adalah mata buatan. Kalo umurnya sudah mencukupi, akan dilakukan operasi cangkok mata. Gustiiiiii….! Hanya dengan membayangkannya saja bulu kuduk saya meremang. Operasi cangkok mata untuk sang gadis kecil kita?ย  Oh, My GOD! ๐Ÿ˜ฆ

Sungguh, hati saya trenyuh, sekali. Trenyuh dengan kebesaran hati sang ibu menerima kondisi Dru, walopun dari awal dokter sudah mengingatkan, dan itu artinya sebenarnya ia bisa saja memilih untuk tidak melahirkan Dru. (Baiklah, tidak usah memperdebatkan masalah ini, karena ujung-ujungnya akan sama saja dengan perdebatan ASI-Sufor, persalinan alami-cesar, ibu rumah tangga-ibu bekerja, endesbre, endesre…) Dan hingga detik ini saya masih belum bisa membayangkan seandainya saya di posisi ibunya Dru waktu itu, dan di posisinya sekarang, dan di posisinya nanti. Entah apa yang akan terjadi dengan sumbu sabar *pinjem istilahnya si Mamak 3G* saya yang pendek ini. Yang jelas, saat ini saya hanya bisa mengucap hamdallah, dikaruniai 3 anak yang sempurna fisiknya. Walopun kadang ke’aktif’an mereka bikin pening kepala, walopun kadang suara berantem mereka bikin kepala nyut-nyut-an, walopun kadang jutaan pertanyaan seringkali mereka lontarkan justru saat tubuh saya nyaris tak bisa digerakkan karena sudah over load … ๐Ÿ™‚

Karena kalo saja -sekali lagi, kalo saja- ALLAH berkehendak, IA cukup menggeser satu saja, entah saraf yang mana saja dari jutaan saraf di tubuh mereka, dan… sim salabim, hanya IA yang tahu akan seperti apa nanti jadinya fisik dan psikis mereka. Ah, Mama Drupadi… aku salut padamu, dan dengan kesabaranmu itu, mudah-mudahan Drupadi menjadi ladang amal buatmu, dan menjadikanmu (calon) penghuni surga. Amiiinnnn…

Jadi… mari diingat-ingat lagi… nikmat dari-NYA yang mana lagi yang sudah kita dustakan…?